
Italy
Dua Minggu kemudian.
Pria tampan itu tampak frustasi, sudah beberapa Minggu terlewati dan semua itu hanya tampak seperti bayangan yang hilang ketika malam datang.
Tak ada satupun yang mengingat gadis yang pernah ia bawa, gadis dengan penampilan yang begitu mencolok dengan rambut dan mata yang perak serta wajah yang begitu cantik.
Tak ada satu pun yang mengingat nya ataupun tau keberadaan yang seperti bukan siapa-siapa itu.
Tapi bagaimana dengan nya?
Dan apa yang di tangan nya saat ini?
Belati itu tampak nyata, begitu mirip dengan milik seseorang yang tertinggal di tempat nya dan tentu orang lain juga bisa melihat belati itu.
Ingatan nya beserta dengan Lucifer yang tertidur di dalam diri nya pun perlahan memudar karna tak ada wadah untuk eksistensi kekuatan.
"Aneh, dia nyata tapi kenapa tidak ada yang mengingat nya?" gumam nya lirih yang memegang belati yang tampak begitu indah itu namun juga begitu tajam.
"Tuan..."
__ADS_1
Suara manja yang lembut itu datang dengan tangan yang memeluk tubuh tegap nya dari belakang.
Alessio tak menjawab, ia memang sudah memanggil wanita lain yang bagi nya menarik dan tentu itu untuk memuaskan kesenangan nya.
"Ck!" Alessio menatap kesal dan kemudian melepaskan genggaman serta pelukan wanita cantik itu.
Ia bahkan masih mengenakan piyama nya karna ia baru saja melakukan hal yang berguna untuk membuang rasa bosan nya.
Namun tetap saja, semua itu terasa hambar dan ia pun seperti tak merasa puas sama sekali.
Dan yang lebih buruk nya lagi, ia malah terbayang dengan ingatan nya saat melakukan nya bersama dengan seseorang yang ia sudah tau sendiri bagaimana q kepuasan itu terpenuhi.
"Itu pisau milik tuan? Sangat indah,'' puji nya yang pantang menyerah sembari tetap saja memeluk tangan pria itu.
Alessio tak menjawab, ia menatap dengan dingin tanpa ekspresi.
"Keluar," ucap nya singkat yang sudah tak ingin lagi membuat wanita itu lebih lama di kamar nya.
"Apa? Tapi sa-"
"Keluar, jangan membuat ku mengatakan nya dua kali." ucap nya dengan tatapan yang tajam dan kemudian menatap ke arah wanita itu.
__ADS_1
Wanita cantik itu berdecak, walaupun ia tetap saja mendapatkan bayaran nya namun saat di usir di tengah malam membuat nya juga merasa marah.
Ia mengambil pakaian yang tadi masih berserakan di lantai dan kemudian memasangkan lalu beranjak keluar dengan langkah yang kesal.
Alessio tak memperdulikan nya, namun tentu ia tak akan memanggil wanita yang berlagak dan sulit mengikuti aturan nya itu.
....
Tiga Hari kemudian.
Cardy menatap kesal ke arah Alessio yang masih tampak seperti orang linglung sejak beberapa Minggu yang lalu.
"Okey! Gadis dengan mata perak dan rambut perak kan? Akan ku bantu carikan dan membuat nya tidur dengan mu sampai dia tidak bisa berjalan lagi." ucap nya yang sudah tak tahan melihat teman nya itu terus menerus melamun.
"Dia tidak ada di sini sekarang, dia di Lavensberg." ucap Alessio yang ingat nama tempat yang slalu di sebutkan oleh Cyra.
"Lav apa? Lavennergt?" tanya Cardy mengulang.
Alessio tak menjawab namun mata nya menatap kesal ke arah teman yang terlihat menyepelekan rasa bingung nya.
"Tempat itu tidak ada! Kau sudah gila karna mencari yang tidak ada?!" tanya Cardy dengan begitu kesal.
__ADS_1