
"nomor tak dikenal, siapa ya?" gumam adara
Adara memilih untuk mengangkat telfon itu karena takut orang yang penting setelah sebelumnya ia bimbang memilih antara mengangkat telfon atau tidak
Adara hanya menempelkan hp itu ke telinga nya tanpa berbicara apapun ia menunggu orang di sebrang sana untuk memulai percakapan
"Halo, Assalamu'alaikum" kata seseorang di seberang sana
"wa'alaikumsalam siapa ya?" tanya Adara
"ini nona Adara kan? saya Fahri nona" jawab Fahri
"ohh kakak, sudah ku bilang panggil dara aja kak engga usah pake embel-embel nona" kata Adara
"heheheh, maaf dara kebiasaan" Fahri Terkekeh
"Ya sudah lain kali aku engga mau dengar kakak panggil aku nona lagi"
"dara ini ada-ada saja, oh iya, maaf kakak baru bisa menghubungi kamu sekarang karena beberapa hari ini kakak benar-benar sedang sibuk"
"iya tidak apa-apa kak"
"apa besok dara bersedia bertemu kakak di cafe B?'' tanya Fahri
"emmm tapi besok aku kuliah kak" jawab Adara
"ya maksud kakak sepulang kamu kuliah"
Adara bingung antar menolak atau menyetejui ajakan Fahri, tapi ia merasa tidak enak jika menolak "oke kak insya Allah bisa kalo ada waktu"
__ADS_1
"Alhamdulillah, besok kakak tunggu di sana ya"
"iya kak"
"sebaiknya kamu segera tidur ini sudah malam, engga baik buat seorang gadis kalo tidur terlalu malam"
"siap kakak"
"ya sudah Kakak tutup dulu ya, sampai jumpa besok, good night Adara, assalamu'alaikum"
"night too kak, wa'alaikumsalam" Adara menutup telfonnya
di seberang sana Fahri tersenyum senang hatinya berbunga-bunga mendengar respon Adara
"benar-benar gadis yang menarik" gumam Fahri
"ada apa dengan hati gue kok ngerasa engga enak gini" entah kenapa hati nya merasa terbakar panas melihat Adara terlihat sangat akrab telfonan dengan laki-laki lain namun lagi-lagi ia buang jauh-jauh perasaan nya itu
"siapa?" tanya Arsen pada Adara dengan wajah datar
ingin rasanya Adara menjawab "bukan urusan Lo!!" tapi entah kenapa bibirnya terasa sangat sulit dan berat untuk mengatakan nya
"bukan siapa-siapa kok cuma temen" jawab Adara
entah setan darimana yang merasukinya tiba-tiba Arsen merebut pons Adara ia melihat dengan jelas kontak yang baru saja Adara beri nama "kak Fahri" gumam Arsen
"ini, nama ini seperti"
"Lo jangan kepo deh" sengit Adara merebut ponsel nya dari tangan Arsen dan beranjak pergi masuk ke dalam kamar nya
__ADS_1
Arsen terbengong ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan ia lakukan
"apa yang udah barusan gue lakukan?? Arsen Lo udah gila!! apa-apaan ini tangan gue ngerebut hp dia, dada gue sakit liat dia akrab sama orang lain, gue bener-bener udah gilaa!!" Arsen marah pada dirinya sendiri menyesali semua perbuatan nya
"tapi tunggu, namanya Fahri apa jangan-jangan itu si Fahri temen gue kalo iya, Lo jangan nyari masalah sama gue ri, gue berharap itu bukan Fahri Lo!" Arsen mengacak rambutnya dengan kasar.
keesokan harinya saat sedang sarapan pagi
seperti biasa Adara dan Arsen sarapan berdua pagi itu
"nanti pulang dari kampus masakin gue siomay, gue pengen siomay" kata Arsen
"kalo pengen siomay kenapa engga beli diluar aja kan banyak yang jual, beli nya di tempat yang higienis" jawab Adara
"tapi gue pengen nya Lo yang buat bukan beli di luar" ucap Arsen
"tapi sekarang sepulang dari kampus gue lagi ada kepentingan sama temen"
"jadi sekarang Lo udah bisa mentingin temen yang orang lain dari pada mentingin gue sebagai suami Lo, gitu iyaa??!!" pekik Arsen
"engga kok engga gitu, iya nanti gue bikinin" kata Adara pasrah
"bagus" Arsen tersenyum penuh kemenangan
sebenarnya ini adalah rencananya karena ia tidak mau Adara bertemu laki-laki lain tapi gengsi nya yang terlalu besar untuk mengatakan kalo ia melarang karena takut di sangka bahwa sedang cemburu
walaupun ia kenyataan nya ia memang cemburu tapi Arsen tidak mau mempermalukan dirinya sendiri
Makanya hanya ini cara satu-satunya dengan memaksa Adara memasak makanan yang prosesnya lama supaya menghabiskan waktu yaitu dengan membuat siomay
__ADS_1