My Bad Princess

My Bad Princess
Don't do


__ADS_3

Mata perak itu menatap ke arah pria yang masih berada di depan nya, menutup mulut nya dan membuat tubuh nya merapat ke dinding yang sudah tampak kusam itu.


Tak lama kemudian suara dentuman terdengar, suara yang awal nya samar dan tak akan kini terdengar dangan jelas.


Mata perak itu menoleh dan goyah saat mendengar nya namun tak ada suara teriakan yang terkejut.


"Kau yakin?"


"Ya! Pasti salah satu dari mereka ada yang masih hidup!"


"Kalau begitu kita harus segera menemukan mereka,"


"Tapi kalau ada pun mereka bukan salah satu dari pecahan Lucifer, itu akan sama saja."


"Tidak, kita harus mengumpulkan nya lalu membangkitkan Lucifer itu sendiri,"


Suara perbincangan itu perlahan meredup saat orang-orang itu beranjak pergi dan kemudian meninggalkan nya.


Alessio perlahan membuka bekapan mulut gadis itu dan menatap ke arah mata cantik yang hanya berjarak beberapa centi dari nya saja.


"Mereka seperti nya sudah pergi," ucap Cyra lirih saat pria itu memudur satu langkah agar tak begitu mengapit tubuh nya.


"Ya, dan pembicaraan mereka..." gantung Alessio yang merasa sedang di bicarakan namun ia tak bisa mengatakan nya.


"Mereka berusaha membangkit kan mu," ucap Cyra yang menatap ke arah pria itu.


Alessio diam sejenak, mata nya memandang ke arah gadis yang melihat nya dengan binar yang terang.


"Tapi kau sudah lebih dulu membangkit kan ku, mereka terlambat satu langkah dari mu." ucap pria itu sembari menyentuh pipi yang lembut itu.


Kali ini leher jenjang itu terlihat namun tertutup oleh tudung yang besar.


Pria itu tak mengatakan apapun, tangan nya yang tadi masih memegang pipi gadis itu kini mengusap nya hingga satu jemari telunjuk nya menyentuh dan turun mengikuti alur leher jenjang yang indah itu.


"Kita lanjutkan perjalanan nya," ucap nya yang kemudian menepis pelan tangan pria itu dan kemudian beranjak pergi.


Alessio tak mengatakan apapun, ia tak merasa kesal atau pun senang namun ia mengikuti langkah gadis itu.


"Dari mana kau tau tempat ini? Aku sudah ke sini beberapa kali dan tidak pernah sampai ke sini." ucap Cyra yang bertanya saat ia berjalan berdampingan.


Alessio mengendikkan bahu nya dan kemudian menatap ke arah gadis itu.


"Aku tau sendiri, rasa nya kaki ku berjalan dengan sendiri nya." jawab nya yang kemudian menatap ke arah gadis itu sekali lagi.


"Lalu suara? Bukan nya indera pendengaran mu terlalu tajam untuk bisa mendengar hal yang bahkan sangat kecil." tanya Cyra yang merasa pria itu semakin berubah.


"Entah lah, seperti sudah ada yang memberi tau ku, mungkin firasat?" tanya Alessio yang tetap sambil berjalan.


Cyra tak bertanya apapun lagi, saat ia menelusuri tempat itu ia merasa ada aroma busuk yang bahkan tak akan ia sukai dengan hidung nya.


Clak!


Gadis itu menghentikan langkah nya, ia mengernyit melihat ke arah apa yang sudah ia injak dan mata perak itu tampak terkejut.


"Rusa? Apa di sini ada hewan buas?" tanya Alessio yang menatap ke arah hewan yang tampak mati tak berada itu.


Cyra tak mengatakan apapun, ia melihat ke arah bekas gigitan yang sama sekali tak menunjukkan ada nya hewan buas namun malah sebalik nya.


"Seperti nya ini bukan hewan buas, gigitan nya bukan dari taring." ucap nya yang melihat ke arah rusa yang telah mati itu.


Mulai membusuk dan tentu kali ini mereka tau di mana aroma tak sedap yang mulai tercium.


Alessio diam, ia tak mengatakan apapun. Rasa nya ia bisa merasakan sesuatu namun ia sendiri tak tau apa itu.


"Gelap," ucap nya singkat dan lirih saat ia menatap ke arah rusa yang mati itu.


Cyra langsung memalingkan wajah nya dan kemudian menatap ke arah pria yang berguna dengan satu kata itu.


"Apa maksud mu?" tanya nya yang menoleh dan kemudian menatap ke arah pria yang ada di samping nya.


Tak ada jawaban, pria itu hanya terus melihat ke arah rusa yang mulai membusuk dan sudah bau itu.


