
malam harinya...
Arsen keluar dari dalam kamar ia sudah siap akan berangkat bertemu calon Istrinya malam ini dengan menggunakan setelan kameja berwarna putih serta tuxedo dan celana berwarna abu-abu ia terlihat begitu sangat tampan dan berwibawa
kira-kira seperti inilah visualnya😁
tuan Aryo tersenyum puas dengan penampilan putranya
"bagus sekali putraku, kau sangat tampan sepertiku" kata tuan Aryo bangga
"tentu saja sama sepertimu karena aku anakmu ayah" kata Arsen lagi lagi hanya bergumam
"ayah tidak suka jika sedang berbicara tak di respon"
Arsen menarik nafasnya pelan "tentu saja ayah"
sepanjang perjalanan menuju rumah tuan Derry, Arsen hanya terdiam tatapan nya hanya tertuju ke jalan raya
................
Adara mengamati penampilan nya di pantulan cermin ia kini sudah berdandan sangat cantik
"bunda, dara kenapa sih kok jadi gugup gini bunn, perasaan Adara juga engga enak" Adara berkata jujur pada bunda nya
bunda Laura merasa khawatir dan kasian pada putri nya tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa
"dara percayakan sama bunda ya dara harus tenang" bunda Laura mengusap lembut rambut Adara
"bunda janji selama acara ini jangan jauh-jauh dari dara" raut wajah Adara terlihat sedih
"iya sayang bunda janji, dara jangan takut kan ada ayah, bunda sama kak Andra" bunda Laura meyakinkan
Adara hanya tersenyum mendengar perkataan bunda nya
tak lama kemudian terdengar suara mobil masuk ke kediaman tuan Derry
"assalamu'alaikum selamat malam tuan" sapa tuan Aryo
"wa'alaikumsalam Alhamdulillah cepat sekali anda sampai" jawab tuan Aryo
"hahahaha ini urusan yang sangat penting saya harus begitu semangaattt"
"terimakasih tuan silahkan masuk" tuan Derry mempersilahkan
__ADS_1
"ini tuan saya perkenalkan putra saya Arsenio Pratama"
"wahh wahh saya baru tau kalo anda punya anak setampan ini"
"anda bisa saja tuan"
Arsen menyodorkan tangan nya untuk berjabat dan memperkenalkan diri pada tuan Derry "panggil saya Arsen om"
"panggil saya om Derry, panggil ayah juga tidak masalah bahkan lebih baik" tuan Derry tertawa kecil
Arsen hanya tersenyum kaku menanggapi perkataan tuan Derry
"tuh tamu nya sudah datang ayo kebawah" kata bunda Laura
"tapi dara takut bunda"
"sekarang dara tarik nafas dulu buang, tarik nafas lagi buang"
Adara menuruti instruksi dari bunda Laura ia menarik nafas nya dalam-dalam lalu buang begitu seterusnya sampai ia merasa tenang
"sekarang sudah tenang kan?" tanya bunda Laura
Adara hanya mengangguk
"heem" jawab Andra
Adara berjalan menuruni tangga ia terlihat sangat anggun dengan berjalan diantara bunda dan Kak Andra
kening Arsen berkerut ketika dari kejauhan ia melihat gadis yang tak asing baginya gadis itu terlihat sangat cantik dari biasanya
Arsen berkali-kali mengucek matanya ketika gadis itu berjalan semakin dekat dan semakin dekat barangkali ia salah liat
"apa yang kau lihat Arsen?" tanya tuan Aryo sambil melirik ke arah yang Arsen lihat
"sepertinya gadis itu tak asing dimataku ayah" jawab Arsen setengah tidak sadar ia menjawab pada ayahnya karena matanya masih fokus tertuju pada Adara
"apa kau mengenali gadis itu?" tanya tuan Aryo lagi namun tak dapat jawaban dari Arsen
"eh Lo" Arsen menunjuk ke arah Adara
Adara yang masih gugup langsung menatap ke arah Arsen dengan refleknya ia berkata "ah cowo monster"
bunda Laura meringis mendengar perkataan Adara
Arsen berdiri dari duduknya "ngapain Lo disini?"
__ADS_1
"astaga, Lo gapunya petanyaan yang sesuai logika selain pertanyaan kaya gini? ini tuh rumah gue! seharusnya gue yang tanya sama Lo kenapa kok Lo ada disini?" crocos Adara
"suka-suka gue dong" jawab Arsen sekenanya
"tunggu dulu, kalian sudah saling kenal?" tanya tuan Derry yang heran dengan interaksi anak-anak yang ada di depan nya yang seperti nya benar mereka sudah saling kenal
"ini tuh ayah, ini nih cowo yang dulu ngotorin baju dara terus engga tanggung jawab abis itu malah marah-marah sama dara pulaa" adu Adara pada ayahnya
semua yang ada disitu terkejut mendengar pengakuan Adara terlebih ayah Derry dan Andra
"Oohh jadi Lo? Lo si br**g**k yang berani nyakitin Adik gue itu?" tangan Andra mengepal, wajahnya terlihat merah padam
"Andra, Andra kamu tenang dulu" tuan Derry mencoba menenangkan putranya yang sudah dikuasai amarah
"jadi ini ayah? ini orang yang mau dinikahkan sama adik Andra, Andra ga akan pernah merestui dia ayah!!" andra meninju tembok yang ada di sampingnya berkali-kali kemudian ia berlari ke lantai atas rumahnya
"maafkan putra saya tuan" kata tuan Derry yang tidak enakan dengan sikap Andra
"ohh iya tentu tidak apa-apa tuan saya sudah mengerti"
"jadi bagiamana Arsen, apa benar yang dikatakan Adara?" tanya tuan Aryo pada putra nya
"itu emang benar om semua emang udah bener-bener terjadi sesuai dengan ceritaku tadi" Adara cepat-cepat menjawab sebelum didahului Arsen
"salah dia ayah suruh siapa jalan dipinggiran comberan kan jadi kena lagian disini juga bukan sepenuhnya salah Arsen"
"gue engga salahh! salah Lo tuh lahhh bawa mobil ngebut-ngebut dasar cowok monster!!" sengit Adara tak terima
"salah Lo lah suruh siapa jalan lambat udah tau di situ ada comberan malah di deketin dasar Mak Lampir" Arsen tak mau kalah
"maksud Lo siapa hah Mak Lampir? gue? enak aja Lo! bunda sama ayah udah bagus-bagus ngasih nama gue Adara Fradella malah Lo panggil Mak Lampir" Adara berkata penuh penekanan
"gue ga nanya nama Lo Lampir!"
Adara mendengus kasar, sebisa mungkin ia tak mengeluarkan marah nya yang sudah penuh
"sudah-sudah jangan debat lagi, sekarang kalian semua duduk dulu" perintah tuan Derry
Arsen dan Adara menurut ia duduk dengan kompak
"ngapain Lo ikutan duduk disitu? ini tuh kursi rumah gue, gue ga terima di dudukin sama Lo!" bentak Adara
"dara, gaboleh gitu sayang engga baik, bunda engga pernah ngajarin dara kaya gini loh" tegur bunda Laura
Adara diam mendengar perkataan bunda nya "maaf bunda" kemudian ia mendelik tajam ke arah Arsen sedangkan Arsen hanya memasang wajah cool nya
__ADS_1