My Bad Husband

My Bad Husband
Eps 79


__ADS_3

Happy Reading❤️


~


"Nisya! Lo engga apa-apa kan, sya?" Adara terus mengetuk pintu kamar yang di tempati oleh Nisya


"Apa perlu kak Reza dobrak pintu kamarnya, Ra?" Tanya Reza yang ikut berdiri di depan pintu kamar tersebut dengan menampakkan wajah yang cemas, ia takut jika Nisya melakukan sesuatu hal yang tidak-tidak disana


"Kakak ini gimana sih kak? Kok kakak mau-maunya aja nerima tantangan konyol dari Arsen?" Ujar Adara kesal


"Tapi ini kan cuma permainan aja, dara" kata Reza dengan santainya


"Cuma permainan? Kakak bilang cuma permainan? Berati kakak selama ini menganggap Nisya sebagai mainan yang bisa kakak mainin sesuka hati, gitu? Iya?!" Adara menaikkan oktaf suaranya marah-marah


"Maksud kakak, bukan gitu dara!" Reza mengacak rambutnya frustrasi lalu ia beranjak pergi menghampiri teman-teman nya meninggalkan Adara


Disana Reza melihat teman-teman nya yang tengah asik bermain game kecuali Arsen yang hanya diam saja, Reza duduk di samping Alex, ia melirik sekilas pada game yang tengah di mainkan oleh Alex


"Kita beneran engga nyangka kalo Lo bakal Nerima tantangan tadi" Alex menggelengkan kepalanya


"Kan Lo juga ngedukung, kok Lo nyalahin gue?" Sewot Reza tak terima


Alex menghentikan game yang sedang ia mainkan "kan kita cuma basa-basi doang za, gue kira Lo engga bakal mau walaupun kita dukung, tapi ternyata Lo malah Nerima. Kita juga malah sempet kaget tadi liat kelakuan Lo yang engga Se-lugu yang kita kira"


"Bener za! Jangankan nyium cewek, biasa nya aja ada cewek ganjen yang rangkul tangan Lo langsung Lo tepis" Zico ikut menimpali


"Iya juga ya" Reza mengangkat satu alisnya dengan mata yang menatap ke atas langit-langit rumah Arsen mengingat-ingat dengan jelas kenapa barusan ia bisa dengan mudahnya menerima tantangan Arsen untuk mencium pipi Nisya


"Apa jangan-jangan Lo udah jatuh cinta sama si Nisya itu" tebak Alex


Secara otomatis kepala Reza mengangguk membenarkan, dengan ingatan nya yang berada di fikiran nya langsung menyetel kenangan saat ia pertama kali bertemu dengan Nisya yaitu saat sedang mencari Adara, bayang-bayang wajah galak Nisya saat marah pada Arsen waktu itu terbayang-bayang memenuhi fikiran nya


Alex meletakkan ponsel yang ia pegang ke atas lantai kemudian ia bertepuk tangan "gue bener-bener engga nyangka kalo Reza engga se-lugu yang gue fikirkan"


"Gue emang lugu ****! Lo fikir gue lelaki bejat? Walaupun tadi gue berani nyium si Nisya, bukan berarti gue pernah tidur sama cewek-cewek di hotel" jelas Reza


"Bener juga" kata Alex dan Zico bersamaan sembari menganggukkan kepalanya kompak tanda mengerti, lalu tatapan ketiga sekawan itu berpindah pada Arsen yang sedari tadi hanya diam


"Sen, Lo ngapain aja kalo tidur sama si Adara?" Tanya Zico memulai sesi tanya jawab nya pada Arsen


"Kan gue juga udah bilang, kalo gue engga ngapa-ngapain, gue sama Adara cuma tidur doang dalam satu kamar, engga seperti yang kalian semua bayangkan!" Tegas Arsen


"kita beneran engga percaya kalo Lo belum perawanin bini elo!" Kata Alex yang di ikuti dengan anggukkan menyetujui dari Reza dan Zico


Arsen mendengus kesal sembari mendorong kepala Alex menggunakan jari telunjuknya "pikiran Lo jorok banget, Lex!"


"Sekarang logika nya gini aja, mana mungkin elo bisa nahan nafsu ketika ada seonggok tubuh perempuan yang tidur di samping Lo, apalagi perempuan itu udah jadi istri Lo yang berarti dia udah halal walaupun mau elo gimanain juga" kata Reza


"Nah ini buktinya gue bisa tahan, gue engga mau kalo sampe Adara marah sama gue. Jadi, gue juga engga mungkin kalo sampe berani keluar dari batasan nya. Makanya setiap tidur bareng, gue cuma bisa meluk dia aja sampe pagi" Arsen menjelaskan

__ADS_1


"Gue jadi penasaran, apa alasan Adara masih belum mau Lo perawanin, apalagi Lo itu suami sah nya" Alex menggaruk-garuk dagunya seolah sedang berfikir


"Jangankan Lo, gue aja yang sebagai suaminya penasaran banget!"