"Aku merasakan sesuatu yang lain tapi aku tidak tau apa itu." ucap nya yang merasakan ada hal yang berbeda namun ia sendiri tak tau apa itu.


Deg!


Pria itu tersentak, ia seperti tersengat dengan listrik yang mengejutkan nya namun ia sendiri tak mengerti hal tersebut.


"Kau kenapa? Kau baik-baik saja?" tanya nya yang kemudian menatap ke arah pria itu.


"Ya..." Alessio menjawab singkat, ia tak bisa mengatakan dengan pasti jika ia memang baik-baik saja atau tidak.


...


Derap langkah kaki kedua kuda yang berpacu itu terdengar, sesekali mata perak itu menatap ke arah pria yang terus diam saat terkahir kali mereka menemukan rusa yang sudah mati dan hampir membusuk itu.


Deg!


Gadis itu terperanjat, ia langsung menarik tali kuda nya hingga membuat suara hewan yang besar itu memekik.


Alessio langsung menoleh, ia pun tentu melakukan hal yang sama karna gadis itu tiba-tiba memaksa kuda nya untuk berhenti dan hampir membuat nya jatuh.


"Ada apa?" tanya nya saat melihat ke arah gadis itu turun.


"Kau bisa lihat di sana?" tanya Cyra yang kemudian melihat ke arah batu yang mirip dengan prasasti besar yang tampak dari kejauhan.


Alessio tak menjawab namun ia menoleh dan menatap ke arah yang sama dan kemudian melihat ke arah gadis itu sesekali seperti bertukar pandang secara heran.


"Bukan nya tadi tidak ada? Saat kita di sana?" tanya Alessio dengan heran.


Cyra tak menjawab, namun ia mengernyit mencoba melihat apa yang ada di dalam prasasti tersebut.


"Itu seperti dalam bahasa Italia," ujar pria itu yang merasa bisa mengenali tulisan yang tampak di prasasti yang besar itu walaupun dari jauh.


"Kita ke sana," ucap Cyra yang kemudian ingin menaiki kuda nya dan beranjak mendekat.

__ADS_1


Greb!


Pria itu langsung menarik tangan yang ingin pergi itu seperti sedang mencegah nya.


"Tidak, kau tetap di sini. Ada sesuatu di sana dan itu seperti nya bukan hal yang baik." ucap pria yang seperti sudah mendapatkan firasat yang buruk tentang itu walau pun mungkin saja ia bisa salah.


"Bukan hal yang baik atau mungkin sesuatu yang buruk akan kita tau kalau kita sudah mendekat kan?" tanya nya yang menatap ke arah pria itu dan tentu ia masih kukuh.


Alessio tak mengatakan apapun untuk beberapa saat namun ia merasakan sesuatu yang tak baik sedang menunggu nya.


Seperti pancingan untuk nya mendekat dan ia bisa terjerat kapan saja.


Greb!


Gadis itu tersentak, tubuh nya seperti terangkat dan kemudian mendarat di bahu yang kokoh dan keras.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya Cyra yang terkejut dan tentu memberontak.


"Aku tau kau mau memelintir kepala ku tapi tahan dulu karna kali ini kau yang harus lebih dulu mendengarkan ku." ucap nya yang kemudian menaikkan tubuh kecil itu ke atas kuda nya.


Cyra masih tak mengatakan apapun untuk beberapa saat, ia kemudian menatap ke arah pria yang memaksa nya untuk tak mendatangi prasasti yang besar itu.


"Kalau aku benar-benar memelintir kepala mu tadi kau akan mati." ucap nya yang menatap ke arah pria yang menatap pada nya itu.


"Tapi kau tidak akan membunuh ku karna masih memerlukan ku, iya kan?" tebak Alessio yang kemudian menaiki kuda nya.


"Aku bisa dengan kuda milik ku sendiri, kau tidak perlu membawa ku." ucap Cyra yang merasa pria itu mengukung tubuh nya saat membawa nya di satu kuda yang sama.


"Kalau tidak seperti ini kau merasa kau akan kabur dan mendekat ke tempat itu." ucap Alessio yang kemudian mulai menarik pacu kuda nya.


Cyra tak lagi mengatakan apapun, ia diam dan kemudian membiarkan pria itu yang membawa kuda yang saat ia sedang ia tumpangi juga.


......................


Dua Minggu kemudian


Ibu kota Lavensberg


Suasana yang ramai dengan banyak pasar dan pancuran air di tengah kota. Tempat yang tampak cukup maju untuk di tahun dan dimensi tempat tersebut.


Semua orang berkumpul di alun-alun, menunggu patung Dewi yang baru yang akan di resmikan dan di letakkan di pusat kota untuk menjadi penangkal nasib buruk yang bisa langsung mengusir nya.


