
Villa
Sinar mentari yang terang itu mulai datang, cahaya hangat nya mulai membangunkan setiap orang tertidur.
Pria itu menuruni anak tangga, ia sudah terbangun sejak satu jam yang lalu.
"Apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanya Cyra yang menoleh ke arah pria itu saat ia sudah berdiri di dekat dinding kaca yang menghadap ke taman.
Alessio menghentikan langkah nya, tak ada lagi wajah tersenyum atau mata yang menunjukkan kegembiraan untuk hal kecil seperti anak-anak itu.
"Kau sudah sarapan?" tanya Alessio yang kemudian menghentikan langkah nya lalu menatap ke arah gadis itu sekali lagi.
Cyra tak menjawab namun ia menggelengkan kepala nya dan menatap ke arah pria itu.
Alessio tak lagi mengatakan apapun, ia pun beranjak dan tentu gadis itu mengikuti nya dari belakang.
Cyra duduk, wajah yang tampak tak menunjukkan emosi itu terlihat diam bergeming seperti biasa.
"Semalam kau bermain gelembung sabun di taman?" tanya Alessio yang melihat ke arah Cyra.
Cyra melihat dengan lirikan mata nya dan kemudian menarik napas nya.
"Tidak," jawab nya singkat. Entah sebuah kebohongan atau kejujuran, semua itu tak nampak.
"Benarkah? Aku melihat seseorang yang bermain gelembung sabun dan kemudian tertawa, seperti anak-anak yang baru pertama kali bermain," ucap Alessio yang membuat gadis itu mengetikan tangan lentik nya yang sedang makan saat ini.
"Oh ya? Rumah ini berhantu?" jawab Cyra yang kemudian makan dengan tenang lagi.
Alessio tersenyum miring mendengar nya, "Ya, ku rasa..."
"Ada hantu yang sangat cantik di sini," sambung Alessio yang kemudian melihat dengan senyuman nya.
Cyra tak menjawab lagi, ia hanya menarik napas nya dan kemudian menatap ke arah pria itu.
...
Skip
Pria yang berada di ruangan kerja nya itu melihat ke hasil yang sebelum nya sempat di dapat setelah membawa Cyra ke rumah sakit.
"Dia memang seperti tak nyata," gumam nya lirih yang bahkan tak menyangka setiap tetes darah gadis itu mengandung senyawa racun mematikan namun sang pemilik tubuh tetap hidup.
"Tunggu! Harus nya aku mati kan? Kami berciuman waktu itu, tapi aku baik-baik saja..." gumam Alessio saat memikirkan nya.
Tak lama kemudian suara ketukan terdengar dan seseorang yang masuk ke dalam ruang kerja nya.
"Kau sudah lihat rekam medis nya? Dia cukup gila!" ucap Cardy yang datang dan langsung mengatakan kalimat tersebut.
Alessio masih diam tak mengatakan apapun, "Kau terlihat membenci nya tapi kau membelikan dia mainan?"
Cardy diam sejenak, "Anggap saja kebaikan karna dia sudah membunuh semua yang ingin menyerang kita malam itu."
"Dengan sebotol gelembung sabun? Yang dia mau tidak sederhana itu." jawab Alessio yang tau jika gadis itu menginginkan lebih dari sekedar darah nya.
Cardy tak lagi menjawab, ia hanya menarik napas nya dan melihat ke arah rekan penjahat nya itu.
"Kau mau bersenang-senang malam ini? Lagi pula yang mau kita lakukan sudah selesai kan? Sebelum kembali ke Italy, aku menemukan club' yang menyenangkan." ucap Cardy pada Alessio.
Alessio melirik dengan satu mata nya, "Kau tidak bisa lepas dari wanita? Bukan nya kau harus cek kesehatan mu?"
Cardy tertawa kecil mendengar nya, "Kau sedang menyindir diri mu sendiri?" tanya nya dengan mentertawakan rekan nya itu.
