
Happy Reading❤️
Sudah hampir satu Minggu Arsen tinggal dirumah Bu Siti semata-mata hanya karena ia ingin selalu dekat Dengan Adara, walaupun setiap hari Adara selalu menyuruhnya untuk pulang tapi Arsen tak pernah menggubris perkataan Adara sedikitpun yang penting sekarang adalah ia ingin selalu berada di dekat Adara dan menebus segala kesalahan nya yang sudah ia perbuat
Arsen berjalan hendak pulang ke rumah Bu Siti setelah ia membeli barang yang di perlukan Adara tadi, sebenarnya Adara tidak menyuruh Arsen tapi Arsen sendiri lah yang memaksa ingin membelikan untuk Adara, di tengah jalan ia pulang tak sengaja ia berjumpa dengan segerombolan pemuda.
Salah satu pemuda itu langsung merangkul bahu Arsen, Arsen tidak tahu bahwa pemuda yang merangkul nya ini adalah orang yang beberapa bulan lalu pernah datang ke rumah Bu Siti untuk melamar Adara. Namun sayang sekali lamaran nya Adara tolak, pemuda itu di ketahui bernama Arul
"Dari mana bos?"
"Halo bang, ini saya baru dari toko" jawab Arsen ramah, tentu saja Arsen harus ramah mengingat ia bukan orang asli disana melainkan tamu dan saat ini orang yang berada di hadapan nya adalah orang asli sana makanya ia harus sopan walaupun Arsen sudah tau jika diliat dari wajahnya bahwa para pemuda ini hendak menjahatinya namun Arsen tidak mau bertindak cepat, ia mencoba santai walau di hatinya ada sedikit rasa takut
Pemuda yang bernama Arul itu merebut kantong plastik belanjaan Arsen "apa ini? Roti?" Ia melemparkan kantong plastik itu ke sembarang arah dengan dibarengi oleh gelak tawa para teman nya yang lain
"Jangan bang!" Arsen hendak memunguti roti yang sudah terlempar namun roti itu malah langsung di injak oleh Arul membuat Arsen marah mengepalkan tangan nya
"wah marah, liat bro ada yang marah" kata Arul pada teman nya membuat mereka kembali menertawakan Arsen
"Maaf bang, mau abang apa?"
Arul berjalan mendekati Arsen "Mau kita? Kita semua mau mukulin kamu!" Semua teman-teman Arul bersiap mengambil ancang-ancang
"Tapi salah saya apa bang?"
"Salah kamu?" Sudut bibir Arul terangkat "kamu udah berani merebut perempuan itu, peraturan di daerah ini, siapapun yang berani mengusik hidup saya jangan harap hidupnya bisa tenang"
Arsen mengerutkan dahinya bingung "perempuan itu? Maksud Abang siapa? Saya engga pernah merebut pasangan orang lain bang. Lagipula saja juga udah punya istri"
"Halaahh kamu engga usah pura-pura bodoh!" Arul menarik kerah kemeja yang di kenakan Arsen "ayo bro mulai"
Semua teman-teman Arul berjalan mendekat bersiap akan memukuli Arsen
"Beneran bang saya engga tau"
Namun perkataan Arsen tak di gubris oleh Arul, ia malah berjalan menjauh dari dekat Arsen yang sedang di pukuli oleh teman-temannya
Sial sekali! Seandainya Arsen tahu dari awal bahwa ilmu bela diri itu akan sangat penting untuknya kelak, mungkin saat itu waktu ayahnya memaksa mendaftarkan ia pada kursus bela diri mungkin ia tidak akan menolak, jika hari itu ia tidak menolak mungkin sekarang ia sudah mengenakan sabuk hitam dan juga tidak akan ada hari ini, hari dimana ia di pukuli oleh sekumpulan pemuda tapi ia tak bisa melawan sedikitpun. dan inilah akibatnya. Akibat dari ia banyak membantah perintah orang tua, tapi apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur. Arsen hanya bisa pasrah menikmati setiap pukulan demi pukulan yang berasal dari tangan segerombolan pemuda ini mengayun bebas mengenai wajah dan tubuh mulusnya.
