My Bad Husband

My Bad Husband
Eps. 56


__ADS_3

Happy Reading❤️


"nona, bangun non. Nona" seorang pelayan hotel menepuk-nepuk pipi Adara untuk membangunkan Adara dari tidurnya


Pelayan hotel itu di perintahkan oleh seorang misterius dengan pakaian serba hitam untuk supaya membangunkan Adara saat hari sudah pagi, tak lupa juga orang itu membayar uang terlebih dahulu pada sang pelayan sebelum ia pergi


Adara membuka mata nya perlahan pandangan nya terasa masih sedikit kabur, ia mencoba mendudukkan tubuhnya secara perlahan karena kepala nya terasa sangat berat


Saat sudah sepenuhnya sadar "Aku dimana? Dan Kenapa kepalaku terasa pusing sekali" Adara bingung memandangi ke sekeliling ruangan yang terlihat asing dimata nya itu


"Anda sekarang sedang berada di hotel kami nona" jawab pelayan yang sedang berdiri di samping ranjang yang Adara duduki


"Di hotel? Sejak kapan aku masuk hotel" gumam Adara


"Kenapa aku bisa ada disini?" Tanya Adara pada pelayan itu bingung


"Bukankah sejak semalam anda datang kemari bersama suami anda nona? Dan tadi suami anda berpesan supaya saya membangunkan Anda" pelayan itu mengira bahwa orang yang menyuruh nya itu adalah suami Adara


"Suamiku? Arsen kah?. Beritahu aku seperti apa ciri-ciri orang itu?"


"Seingat saya tubuhnya tinggi besar dan memakai pakaian serba hitam, mengenai wajahnya saya tidak begitu melihat dengan jelas karena tertutupi oleh kacamata hitam dan topi" kata pelayan itu menjelaskan


Mendengar penjelasan pelayannya, Adara baru menyadari bahwa dirinya telah di culik "Tidaak, itu bukan Arsen" gumam Adara panik karena Adara hafal betul seperti apa ciri-ciri suaminya itu yang cenderung memiliki tubuh yang kurus walaupun tinggi tidak memperlihatkan otot-otot nya yang besar dan sudah di pastikan bahwa orang yang di sebutkan ciri-ciri nya oleh pelayan itu bukan Arsen


Adara meraba dan memperhatikan tubuhnya, ia membuang nafas nya lega, ternyata ia masih memakai pakaian Yang sama saat ia pergi dari rumahnya yaitu Hoodie sweater berwarna kuning dan celana jeans nya, Adara juga tidak merasakan sakit pada bagian sensitifnya, ia jadi merasa tenang setelah sebelumnya ia merasa takut, takut sekali jika mahkota yang selama ini ia jaga hilang direnggut secara tragis oleh penjahat, bahkan Arsen yang notabene sebagai suaminya saja belum sempat mendapatkan itu, ia merasa sangat lega karena ternyata penculiknya itu tidak melakukan apa-apa seperti yang ia fikirkan

__ADS_1


Tapi Adara juga masih merasa bingung apa maksud orang-orang itu yang hanya menculiknya saja kemudian menidurkan nya di hotel tanpa melakukan apapun, apa tujuan nya? Penculik gabut kah?


"Sekarang sudah jam berapa?" Tanya Adara mencoba untuk tetap tenang


"Sudah jam 9 pagi nyonya" jawab pelayan


"Apaa? Jam 9 pagi???" Adara semakin panik, ia buru-buru turun dan ranjang besar itu dengan sedikit kesusahan karena kepalanya masih terasa berat dan pusing, Adara panik karena ia masih ingat betul bahwa ia pergi dari rumah nya sore hari kenapa sekarang sudah pagi saja ia merasa waktu berjalan sangat cepat


Pelayan itu membantu Adara yang sedikit kesusahan saat akan turun dari ranjang "anda kenapa nona? Apa anda baik-baik saja?"