"Aku tidak memiliki penyakit menular," jawab Alessio dengan tawa kecil nya.
"Mungkin belum, memang nya kau ingat berapa yang kau tiduri di pesta terkahir?" tanya Cardy dengan sindiran dan tawa kecil.
Alessio hanya menaikkan alis nya, ia tak menjawab sama sekali karna hal seperti itu memang menjadi salah satu dari kehidupan nya dan apa yang ia lalui.
"Kau mau ikut? Ke club' itu?" tanya Cardy lagi menawarkan.
"Ya, kita bisa pergi satu hari sebelum kembali." jawab Alessio yang memikirkan kepulangan nya ke Italy.
"Dia? Di bawa atau di tinggal? Di sana juga banyak pria," tanya Cardy yang tentu ia tau selain penghibur wanita juga ada penghibur pria.
"Ku rasa dia tidak akan suka, tapi kau ternyata cukup memikirkan nya." tanya Alessio yang menatap ke arah pria itu.
"Sudah ku bilang anggap saja sebagai rasa terimakasih karna dia bisa membunuh semua nya kan?" jawab Cardy dengan ucapan yang sama seperti sebelum nya.
"Benarkah?" tanya Alessio yang menyipit kan mata nya seperti menatap curiga.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu? Jangan bilang kau mulai tertarik dengan nya, bukan karna keanehan nya tapi sebagai wanita?" tanya pria itu yang memang ia lebih maniak pada wanita cantik itu.
"Pikiran mu seperti nya perlu di bersihkan," ucap Alessio menggeleng mendengar ucapan rekan nya.
__ADS_1
"Aku hanya tanya, bagaimana? Dia menyenangkan saat malam? Dia bisa bertahan lama? Bisa mengimbangi mu?" tanya Cardy dengan tatapan yang begitu penasaran.
Pria di depan nya selalu memiliki hasrat yang lebih besar, untuk apapun itu tanpa terkecuali.
Baik itu menghancurkan, membunuh, atau na*fsu yang membuat pria itu tak pernah puas dengan satu wanita.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak melakukan apapun pada nya? Kau sendiri lihat kan? Malam itu? Dia punya tumbuhan yang bisa dia keluarkan dari tangan." jawab Alessio yang tampak menarik napas nya.
"Kalian sudah tinggal bersama lebih dari dua Minggu, kau masih belum menyentuh nya sama sekali? Bahkan ciuman?" tanya Cardy yang tak percaya.
Alessio tak menjawab kali ini, ia menarik napas nya dan mengibaskan tangan nya sekaan mengatakan agar pria menyebalkan itu segera keluar.
"Keluar, kau ke sini untuk membicarakan tentang organisasi peniru itu kan? Dan juga tentang tubuh gadis itu yang aneh? Karna sudah, kau keluar." ucap Alessio yang tampak kesal.
"Jangan lupakan tentang club' nya," ucap Cardy yang kemudian keluar.
Alessio hanya menarik napas nya, ia tak bisa mengatakan apapun pada pria yang menyebalkan namun sudah menjadi teman nya semenjak ia berada di panti asuhan.
Sementara itu.
Gadis yang tampak bingung melihat ke arah benda persegi panjang yang pipih dan kini sudah terbagi di beberapa bagian.
"Kenapa? Tidak bisa hidup lagi?" gumam Cyra yang bingung dengan ponsel yang baru di berikan pada nya.
Ia hanya di berikan saja saat layar ponsel itu menyala namun setelah itu tak di ajari karna mungkin Alessio lupa jika dunia yang mereka tempati berbeda.
"Astaga! Kau membongkar ponsel keluaran terbaru?!"
Cyra langsung menoleh, suara dari seseorang yang menyebalkan sekaligus berisik terdengar oleh nya, ia kesal setiap kali mendengar pria itu bicara.
"Hidupkan lagi," Ucap Cyra yang sekaan memberi perintah karna ia memang sudah terbiasa melakukan nya.
