
Keesokan paginya di depan rumah yang sederhana itu Adara sedang duduk santai menyeruput secangkir teh hangat yang ia baru saja ia buat sendiri sambil menikmati udara yang sangat segar dan sejuk di perkampungan itu
Tiba-tiba Bima datang dan ikut duduk di samping Adara "udara nya lebih segar dari di perkotaan bukan?"
"Eh kak Bima, iya nih kak segar dan sejuk gimana gitu bikin fresh otak, hehe" Adara terkekeh "kak Bima mau aku buatin kopi atau teh engga?
"Emm boleh tuh kalo kamu engga keberatan, hahaha" Bima menjawab dengan tawa nya
"Ah kakak mah kenapa harus keberatan orang tinggal nyeduh aja" Adara memukul ringan tangan Bima "mau kopi atau teh kak?"
"Teh aja deh biar samaan kaya punya kamu"
"Oke kak siap" Adara beranjak masuk ke dalam rumah membuatkan secangkir teh untuk Bima
Tidak perlu menunggu waktu yang lama lagi Adara keluar dari dalam rumah dengan membawa secangkir teh hangat sesuai permintaan Bima
"Sluuurrrpp, aahh. Nikmat sekali" kata Bima setelah menyeruput teh yang Adara buat
"Kakak, apa kakak juga masih mengingat dulu saat pertama kita ketemu secara tidak sengaja?" Tanya Adara
"Tentu Adara, kakak ingat semuanya, bahkan kakak ingat saat kamu di gendong oleh nenek dan di bawa kerumah itu dalam keadaan terus menangis..."
Flashback On
Sepuluh tahun yang lalu...
Bima terus menatap lekat pada gadis yang berada dalam gendongan nenek nya, gadis kecil yang diperkirakan masih berusia 10 tahun itu yang baru saja tidak sengaja ia tolong itu terus menangis di gendongan neneknya mungkin masih ketakutan
Nenek Bima alias Bu Siti membawa gadis itu masuk ke dalam rumahnya yang dulu, mencoba menenangkan gadis itu dengan memberinya segelas air bening untuk ia minum supaya gadis itu sedikit tenang, namun tidak. Gadis itu tetap terus menangis
Bima mencoba menghampiri gadis kecil itu, ia duduk di hadapan gadis itu mencoba mensejajarkan tinggi nya "hei gadis manis jangan menangis lagi, kamu masih takut Hm? Jangan takut lagi ya disini kamu aman kan udah ada kak Bima sama nenek" kata Bima lembut
Gadis itu mengurangi tangisan nya dengan masih sesenggukan, ia menatap wajah Bima
"Ayo kakak ajak kamu jalan-jalan yuk keliling daerah sini, kakak gendong kamu deh"
"Kemana kak?" Tanya gadis itu masih dengan sesenggukan nya
"Ke tempat sana ayo kamu pasti suka deh, ayo naik sini" Bima memutarkan tubunya membelakangi gadis itu dan menempuk punggung nya memberi isyarat kepada gadis itu untuk memeluk punggung nya
__ADS_1
Gadis itu menurut, ia menaiki punggung Bima dan menempelkan dagunya pada pundak Bima
Bima yang saat itu sudah berumur 18 tahun tentu sudah kuat menggendong Adara di punggungnya "Bima pamit dulu ya nek" kata Bima tak lupa berpamitan pada nenek nya
"Iya Bima, hati-hati ya jaga si neng ini" pesan Bu Siti
"Siap nek"
Bima pun membawa gadis itu keliling daerah nya sampai ke sebuah sawah hijaunya yang membentang luas, Bima menurunkan dan mendudukkan gadis itu di atas gubuk di tengah sawah
"Nah disini tempatnya sangat nyaman sekali, kamu suka kan" ucap Bima
Gadis itu mengangguk dengan senyum nya, rupa nya gadis itu sudah merasa tenang dan tidak menangis lagi
"Siapa nama kamu gadis cantik?" Tanya Bima
"Nama aku Adara kak" jawab gadis itu yang tak lain adalah Adara kecil
"Nama yang cantik sekali seperti orang yang punya namanya"
"Nama kakak kak Bima kan?" Tanya Adara dengan wajah polos nya
"Betul sekali" jawab Bima
"Wahh kamu masih kecil sudah baca akal sekali gadis manis" Bima mencubit gemas kedua pipi Adara
"Sakit kak" Adara memajukan bibirnya membuat Bima semakin gemas