Setelah puas memukuli Arsen hingga babak belur, segerombolan pemuda itu pun akhirnya bubar meninggalkan Arsen seorang diri disana yang menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, darah segar mengalir bebas di atas pelipis nya dan di penuhi lebam hampir di seluruh wajahnya, Arsen mencoba berdiri. Dilihatnya roti yang ia beli sudah hancur tergeletak di atas tanah ia meringis menahan sakit, kenapa di saat-saat seperti ini bisa-bisanya jalanan disitu terlihat sangat sepi. Biasanya pada jam segini jalanan disini cukup ramai, banyak anak-anak yang sedang bermain dengan di dampingi orang tuanya tapi kenapa sekarang malah tidak sesuai dengan apa yang Arsen harapkan
__ADS_1
Dengan susah payah ia berjalan hingga berhasil sampai di depan rumah Bu Siti, ia mengetuk pintu rumah itu pelan karena tangan nya terasa lemas dan lemah kehabisan tenaga setelah di pukuli
"Astaghfirullah Arsen, kamu kenapa?" Tepat sekali yang membukakan pintu itu adalah Adara karena Bu Siti sedang tidak ada dirumah karena ikut pengajian umum dan Adara di perintahkan untuk menjaga rumahnya. ia terkejut melihat keadaan Arsen pulang ke rumah dengan mengenaskan, Adara memapah tubuh Arsen supaya duduk di kursi
"Air Ra air, aku mau minum" pinta Arsen
Dengan cepat-cepat Adara berlari masuk ke dalam mengambilkan air untuk minum Arsen dan sekalian ia mengambil kotak obat untuk mengobati luka-luka di wajah Arsen
"Ini kamu minum dulu" Adara menyerahkan segelas air pada Arsen yang mana langsung Arsen minum dengan cepat hingga tandas, rupanya di keroyok pemuda itu membuat Arsen kehausan "pelan-pelan Arsen minumnya, aku engga minta"
"Ayo, aku anterin kamu ke rumah sakit aja ya" Adara kembali mengangkat tangan Arsen dengan maksud hendak membantu nya kembali berdiri
"Engga usah Ra engga apa-apa, ini engga parah jadi engga perlu ke rumah sakit" tolak Arsen, ia meringis menahan sakitnya saat berbicara
"Kamu kenapa coba sen? Abis berkelahi ya?" Tanya Adara, raut wajah khawatir nya tidak bisa ia sembunyikan lagi
"Bukan Ra, bukan. Aku jatuh dari atas tangga tadi" jawab Arsen berbohong
Adara membenarkan posisi duduknya menghadap Arsen "sen, engga ada sejarahnya orang jatuh dari atas tangga sampe bonyok gini, kamu kalo mau berbohong tuh yang masuk akal"
Arsen diam, Adara langsung mengambil kapas yang sudah ia beri alkohol untuk membersihkan luka-luka pada wajah Arsen, sesekali Arsen meringis saat kapas yang di pegang Adara menyentuh luka nya, sakit perih semua itu Arsen tahan, setelah memastikan luka nya sudah bersih, Adara menempelkan plester disana dan tak lupa mengompres lebam-lebam di pipi Arsen
"Bilang sama aku, apa yang sebenarnya terjadi?"
Adara menekankan kain yang ia pegang pada lebam pipi Arsen seketika membuat Arsen mengerang kesakitan "mau jujur atau aku tambah pukulin lagi muka bonyok kamu ini?!" Ancam Adara
Arsen terlihat menghela nafasnya bimbang
"aku bukan berkelahi Ra, lebih tepatnya aku di pukuli, karena aku engga melawan berati bukan berkelahi" pada akhirnya Arsen memilih jujur saja pada Adara daripada ia harus kembali di pukuli oleh Adara bisa-bisa nantinya ia ko'id sebelum waktunya mengingat istrinya ini tidak pernah bercanda soal Ancam mengancam
"Cerita yang jelas, siapa mereka yang berani mukulin kamu? Sertakan juga alasan nya kenapa mereka sampai mukulin kamu?"
