Mutiara

Mutiara
Pindah


__ADS_3

"Bisakah anda menebus penderitaan saya di masa lalu? Apa yang akan anda lakukan untuk menebusnya?" Tanya Mutiara. Ingin sekali rasanya ia menyetujui permintaan ayahnya, tapi berbagai bayang-bayang masa lalu selalu menghantuinya. Mutiara takut hatinya dipatahkan kembali oleh ayahnya.


Mutiara yang selama ini dikenal orang dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, wanita tangguh, sebenarnya adalah seorang wanita yang rapuh. Keberanian, kecepercayaan diri yang ditunjukkan pada orang lain hanya sebagai tameng untuk dirinya agar orang lain tak menganggapnya lemah.


Mutiara saat ini juga sangat memerlukan perlindungan untuk dirinya yang sebenarnya rapuh. Saat ini ia membutuhkan perlindungan dari orang-orang yang berniat buruk padanya. Entah bagaimana tapi firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Tapi ia tak tahu apa itu. Dari firasat itu Mutiara berpikir sebaiknya ia menyetujui permintaan ayahnya untuk tinggal bersamanya. Dan berharap Aryo tak akan kembali membuatnya kecewa.


"Ayah akan memberikan apa yang dulu tak pernah ayah berikan padamu, Mutia. Kasih sayang, kehangatan keluarga, kemewahan, semua itu akan ayah berikan padamu." Jawab Pram. "Ada beberapa restoran ayah sudah atas namamu, dan itu semua milikmu."


Ya, Aryo memang sudah menyiapkan semua itu, beberapa restoran miliknya atas nama Mutiara. Dan memang akan diberikan pada Mutiara saat Aryo menemukan Mutiara. Salah satu upaya Aryo untuk menebus penderitaan Mutiara adalah memberikan kehidupan yang layak untuk masa depan Mutiara. Walaupun ia sendiri tak tahu apakah semua itu cukup untuk menebus penderitaan yang di alami Mutiara selama ini. Dan tentu saja hal itu sudah disetujui istri barunya, Santi. Beberapa restoran yang lain atas nama Aryo yang akan diwariskan pada Santi dan kedua anaknya.


"Beberapa restoran atas nama saya? Haha... Jangan membuat anak istri pak Aryo akhirnya membenci saya karna hal itu." Mutiara menganggap hal itu adalah keputusan yang bodoh yang akhirnya bisa saja menjadi bumerang untuk dirinya di kemudian hari.

__ADS_1


Sudah banyak orang yang tak menyukainya selama ini, Mutiara enggan untuk menambah daftar pembencinya. Walaupun sejujurnya, tawaran itu sangat menggiurkan bagi Mutiara. Beberapa restoran itu juga akan membuatnya bergelimang harta, selain menjadi istri Pram.


"Tidak, Mutia. Tidak akan terjadi hal seperti itu." Aryo mencoba menjelaskan. "Mereka juga akan mendapatkan bagian mmereka masing-masing nanti setelah ayah meninggal. Karna saat ini kehidupan mereka ayah masih mampu menanggungnya. Restoran-restoran itu adalah hakmu, milikmu. Mereka sama sekali tak berhak mengusik milikmu. Ayah sudah memikirkan semuanya Mutia agar tak terjadi perselisihan tentang harta saat ayah sudah tiada nanti."


"Baiklah, saya bersedia tinggal di rumah pak Aryo." Terlepas dari bagaimana nantinya perlakuan keluarga baru Aryo, Mutiara memutuskan untuk tinggal bersama Aryo. Bagaimanapun Mutiara Putri sulung Aryo dan Mutiara juga berhak atas kekayaan Aryo. Tak adil rasanya jika hanya keluarga baru Aryo yang menikmati kemewahan itu. Apa yang dulu hilang kini harus dinikmati oleh Mutiara. Bukankah Aryo sendiri yang mengatakan bahwa ia akan menebus segala penderitaan Mutiara? Jadi tak ada salahnya Mutiara mengambil haknya. Lagi pula Mutiara tak percaya keluarga baru ayahnya itu bisa sebaik itu. Akan menerima Mutiara dengan tangan terbuka? Haha, omong kosong! Bisa saja hanya di depan Aryo mereka akan bersikap baik padanya. Pikir Mutiara.


