
di sebuah cafe di tengah ibu kota, Fahri sedang duduk santai menyeruput es capuccino miliknya, ia masih setia duduk disitu sedari tadi menunggui kedatangan Adara, bahkan ia sudah menghabiskan 3 gelas es cappucino
"dara ini kemana ya? apa dia engga bisa datang lagi? tapi aku yakin dia akan datang" Fahri berkata pada dirinya sendiri
Fahri melihat-lihat ke luar jendela cafe itu, tiba-tiba matanya menangkap sosok gadis yang tak asing baginya
"itu seperti Adara" gumam Fahri
Fahri terus saja memperhatikan gerak gerik gadis itu yang berjalan semakin dekat dan masuk kedalam cafe tempat ia duduk
dan benar saja itu Adara
Adara celingukan kesana kemari mencari keberadaan Fahri
Fahri yang merasa Adara sedang mencarinya, ia langsung berdiri dari duduknya "Adara, sini" teriak Fahri sambil melambai-lambaikan tangannya pada Adara
adara yang merasa terpanggil pun langsung menoleh ke arah Fahri dan langsung berjalan mendekat menghampiri Fahri
"kak Fahri, Kaka sudah lama nunggu disini?" tanya Adara khawatir jika Fahri sudah menunggunya terlalu lama
"oh engga kok dara, kakak baru saja datang kok ini minuman kakak baru habis sedikit" jawab Fahri berbohong padahal yang sebenarnya itu gelas yang baru setelah ia menghabiskan 3 gelas capuccino
"syukurlah kalo kakak masih belum lama" Adara menghela nafasnya legaa
"kamu engga perlu sungkan dara kalo sama kakak" kata Fahri
"hehehe" Adara hanya terkekeh
"sebaiknya kamu memesan makanan dulu silahkan, tenang saja kakak yang bayar" Fahri menyerahkan buku menu yang ada di meja itu pada Adara
"aku bayar sendiri aja kak" kata Adara
"silahkan di pesan dulu"
"pelayan kemari" Fahri memanggil pelayan cafe itu
"iya kak, ada yang bisa kamu bantu?" tanya pelayan itu dengan tersenyum ramah
"ini kak aku mau pesan Chocolat cake sama minuman nya dalgona coffee" pesan Adara
"baik kak, mohon di tunggu sebentar" pelayan itu langsung pergi untuk menyiapkan pesanan Adara
tak lama kemudian pesanan Adara datang
"silahkan kamu makan dulu dara" ucap Fahri
Adara menikmati makanannya
Fahri terus memperhatikan Adara yang sedang makan
"Masya Allah, cantik sekali" gumam Fahri
Adara yang merasa terus diperhatikan oleh Fahri langsung menegurnya "kak, kakak kenapa liatin wajah aku terus apa ada yang salah? jilbabku miring atau kenapa kak?"
__ADS_1
"ah engga, engga apa-apa kok dara, kamu terlihat jauh lebih cantik jika memakai jilbab seperti ini"
"kakak bisa aja, yang namanya perempuan pasti cantik kak engga mungkin tampan"
"iya tapi tetep kamu yang paling cantik di mata kakak" Fahri menggoda
Adara hanya tersenyum menanggapi gombalan receh dari Fahri
Fahri berdehem kikuk karena merasa candaan nya terdengar garing
"oh iya dara, maksud kakak ngajak kamu kemari kakak ingin berkenalan lebih jauh sama kamu, kemarin kita cuma bertegur sapa sebentar itu pun di pinggir jalan dan kamu sedang buru-buru" kata Fahri mengalihkan pembicaraan
"ah iya kak silahkan, kakak mau bertanya apa aja aku jawab selagi aku bisa jawab" kata Adara
"kamu sudah punya pacar dara?" tanya Fahri
Adara terdiam sejenak dalam hati ia berkata"bukan punya pacar lagi, malahan aku sudah punya suami kak, dan lebih parahnya lagi suamiku itu temen kakak yang super menyeramkan" namun sayangnya ia tidak bisa mengatakan ini langsung pada Fahri
"aku engga punya pacar kak, tapi kalo orang yang spesial Alhamdulillah ada" jawab Adara
"ish aku sudah benar-benar gila secara tidak langsung aku sudah mengatakan Arsen adalah orang yang spesial, astaga"
"yaaah, sangat di sayangkan sekali" terlihat raut kecewa terpancar di wajah Fahri
"kenapa kak?" tanya Adara
"ohh engga apa-apa kok dara" Fahri berusaha tersenyum tulus
malam itu mereka berdua terus berbincang-bincang banyak hal sampai Adara lupa waktu bahwa ia sudah harus pulang sebelum jam 7
"dara kamu kenapa? mau pulang?" tanya Fahri yang melihat Adara seperti buru-buru dan dengan raut wajah yang terlihat gelisah
"maaf kak, sepertinya obrolan kita harus selesai sampai disini dulu, aku harus segera pulang, ini sudah malam bisa gawat kalo aku makin telat pulang nya, aku pamit dulu ya kak, sampai jumpa" pamit Adara
"gadis itu kenapa selalu terburu-buru, apa yang sebenarnya terjadi padanya sehingga apa-apa selalu terburu-buru? aku harus mencari tau sendiri. dara, dara kamu selalu membuatku penasaran"
.
