
"Bagaimanapun beliau adalah ayahmu, Mutiara." Jawab Pram tak menghiraukan keinginan Mutiara untuk tak mengatakan apapun tentang Aryo, ayahnya. Karna memang Mutiara tak ingin ada hubungan apapun dengan Aryo. Tapi orang tua tetaplah orang tua, bagaimanapun sikapnya di masa lalu tak akan mengubah apapun. Mutiara harus bisa berdamai dengan masa lalunya. Itulah yang dipikirkan Pram.
"Kamu masih memiliki ayah?" Rose mencoba memastikan pada Mutiara. Mau tidak mau akhirnya Mutiara mengangguk, membenarkan.
"Seharusnya kamu mengatakannya pada kami, Sayang." Ucap Rose Lembut.
"Maafkan saya, Ma."Mutiara menunduk. "Peristiwa di masa lalu membuat saya tak ingin mengenal ayah saya lagi." Ucap Mutiara lagi, kini ia menatap Rose nanar. Ya memang setiap Mutiara mengingat ayahnya, dadanya terasa nyeri. Benci sekaligus merasakan kerinduan yang dalam di dalam hatinya tapi merasa lebih menyakitkan apabila ia berdamai dengan masa lalu yang memberinya luka yang tak pernah kering hingga saat ini.
"Mama tidak tahu apa yang terjadi tapi..." Rose yang duduk di samping Mutiara mengusap punggung Mutiara dengan lembut. "Pernikahan harus tetap mendapat restu dari orang tua, Sayang. Apalagi kamu perempuan, ayahmulah yang harus menikahkan kamu."
Mendengar ucapan Rose, Mutiara menangis tersedu-sedu. Rose langsung memeluk tubuh gadis itu dan memberikan usapan lembut di punggung Mutiara untuk menenangkannya. Untunglah Rose tak bertanya apapun tentang masa lalu Mutiara yang pahit itu sehingga Mutiara tak semakin terluka.
Mutiara juga bersyukur karna bertemu dengan keluarga ini. Walaupun pernikahannya dengan Pram bukanlah pernikahan yang sesungguhnya tapi dia bahagia mendapatkan kasih sayang seorang ibu seperti Rose. Mutiara memperoleh kehangatan dari keluarga barunya, kasih sayang yang telah lama hilang dari hidupnya.
"Secepatnya hubungi ayah Mutiara Pram." Ucap Surya saat melihat Mutiara mulai tenang.
"Iya, Pa." Jawab Pram. "Saat ini Pram dan Mutiara tak memiliki kontak pak Aryo tapi kami tahu restoran milik pak Aryo. Pram akan segera menemui pak Aryo."
Mutiara melihat Pram seperti akan menikah sungguhan. Mau ketemu sama calon mertua untuk meminta restu. Pada kenyataannya pernikahan ini hanya pernikahan kontrak, pernikahan palsu. Pintar sekali laki- laki ini bersandiwara. Apa yang dilakukannya seperti akan melakukan pernikahan yang sebenarnya.
Pram menyadari Mutiara sedang menatapnya, juga membalas tatapan Mutiara. Keduanya hanya saling diam tak mengatakan apapun. Tanpa sepengetahuan Mutiara Pram sedang mengusahakan sesuatu untuknya. Sedangkan Mutiara kini hanya menganggap pernikahan ini hanya sebuah bisnis yang akan menguntungkan untuk hidupnya. Ia akan menikmati kemewahan seperti yang diinginkannya selama ini. Penilaiannya terhadap Pram pun kini berubah. Pram tak lebih dari laki-laki lain yang menganggapnya wanita murahan yang hanya menyukai uang.
*****
__ADS_1
Keesokan harinya, seperti biasa mereka berangkat ke kantor bersama-sama. Tak seperti biasanya, kini Mutiara lebih banyak diam. Hanya melakukan pekerjaannya dengan baik. Dulu Mutiara mencoba menarik perhatian Pram dengan melakukan banyak hal, tapi kini Mutiara tak mau melakukannya. Pernikahan kontrak itu sedikit membuat hatinya terluka. Entahlah, Mutiara pun tak tahu kenapa dia merasakan perasaan seperti ini. Apakah karna untuk pertama kalinya seorang laki-laki tak tergoda dengannya sehingga Mutiara merasa seperti mengalami penolakan? Bisa jadi seperti itu. Tapi bisa jadi juga tidak.
Pram menyadari perubahan sikap Mutiara tapi ia pura-pura tak terjadi apa-apa. Saat ini memang hanya ini yang bisa ia lakukan untuk Mutiara.
"Siang nanti saya akan pergi menemui ayahmu. Tolong handle semua pekerjaan di kantor." Ucap Pram saat Mutiara ada di ruangannya.
"Baik, Pak." Jawab Mutiara tanpa bertanya apa-apa lagi
Lakukan apa maumu! Batin Mutiara. Lalu ia pergi meninggalkan ruangan Pram setelah mengatakan akan menyelesaikan laporannya.
Saat jam makan siang, Pram langsung meninggalkan kantor untuk menemui Aryo. Bukan tak ingin mengajak Mutiara tapi ada beberapa hal yang ingin dibicarakan Pram dengan Aryo tanpa perlu Mutiara tahu.
