My Bad Princess

My Bad Princess
Dirty


__ADS_3

Kekaisaran Lavensberg


Cyra turun dari kuda tinggi yang tadi nya membawa ia kembali.


Namun ia tau jika ia tak sampai di ibu kota kekaisaran ataupun di kota Duchy yang ia miliki.


"Kita berada di mana?" tanya nya yang menoleh menatap ke arah teman sekaligus cinta pertama di dua kehidupan nya.


"Aku berhenti di desa terdekat, walaupun penduduk nya masih sedikit tapi desa ini cukup lengkap." jawab Edward yang kemudian ikut turun dan berjalan di samping Cyra.


Cyra tak mengatakan apapun namun ia tau jika pria itu ingin memesan penginapan untuk beristirahat.


"Dua kamar, jika bisa aku mau yang bersebelahan." ucap Edward saat ia memesan.


Tak ada yang tau jika kedua nya merupakan bangsawan tingkat tinggi.


Cyra yang dapat menyembunyikan diri nya karna warna dari rambut nya yang berbeda dan Edward yang memakai tudung seperti pengembara biasa.


"Tidak, berikan satu kamar." potong Cyra yang membuat pria itu tersentak.


"Sayang? Kau mau meninggalkan istri mu untuk tidur sendirian?" tanya nya yang kemudian menggandeng tangan pria yang ad di samping nya.


Edward tak menyangkal atau pun menyanggah nya namun ia mengangguk pada pemilik penginapan untuk hanya memberikan satu kamar.


...


Kini di kamar yang tak terlalu luas dan mungkin bagi kedua orang itu hanya tampak seperti kamar pelayan di mansion masing-masing.

__ADS_1


Cyra duduk di kursi yang berada di ujung sudut kamar penginapan itu dan kemudian melihat ke arah tangan nya.


Belati yang sebelum nya ikut dengan nya ke dimensi yang berbeda tertinggal dan tak ia bawa.


"Seperti nya ada banyak yang harus kita bicarakan," ucap Edward yang kemudian mengambil kursi dan duduk di dekat gadis yang tampak diam itu seperti ingin menenangkan diri nya.


Ia tak ingin menanyakan alasan gadis itu berbohong jika mereka adalah pasangan suami istri namun ia lebih ingin menanyakan di mana dan kemana gadis itu selama menghilang berbulan-bulan seperti tanpa jejak.


"Kalian mencari ku?" tanya Cyra yang terdengar antara peduli dan tidak saat melihat ke arah pria yang tampak begitu ingin tau itu.


"Tentu! Kami semua memikirkan mu! Kau ke mana dan apa yang terjadi pada mu!" ucap Edward yang sedikit menaikan suara nya karna setelah rasa rindu nya membuncah ada rasa khawatir yang keluar meledak sehingga memberikan emosional yang lebih bergejolak.


"Seperti nya yang benar-benar memikirkan ku hanya ada beberapa orang dan termasuk diri mu." ucap Cyra yang tau jika tak semua orang khawatir pada nya dan sebenarnya hanya ada beberapa orang saja yang benar peduli pada nya.


"Kau membuat perjanjian dengan iblis?" tanya Edward yang memejam dan kemudian bertanya dengan hati yang gelisah.


Cyra diam tak menjawab dan kemudian menatap ke arah pria itu.


"Di mana kau selama ini?" tanya nya lagi yang tentu ingin mendengar sebuah jawaban.


"Kalau ku katakan kau akan percaya?" tanya nya yang menatap ke arah pria itu, bukan sebuah jawaban.


"Ya, aku akan mempercayai mu." jawab Edward dengan mata yang percaya.


"Tempat dan dunia yang lain, tempat itu berisik tapi bagi ku lebih tenang." jawab Cyra yang menatap dengan mata yang tak pernah goyah.


"Bagaimana kau bisa ke sana?" tanya Edward yang tak menertawakan melainkan ingin tau bagaimana bisa gadis itu sampai ke tempat yang ia sendiri tak bisa membayangkan nya.

__ADS_1


"Perjanjian, jawaban untuk pertanyaan pertama mu." jawab Cyra dengan senyuman tipis.


Edward diam sejenak, ia berdiri dan berlutut dengan satu kaki nya menatap ke arah gadis itu.


"Apa yang kau inginkan? Kenapa sejauh ini? Perjanjian dengan iblis? Kau tidak waras? Kau punya kekuatan Dewi Elaine," ucap Edward yang tentu tak bisa menerima nya.


Cyra tersenyum tipis mendengar nya, ia tak menyayangkan keputusan nya karna ia merasa Dewi yang di agungkan oleh seluruh kekaisaran bahkan tak bisa membantu nya.


"Dari pada menjadi titisan Dewi Elaine aku lebih memilih untuk menjadi titisan Iblis dan..."


"Kau tau apa yang ku inginkan, jadi ku harap setelah kembali, jauhi aku." ucap Cyra yang tersenyum menatap ke arah pria itu.


Senyuman nya tak sedingin seperti biasanya, ia tau apa yang akan terjadi pada pria yang masih menjadi cinta di hati nya.


"Tidak, aku akan tetap mengikuti mu. Bahkan kalau kau ke neraka sekalipun." jawab Edward yang kemudian memegang tangan kecil yang mengusap pipi nya.


Senyuman tipis itu jatuh perlahan, ingatan nya masih begitu jelas melihat kepala tanpa tubuh yang di gantung di gerbang istana dan seluruh rakyat yang melempari nya dengan batu karna termakan dengan rumor dan fitnah yang di buat oleh putra mahkota sendiri.


"Ed? Kau mungkin tidak tau, jadi aku akan memberi tau mu."


"Aku..."


"Lebih kotor dari yang kau bayangkan, kau tidak akan mengatakan itu kalau kau tau apa yang sudah ku lakukan untuk sampai di sini." ucap nya yang mengatakan setidak nya sedikit banyak perbuatan tak suci yang sudah ia lakukan untuk sampai di titik ku.


"Kalau begitu kau hanya perlu mengotori ku juga, jangan menghilang lagi..."


"Ku mohon..."

__ADS_1


Pria itu menatap dengan mata nya yang cerah, pria yang lembut dengan kehidupan dari keluarga dan lingkungan yang waras.


Cyra tak bisa menjawab, ia memang ingin membalas dendam tapi ia tentu tak ingin melihat kematian orang-orang yang ia sayangi untuk kedua kali nya.


__ADS_2