
Sementara itu Adara yang baru sampai di tempat yang akan ia tuju yaitu rumah pak Abdul dan Bu Siti. Sebenarnya dari awal-awal dari beberapa Minggu yang lalu Adara sudah berniat akan pergi ke rumah Bu Siti namun niatnya itu terus saja ia urungkan karena ia masih ingin memberi kesempatan pada Arsen untuk bisa merubah kembali sikapnya namun nyatanya tidak sedikitpun sikap Arsen berubah
Iya memang benar sikap Arsen berubah namun berubah menjadi semakin buruk bukan merubah membaik seperti yang Adara harapkan, apalagi dengan ditambah sikapnya yang suka membentak. Sungguh Adara paling tidak suka jika terus-menerus ada orang membentak nya walaupun ia sudah terbiasa dengan bentakan Arsen namun tetap sebenarnya ia merasa sangat tidak nyaman
Adara menatap depan pintu rumah yang terlihat cukup sederhana itu, ia sangat berharap ini sudah benar bahwa ini adalah rumah Bu Siti setelah sekian lama Adara berkeliling di kampung itu mencari keberadaan rumah bu Siti dengan hanya modal bertanya "dimana rumah pemilik warteg depan yang bernama pak Abdul" namun Adara masih tetap tak menemukan keberadaan rumah itu mengingat tempatnya adalah perkampungan padat dan sangat banyak sekali bebelokan nya yang membuat Adara bingung bahkan tadi Adara sempat nyasar menuju sawah dan jalan buntu
"Tok... Tok... Tok... Assalamu'alaikum" ucap Adara namun tidak ada jawaban dari dalam rumah itu bahkan Adara sudah mengetuknya berkali-kali dengan tetap sabar, Adara juga pantang menyerah ia memilih tetap disitu duduk di kursi depan rumah itu menunggu seseorang membukakan pintu nya karena Adara merasa rumah itu berpenghuni
Adara menduga bahwa pemilik rumah itu sedang sholat isya karena baru saja Adara mendengar suara adzan isya berkumandang saat ia sedang berjalan mencari keberadaan rumah bu Siti.
Tidak terlalu lama Adara duduk menunggu "kreeekket" suara pintu terbuka membuat Adara langsung berdiri dari duduknya
"Astaghfirullahhal'adzim" Adara terkejut saat pintu itu terbuka melihat orang dengan berpakaian serba putih ternyata itu Bu Siti baru selesai mengerjakan sholat seperti yang Adara duga sebelumnya
"Maaf ya, ini teh siapa?" Tanya Bu Siti bingung tak mengenali Adara karena penampilan Adara yang tertutup dengan menggunakan Hoodie bertopi dan masker
Adara melepaskan semua penutup wajahnya "Ini aku nek, Adara"
"Masya Allah si neng" Bu Siti menepuk tangan Adara "Bim, Bimaa lihat ini siapa yang datang" teriak Bu Siti memanggil cucunya yaitu bima
"Saha (siapa) nek?" Tanya Bima dengan buru-buru menghampiri neneknya
"Lihat ini siapa coba?" Tanya Bu Siti pada cucunya
Bima melirik ke arah orang yang dimaksud neneknya itu "Adara" kata Bima
"Kak Surya" ucap Adara "nek gimana ini kok bisa jadi kak Bima, ini kan kak Surya teman suamiku" Adara kebingungan
"Sebaiknya masuk dulu atuh yuk neng kedalem engga enak masa ngobrol di Lawang panto" Bu Siti mengajak Adara masuk ke dalam rumahnya
"Gimana nek ini kan kak Surya kok jadi kak Bima?" Tanya Adara lagi tidak sabaran karena penasaran nya
Bu Siti masih tidak menjawab namun Surya mengulurkan tangan nya pada Adara menyodorkan sebuah kartu yang terlihat seperti kartu nama dan langsung di terima oleh Adara
"Bima Surya bijaksana" gumam Adara membaca nama orang di dalam kartu itu kemudian ia memandang foto di kartu itu penuh selidik
"berati kak Surya Ini kak Bima?" Tanya Adara lagi menatap tak percaya ke arah Surya
__ADS_1
"Iya Adara aku kak Bima" jawab Surya dengan senyum nya
"Bukan deh, tapi ini kok foto ini sama aslinya beda bangett, di foto ini aku masih ingat banget sama wajah kak Bima yang dulu waktu kita pertama ketemu, tapi di aslinya ini beda sekali seperti bukan kak Bima" ujar Adara
"Memang benar Adara, wajah kakak memang sudah berubah tapi perasaan kakak tentang kamu masih sama" kata Surya atau Bima
"Nek, nenek kok diam aja. Gimana ceritanya ini nek kok wajah kak Bima jadi beda" Adara menatap wajah Bu Siti meminta penjelasan
Bu Siti terlihat menghela nafasnya "ini memang benar Bima neng, wajahnya berubah karena ulah para penjahat yang menyiram sebotol minuman keras ke wajahnya waktu Bima masih kuliah akibatnya wajah Bima rusak dan harus melakukan operasi pada wajahnya dan seperti yang neng lihat sekarang wajah Bima jadi berubah, setelah itu juga Bima memutuskan mengganti nama panggilan nya dengan sebutan Surya, tapi bagi nenek dia tetap Bima cucu nenek" Bu Siti menceritakan pada Adara dengan berurai air mata
