My Bad Husband

My Bad Husband
Eps. 70


__ADS_3

Adara terus berlari menuju warung Bu Siti untuk menghindari keberadaan Arsen disana dan beruntung nya sesampai di warung Bu Siti ia melihat semua masakan sudah habis terjual karena itu sudah masuk sore hari, Adara mendapati Bu Siti disana sedang memindahkan beberapa wadah kotor bekas masakan dari etalase, ia pun dengan terburu-buru menyuruh bu Siti menutup warungnya dan langsung pulang ke rumah


"Atuh kenapa neng? Kok buru-buru ngajak pulang gini, nenek belum beres-beres warung nya belum nyuci piring" kata Bu Siti yang kebingungan karena tiba-tiba saja adara langsung mengajaknya pulang tidak seperti biasanya, apalagi ini seperti yang sedang ketakutan


"Engga apa-apa nek, nanti aku ceritain di rumah, engga bakal sempat kalo kita ceritain disini" jawab Adara sambil menggembok pintu warung dengan terburu-buru kemudian ia menggandeng tangan Bu Siti untuk segera pergi


"Tapi neng, ini mobil nya temen neng kumaha atuh?" Tanya bu Siti


"Udah engga apa-apa nek, nanti juga temen aku bakal balik lagi kesini sendiri ngambil mobilnya"


Adara terus berjalan menuju rumah menggandeng tangan Bu Siti dengan terburu-buru sedangkan Bu Siti hanya diam saja tak banyak bicara lagi ia mengikuti apa saja yang Adara lakukan, dan sesampainya dirumah Adara langsung mengunci pintu dan menutup jendela dengan kordennya, kebetulan sekali kak Bima dan pak Abdul sedang tidak akan pulang kerumah karena sedang ada kesibukan di luar dengan pekerjaan nya jadi tidak membuat Adara cemas jika ia mengunci pintu rumahnya


Setelah memastikan semuanya aman Adara duduk di atas kursi dengan membuang nafas lega


Bu Siti yang melihat apa yang Adara lakukan menjadi semakin bingung "neng teh kenapa? Sebenernya ada apa neng?"


"Itu nek.." Adara tampak ragu untuk memberitahu pada Bu Siti


"Itu naon (apa) atuh neng?" Tanya Bu Siti yang semakin penasaran dan khawatir jika memang ada apa-apa atau sesuatu yang berbahaya


"Ada Arsen disana nek"


"Arsen? Arsen teh saha (siapa) ya?" Tanya Bu Siti lagi


Adara diam tak menjawab


"Ohh iya nenek ingat, itu teh seperti nama suami neng, yang waktu itu di sebutin sama Bima kan, oh jadi ada suami neng disana gitu?" Kata Bu Siti setelah ia berhasil mengingat nama suami Adara yaitu Arsen


Adara menganggukkan kepalanya pelan


"Aduh atuh bagus neng, neng bisa ketemu lagi sama suami neng. Terus kenapa ini sampe ngunci rumah nutup korden segala"


"Engga nek" ucap Adara pelan


"Engga apa ai neng?"


"Engga mau ketemu sama Arsen"


"Astaghfirullah si neng, sama suami engga boleh gitu atuh neng, itu suami neng nyariin meureun (mungkin) ya"


"Engga tau nek aku takut di marahin lagi, aku takut denger marahan sama bentakan Arsen" Adara memegang tangan Bu Siti seolah ia memintanya perlindungan karena tiba-tiba saja ia teringat dengan Arsen yang dulu pernah menendang nya karena ia salah memijat kakinya dan selalu membentaknya


Bu Siti membalas pegangan tangan Adara ia pun juga tak lupa mengusap rambut dan punggung Adara memberinya ketenangan seolah ia tahu apa yang sedang ada di fikiran Adara sekarang


....


Sementara itu di warung yang sudah Adara tutup

__ADS_1


Setelah Reza berhasil meyakinkan Nisya untuk menemui Arsen dan Arsen berhasil meluruskan apa yang terjadi sebenarnya bahwa semua ini hanya kesalah fahaman nya pada Adara akhirnya Nisya pun pasrah memberi tahu dimana tempat Adara tinggal yaitu menuju warung tempat tadi ia bertemu Adara dan tempat ia memarkirkan mobilnya disana


"Gue beneran engga tau sen Adara tinggal dimana, kalo gue engga tau apa yang harus gue kasih tau dong?" Kata Nisya


"Terus ini gimana Lo bisa ada di sini?" Tanya Arsen


"Si dara cuma ngasih alamat ke warteg ini, dan waktu itu dia juga bilang kalo rumah yang dia tinggali masuk ke pelosok susah di jangkau bahkan engga masuk ke maps" Nisya kembali menjelaskan pada Arsen


"Oke, kalo gitu Lo tau kan pelosok nya di arah mana, di sebelah mana?" Tanya Arsen


Nisya menggelengkan kepalanya "engga tau juga"


"Nisya Lo--" ucapan Arsen terpotong


"Ah udah kalian banyak omong buang-buang waktu doang, Lo kan punya mulut sen, tinggal tanya sama orang sekitar sini dimana rumah pemilik warteg ini, warteg apa namanya ini" Reza melirik ke arah spanduk warteg "namanya warteg pereda lapar, kita tanya sama setiap warga disini, udah kan beres engga usah banyak debat"