Mereka berdua pun asik banyak bermain di sawah sampai tak terasa waktu sudah akan masuk sore hari mereka pun kembali beristirahat di gubuk tadi
"Kamu cape?" Tanya Bima
Adara mengangguk "iya kak aku cape tapi seru kak"
"Lain kali kita bisa kesini dan bermain lagi disini"
"Kak, aku takut aku engga mau pulang" tiba-tiba wajah Adara kembali terlihat murung
"Jangan takut, kan ada kak Bima"
__ADS_1
"Tapi kak, muka abang-abang tadi seram bangett" mata Adara berkaca-kaca hendak menangis
Namun Bima langsung memeluk tubuh kecil Adara itu "Hey jangan menangis lagi"
"Aku takut kak" katanya
"Nih kakak punya gelang bagus" kata Bima sambil melepaskan gelang yang ia pakai
Adara melepaskan pelukannya ia memperhatikan gelang yang Bima pegang, ia merasa tertarik dan ingin memiliki gelang itu "bagus kak, aku mau dong" pintanya
"Tentu saja ini buat Adara yang cantik ini" Bima langsung memakaikan gelangnya pada pergelangan tangan Adara
"Bagus kak" kata Adara
"Iya dong, kamu suka? Gelang ini buat melindungi kamu dari berbagai macam penjahat seperti tadi, nanti para penjahat engga akan lagi ada yang berani sama kamu, kamu harus jadi anak yang
kuat engga boleh nangis lagi ya" Bima menghapus air mata Adara yang tersisa
"Iya kak aku suka, Makasih kak. Aku sayang banget sama kak bima" tubuh mungil Adara kembali memeluk dari samping
Bima membalas pelukan Adara "kak Bima juga tak kalah sayang sama Adara"
"Nanti kalo aku udah besar aku mau nikah sama kak Bima" kata Adara lagi dengan wajah Polosnya
Bima terperanjat mendengar perkataan Adara yang tak ia sangka Adara berani bicara sampai situ, Bima hanya mengikuti saja apa yang Adara katakan dan hatinya juga merasa senang "tentu saja nanti Adara akan menikah sama kak Bima makanya mulai sekarang kamu harus jadi anak yang kuat engga boleh cengeng, harus jadi anak yang pintar biar bisa nikah sama kak Bima"
"Aku janji kakak" ucap Adara dengan wajah cerianya
"Yuk kita pulang, sudah sore" ajak Bima
Bima pun kembali menggendong Adara seperti tadi mengajaknya pulang kerumah neneknya
Rupanya saat pulang ini Adara kecil sangat nyaman dengan gendongan Bima sampai ia tertidur di sana.
Sampai 2 Minggu lebih Adara tinggal dirumah Bu Siti, Adara sangat merasa betah tinggal disana, keseharian nya ia hanya bermain dengan Bima saja sampai kemudian orang tua Adara yang mencari nya datang menjemput Adara setelah itu Bima dan Adara pun tak pernah lagi bertemu sampai mereka tumbuh dewasa
Flashback Off
Adara tertawa mengingat kepolosannya dulu yang mengatakan bahwa ia mau menikah dengan Bima "maaf banget ya kak cita-cita kita engga kesampaian, aku nya malah udah nikah duluan sama orang lain"
__ADS_1
"Namanya juga kamu masih kecil dara, dan jodoh juga kan sudah ada yang di atas yang mengatur semuanya engga bisa kita atur sendiri sesuai keinginan kita, dan jalan kehidupan manusia tidak Ada yang pernah tau" kata Bima ikut tertawa
Bima berkata dengan sok bijaknya walau di hatinya ia merasa sangat nyesek, karena Adara lah alasan ia masih melajang di usianya yang sekarang hendak beranjak memasuki umur ke 30, sebelumnya ia bertekad dalam hatinya bahwa ia tidak akan mau menikah dulu sampai ia berhasil bertemu Adara seorang gadis kecil yang dulu pernah berkata bahwa ingin menikah dengan nya namun sangat di sayangkan sekali takdir berkata lain saat ia bertemu dengan Adara yang sudah dewasa ternyata Adara sudah menikah dengan junior nya dulu dan sekarang yang bisa di lakukan Bima hanyalah mencoba ikhlas saja