Arsen mulai menceritakan semua kejadiannya dari awal ia di hadang sampai ia di tinggalkan dalam keadaan babak belur
"Apa itu bang Arul" gumam Adara
Arsen mendengar sekilas gumaman Adara "Siapa kata kamu Ra?"
"Bukan siapa-siapa, sebaiknya aku harus laporkan kasus ini ke polisi" Adara hendak berdiri namun langsung Arsen cegah
__ADS_1
"Jangan Ra, biarkan aja mereka. Lagipula aku engga apa-apa kan ini engga terlalu parah"
"Tapi sen.. aku yang bakal laporkan ini buat kamu"
"Beneran Adara, aku engga apa-apa kok" tolak Arsen memaksa
"Ya sudah" Adara kembali duduk "sen, aku engga mau liat kamu kaya gini. Sebaiknya kamu pulang aja ya"
"Engga Ra!" Sanggah Arsen cepat, suaranya terdengar tegas
"Aku mohon sen, aku tahu siapa para pemuda itu. Kalo kamu masih tetap disini keamanan kamu terancam, mereka bisa aja mukulin kamu lebih dari ini kalo besok-besok kamu masih tetap berada disini'' jelas Adara
Arsen menangkup kedua pipi Adara, ia menatap lekat pada manik hitam milik Adara
"Ra! Mulai sekarang Aku bakal menuruti semua yang kamu minta apapun itu akan aku turuti, kecuali ini. Aku engga akan pernah mau kalo diperintahkan buat menjauh dari kamu, kamu istri aku Ra. Sekalipun aku mati disini karena mereka, itu engga akan jadi masalah buat aku, setidaknya aku masih bisa berada di samping kamu di saat-saat terakhirku" ucap Arsen penuh ketulusan dari sorot matanya membuat air mata Adara lolos seketika di hadapan Arsen
"Ra, aku mohon sama kamu, tolong jangan meminta aku buat menjauh dari kamu lagi, aku engga sanggup ra, walau kamu meminta aku menjauhi kamu sampai gimanapun, percuma. aku engga akan pernah menuruti itu" jempol tangan nya bergerak lembut mengusap air mata Adara yang mengalir di pipinya
Adara melepaskan tangan Arsen dari pipinya setelah ia tersadar sepenuhnya, pipinya terasa panas karena menahan malu
"Ish apaan coba sen, lebay kamu ah. Siapa juga yang nyuruh kamu pulang sendirian, kalo kamu pulang sendirian nanti aku pulang sama siapa dong?"
Arsen terbengong mencerna setiap kata demi kata yang terlontar dari mulut Adara "maksud kamu Ra?" Namun tetap saja otaknya lemot tidak dapat langsung mencerna perkataan Adara begitu saja dengan mudah
Adara memutar bola matanya, ia faham betul bahwa suaminya tidak bisa langsung mengerti dengan bahasa seperti ini, Arsen hanya akan nyambung jika ia di ajak berbicara dengan to the poin
"Aku mau pulang, kamu mau ikutt engga? Kalo engga, yaudah"
"Apa Ra? Kamu mau pulang ke rumah kita?" Tanya Arsen antusias yang di jawab anggukan pelan dari Adara
Arsen spontan memeluk Adara kencang saking bahagianya namun tak lama ia mengaduh kesakitan karena luka di tubuhnya terjepit
"Nah kan, kata aku juga apa. Kalo lagi bahagia tuh inget-inget kamu lagi sakit"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung~
Jangan lupa selalu dukungan nya untuk author ya🤗