My Bad Princess

My Bad Princess
Fight Each Other


__ADS_3

Semburat mata yang berubah menjadi merah itu membuat Alessio tersenyum simpul, ia menarik pinggang ramping itu dan beranjak mendekat pada tengkuk yang begitu putih dan mulus itu.


"Alessio Renfred, jangan lupakan nama itu." bisik nya pada gadis yang masih menarik rambut nya dengan erat.


Cyra tersenyum, ia melihat wajah yang tampan dari dekat itu namun ia memang sudah terbiasa dengan wajah tampan sehingga tak ada debaran jantung yang bergemuruh di dada nya.


"Cyra De Ecklart," ucap nya yang memperkenalkan nama nya beserta dengan nama belakang nya.


"Seperti nama dunia fiksi dari gadis bangsawan," ucap Alessio dengan tawa miring saat mendengar nya.


"Aku memang bangsawan," jawab Cyra yang beranjak berdiri dan menjauh.


Alessio tak mengatakan apapun lagi, ia melihat gadis itu berjalan melihat sekeliling apart nya dan menoleh keluar jendela nya menatap bangunan, lampu dan jalan yang sangat berbeda dari dunia nya.


"Katakan ini di mana, tahun berapa?" ucap Cyra yang tak lagi tersenyum dan wajah nya kali ini sudah benar-benar serius.


"Milan, Italy tahun 2035." jawab Alessio.


Cyra mengernyit, ia langsung menoleh mendengar nama tahun nya, Tahun 1500 yang akan mendatang atau mungkin lebih karna perhitungan di tahun nya adalah Kekaisaran Levensberg.


"Kalian memakai perhitungan hari apa? Apa perhitungan tanggal kekaisaran?" tanya Cyra dengan tatapan yang masih bingung.


"Kekaisaran? Ini sudah abad 21? Dan lagi kita memakai kalender Masehi." ucap Alessio yang tampak bingung dengan pertanyaan yang terdengar tak masuk akal itu.


Cyra diam sejenak, tangan nya melihat ke arah belati yang di tangan nya. Belati cantik yang membawa petaka ini.


"Aku harus kembali dan sepertinya kau yang jadi kunci nya," ucap nya yang menoleh ke arah pria itu.


Tentu saja karna bagaimana mungkin dendam nya bisa terbalas jika ia berada di dunia yang berbeda.


"Kau tinggal di mana? Asal mu?" tanya Alessio yang menatap dengan bingung.


"Kekaisaran Levensberg, aku berasal dari Duchy Helemites dan tahun tempat aku tinggal 471 tahun kekaisaran." jawab Cyra yang merasa bingung.


"Berarti kau manusia purba!" ucap Cardy saat ia sudah mengeluarkan semua kelopak mawar di dalam mulut nya.


"Mungkin benar tapi bukan nya aku terlalu cantik untuk jadi manusia purba?" tanya Cyra dengan lirikan mata nya yang tajam.


"Kalender kekaisaran? Lavensberg? Nama yang pertama kali ku dengar dan juga tempat yang pertama ku dengar..." gumam Alessio saat mengatakan nya.


...


Cyra menarik napas nya, ia duduk di pinggir ranjang yang empuk dan kamar yang tampak berbeda dari kamar milik nya.

__ADS_1


"Dunia apa ini? Kau yang membawa ku ke sini?" gumam nya lirih yang menatap ke arah belati nya.


Ia tak bisa mengatakan apapun lagi, masih mencerna suasana dan juga masih berpikir untuk keluar dari tempat itu dan kembali ke dunia nya.


...


Sementara itu


Alessio menatap ke arah malam yang tampak gemerlap dengan cahaya lampu dari bangunan tinggi itu.


Cardy yang merupakan rekan nya pun langsung tak menyetujui keputusan pria itu.


"Kau membawa gadis itu? Dia terlalu aneh!" ucap nya yang sangat tidak menyukai Cyra.


"Ya, dia memang aneh tapi dia juga seperti berlian yang sangat langka." jawab Alessio lirih.


"Alessio? Kita keluar dari panti asuhan bersama dan aku tidak mau kita berdebat karna gadis asing yang tidak tau asal usul nya!" ucap Cardy yang merasa jika gadis yang mereka temui sangat berbahaya.