"Apa nya? Maksud mu kau mau aku merangkai ponsel yang sudah kau pisah itu dan menyatukan nya kembali?" tanya Cardy tak percaya.
"Ya," jawab Cyra singkat pada pria itu.
"Lakukan sendiri, aku bukan pengasuh mu dan lagi pula itu salah mu kenapa kau membongkar ponsel itu." ucap Cardy yang ingin pergi.
Cyra tak mengatakan apapun, ia diam namun ia tak suka saat seseorang mengabaikan perintah nya.
Bruk!
Cardy langsung terjatuh, sesuatu mengikat di kaki nya yang membuat ia telungkup seketika.
Sreg
"Apa ini?!" ucap nya yang heran dan melihat ke arah sulur bunga yang menarik nya.
"Bangun," Cyra memberikan perintah nya sekali lagi.
"Wanita gila?! Apa yang kau lakukan?!" tanya Cardy yang kesal karna ia memang selalu seperti itu.
"Tidak ada, aku hanya mau kau membuat nya menyala lagi." jawab Cyra dengan tenang dan wajah yang datar.
Cardy bangun, ia mengambil ponsel yang sudah terbagi menjadi beberapa bagian itu di atas meja.
"Kenapa kau membongkar nya? Tidak! Kau membelah nya menjadi beberapa bagian!" ucap Cardy tak percaya.
"Aku mau membuat nya hidup lagi, cahaya nya keluar tapi tidak bisa di gunakan." ucap Cyra yang mengatakan nya karna sejak pagi tadi ia berusaha menghidupkan nya.
"Kau tidak tau cara nya? Kau tinggal menggeser nya saja," Cardy yang menatap kesal.
Cyra tak menjawab sama sekali, mana mungkin ia tau bagaimana cara nya menggunakan ponsel abad 21 sementara ia berasal dari ribuan tahun yang lalu?
"Kau minta di belikan saja yang baru pada Alessio, aku tidak bisa merakit ponsel." jawab Cardy kesal.
Cyra tak menjawab namun perlahan sulur mawar yang berada di kaki pria di depan nya ia lepaskan.
...
Pukul 07.45 pm
Setelah makan malam Cyra menatap ke arah pria yang tampak tak mengerjakan apapun sekarang saat ini.
Hanya menghisap cerutu nya dengan beberapa botol alkohol dan gelas di samping nya lalu duduk di area taman.
"Sekarang tidak ada yang kau kerjakan?" tanya Cyra yang mendekat.
Alessio tersentak, ia menoleh dan menatap ke arah gadis yang bicara pada nya.
"Ada apa? Kau bilang kau mau menguji sesuatu? Kau sedang ingin melakukan nya sekarang?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis itu.
"Nanti," jawab Cyra singkat yang kemudian berdiri di depan pria yang sedang duduk itu.
__ADS_1
"Apa?" Alessio mengerutkan alis nya menatap ke arah gadis yang berdiri di depan nya seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Ini? Belikan yang baru," ucap Cyra yang memberikan ponsel yang rusak itu.
Alessio langsung terperanjat, ia meletakan cerutu nya dan mengambil ponsel yang baru pagi tadi ia berikan.
"Kau melakukan apa dengan ponsel ini?" tanya Alessio yang begitu tak percaya.
"Aku mencoba menggunakan nya, tapi setiap kali aku menekan tombol nya tidak bisa di gunakan." ucap Cyra yang menjelaskan.
"Kau kan bisa menggeser nya ke atas, ada tulisan yang akan menyuruh mu melakukan nya." jawab Alessio yang tak habis pikir.
"Tidak," jawab Cyra singkat.
"Tidak apa?" tanya Alessio yang menatap bingung.
"Aku tidak bisa membaca tulisan nya, bukan hanya itu tapi di semua tempat." jawab Cyra yang memang ia tak bisa membaca tulisan di dunia baru itu namun entah mengapa ia mengerti dengan sendiri nya bagaimana cara nya bicara ataupun saat seseorang berkomunikasi pada nya.