...


Setelah cukup lama Adara mengetuk pintu kamar yang di tempati oleh Nisya, akhirnya Nisya mau juga membukakan pintu nya dan mempersilahkan Adara masuk, matanya terlihat merah, Adara juga masih bisa mendengar suara nafas Nisya yang masih terdengar sesenggukan walaupun suaranya tidak terlalu jelas


"Sya? Lo baik-baik aja kan?" Tanya Adara prihatin sambil memapah tubuh Nisya untuk masuk lagi ke dalam dan mendudukkan nya di atas kasur


"Gue masih engga percaya Ra, kalo si Reza bakal Nerima tantangan suami Lo yang keterlaluan itu, sebagai sahabat gue Lo tau kan kenapa gue jadi kaya gini" Nisya kembali menangis


Adara mengangguk, ia mengusap-usap punggung Nisya "iya sya, gue ngerti kok, Lo tenang aja gue bakal hukum si Arsen yang engga ada akhlaq itu"


"Kalo gue engga inget dia suami Lo mungkin udah gue gebukin sampe babak belur" kata Nisya dengan sesenggukan nya


"Padahal mah tadi gebukin aja engga apa-apa, gue juga ikhlas kok"


"Buset Ra, Lo kejam benerr"


"Udah ah mending tidur aja yuk, udah malem juga, engga capek Lo nangis terus? Gue aja yang cuma liatin Lo nangis, capek sya"


Adara mengambil selimut yang lebih lebar dan lebih tebal dari dalam lemari disana kemudian ia menggelarkan selimut itu di atas kasur untuk ia pakai berdua dengan Nisya


"Loh, elo mau tidur disini Ra?" Tanya Nisya


Adara mengangguk


"Engga lah, gue kan juga lagi menghukum dia, biar tidur nya kumpul sama temen-temennya di luar, selain itu juga gue pengen tidur dengan tenang dong sya walaupun cuma satu malam, engga masalah ya seenggaknya gue bisa tidur dengan leluasa, asal Lo tau aja gue sesak banget tidur sama Arsen serasa engga bisa nafas" ujar Adara


"Kenapa engga bisa nafas Ra? Aneh banget, si Arsen meluk elo terlalu kenceng kah?"


"Iya itu juga termasuk salah satunya, tapi yang lebih penting karena gue engga terbiasa tidur sama cowok, walaupun udah jadi suami gue, tetep aja, gue .malu" Adara menekan kan suaranya pada kata 'malu'


"..." Tidak ada jawaban dari Nisya, hanya suara deru nafas saja yang terdengar di telinga Adara, rupanya temen yang tidak tahu dirinya itu sudah terlelap duluan ke alam mimpi mengabaikan Adara yang tengah bercerita panjang lebar


"Nisya kampret! Belum ngerasain di sepak ke Uranus ni bocah" Adara menggerutu kesal, lalu tak lama kemudian ia pun ikut terlelap karena Kelelahan setelah acara masak memasak tadi


Di ruangan yang lain di rumah itu, semalaman Arsen tidak bisa tidur, Rupanya ia sudah terbiasa tidur di samping Adara setiap malam. Yang mana ia bisa memeluk dan di peluk serta berbagi kehangatan dengan istrinya, ia juga bisa mencium aroma tubuh Adara yang begitu lembut dan menenangkan, namun kali ini Arsen tidak bisa mendapatkan semua itu. Selain itu ia juga tidak bisa tidur karena Alex yang tidur di sampingnya tidak bisa diam, Alex terus saja usik sampai kaki dan tangan nya menimpa tubuh Arsen


Tiada terasa malam hari berlalu begitu sangat cepat, suara adzan yang merdu mulai berkumandang terdengar hingga ke seluruh penjuru komplek perumahan tempat Arsen tinggal. Arsen beranjak dari kasur lalu berjalan ke arah kamar tempat Adara tidur dan membuka pintu kamar itu perlahan nyaris tidak mengeluarkan suara sedikitpun, ia pun berjalan mengendap-endap mendekati Adara dengan maksud ingin membangunkan Adara yang masih tertidur, beruntung nya pintu kamar tersebut tidak di kunci


"Adara, bangun Ra bangun. Ini udah subuh" Arsen menoel-noel pelan pipi Adara


Tanpa harus menunggu waktu lama jika membangunkan Adara dari tidurnya, hanya dua kali panggilan saja sudah bisa membuat Adara terbangun.


