
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote untuk author ya gengs supaya author makin semangat update terusss ni😍
Happy Reading😘
Siang itu Arsen bersama Adara sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat entah tempat apa itu Arsen tak tahu, sudah berkali-kali Arsen bertanya pada Adara namun tetap saja Adara tak memberitahunya
"Kita ini sebenarnya mau kemana sih Ra, terus itu oleh-oleh yang kemarin kamu beli mau di kemanain coba"
"Ini pertanyaan udah yang ke seratus kalinya kamu ulangi Arsen, udah aku bilang ikuti aja arahnya lagian aku engga akan buat kamu tersesat kok" jawab Adara yang sudah mulai kesal
Arsen hanya membuang nafasnya kasar
"Sebentar lagi kita sampai" ucap Adara
Arsen diam, tetap fokus menyetir mobilnya
"Nah tuh kita sampai" Adara menunjuk pada sebuah bangunan yang cukup luas dengan pagar besi yang terbuka
Arsen mengernyitkan dahinya "panti asuhan Ra?" Tanya Arsen
"He'em iya ayo masuk" jawab Adara
Arsen pun membelokkan mobilnya masuk ke dalam gerbang panti asuhan yang terbuka lebar
Semua anak-anak panti yang berada disitu langsung menatap kagum pada mobil mewah yang di kendarai Arsen
"Wahh siapa tuh yang datang" kata salah satu anak disitu
Ada juga yang berlari masuk ke dalam memanggil ibu pengasuhnya
Pintu mobil di buka keluarlah Adara yang membuat semua anak disitu langsung menghampiri Adara karena bagi mereka Adara sudah tak asing lagi
"Assalamu'alaikum anak-anak" ucap Adara sambil tak lupa dengan senyuman cantiknya
"Wa'alaikumsalam kak dara" semua anak-anak itu langsung menyalami tangan Adara satu persatu
"Kak dara kemana aja kok udah lama engga kesini, kami semua kangen sama kak dara" kata Tirta salah satu anak disana
"Betul kak, kami semua kangen main sama kakak. Setiap hari kami selalu menunggu kedatangan kakak" kata Risa menimpali
"Kakak sibuk sayang, maafin kakak ya karena Kakak terlalu sibuk sampe engga sempat Dateng kesini" Adara mengusap rambut Tirta dan Risa bersamaan
"Iya kak engga apa-apa yang penting sekarang kakak udah ada disini"
"Waahh, kakak ganteng ini siapa kak?" Tanya diva menunjuk ke arah Arsen yang sedari tadi hanya diam di samping Adara
"Oh iya kenalkan ini suami kak dara, kalian bisa memanggilnya kak Arsen" jawab Adara
"Kak dara kan dulu janji sama kita mau bacain cerita kisah para nabi, gimana jadi engga kak?" Tanya Tirta
__ADS_1
"Iya kak gimana? Jadi engga?" anak-anak yang lainnya ikut menimpali dengan antusias
"Jadi kok, tenang aja kakak udah bawa buku ceritanya nih, hari ini kakak akan menceritakan kisah mukjizat nabi Musa"
"Horeee" semua anak-anak itu bersorak senang
Arsen sedari tadi hanya diam terus memandang dan memperhatikan Adara, ia tak ikut berbicara sepatah kata pun, hatinya benar-benar kagum dan takjub pada sosok Adara "dia benar-benar bukan manusia biasa, terimakasih ya Allah terima kasih" Arsen berkata dalam hati tak henti-hentinya ia bersyukur pada Allah karena telah menghadirkan sosok Adara di kehidupannya
Setelah beberapa jam kemudian Adara pun berpamitan pulang, semua anak-anak itu terlihat keberatan saat Adara akan pulang, apalagi Tirta sampai menangis, namun Adara dengan sabar dan telaten mencoba menenangkan anak-anak itu mencari pengertian nya sampai anak-anak itu pun luluh juga mempersilahkan Adara pulang dengan berat hati
Tak lupa pula sebelum pulang Adara membagikan oleh-oleh yang ia bawa dengan ditambah sembako dan uang kepada panti asuhan itu.
...
Dalam perjalanan pulang..