"Dia bilang dia ingin kembali ke dunia nya, kalau begitu ini dunia yang berbeda? Jika Duchy bukan nya itu tempat wilayah kekuasaan Duke?" tanya Alessio yang bergumam.


Berbeda dengan Cardy ia melihat sendiri bagaimana Cyra menghabisi setiap orang yang berada di hutan itu dengan sulur bunga beracun yang keluar dari tangan nya.


"Tidak apa, dia akan jadi tanggung jawab ku." ucap Alessio yang merasa tertarik dengan gadis aneh yang memiliki kekuatan yang tak nyata itu.


Cardy tak mengatakan apapun, wajah nya hanya kesal dan beranjak keluar.


......................


Ke esokkan pagi nya.


Cyra menatap ke arah barang-barang yang sudah datang dengan menumpuk di dalam kamar nya.


"Sekarang kau bisa pakai itu, kalau ada salah satu yang tidak tau cara menggunakan nya kau bisa bertanya pada ku." ucap Alessio saat ia sudah memberikan semua barang-barang yang di butuhkan gadis itu.


Cyra masih tak menjawab, wajah nya datar walau ia tampak kebingungan karna melihat ke arah pakaian terbuka yang sangat berbeda di dunia nya.


"Apa tidak ada masalah dengan gaun ini?" tanya Cyra yang tampak bingung.


"Bukan nya itu gaun yang indah?" tanya Alessio dengan gaun yang terbuka di bagian dada dan tampak kecil hingga saat di kenakan akan membuat siluet tubuh.


"Ya, seperti nya dunia ini menyenangkan..." ucap Cyra dan kemudian membawa salah satu gaun itu ke dalam kamar mandi nya.


Tempat yang moderen dan tentu ia juga tidak begitu paham bagaimana menggunakan nya.

__ADS_1


Prang!


Crass!


Alessio tersentak, belum beberapa langkah ia ingin keluar sudah ada suara gaduh di dalam kamar mandi nya.


"Cyra?! Ada apa?!" ucap nya yang menggedor pintu itu.


Tak lama kemudian pintu itu terbuka, Alessio terdiam tak bisa mengatakan apapun.


"Air nya keluar dari sana," ucap Cyra dengan wajah datar nya dan tampak tak berdosa.


Sedangkan wastafel di kamar mandi itu terbelah dua beserta dengan bak keramik yang pecah, pipa air yang patah dan kran yang bolong namun saat ini berada di tangan nya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Alessio yang terheran-heran.


Cyra tak mengatakan apapun, dengan wajah cantik seperti peri malam itu ia datang dan memberikan kran wastafel yang putung itu pada Alessio.


"Mandikan aku, seperti nya aku butuh pelayan." ucap nya dengan tenang seperti khas bangsawan yang sempurna.


"Kau bilang seperti itu setelah menghancurkan kamar mandi ku?!" tanya Alessio yang tak habis pikir.


Cyra tak mengatakan apapun, ia diam seribu bahasa dan hanya melihat ke arah pria yang frustasi itu.


Air yang bocor dari kran terus mengalir hingga banjir, kamar mandi estetik itu sudah hilang tak ada lagi dan hanya jadi reruntuhan.


Cyra menoleh, ia mengeluarkan sulur dari bunga yang tumbuh di nadi nya dan menumbuhkan bunga mawar merambat yang indah di dalam kamar mandi tersebut dan membuat menjadi tempat yang terasa tak nyata.


"Kau! Hantu purba yang menyebalkan!" ucap Alessio yang kehilangan kata-kata nya.


Plak!


Tamparan yang terasa di pipi nya namun bukan tangan kecil itu yang melayang melainkan kelopak bunga yang begitu wangi dan pecah menyebar.


"Jangan banyak bicara aku tidak suka berisik," ucap Cyra yang berjalan melewati pria itu dan duduk di sofa tunggal itu.


Sementara Alessio tampak sedang membersihkan kelopak bunga yang masuk ke kemeja dan rambut nya akibat tamparan sihir yang tidak menyakitkan namun merepotkan.


"Siapkan air mandi ku," ucap Cyra memberi perintah.


"Ini rumah ku," ucap Alessio yang tampak kesal.


"Kau bawahan ku? Lupa? Atau harus ku ingatkan?" tanya Cyra dengan senyuman tipis.

__ADS_1


__ADS_2