Tak lama setelah kepergian Pram, sosok tak asing datang dan tiba-tiba masuk ke ruangan Pram diikuti shireen yang mencoba mencegahnya masuk ke ruangan Pram karna bosnya itu sedang tidak ada di tempat. Tapi perempuan paruh baya itu sama sekali tak menggubris shireen, ia tetap memaksa masuk ke ruangan Pram.
Mendengar ada keributan di ruangan Pram, Mutiara yang baru saja kembali ke kantor setelah makan siang buru-buru masuk ke ruangan Pram dan betara terkejutnya Mutiara melihat siapa yang datang ke kantor Pram.
"Bu Virda? Apa yang ibu lakukan disini?" Tanya Mutiara.
"Kamu kenal ibu ini, Ra?" Tanya Shireen. Shireen bertanya-tanya dalam hati siapa perempuan ini, berani sekali membuat keributan di kantor bosnya.
"Kamu?" Belum sempat Mutiara menjawab pertanyaan Shiren, ternyata Virda mengenali Mutiara. "Kamu sendiri, sedang apa kamu disini? Dimana Pram? Katakan padanya untuk tidak menghindariku." Cerca Virda.
"Ibu ini siapa? Kenapa ibu membuat keributan di kantor ini?" Tanya Shiren dengan nada sedikit meninggi karna sejak tadi perempuan ini dari tadi menguji kesabaran Shiren.
__ADS_1
Mendengar ucapan Shiren, Virda seperti tersulut emosinya, "Kamu tak tahu siapa saya? Saya ibu mertua Pram, tahu kamu? Katakan pada Pram untuk menemui saya sekarang!" Nada bicara Virda melengking memekakkan telinga.
"Saya kan sudah bilang kalau pak Pram sedang tidak di tempat, saya tadi melihat beliau keluar kantor." Jawab Shiren yang mencoba meredam emosinya setelah tahu siapa perempuan ini. "Kalau ibu ada keperluan dengan pak Pram ibu bisa sampaikan pada Mutiara. Dia adalah sekretaris pak Pram."
Jedderrr!!!!
Mendengar Mutiara adalah sekretaris Pram membuat wajah Virda semakin merah padam. Bagaimana bisa posisi anaknya bisa di gantikan oleh seorang sekretaris? Virda berpikir sepertinya Pram mau mencoba membodohinya.
"Ternyata kamu hanya sekretaris, Pram? Yang tinggal di rumah Pram dan mengaku-ngaku sebagai calon istri Pram? Hebat sekali kamu, wanita murahan yang ingin mencoba menggantikan posisi anak saya di hati Pram?" Virda memaki-maki Mutiara. Mutiara hanya menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan berusaha meredam emosinya agar emosinya tak tersulut mendengar ucapan Virda.
Sedangkan shireen benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar sehingga ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Mutiara tinggal di rumah pak Pram? Mutiara calon istri pak Pram? Astagaaa... Wanita murahan seperti Mutiara akan menjadi istri seorang bos? Pelet apa yang di berikan pada bosnya itu? Shireen semakin penasaran jadi ia tetap di ruangan Pram untuk mengorek informasi lebih dalam.
"Kalau sudah tidak ada yang ingin bu Virda sampaikan, silahkan tinggalkan kantor ini. Saya akan sampaikan maksud kedatangan ibu saat pak Pram kembali ke kantor." Dengan tenang Mutiara mengusir Virda dengan cara yang halus. Ia tak ingin keributan yang di timbulkan Virda akan berlarut-larut dan menjadi bahan gosip bagi shireen untuk menjelek-jelekannya di kantor ini. Walaupun sebenarnya ia bisa bersikap seperti biasanya, tak peduli.
"Siapa kamu berani mengusir saya dari kantor menantu saya sendiri??" PLAKK!!! Satu tamparan mendarat di pipi Mutiara.
"Pak Pram meminta saya menghandle segala urusan kantor selama beliau tidak ada, termasuk mengusir ibu Virda apabila membuat keributan di kantor ini." Ucap Mutiara tegas tapi tenang berusaha tak tersulut emosinya. "Anda memang mertua pak Pram, tapi ini kantor, tak seharusnya mertua pak Pram mempermalukan pak Pram seperti ini. Silahkan pergi atau saya panggil security!!!"
"Pak Slamet, ke kantor pak Pram sekarang. Bawa keluar orang yang membuat keributan di ruangan Pak Pram, sekarang!!" Mutiara memerintahkan security kantor melalui telepon.
"Kamu!!" Virda mencoba menampar Mutiara lagi tapi berhasil di tahan oleh Mutiara.
"Saya tidak akan membiarkan anda menampar saya dua kali." Mutiara menatap Virda tajam. Bersamaan dengan itu, pak Slamet dan rekannya datang dan membawa virda keluar dari kantor Pram.
__ADS_1
"Saya akan membuat kamu membayar mahal apa yang telah kamu lakukan pada saya." Ucap virda lantang. "Lepaskan!! Saya bisa jalan sendiri!!" Bentak Virda pada security yang mencoba menyeretnya keluar dari ruangan Pram.