
Mohon maaf para readers yang author sayangi🤗
Cerita ini author kasih sedikit konflik ya, cerita tanpa konflik itu rasanya hambar, setiap hidup juga pasti ada konfliknya kan🤭
tapi author engga akan buat konfliknya terlalu berat kok, author juga sayang sama Adara jadi engga tega kalo ngasih cobaan hidup yang terlalu berat🥺 dan sudah dipastikan pula cerita ini bakal author buat happy ending😍
jangan kemana-mana ya tetap stay di novel ini😌🙏🏻
Happy Reading❤️
"kakek, nenek. Dara pamit pulang ya" Adara menyalami tangan pak Abdul dan Bu Siti secara bergantian, kemudian ia juga memeluk Bu Siti
"Iya neng, hati-hati di jalan ya, nenek do'akan cing salamet di jalan" kata Bu Siti mendo'akan dengan tulus
"Iya amiinn nek makasih" ucap Adara
"Parta, jagain si neng geulis ini jangan sampe terjadi apa-apa, pelan-pelan bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut" pesan pak Abdul pada mang parta
"Siap akang, bakal di jaga dengan seluruh jiwa raga parta, pokoknya mah salamet we sampe depan rumahnya" mang parta membukakan pintu mobilnya untuk Adara
"Nek, kakek. Dara pamit ya, assalamu'alaikum" ucap Adara saat sudah di dalam mobil
"Wa'alaikumsalam" jawab pak Abdul dan Bu Siti serempak
Adara terus melambaikan tangan nya sampai keberadaan warteg itu tak terlihat lagi.
Di sepanjang perjalanan pulang Adara terus teringat Arsen, ia takut sekali Arsen marah padanya, tapi jika memang Arsen akan marah padanya ya sudah tidak masalah mungkin itu sudah jadi resikonya fikir Adara, ia pun baru teringat kalo sebelum nya ia belum mengabari Arsen lewat telfon, ada membuka ponsel nya mencari kontak telfon Arsen dan langsung menelfon nya namun ternyata nomer yang ia tuju tidak dapat di hubungi
Adara membuang nafasnya kasar "aku harus siapkan mental jika dia marah padaku" gumam Adara
Sampai Tak terasa ternyata waktu 3 jam itu berjalan dengan begitu singkat, mobil yang di tumpangi Adara pun tiba di depan rumahnya, ia langsung turun setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada mang parta sang supir taksi yang ia tumpangi
__ADS_1
Adara membuka pintu rumahnya yang ternyata dirumah itu sangat sepii "kemana Arsen" gumamnya
Adara terkejut melihat Arsen sedang duduk di belakang pintu rumahnya sambil memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya disana
Adara terduduk di depan Arsen, ia mengusap bahu Arsen perlahan "Arsen, maaf aku baru pulang. Kamu kenapa?" Tanya Adara pelan
"Ternyata kamu masih punya muka untuk datang kesini lagi" Arsen berbicara dengan suara yang terdengar berat dan serak masih dengan tidak menampakan wajahnya
"Aku minta maaf, aku di culik sen"
Arsen mendongakan wajahnya, matanya terlihat merah sepertinya ia tidak tidur semalam "di culik? di culik ke ranjang kah?"
"Maksud kamu?" Tanya Adara tak mengerti
"Kamu ini memang beneran bodoh atau hanya pura-pura bodoh?" Sudut bibir Arsen terangkat
"Maksud kamu apa Arsen? Aku engga ngerti"
"Foto apa ini?" Adara menatap ponsel Arsen bingung
"Kamu sudah berpura-pura bodoh, dan sekarang ingin berpura-pura buta? Bukalah matamu!" Bentak Arsen
Adara tetap santai saat Arsen membentak nya karena sekarang ia sudah kebal dan sudah terbiasa dengan bentakan Arsen, ia kembali melihat ponsel Arsen dengan teliti dan betapa terkejutnya saat ia sudah melihat dengan jelas foto dirinya sedang tidur di atas kasur bersama pria lain "engga, engga mungkin. Arsen kamu jangan percaya sama foto ini!"
"Jangan percaya katamu! Lihatlah itu semua sudah jelass bahwa kamu berselingkuh!!"
"Arsen! Percaya sama aku, aku di culik, seperti nya para penculik ini menculikku untuk menjebakmu, dan kamu sekarang sudah berhasil masuk ke dalam perangkap jebakan mereka, sadarlah Arsen! ayolah percaya sama aku Arsen percaya, kamu dengerin ceritaku dulu ya"
"Aku sudah tidak butuh semua omong kosong mu itu! Semua sudah jelas, ternyata karena ini kamu menolakku untuk mengantarmu karena kamu ingin bertemu dengan selingkuhan mu yang brengsek itu, dan ternyata dirimu ini sudah tidak suci lagi dan tidak sesuci yang aku kira" Arsen tersenyum sinis
Adara menatap Arsen tak percaya, tak di sangka Arsen bisa berkata sampai sejauh ini, sungguh kata-kata nya terdengar sangat menyakitkan, hatinya benar-benar merasa sakit seperti ditusuk-tusuk
__ADS_1
"Aku sebagai suami kamu saja tidak pernah kamu izinkan menyentuhmu lebih dari ini, tapi lihat apa yang kamu lakukan diluar sana dengan orang lain? Kamu menolakku juga karena malu kan? Karena malu menunjukkan bahwa dirimu sudah tidak perawan lagi. Hahaha!"
