My Bad Husband

My Bad Husband
Eps. 57


__ADS_3

Pak Abdul menyimpan segelas teh hangat untuk minum Adara di meja tempat Adara makan, kemudian pak Abdul juga ikut duduk di samping kursi Adara


"Makasih air nya pak" ucap Adara


"Iya, neng teh berasal darimana? Soalnya bapak baru liat neng, heheh"


"Aku dari kecamatan A pak" jawab Adara sambil mengunyah makanannya


"Kecamatan A teh ada di kota B kan neng?"


Adara mengangguk


"waduhh meuni jauh-jauh teing main nya atuh neng dari kota B sampe ke kabupaten C" kata mang Abdul terkejut


"Kok bapak tau ke kota B?" Tanya Adara


"Dulu, bapak juga tinggal disana neng, terus pindah kesini" jawab pak Abdul


"Ohh gitu ya"


"neng, gimana bisa ada disini? Kesini Sama siapa neng?" Tanya pak Abdul


"Aku disini sendirian pak, aku ini korban penculikan"


"Astaghfirullahhal'adzim, di culik sama siapa neng? Gimana ceritanya sampe ke culik gitu atuh?" Kata pak Abdul terkejut


Adara menghentikan makan nya sejenak, ia menceritakan kronologi kejadian penculikan nya dari awal sampai ia bisa berada disini tanpa ada yang terlewat sedikitpun namun ia hanya menceritakan yang ia ingat saja


"Astaghfirullahhal'adzim, astaghfirullahhal'adzim ada-ada aja orang jahat teh engga ada kerjaan pisan main culik orang" pak Abdul berkali-kali mengucapkan istighfar saat mendengar cerita dari adara "bapak kudu cepet-cepet laporin kasus ini ke polisi" pak Abdul beranjak berdiri dari duduknya


"Eh jangan pak jangan, udah biarin aja engga apa-apa, lagi pula kita juga engga punya bukti tentang penculikannya kan, jadi engga ada yang bisa kita laporkan, hehe" Adara tertawa renyah


"Aya naon atuh bapak" seorang wanita yang terlihat sama umurnya dengan pak Abdul keluar dari dapur dengan tergopoh-gopoh


"Ini Bu, ada si neng geulis. Korban penculikan nyasar didieu" kata pak Abdul pada istrinya


"Mana pak? Ada dimana?" Wanita yang di ketahui bernama Bu Siti atau istri pak Abdul itu melirik ke arah Adara, tatapan mereka saling bertemu


"Nenek" ucap Adara dengan mata berkaca-kaca

__ADS_1


Bu Siti berjalan mendekat ke arah Adara secara perlahan dengan tatapan dan ekspresi yang sangat sulit di artikan


"Nek, nenek masih ingat sama aku kan nek?" Tanya Adara penuh harap, air matanya sudah jatuh


Saat sudah mendekat dengan Adara, Bu Siti memegang pipi Adara mengingat seorang gadis yang berada di fikiran nya namun sulit untuk di ucapkan


"Aku Adara nek, anak kecil yang dulu udah nenek anggap sebagai cucu nenek sendiri" Adara menciumi tangan Bu Siti berkali-kali


Namun Bu Siti masih diam terbengong di fikiran nya ia teringat pada seorang gadis kecil yang sangat cantik sedang asik bermain bersama dirumahnya dengan di temani pula oleh cucu laki-laki nya, setelah mengingat itu barulah ia dapat mengingat sepenuhnya pada sosok Adara, seorang gadis cantik yang sudah ia selamatkan dari kejahatan dan sudah sangat ia sayangi seperti cucunya sendiri


"Adara, cucu nenek" Bu Siti memeluk Adara erat dan menangis di pelukan Adara, Adara pun melakukan hal yang sama, mereka pun menangis bersama dengan berpelukan


Pak Abdul menatap heran pada istrinya dan gadis yang baru saja ia temui seolah mereka sudah sangat akrab


"Bu gimana Bu? Ini teh sebenernya ada apa? Terus si neng ini teh siapa?" Tanya pak Abdul bingung


Bu Siti melepaskan pelukan Adara "Ini pak, ini teh anak yang dulu ibu ceritain sama bapak, neng Adara"


"Yang mana Bu? Bapak mah lupa"


"Iya da bapak mah lupa, udah lama juga, udah 10 tahun yang lalu pak"


Tiba-tiba saja pak Abdul juga mengingatnya "Oh gadis itu iya iya Bu bapak ingat, Masya Allah engga nyangka kita bisa ketemu disini" kata pak Abdul bersyukur mengusap rambut Adara lembut