"Pasti berkat Dewi akan terus bersama kita..."


Ucap para penduduk yang tampak begitu bersemangat dan juga berharap saat melihat ke arah patung besar yang akan segara di resmikan.


Srak!


Kain yang besar itu di jatuhkan agar patung yang besar itu bisa di lihat oleh siapa saja.


Deg!


Mata binar dari para penduduk yang bersemangat itu seketika langsung runtuh saat ia melihat ke arah patung yang harus tampil dengan kokoh namun tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.


"Akhh!"


Suara kesunyian itu berubah menjadi riuh yang kacau saat orang-orang yang tadi nya bersemangat ingin melihat patung Dewi berubah menjadi teriakan yang menggema.


"Petaka akan datang!"


Seru salah satu penduduk yang kemudian berakhir dengan riuh yang saling berhamburan.


...


Dua hari kemudian


Istana Kekaisaran


"Apa ini?!"


Pria paruh baya yang tampak memliki janggut itu terlihat marah saat membaca selembaran koran yang berhamburan ke seluruh penjuru kekaisaran.


"Kekaisaran yang terkutuk? Dewi Elaine yang marah?!" tanya nya lagi dengan tatapan murka dan kemudian melempar selembaran yang ada di depan nya.


Sekertaris kaisar hanya diam, tentu tak ada yang bisa ia lakukan saat ini untuk menghilangkan kemarahan dari pria yang sedang murka itu.


Berita yang sedang panas di kekaisaran saat peresmian patung Dewi yang harus nya begitu istimewa namun berubah menjadi petaka.


Bagian kepala yang hancur dan juga bagian tubuh patung yang terlihat seperti di berikan darah yang begitu banyak.


Seperti seseorang yang di penggal dan tentu nya hal ini pun langsung menyita perhatian kuil.


...


Sementara itu seseorang yang tampak begitu tenang dengan senyuman tipis sembari menutup udara yang terasa begitu segar dari jendela ruang kerja nya yang langsung menghadap ke bagian taman kerajaan.


"Suasana yang sangat ku rindukan," gumam nya yang suka dengan kericuhan yang terjadi.


Ia tersenyum dan bahkan cenderung tertawa. Tentu ia tak merasa takut dengan ada nya rumor yang mengatakan jika kekaisaran sudah di kutuk oleh Dewi Elaine.


"Dasar orang orang bodoh," gumam nya yang tertawa kecil.


Bagiamana tidak?


Jika ia sendiri lah yang melakukan kericuhan itu, selain bisa membuat posisi kuil menjadi goyah ia juga bisa melihat keseruan yang terjadi di kekaisaran.


Membuat sang ayah murka dan membuat satu kekaisaran geger karna ulah nya.


"Seperti nya akan ada banyak urusan sekarang." ucap nya yang kemudian beranjak memasuki kembali ruangan kerja nya.


"Dan akan banyak yang mungkin terjadi pada nya, anggap saja ini sebagai balasan kecil." gumam nya yang mengingat bagaimana tunangan nya membawa pria yang bagi nya rendahan namun berani membantah nya.


......................


Duchy Helemites.

__ADS_1


"Hahahah!"


Suara tawa gadis itu menggema, bukan sesuatu yang lucu atau pun ia sukai namun ia mentertawakan hal yang harus nya membuat nya kesal.


Tangan nya meremas koran yang baru saja ia baca dan kemudian pria yang berdiri di depan nya mengalihkan pandangan ke arah kertas koran yang di remas dengan kuat itu.


"Apa aku harus membunuh nya?" tanya Pria itu yang menatap ke arah mata perak yang kini sudah terlihat tajam.


"Siapa? Kau tau siapa yang sedang aku maksud aku sekarang?" tanya nya yang kemudian menoleh dan menatap ke arah pria itu.


Alessio mendekat, mata dan wajah yang datar sedang tangan nya mulai terangkat dan kemudian memegang pipi yang halus dan lembut itu.


"Aku tidak tau apa yang bisa ku dapatkan jika iblis yang kau katakan itu benar-benar bangun tapi..."


Cyra tak mengatakan atau pun memotong ucapan pria di depan nya, ia menatap dengan mata nya yang menunggu ucapan apa yang akan di katakan oleh pria itu.


"Jika benar aku seperti iblis yang kau katakan maka aku akan membakar semua nya untuk mu, aku akan membakar dunia kalau kau mau." sambung pria itu dengan ucapan yang pelan namun begitu menekan.


Cyra tak menjawab nya sama sekali, pria itu mengatakan dengan ucapan yang lembut namun seperti tak bisa bergerak dan merasa begitu tertekan.