"Astaga, Lo benar-benar jadi **** gini gara-gara Adara parah Lo sen parah" Alex menepuk-nepuk pundak Arsen


"Bacot Lo berandal!" Pekik Arsen


"Udah ayo jalan buruan"


Mereka berempat pun kembali berjalan mencari tempat keberadaan rumah yang Adara tempati alias rumah Bu Siti dengan cara bertanya kepada setiap warga disana seperti yang disarankan oleh Reza tadi


Ternyata tidak terlalu sulit seperti yang mereka kira untuk mencarinya karena ternyata Bu Siti pemilik warteg itu sangat terkenal di kalangan warga disana sehingga memudahkan untuk mereka menemui rumah yang mereka cari


"assalamu'alaikum" ucap mereka berempat serempak


Namun tidak ada jawaban dari dalam


"Apa kita engga salah rumah ya? Ini kaya rumah kosong liat tuh rumah mana yang kalo ada orang nya tapi jam segini jendela nya udah di tutup rapi" kata Nisya


"Aku yang yakin disini, pasti Adara ada di dalam sembunyi dan sengaja nutup rumah ini seolah terlihat rumah kosong" ujar Reza


Sedangkan dari dalam Adara sedang mengintip mereka dengan membuka sedikit celah korden nya


Arsen yang sedang melihat kesana kemari tak sengaja menatap Adara yang sedang mengintip mereka


"Adara, Daraa buka pintu nya Ra, aku tau kamu ada di dalam, aku mau ngomong sama kamu aku mau minta maaf sama kamu Ra" teriak Arsen


"Gimana ini atuh neng, biar nenek buka pintunya ya" ucap Bu Siti pada Adara khawatir para tetangga nya berburuk sangka yang tidak-tidak pada Bu Siti karena rumah nya di teriaki oleh 4 pemuda


"Iya deh nek, nenek buka aja pintu nya, tapi aku mau nunggu di kamar aja sampe mereka pergi" ujar Adara


"Iya sok neng mah tunggu di kamar aja biar nenek yang hadapi mereka, jangan takut ya neng" Bu Siti mengusap rambut Adara


"Iya nek makasih" ucap Adara kemudian ia masuk ke dalam kamar nya dan menutup pintu itu rapat-rapat

__ADS_1


"Ceklek" pintu rumah terbuka "wa'alaikumsalam, maaf dengan siapa?" Tanya Bu Siti pura-pura tidak mengetahui mereka


"Adara, loh bukan nya ini rumah yang di tempati Adara, kok?" Ucap Arsen bingung


"Jangan bingung sen, dia nenek nya Adara" jawab Nisya yang faham dengan kebingungan Arsen


"Nenek nya Adara, oh nenek" Arsen menyalami tangan Bu Siti, yang Arsen kira Bu Siti ini adalah orang tua dari ayah/ibu mertua nya


"Maaf ini siapa?" Tanya Bu Siti


Namun yang menjawab bukan Arsen melainkan Nisya "nenek tau sama aku kan? Aku yang tadi di warung ngajak Adara ke cafe sana"


"si neng ini, iya nenek ingat. Ini teman nya neng Adara kan" jawab Bu Siti


"Nah iya nek, aku temen nya Adara. Dan ini Arsen suaminya Adara, kemudian ini Reza dan ini Alex teman kami" Nisya memperkenalkan mereka bertiga


Reza dan Alex membungkukkan badannya sopan pada Bu Siti


"Oh ini suami nya neng Adara teh, Masya Allah tampan pisan (banget) ya, ayo masuk dulu atuh masuk" ucap Bu Siti


"Waduh si nenek malah disuruh masuk ke dalam pula" gumam Adara yang sedari tadi mengintip interaksi mereka melalui celah pintu yang terbuka sedikit


"Nenek buatkan minum dulu ke dapur sebentar ya" Bu Siti hendak berdiri dari duduknya


"Wah jangan nek, engga perlu repot-repot, kami udah minum banyak barusan di cafe" tolak Arsen dan di angguki oleh teman-temannya


"Atuh kenapa? Nenek engga enak atuh ada tamu masa engga di suguhi apa-apa" kata Bu Siti yang merasa tidak enakan


"Beneran nek, engga apa-apa" ucap Reza


"Si Ujang ini teh pacarnya si neng ini ya?" Bu Siti menunjuk ke arah Reza dan Nisya membuat mereka berdua saling bertatapan


"Pacar" gumam Reza dan Nisya


"Oh bukan nek" jawab Nisya malu


"Iya nek, lebih tepatnya ini calon istri saya" jawab Reza dengan merapatkan duduk nya dan merangkul bahu Nisya


Nisya melotot ke arah Reza "Lo apa-apaan"


"Aduh pantesan kalian cocok pisan neng, Jang" Bu Siti mengacungkan dua jempolnya


"Tapi nek--"


"Nenek do'akan semoga kalian cepet nikah ya biar bisa nyusul nak Arsen sama neng Adara temen kalian" ucap Bu Siti


"Aamiin ya Allah, makasih ya nek" ucap Reza

__ADS_1


__ADS_2