"Nenek minta maaf neng, nenek harus mendadak pindah kesini sepuluh tahun lalu, karena kendala si kakek ini buru-buru nyuruh nenek pindah kesini" kata bu Siti sambil menunjuk pada pak Abdul


"Waktu itu aku kok belum pernah liat kakek ya nek"


"Iya karena dari dulu kakek sudah ada disini duluan kerja disini jadi dirumah sana cuma ada nenek sama Bima berdua"


"Oh iya kak Bima kemana ya nek?" Tanya Adara antusias, Adara juga benar-benar merindukan sosok Bima lelaki yang dulu selalu melindunginya, lelaki yang sudah menjadi seperti sosok kakak bagi Adara


"Bima mah baru aja tadi pagi pergi lagi ke kota xxxx, kerja disana" jawab Bu Siti


"Wah engga sempet ketemu deh, padahal dara juga kangen banget sama kak Bima"


"Masih ingat aja neng sama Bima" Bu Siti tertawa


"Tentu saja nek, dara selalu ingat sama kak Bima sama nenek, kalo sama kakek kan sebelumnya juga dara belum pernah ketemu baru ketemu tadi. Hehe" ucap Adara jujur "ini juga gelang dari kak Bima masih masih selalu dara pakek supaya dara selalu ingat sama kak Bima" Adara memutarkan gelang yang ia pakai

__ADS_1


"Masya Allah, nenek senang pisan dengernya neng, engga nyangka nenek bisa ketemu lagi sama neng dara" Bu Siti kembali memeluk Adara


"Iya nek, dara juga seneng bangettt"


Mereka berdua pun mengobrol banyak hal sampai lupa waktu, sedangkan pak Abdul sudah sejak tadi sibuk melayani para pembeli yang mulai berdatangan dengan ramai di warteg itu, karena terlalu ke asikan mengobrol, Adara pun sampai lupa dengan tujuan nya yaitu harus segera pulang untuk menemui Arsen


"Astaghfirullah nek, dara lupa. sekarang dara harus buru-buru pulang kerumah, nek dara minta alamat pulang ke kota B, ini lokasinya di mana ya nek?" Tanya Adara


"Ya Allah nenek terlalu asik ngajak neng dara ngobrol sampe lupa waktu gini" Bu Siti menepuk jidatnya "udah biar nenek antarkan neng dara pulang ya hayu"


"Engga nek jangan, dara bisa pulang sendiri kok, dara cuma minta petunjuk alamat aja dari nenek ya, ini namanya kota apa nek?"


"Ini bukan kota neng, tapi kabupaten, kabupaten C namanya, ini desa neng" jawab Bu Siti


"Oh desa ya pantesan beda dari kota, dara minta alamatnya ya nek"


"Nenek bakal nyuruh si kakek buat telfon temen nya, biar temen kepercayaan si kakek yang bakal antar kamu pulang ya, kebetulan temen si kakek itu supir taksi"


"Tapi nek.."


"Ah udah jangan tapi-tapian, perjalan dari sini kesana jauh neng, butuh waktu 3 jam. Kalo naik kendaraan umum neng harus 4 kali naik kendaraan, 3 kali naik bis dan terakhir harus naik angkutan umum biar sampe kerumah neng, nenek engga mau kalo sampe neng tersesat atau sampe di culik lagi" kata Bu Siti serius


Adara pasrah, ia patuh mengikuti apa yang disarankan oleh Bu Siti


"Bapak, telfon si parta suruh kesini ni suruh nganterin si neng pulang khawatir di jalan takut nyasar kasian" kata Bu Siti pada suaminya


"Eh neng mau pulang aja? Kenapa engga nginep disini dulu aja atuh neng, besok baru pulang" tukas pak Abdul


"Iya kek dara harus pulang sekarang, suami dara pasti nyariin kalo dara engga pulang-pulang, dara bisa nginep disini lain kali aja ya kek insya Allah" ucap Adara


"Neng dara teh ternyata udah nikah ya"


"Hehe iya kek, udah lama juga"


"Bentar ya kakek telfon dulu temen kakek"


Sambil menunggu pak Abdul menelfon teman nya, Bu Siti kembali berbicara pada Adara "neng kalo ada kejadian apa-apa, datang kesini ya, ngomong sama nenek kalo ada apa-apa teh yaa, harus pokok na mah harus datang kesini, pintu rumah nenek selalu terbuka lebar buat neng dara kesayangan nenek" entah kenapa Bu Siti merasakan firasat buruk yang akan terjadi pada Adara.


jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote untuk mendukung author jika menurut kalian cerita ini bagus🌹

__ADS_1


dan boleh juga kalian share cerita ini jika menurut kalian cerita ini layak untuk dibaca😍


TERIMA KASIH🙏🏻


__ADS_2