My Bad Husband

My Bad Husband
Eps. 74


__ADS_3

Happy Reading❤️


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya Arsen dan Adara sampai di rumah mereka, sebuah rumah yang berukuran cukup sedang yang selama ini Adara rindukan, di dalam rumah itu tetap sama tidak ada bedanya saat ia pergi dari sana 6 bulan yang lalu, hanya saja rumahnya tampak sedikit berantakan dari biasanya, Adara bisa memahami kenapa rumah ini berantakan karena di tinggal lama oleh pemiliknya


Tadinya Bu Siti merasa sangat keberatan untuk merelakan Adara pulang bersama Arsen, namun mau bagaimana lagi? Bu Siti juga tidak bisa mencegahnya karena bagaimanapun Arsen sebagai suami Adara lebih berhak dan lebih kuasa jika ia membawa istrinya pulang, di sisi lain Bu Siti juga merasa senang karena kini Adara, seorang gadis yang ia sayangi bagai cucu sendiri itu kembali berbahagia bersama suaminya.


"Arsen, karena kamu masih sakit dan luka-luka di badan kamu masih belum sembuh, aku mau tidur di kamar sebelah" Adara mendorong kopernya lalu berjalan ke arah kamar yang dulu ia tempati saat ia masih baru menikah dengan Arsen


"Eh engga bisa gitu Ra, aku mau tidur di kamar kamu aja" Arsen berlari menyusul Adara dan mendahuluinya masuk ke dalam kamar yang Adara tuju


"Keluar ih sen, kamu itu masih sakit. Luka di tubuh kamu juga masih pada basah, kalo aku tidur sama kamu takutnya nanti berdarah lagi lukanya gara-gara kena senggol sama aku, kamu juga tau sendiri kan aku engga bisa diem kalo lagi tidur" Adara menarik tangan Arsen supaya mau keluar dari kamar


"Kalo kamu tarik-tarik tangan aku, lukanya tambah sakit Ra"


"Yaudah deh, karena kamu maksa tidur di sini, aku akan tidur di kamar kamu aja"


"Yaahh kok gitu sih Ra? Bayangin, kita udah setengah tahun pisah rumah, aku kan kangen meluk kamu" kata Arsen kecewa


"Iyaa aku juga tau, masih ada besok-besok kan kalo luka-luka badan kamu udah kering dan sembuh baru kita bisa tidur bareng lagi"


"Makasih ya Ra, akhirnya kamu mau pulang kesini lagi sama aku. Aku hampir putus asa waktu kamu pergi lama engga kembali, aku sempat berfikir aku engga akan pernah bisa ketemu sama kamu lagi Ra" raut wajah Arsen terlihat sangat sedih


"Engga usah lebay deh, sen" Adara memukul ringan pundak Arsen


"Aduh sakit Ra" Arsen memegang pundaknya "aku ini masih pasien loh, Adara jahat banget masa pasien di pukul"


"Biarin aja" Adara beranjak keluar dari kamar dan berlari ke arah kamar lain


Adara merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia menatap sekeliling kamar itu. Kamar dimana yang menjadi tempat saksi bisu ciuman pertamanya diambil oleh Arsen dan menjadi saksi pacaran setelah menikah dengan Arsen. Banyak sekali kenangan di kamar ini dimulai dari suka maupun duka, perlahan tapi pasti, ia memejamkan matanya hingga terlelap tidur


"Aaarrgghh!!" Teriak Arsen


Adara gelagapan bangun karena terkejut mendengar teriakan Arsen dari kamar sebelah, dengan terburu-buru ia berlari keluar memeriksa apa yang terjadi pada Arsen, ia mendobrak pintu kamar itu

__ADS_1


"Kyaaaaaa enyahlahh kau berandal!!!"


"Kenapa sen? Ada apa?" Tanya Adara dengan raut wajah yang terlihat cemas, Adara pikir ada maling masuk ke dalam kamar Arsen saat mendengar Arsen mengatakan kata 'berandal'


"Tolongin aku Ra! Tolongin aku" Arsen berlari ke arah Adara


"Iya tapi ada apa?"


"Itu, ke.. ke.. kecoa terbang!!" Arsen bersembunyi di belakang punggung Adara ketakutan dengan keringat bercucuran di sekujur tubuhnya


"Apa? Kecoa? Mana dia?"


"Itu tuh Ra, disana" Arsen menunjuk pada seekor kecoa yang menempel manja di antara tembok mulus pada rumahnya


"Ayolah kemari sayang, aku sudah sangat lama tidak pernah menangkap kecoa sepertimu" Adara tersenyum sinis mendekat pada kecoa yang sedari tadi asik memperhatikan nya seolah bersiap menyerang


Dengan langkah seribu Adara menyentil kecoa itu dengan hanya satu sentilan tangan nya saja sang raja kecoa terpental jauh entah kemana


"I.. itu baru bapaknya Ra, masih ada keluarga nya di sana di bawah ranjang di dalam"


Arsen tercengang melihat cara Adara mengusir serangga yang bernama kecoa itu supaya pergi "sudah pergi semua kan Ra?"