Alessio mengernyit, ia menatap bingung.
"Kau mengerti apa yang ku bicarakan?" tanya Alessio yang melihat ke arah gadis itu.
Cyra mengangguk, ia memang mengerti hal itu.
Alessio diam sejenak, ia kemudian mulai bicara lagi, "Apa yang kau makan pagi ini?" tanya nya mengulang dengan bahasa Inggris.
"Sayuran dan daging," jawab Cyra yang tanpa sadar juga menjawab dalam bahasa yang baru saja di sebutkan.
"Siang tadi kau di taman?" tanya Alessio yang menggunakan bahasa Ceko.
"Tidak, aku di ruang tengah." jawab Cyra yang juga tanpa sadar mengikuti bahasa dari seseorang yang bicara pada nya.
"Kau suka makan malam nya?" tanya Alessio yang kali ini menggunakan bahasa Jepang.
"Lumayan," jawab Cyra yang juga tanpa sadar sudah mengikuti bahasa yang di gunakan oleh pria itu.
Alessio diam sejenak, ia pikir karna gadis itu berada di dalam Italy sebelum nya maka bahasa yang di ketahui pun hanya Italy.
Tapi sekarang?
Semua bahasa bisa tau dan bahkan lancar ketika ada yang komunikasi.
"Kau bisa berbicara dengan lancar tapi kau tidak bisa membaca tulisan nya?" tanya Alessio yang bingung.
"Aku tidak bisa membaca apapun," Cyra menjawab datar dengan kembali berbahasa Italy seperti bagaimana seseorang yang bicara pada nya.
"Sama sekali tidak tau?" tanya Alessio yang bingung.
"Ya, tidak mungkin ada orang yang pura-pura tidak bisa membaca kan?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria itu.
Alessio diam sejenak, memang benar. Tak mungkin ada seseorang yang mau berpura-pura bodoh dengan tak tau cara membaca.
"Hah!" Pria itu membuang napas nya kasar.
"Ikut aku!" ucap nya yang tanpa sadar menarik tangan gadis itu.
Cyra tak menjawab ataupun menolak, ia hanya mengikuti apa yang di katakan oleh pria itu.
Alessio membawa nya ke kamar, bukan untuk melakukan sesuatu namun untuk membuka laptop nya.
"Sekarang, kau lihat dan pelajari ini." ucap nya yang langsung mencari tutorial cara membaca untuk anak TK.
Cyra tak menjawab namun ia tampak menurut, "Setelah ini?" tanya nya dengan bingung.
"Setelah itu ujian," jawab Alessio yang membuang napas nya.
"Ujian? Dengan siapa? Kau?" tanya Cyra yang bingung.
Walaupun ia berasal dari kekaisaran namun di sana juga ada yang nama nya akademi dan ada yang nama nya ujian atau ulangan.
"Ya, aku yang akan memberikan mu ujian," ucap Alessio singkat.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Cyra yang menjawab dengan cepat.
"Aku akan menghukum mu," jawab Alessio yang menatap dengan mata nya yang tak pernah menunjukan secara jelas emosi apa yang sedang ia rasakan.
"Aku bisa membunuh mu lebih dulu," jawab Cyra yang tak takut karna bagi nya sekarang ia yang lebih kuat sampai nanti ketika kekuatan pria itu bangkit.
Alessio tersenyum kecil, ia mendekat satu langkah dan membungkukkan tubuh nya sekilas.
"Coba saja kalau kau bisa," ucap Alessio yang menatap ke arah gadis itu dengan senyuman tipis.
Cyra tak menjawab apapun, namun ia melihat ke arah wajah yang tengah menantang nya itu.
__ADS_1
"Setelah aku tau cara nya kembali aku akan melakukan nya," jawab nya singkat.
Alessio tak menjawab, ia hanya tersenyum dengan menyimpan arti.