.
.
.
.
saat sudah keluar dari cafe itu Adara langsung masuk ke dalam taksi yang sedang mangkal tak jauh dari cafe
"pak, tolong antarkan saya ke jl. xxxxxx" kata Adara
"siap non" jawab pria paruh baya yang berada di dalam mobil taksi itu yang tak lain adalah sang supir
tak butuh waktu terlalu lama taksi itu langsung meleset dan sampai di kediaman Adara
__ADS_1
"ini pak ongkosnya" Adara memberikan beberapa jumlah uang kepada sang supir taksi
supir taksi itu pun langsung pergi setelah sebelumnya ia tak lupa berterima kasih pada Adara
Adara membuka pintu rumahnya itu dengan hati yang berdebar-debar, kali ini ia bukan takut Arsen marah tapi ia benar-benar sangat takut jika malam ini ia harus tidur satu kamar dan satu ranjang dengan Arsen
ceklek..
pintu rumah terbuka
"assalamu'alaikum" kata Adara pelan
"wa'alaikumsalam" jawab Arsen
suara Arsen menjawab salam bukan terdengar dari dalam rumah ataupun dari dalam kamarnya melainkan terdengar tepat dari belakang Adara, yang mana membuat Adara langsung merinding, Adara membalikkan badan nya perlahan ternyata benar disitu ada Arsen sedang bersandar di belakang pintu
"Arsen, kamu ngapain disitu?" tanya Adara gelagapan
"tentu saja aku sedang menunggu kedatangan istriku yang sudah aku tunggu kedatangan nya sejak tadi dan seperti nya malam ini keberuntungan sedang berpihak padaku, lihatlah Jam dinding itu" Arsen menyeringai sambil menunjuk ke arah jam dinding yang berada tak jauh dari Mereka
Adara langsung bergidik ngeri "Arsen, boleh engga kalo hukuman nya di ganti? aku janji bakal mau melakukan apa aja deh yang kamu minta asal jangan ngajak tidur bareng" Adara mencoba menawar
"kamu yakin? aku boleh minta hukuman lain?" tanya Arsen masih dengan seringai jahilnya
"i, iyaa" jawab Adara tergagap
"yaudah aku minta satu aja deh yaitu kamu harus mau menuruti semua keinginanku dan aku ingin kamu tidur bareng aku, udah tuh kan" Arsen menahan dirinya sekuat tenaga agar tidak tertawa karena merasa lucu menggoda Adara sang istri polosnya itu
"mana bisa gitu Arsen kok berbelit-belit sih, kalo gitu sama aja kamu curang" Adara mencebikan bibir nya yang mana membuat Arsen semakin gemas pada Adara
Arsen langsung menggendong Adara ala bridal style menuju kamar nya dan langsung mengunci pintu kamar nya dari dalam
dan...
.
.
.
. Bersambung
penasaran kan apa yang terjadi selanjutnya pada Adara dan Arsen? apakah mereka akan belah duren pada malam itu?
Author nya juga penasaran ni😆 makanya jangan kemana-mana tetap stay di novel ini yaa biar tau jawaban nya🤭
Seperti biasa oke, ingat jangan lupa......
VOTE! VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
tentu saja apalagi permintaan author kalo bukan cuma LIKE & VOTE
Hehehehe, kan author juga butuh penyemangat dari kalian dong yaitu dengan cara VOTE & LIKE
__ADS_1
Oke guys sampai jumpa di episode selanjutnya yaa😉
Author sayang kalian semuaa😍😘😘😘