Tatapan mata jahil dari Adara terlempar pada Arsen, ia berdiri dengan cepat melemparkan sebuah gantungan kunci boneka kecil "tangkap kecoa nya sen!" Gantungan kunci itu tepat mengenai sasaran yaitu tubuh Arsen


"Huaaaaaaaa!!"


"Hahahahahah, cuma gantungan kunci doang ge itu sen, ya ampun!!" Adara tertawa terpingkal-pingkal


"Apa? Cuma gantungan kunci?" Arsen menggaruk belakang kepalanya yang terasa tidak gatal


"Ck, payah sekali kamu sen, cowok kok takut sama kecoa, aku yakin kamu engga bakal bisa jadi ayah yang siaga deh kalo cuma sama kecoa aja takut" Adara menatap Arsen, ia menggelengkan kepalanya tak percaya


"Aku punya trauma sama kecoa Ra, tadi aja aku hampir pingsan kalo kamu engga cepat Dateng"

__ADS_1


"Kenapa kamu engga ambil sapu aja terus sapu deh tuh kecoa"


"Mana sempet Ra, aku kan lagi ketakutan jadi engga inget apa-apa" Arsen memeluk tubuh Adara erat


"Udah ah sekarang mending lanjut bobo lagi sana, aku juga ngantuk banget ini masih jam berapa tuh liat baru juga jam setengah dua belas kamu teriak-teriak untung engga kedengeran sama warga diluar" Adara melepaskan pelukan Arsen lalu berjalan keluar untuk balik lagi ke kamarnya


Adara merapikan bantal di atas tempat tidur yang akan ia tiduri lagi, tubuhnya terasa sangat lelah setelah ia menempuh perjalanan jauh tadi, belum lagi saat ia enak-enak nya tidur, Arsen malah mengganggunya hanya karena beberapa ekor kecoa, huft! Lelahnya terasa berlipat-lipat


"Eh Arsen ngapain kamu tidur di sampingku?" Tanya Adara terkejut saat tiba-tiba sebuah tangan melingkar pada perut ratanya


"Aku masih takut Ra, aku takut disana bakal ada kecoa lagi" wajah Arsen tampak memelas memohon pada Adara supaya mau mengizinkan nya tidur bersama


"Tapi aku masih belum boleh tidur sama kamu"


"Kenapa kok engga boleh Ra? Aku ini Arsen suami kamu loh"


"Karena aku--" Adara tidak bisa melanjutkan perkataan nya lagi saat melihat wajah Arsen yang memelas ketakutan


"Tolong lah Ra, besok aku bakal manggil orang buat bersih-bersih rumah ini sampai bersih kinclong engga bakal menyisakan seekorpun kecoa, jangankan kecoa sebutir debu pun aku jamin engga akan tersisa. aku bakal mempekerjakan 20 orang kalo perlu!"


"Ya udah deh iya, kamu boleh tidur disini kok" Adara membalikkan tubuhnya membelakangi Arsen guna menghindari debaran jantungnya yang berdegup tidak karuan


Arsen tersenyum singkat ia memeluk punggung Adara dari belakang, punggung orang yang sangat ia rindukan selama ini yang sudah membuatnya uring-uringan karena terus memikirkannya akhirnya sekarang orang itu kini sudah kembali berada di sampingnya, tidak ada yang berubah dari Adara, masih sama seperti Adara yang dulu yang 6 bulan lalu sebelum ia pergi meninggalkan rumahnya, bahkan aroma wangi rambut Adara yang tercium jelas oleh hidungnya masih sama seperti dulu, memakai shampo yang wanginya sangat di sukai oleh Arsen


Saat ini Sebenarnya Adara bukannya tidak mau menghadap Arsen dan juga tadi ia bukan tidak mau tidur bersama Arsen, BUKAN!!. tentu saja ia sangatt ingin sekali tidur bersama Arsen memeluk Arsen seperti dulu, tangan Arsen saat ini yang memeluknya dari belakang saja sudah membuat ia merasa sangat nyaman. Adara ingin sekali membalikkan tubuhnya menghadap Arsen dan membalas pelukan Arsen namun rasa keinginan nya itu ia tahan kuat-kuat karena ia masih ingin menghukum Arsen atas kesalahan nya, ingin memastikan apakah Arsen sudah benar-benar kembali menjadi Arsen yang ia sukai? Hanya itu saja alasan yang dimiliki Adara.


.


.


.


Bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa dukungan nya untuk author ya readers sayang😍


__ADS_2