Adara mengucek matanya "Arsen, tumben banget kamu sen bangun lebih dulu, biasanya aku yang bangunin kamu. Itu pun susah bangunin nya"


"Aku engga bisa tidur semalaman Ra, karena semalaman tadi aku merasa kembali menjadi bujangan, kesepian banget tau Ra. Engga ada yang bisa aku peluk"

__ADS_1


Adara terkikik pelan


"Pelan-pelan ngomong nya sen, jangan keras-keras masih ada orang yang tidur disini" peringat Adara sambil melirik ke arah sampingnya yang mana disana masih ada Nisya


Arsen mendengus kesal "ternyata si Nisya lebih penting daripada aku" lalu ia berjalan keluar dari kamar itu menuju kamar mandi yang berada di dapur karena kamar mandi yang berada di kamar itu akan di gunakan oleh Nisya dan Adara


Adara membangunkan Nisya yang masih tertidur dengan nyenyak nya, cukup sulit untuk membangunkan Nisya membuat Adara membutuhkan ekstra kesabaran dan memakan banyak waktu hingga Arsen kembali ke kamarnya, Nisya masih saja tak kunjung bangun. Dengan mata yang masih sedikit terpejam, Adara mengajak Nisya untuk berwudhu dengan menggandeng tangan Nisya takut teman nya itu jatuh jika berjalan sendiri mengingat Nisya masih belum membukakan matanya dengan sempurna


"Buset ini Arsen kan? Lo kesambet jin mana? Jin Islam kah?" Tanya Nisya dengan mata yang terbelalak lebar, entah sejak kapan ia sudah melupakan masalahnya yang semalam. kini tubuh nya terasa segar dan tidak terasa mengantuk lagi karena sejatinya memang air wudhu itu adalah penawar kantuk


Arsen memutarkan bola matanya malas melihat kebiasaan Nisya yang suka heboh sendiri "iya, iya gue kesambet jin Islam"


"Eh astaghfirullah" Nisya menggelengkan kepalanya tidak percaya


"Karena kalian sudah wudhu, ayo Ra kita mulai" ajak Arsen


Adara mengernyitkan dahinya "bukan nya kamu masih belum hafal do'a qunut, kan?"


"Belum hafal do'a qunut bukan berati engga boleh sholat subuh, Adara"


"Terus?"


"Kamu tenang aja yang bakal jadi imam tuh si Reza kok bukan aku. Takut banget kamu kalo aku yang jadi imam" keluh Arsen


"Ya iya lah, lebih tepatnya karena takut sholat nya engga di terima" timpal Adara membenarkan kekeliruan perkataan suaminya


Mereka ber-enam pun memulai sholat nya dengan Reza sebagai imam. Reza mengawali sholatnya dengan bacaan niat sholat subuh kemudian takbir, dan di ikut oleh para makmum yang berdiri di belakangnya yaitu Arsen, Alex dan Zico berada di barisan kedua serta ada Adara dan Nisya di barisan ketiga. Sholat dua raka'at sangat tidak terasa berlaku begitu cepat, hingga mereka mengakhiri sholat subuh dengan dua salam dan di lanjutkan berdo'a yang dipimpin oleh Arsen


Arsen membalikkan tubuhnya menghadap Adara, sedangkan Adara yang mengerti apa maksud Arsen langsung mencium tangan suaminya, namun belum sampai bibirnya menyentuh tangan Arsen, Adara tercekat, ia sadar bahwa saat ini ia tidak sedang berduaan dengan Arsen melainkan ada teman-teman nya disana, Adara sudah merasa terbiasa mencium tangan Arsen setelah sholat walaupun mereka sholat berjamaah hanya empat waktu saja


"Engga apa-apa Ra, lanjutin salim nya pamali, udah Deket juga" Reza memberikan pengertian seolah ia mengerti kenapa Adara tercekat mungkin karena ia merasa canggung karena ada teman-temannya disana


"Suami istri mah bebas" kata Nisya dengan suara yang pelan, namun masih sedikit terdengar terutama oleh orang yang memiliki pendengaran tajam


"Kamu mau Salim juga? Sini nih Salim sama mas aja"


Spontan semua orang disana langsung melirik ke arah Reza Yang menyodorkan tangan nya pada Nisya


"Idih Ogah banget" kata Nisya ketus, dan langsung melipat mukena beserta sajadah yang ia pakai kemudian beranjak masuk kembali ke dalam kamarnya dengan cepat. Kini mood nya kembali anjlok setelah melihat wajah Reza yang terlihat sangat menyebalkan di matanya.


.


.


.


Bersambung~


jangan lupa tinggalkan jejak dukungan buat author yaa🤗 Terima kasih🌹

__ADS_1


__ADS_2