Adara tak menjawab pertanyaan pelayan nya, ia buru-buru keluar dari kamar itu dengan menahan rasa sakit di kepalanya yang cukup mengganggu


Setelah sampai di lobby hotel, Adara baru menyadari bahwa ia tidak tahu saat ini ia sedang berada di daerah mana, ia menyesal karena terburu-buru nya membuat ia tidak sempat bertanya terlebih dahulu kepada pelayan hotel tadi untuk mencari tahu ini lokasinya dimana, Adara memperhatikan pintu masuk hotel itu, hotelnya kecil tidak terlalu besar tidak seperti hotel mewah nan megah yang berada di kotanya di atasnya tertulis tulisan yang besar bertuliskan "paradise hotel" ia merogoh saku Hoodie nya ternyata disana masih tersimpan ponsel dan beberapa lembar uang yang sebelumnya ia bawa dari rumahnya, ia sangat bersyukur ternyata uangnya masih aman, kalo saja uangnya tidak ada? Habis sudah Adara tidak bisa pulang


"Sebaiknya aku harus memenangkan diri dulu untuk mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi" Adara memutuskan untuk duduk dikursi yang berada di depan hotel itu untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu


Adara kembali teringat pada Arsen, seingatnya ia izin pada Arsen untuk pergi sebentar namun nyatanya sampai pagi ia belum pulang, Arsen pasti sudah mencarinya dan saat ini pasti ia sedang khawatir padanya, Adara menyalakan handphone nya yang kemarin sempat ia matikan sebelum ia pergi keluar rumah karena khawatir dengan petir yang sudah menggelegar


Mata Adara terbelalak lebar melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Arsen yaitu sebanyak 472 panggilan tak terjawab


"Krucuukk" perut Adara berbunyi, ia merasa sangat lapar, kemudian ia menoleh ke kanan dan ke kiri di pinggir jalan itu untuk mencari keberadaan rumah makan terdekat disana, dan nyatanya keberuntungan sedang berpihak padanya ia melihat warteg yang buka tepat di depan matanya, hanya tinggal menyebrangi jalan saja Adara sudah bisa makan dengan kenyang, ia memutuskan untuk makan terlebih dahulu mengisi tenaga sebelum ia harus mencari jalan pulang kerumahnya, karena ia tidak mau sampai pingsan di tengah jalan dan itu hanya akan merepotkan orang lain, ia juga tidak mau jika sampe masuk kedalam berita dengan judul "seorang gadis cantik di temukan pingsan di tengah jalan karena kelaparan" kan engga lucu


Pemilik warteg itu ternyata laki-laki yang usianya sudah terlihat cukup jika di panggil dengan sebutan kakek mungkin usianya sudah mencapai sekitar 60 tahunan lebih dan diketahui bernama pak Abdul "mau makan apa neng?" Tanya pak Abdul ramah


"Itu ada apa aja pak?" Adara balik bertanya dengan menyebutnya bapak, sebelumnya ia ingin memanggilnya dengan sebutan kakek namun takut merasa tidak nyaman

__ADS_1


"Ini ada oseng kangkung, empal daging, dada ayam, tahu tempe, sambel, goreng jengkol, telor, dan lain lain"


"Aku mau oseng kangkung pak"


Pak Abdul menyingkap tirai etalase nya bersiap mengambil oseng kangkung yang di pesan Adara "mau sama apalagi neng?"


Adara melongok melihat lauk lain yang dipajang di etalase "itu apaan pak?" Tunjuk Adara pada masakan dengan bumbu berwarna merah


"Kalo ini mah pindang ikan tongkol, mau neng?"


"Iya aku mau itu juga pak, terus sama tempe mendoan ya pak, udah" pesan Adara


"Siap neng"


"Krucuukk" perut Adara kembali berbunyi


Pak Abdul meringis mendengar suara perut Adara yang berbunyi nyaring "lagi lapar pisan ya neng?"


"Hehehe iya pak" Adara memegangi perutnya "kalo nasi nya agak banyakan dikit boleh engga pak?" Tanya Adara sedikit malu, saat ini Adara benar-benar merasa sangat lapar, porsi makan yang biasa Adara makan itu tidak akan membuat perutnya kenyang saat ini harus dengan porsi lebih


"Engga apa-apa atuh neng, boleh pisan malah, setermos ini di habisin juga boleh" kata pak Abdul dengan nada bercanda


"Hahaha, engga segitu juga pak"


"Ini neng, selamat menikmati" pak Abdul menyodorkan sepiring penuh nasi beserta lauknya yang Adara pesan

__ADS_1


Adara menerima piring yang berisi makanan yang terlihat menggugah selera itu dengan mata yang berbinar "makasih pak" kemudian ia mencari tempat duduk yang nyaman, kebetulan saat itu warteg sedang sepi jadi tidak harus membuat ia berdesakan untuk mencari tempat duduk, akhirnya Adara pun mulai menyantap makanan yang lezat itu dengan sangat lahap setelah sejak tadi ia berusaha bersusah payah menahan perutnya yang terus memberontak meminta untuk segera di isi.


__ADS_2