Mendengar Mutiara menyetujui untuk tinggal dengannya membuat Aryo sangat bahagia. Tak henti-hentinya ia mengucap rasa syukur di dalam hatinya. Kini hidupnya terasa lebih berarti karna bisa berkumpul dengan Mutiara dan keluarga barunya. Senyum Aryo terus mengembang, ia menatap Mutiara dengan raut wajah bahagia.


"Terima kasih, Mutia. Ayah akan bicara dengan keluarga calon suamimu bahwa kamu akan tinggal bersama ayah sementara waktu." Aryo sangat bersemangat. Ia ingin Mutiara ikut dengannya hari ini juga. "Bersiaplah, kita akan pulang malam ini."


Mutiara pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap. Ia membawa beberapa barang-barang pribadinya. Sedangkan Aryo sedang berbicara dengan keluarga Pram tentang rencananya untuk membawa Mutiara pulang bersamanya. Dengan berat hati Rose harus merelakan Mutiara pulang bersama ayahnya. Walaupun baru saling mengenal tapi Rose sudah menganggap Mutiara sebagai putrinya sendiri. Sejak kehadiran Mutiara di rumahnya, Rose merasa sangat senang. Ia tidak merasa kesepian saat ada Mutiara. Sejak dulu ia ingin memiliki seorang anak perempuan tapi keinginan itu tak pernah terwujud karna riwayat penyakitnya dahulu dokter tak mengijinkan Rose untuk hamil lagi demi kesehatannya. Mutiara telah memberi warna baru untuk hidupnya. Karna itu Rose sangat antusias dengan pernikahan Pram dan Mutiara. Keinginannya memiliki seorang anak perempuan akhirnya terwujud walaupun tidak terlahir dari rahimnya sendiri.

__ADS_1


"Dengan berat hati saya harus menerima keputusan Mutiara untuk pulang bersama pak Aryo."Rose menutupi rasa kecewanya dengan mengembangkan senyum di bibirnya. "Saya sudah menganggap Mutiara seperti putri saya sendiri, tapi saya juga bahagia akhirnya Mutiara bisa berkumpul kembali dengan ayahnya. Saya sudah mendengar kisah hidup Mutiara dari putra saya, Pram. Sejak pertemuan pertama dengan Mutiara saya telah menaruh simpati padanya." Jelas Rose. Bersamaan dengan itu Mutiara telah selesai menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke rumah ayahnya. Mendengar ucapan Rose Mutiara merasa bahagia, kasih sayang seorang ibu yang ia rindukan kini bisa ia rasakan dari Rose. Mutiara menatap Rose penuh haru.


"Terima kasih Bu Rose sudah sangat baik pada putri saya, saya sangat berterimakasih sekali." Aryo merasa lega karna Mutiara memiliki calon mertua dan calon suami yang baik. "Saya ingin tinggal dengan putri saya sampai acara pernikahannya di gelar. Saya ingin menghabiskan banyak waktu dengan Mutiara sebelum dia menikah." Ungkap Aryo.


"Sama-sama, Pak Aryo." Ucap Rose. "Dalam waktu dekat kami sekeluarga akan datang ke rumah pak Aryo untuk melamar Mutiara. Sekaligus membicarakan tentang acara pernikahan mereka."


Mendengar hal itu, Aryo mengangguk dengan mantap, kemudian berkata, "saya sangat tidak sabar menunggu kehadiran pak Surya sekeluarga di rumah saya. Saya juga sangat bersyukur Mutiara memiliki calon suami dan calon mertua yang baik seperti kalian. Dengan rasa bahagia dan keyakinan saya bisa dengan tenang menyerahkan Mutiara sebagai istri nak Pram."


"Bolehkah saya meminta satu permintaan, ibu Rose?" Tanya Aryo.


"Apa itu pak Aryo?" Tanya Surya, calon besannya.

__ADS_1


"Saya ingin dari pihak kami yang mengurus segala keperluan pernikahan Mutiara dan Pram." Jawab Aryo. "Bagaimana bu Rose dan pak Surya? Saya ingin pernikahan ini menjadi kenangan terindah untuk saya dan Putri saya."


Bagaimana reaksi mereka kalau mereka semua tahu kalau pernikahanku dan Pram hanya pernikahan kontrak? Batin Mutiara sembari menatap Pram yang juga menatapnya. Entah apa yang ada di pikiran Pram.


__ADS_2