"Nek, jangan nangis aku minta maaf bukan maksud aku mau bikin nenek sedih, maaf nek" Adara menciumi tangan Bu Siti dengan raut wajah yang terlihat bersalah
"Engga neng, neng mah engga salah jangan minta maaf, sekarang nenek tenang udah ceritain sama neng" Bu Siti mengusap pipi Adara
"Kak Bima, waktu kita ketemu di toko oleh-oleh itu apa kak Bima mengingat ku engga kalo ini Adara?" Tanya Adara
"Tentu saja kak Bima ingat melalui senyuman kamu nama kamu dan yang paling penting gelang yang kamu pakai itu" Bima menunjuk pada gelang yang Adara kenakan
"Wah ternyata kak Bima masih selalu mengingatku" ujar Adara senang "tapi kenapa waktu itu kak Bima terlihat seperti engga mengenaliku?" Tanya Adara lagi
"Sebenernya waktu itu kak Bima masih belum yakin sepenuhnya bahwa itu kamu, kalo pun kak Bima sudah yakin kak Bima tetap tidak akan langsung mengatakan mengingat suami mu itu Arsen, kak Bima tau seperti apa sifatnya dia" jelas Bima
"Kenapa kamu sedih?" Tanya Bima
"Neng teh darimana? Sengaja datang kesini atau gimana neng, ini pake bawa tas gede segala" Bu Siti juga ikut bertanya
"Maaf sebelumnya nek, kak Bima. Kalo aku izin tinggal disini untuk sementara apa boleh?" Adara malah balik bertanya dengan hati-hati
"Aduhh boleh pisan (banget) atuh neng, nenek malah senang pisan kalo neng Dara tinggil disini apalagi selamanya" jawab Bu Siti dengan antusias
"Tapi kenapa dara? Ada apa dengan Arsen? Atau jangan-jangan kamu ada masalah sama Arsen?" Tanya Bima
"Oh iya neng kenapa atuh, suami neng kenapa?" Timpal Bu Siti
"Sebenarnya aku tau nek kalo ada masalah dalam rumah tangga dengan suami seharusnya aku jangan kabur dari rumah, apalagi tanpa sepengetahuan suami. tapi aku udah beneran engga kuat nek, kak" tangisan Adara pecah
"Gimana? Si Arsen apain kamu? Dia nyakitin kamu?" Tanya Bima khawatir
__ADS_1
Adara diam tak mengangguk tak menggeleng dan tak menjawab
"Ayo kasih tau sama kak Bima dara ada masalah apa?"
"Tapi kak Bima janji jangan marah sama Arsen" Adara meminta perjanjian dulu dari Bima karena Adara tahu kalo Adara menceritakan semuanya pasti Bima akan sangat marah pada Arsen
Bima melamun ia terlihat memikirkan tawaran dari Adara, karena ia tidak bisa berjanji, kalo saja Arsen memang sudah keterlaluan ia tidak akan bisa menahan dirinya untuk tidak marah dengan Arsen tapi kalo ia tidak menerima tawaran Adara maka sudah di pastikan Adara tidak akan mau menceritakan semuanya
"Iya kakak janji dara" kata Bima, keputusan Bima lebih memilih tau permasalahan nya dari pada ego nya
Adara pun menceritakan semuanya dimulai dari penculikan nya, kesalah pahaman Arsen perlakuan Arsen sampai ia datang kerumah Bu Siti, dan benar saja cerita Adara membuat Bima murka
"Kakak mau kemana" kata Adara sambil memegangi tangan Bima yang hendak berdiri
"Mau ketemu Arsen mau ngasih pelajaran sama dia" katanya
"Tapi kakak udah janji sama aku kalo kakak engga bakal marah sama Arsen" raut wajah Adara terlihat sedih membuat Bima tidak tega melihatnya
"Baiklah, kakak tidak marah pada Arsen kok, kamu jangan sedih" bima mengusap rambut Adara
"Benar kak" tanya Adara dengan wajah berbinar
"Iya Adara" kata Bima lembut
"Yey, terima kasih kak"
Bu Siti tersenyum melihat interaksi Adara dengan cucu laki-lakinya itu mengingat kenangan mereka waktu Adara masih kecil 10 tahun yang lalu
"Oh iya kakek ke mana ya nek? Kok aku engga liat kakek" tanya Adara yang sudah menyadari sejak ia datang, ia tidak melihat keberadaan pak Abdul di rumah itu
"Kakek mah pergi ke kaki gunung sana ketemu rekan nya" jawab Bu Siti
"Oh pantesan"
...
Hari sudah berganti tengah malam, Arsen bersama ketiga teman nya masih berada di tempat yang tadi di tunjuk supir taksi tempat Adara turun dari taksi itu
__ADS_1
Arsen bertanya pada setiap orang berada disana dengan mengandalkan foto Adara namun tidak ada satu orang pun yang mengetahui nya membuat Arsen semakin frustasi dan meyalahkan dirinya sendiri
Karena waktu yang sudah semakin malam Reza pun mengajak Arsen untuk menunda dulu pencarian nya dan melanjutkan nya besok pagi kemudian mereka berempat pun mencari tempat penginapan sementara disana walau awal nya sangat sulit mengajak dan meyakinkan Arsen yang tetap memaksa masih ingin mencari keberadaan Adara .