"Kita mampir ke taman bermain dulu yuk" ajak Adara pada Arsen
"Boleh Ra, udah lama juga aku engga pernah ke taman, terakhir kali ke taman bermain dulu sekali waktu umur 4 tahun" Arsen menyetujui ajakan Adara
"tinggalnya di kota tapi engga pernah ke taman bermain, ya kali yang bener aja sen" kata Adara tak percaya
"Beneran Ra aku engga bohong"
Saat sudah sampai di taman bermain yang mereka tuju Arsen dan Adara memilih duduk di kursi pinggir taman, taman itu terletak tak terlalu jauh dari rumah orang tua Adara. Mereka asik menikmati pemandangan indahnya sore hari yang cerah itu
"Ra, kita beli es krim itu yuk" Arsen menunjuk pedagang es krim yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk
"Kamu tunggu disini dulu ya Ra sebentar, biar aku yang belikan es krimnya" kata Arsen
Adara hanya membalas dengan anggukan
Beberapa menit kemudian Arsen kembali dengan membawa dua buah es krim
"Nih Ra" Arsen menyerahkan salah satu es krim yang ia beli untuk Adara
Adara tersenyum menerima es krim dari tangan Arsen "makasih sen"
Mereka pun asik menikmati es krim nya sambil melihat anak kecil yang sedang berlarian kesana kemari bermain di taman itu
Arsen memerhatikan wajah Adara yang terlihat gembira mengamati anak kecil yang sedang bermain di depan mereka
"aku perhatikan sejak dari panti asuhan tadi Keliatan nya Kamu suka sekali sama anak kecil ya Ra?" Tanya Arsen
"Suka bangett sen, mereka sangat lucu sekali, jadi mengingatkanku saat aku masih kecil" jawab Adara sambil senyum-senyum sendiri
"Engga kebayang gimana cantik dan lucunya kamu waktu kecil Ra, sekarang aja dewasa nya cantik sekali" Arsen menoel hidung Adara gemas
"Ish apaan coba sen" Adara tersipu malu
__ADS_1
"Udah cantik, baik hati pula. Perfect sekali, Apalagi yang kurang dari dirimu Ra" puji Arsen
"Kamu kalo muji tuh jangan berlebihan deh sen"
Arsen tertawa karena lucu melihat istrinya yang terlihat salah tingkah
"Di taman ini juga aku bisa menemukan suka dan duka ku dulu" Adara tersenyum memandangi sekeliling taman itu
"Apa tuh Ra? Cerita dong" tanya Arsen penasaran
"Kamu mau tau?" Tanya Adara sedikit menggoda
"Iya Ra, ayo ceritain dong sama suamimu ini" kata Arsen tak sabar
"Dulu, waktu aku masih kecil bunda selalu ngajak aku bermain di taman ini, setiap sore pasti bunda ngajak aku dan kak Andra main disini sambil menyuapi kami makan sore itu karena bunda merawat kami sendiri tanpa di bantu baby sitter, aku dan kak Andra asik bisa bermain kejar-kejaran, bermain ayunan, dan masih banyak lagi, semua permainan selalu kami mainkan, sungguh hari itu setiap hari begitu sangat menyenangkan buat aku" Adara menceritakan kisahnya dengan senyum yang merekah
"dan beberapa tahun kemudian.." tiba-tiba wajah Adara langsung terlihat murung
"Kenapa Ra?" Tanya Arsen heran melihat wajah istrinya yang tiba-tiba terlihat murung
"Waktu aku umur 10 tahun, ada suatu kejadian di taman ini yang benar-benar engga bisa aku lupakan seumur hidupku, entah aku harus senang atau sedih, aku senang karena hikmah dari kejadian itu aku bisa dipertemukan dengan dua orang yang sangat baik sekali orang itu yang udah selamatkan aku, dan aku sedih karena harus mengalami kejadian yang buruk di hidupku, kalo saja seandainya engga ada mereka yang selamatkan aku entah apa yang terjadi" Adara bergidik membayangkan kejadian buruk yang ia alami
"Kejadian apa itu Ra? Apa yang terjadi sama kamu? Ayo ceritain sama aku" Tanya Arsen penasaran dengan masa lalu istrinya itu
Adara kembali bergidik ngeri namun dengan dibarengi dengan spontan ia memeluk Arsen seolah sedang ketakutan
Arsen yang faham dengan istrinya sedang ketakutan langsung ikut memeluk tubuh Adara "maaf Ra, iya aku engga maksa kamu buat cerita kok, aku akan nunggu kamu siap ceritain semua ini"
Arsen merasa istrinya ini mengalami trauma dengan kejadian yang ia alami tapi Arsen juga tidak tahu kejadian apakah itu namun Arsen tidak mau terburu-buru mendesak istrinya untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya karena ia tak mau membuatnya tertekan atau semakin ketakutan karena harus mengingat dan membayangkan kembali pengalaman buruknya
Setelah dirasa istrinya itu sudah cukup terlihat tenang Arsen kembali bertanya "mereka yang nolongin kamu itu siapa Ra?" Tanya Arsen
Adara melepaskan pelukannya dan membenarkan posisi duduknya "nah ini masalahnya aku engga tau mereka sekarang ada dimana, seingatku dulu waktu aku masih kecil rumah mereka letaknya engga jauh dari taman ini, masuk ke dalam pelosok, tapi sekarang udah engga ada, waktu itu juga aku datang kesana tapi engga ada orangnya, rumahnya udah kosong, kata tetangga di situ sih orangnya sudah pindah ke kampung, andai saja bisa bertemu lagi, aku pengen sekali ketemu lagi sama mereka" Adara menjelaskan dengan penuh harap
Arsen mengusap rambut Adara "aku yakin, kamu pasti bisa ketemu mereka lagi suatu hari nanti"
"Aamiin" Adara mengaminkan ucapan Arsen
"Arsen, kalo engga keberatan. Ceritain juga dong masa kecil kamu seperti apa, aku penasaran sampai kamu engga pernah pergi ke taman bermain sebenernya kenapa sen?" Tanya Adara dengan hati-hati karena takut akan melukai hati suaminya itu
Arsen menarik nafasnya kemudian menghembuskannya secara perlahan
Adara yang melihat itu ingin sekali mengurungkan niatnya meminta suaminya bercerita "kalo kamu masih keberatan engga apa-apa kok sen, jangan dipaksakan"
"Emmm maaf ya Ra" ucap Arsen sedikit merasa bersalah
"Iya engga apa-apa kok aku ngerti" Adara mengusap pipi Arsen
Arsen tersenyum mengangguk "sebaiknya kita pulang yuk Ra, udah hampir petang ni bunda pasti khawatir kalo kita belum pulang"
__ADS_1
"Bener juga ya, yaudah yuk"
Mereka pun kembali masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang kerumah orang tuanya