"Cukup Arsen! Kamu sudah keterlaluan secara tidak langsung kamu sudah menyamakan istrimu sendiri dengan seorang ****** hanya karena kamu termakan hasutan orang lain yang tidak jelas kebenarannya"
"Bukan kah kenyataan dan adanya sudah begitu? Nyatanya Semua wanita memang sama saja! Sudah itu ibuku dan sekarang istri yang sangat aku cintai juga melakukan hal yang sama, ah tidak! Persetan dengan istri yang aku cintai, sangat menjijikan sekali aku mengatakan bahwa kamu istri yang ku cintai, aku sangat menyesal sudah menaruh hati padamu" Arsen berjalan masuk kedalam kamarnya
Sedangkan Adara masih mencerna semua perkataan Arsen yang tak pernah ia sangka selama ini, Arsen sudah mengahancur leburkan hatinya dalam hitungan menit dengan perkataan nya yang tidak terkontrol
Arsen keluar dari dalam kamar dengan mendorong sebuah koper dan menyerahkan koper itu pada Adara dengan kasar
"Semua pakaianmu sudah aku masukan kesini. Mulai sekarang pergilah dari kamarku. Tidurlah dikamar bututmu di belakang itu! Aku sudah tidak Sudi lagi tidur sekamar dengan wanita seperti mu"
"Arsen tunggu" Adara menghalangi Arsen yang sedang berjalan hendak keluar rumah
"Ingat! Mulai sekarang jangan pernah mau mencampuri urusanku lagi!" Arsen mengacungkan jari telunjuknya tepat di wajah Adara
"Kamu yakin? Kamu sudah sangat yakin akan tetap percaya dengan berita yang tidak ada kebenaran nya itu? Dibanding percaya sama aku? Ingat Arsen. Sebuah kejahatan pasti akan terkuak pada waktunya, Allah maha tau mana yang salah dan mana yang benar, aku sangat berharap sama kamu suatu saat kamu jangan memohon lagi untuk menginginkan sesuatu yang sudah pergi karena ulahmu sendiri! Dan satu lagi. Jaga bicaramu ketika sebesar apapun amarah menguasaimu, walaupun sebenci apapun dirimu aku tetap akan menjadi istrimu ketika kamu butuhkan. Pergilah!" Adara berjalan minggir memberi jalan pada Arsen
"Aku tidak butuh nasihatmu" ucap Arsen dingin dan menghilang di balik pintu
Adara menghela nafasnya memandangi koper yang berisi pakaian nya tergeletak di lantai, ternyata Arsen masih mempunyai sisi kemanusiaan, sempat-sempatnya ia membereskan pakaian nya terlebih dahulu dan memasukannya ke dalam koper padahal bisa saja kan semua pakaian Adara itu ia lemparkan langsung saja dari lemari tanpa dirapihkan terlebih dahulu
Adara berjalan ke arah belakang rumahnya mencari kamar yang akan ia tempati, disana ada dua kamar yaitu kamar bi Atik dan sebelah nya kamar kosong, Adara membuka pintu kamar yang kosong itu, kamar itu berukuran jauh lebih kecil dibanding dengan kamar yang biasa ia tempati, ukuran nya hanya beberapa petak saja dan hanya berisi kasur lantai dengan 1 bantal tanpa guling dan hanya ada satu lemari kecil, ia meletakkan koper yang ia pegang di lantai, kemudian ia duduk di atas kasur lantai sambil memandangi sekeliling kamar itu, ini pertama kalinya bagi Adara tidur dengan kamar yang sangat sederhana
"Seperti nya My Bad Husband yang sesungguhnya baru akan di mulai" Adara berbicara sendiri dengan menitikan air matanya yang sudah sejak tadi ia tahan supaya tidak jatuh
Setelah sudah puas menangis sendiri "ah tidak, aku tidak boleh menangis aku tidak boleh terlihat lemah, aku harus kuat, ya harus kuat menghadapi semua cobaan yang datang menimpa rumah tanggaku" Adara menghapus air matanya dengan kasar "Bismillah, semangat memulai cerita hidup baru" ucap Adara yakin.
jangan lupa like komen dan vote untuk mendukung author ya guys😌❤️
TERIMA KASIH 🙏🏻
__ADS_1