Seperti ada hawa yang menahan dan membuat nya tak bisa melakukan apapun dan kemudian hanya membuat nya terpaku di satu tempat.


"Hentikan, membunuh atau membakar dunia ini adalah keputusan ku dan kalau pun aku menginginkan nya aku yang akan melakukan nya." ucap nya yang kemudian mengalihkan pandangan nya dan berusaha menepis pelan tangan pria itu.


Greb!


Gadis itu langsung menoleh, menatap ke arah seseorang yang mencengkram rahang nya agar ia tak mengalihkan pandangan nya sedikit pun.


"Kenapa kau melakukan nya?" tanya nya yang kemudian menatap ke arah gadis itu.


"Ini aneh, aku sangat tidak suka melihat mu mengalihkan perhatian ke hal yang lain." sambung nya yang menatap ke arah mata perak yang mengernyit itu.


Tak!


Cyra menepis dengan kuat, ia tak suka dengan rasa atau pun tatapan yang menunjukkan obsesi yang kuat untuk memiliki.


Perasaan yang tak nyaman membuat nya teringat dengan seseorang yang bahkan tak ingin ia ingat sama sekali.


"Sudah ku bilang jangan menyukai ku bahkan untuk tertarik." ucap nya yang kesal dan kemudian menatap ke arah pria itu dengan tatapan nya yang tajam.


Alessio diam sejenak dan kemudian memejam lalu melihat lagi ke arah gadis yang tampak merasa terancam oleh nya.


"Astaga? Apa yang kau pikirkan? Aku tidak merasa seperti," ucap nya dengan aura yang tampak berbeda dari sebelum nya.


Cyra menatap tanpa mengatakan apapun, ia merasa aura dan tekanan udara yang sesak membuat nya tak bisa mengatakan apapun.


"Sudah lah," ucap nya yang kemudian berdecak dan tak lagi melihat ke arah pria itu.


Pria itu diam saja, punggung yang membelakangi nya dan udara yang berbeda membuat nya menatap gadis itu dengan begitu tajam.


"Kakak mu ingin membawa ku ke istana, dia bilang ada beberapa hal yang bisa ku pelajari dengan mengikuti nya." ucap nya yang memilih merubah suasana nya lagi dan tentu tatapan yang tajam itu tampak menghilang untuk beberapa saat.


Cyra kembali menoleh, ia menatap dengan kernyitan di dahi nya. "Kenapa baru mengatakan pada ku sekarang?" tanya nya yang menatap dengan tatapan yang terlihat tak suka.


"Karna aku baru ingat," jawab Alessio yang enteng tanpa merasa beban sama sekali.


"Bagiamana kalau aku tidak mau kau ikut?" tanya Cyra yang kemudian menatap nya dengan tatapan yang datar seperti sedang menyembunyikan apa yang terjadi.


"Kalau begitu aku akan menuruti mu," jawab Alessio yang dengan cepat langsung menyetujui nya.


Cyra menarik napas nya, ia tau masalah patung yang terjadi saat ini akan membuat nya dalam masalah juga karna grand Duke pasti membutuhkan tenaga nya karna ia di anggap sebagai titisan dari Dewi Elaine selanjut nya.


"Ya, kau bisa pergi." ucap nya yang kemudian menarik napas nya dan membiarkan pria itu untuk pergi karna tak mungkin juga ia menahan di tempat nya sedangkan ia akan melakukan hal yang lain.


"Ya," jawab Alessio dengan senyuman tipis dan satu anggukan kecil.


Karna ia sesungguh nya juga ingin ikut untuk bisa tau di mana dan jalan apa yang akan ia lewati jika ingin ke istana kekaisaran.


Namun ia tentu tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, lebih tepat nya ia yang tak tau apa yang sebenarnya terjadi di kelurga Duke yang begitu terhormat itu.


...


Satu Minggu kemudian.


Suara yang begitu sunyi, keheningan yang tampak begitu berbeda dari biasa nya dan firasat yang membuat nya tak nyaman saat ia kembali memasuki mansion yang sama ketika ia kembali dari istana kekaisaran.


Pria itu merasa ada yang aneh namun ia tak menghiraukan nya bahkan untuk firasat nya yang mengatakan hal yang membuat nya tak bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan.


...


Pukul 2 dini hari waktu kekaisaran


Deg!


Deg!


Deg!


Pria itu tampak terkejut, ia tak tau ada ruangan yang seperti ini di dalam mansion mewah Duke.


Penjara bawah tanah yang lembab dan kotor serta seseorang yang tampak penuh luka dengan punggung yang di tutupi dengan darah tampak berada di atas lantai yang bedebu itu.


"Apa yang terjadi?!" tanya nya yang ingin masuk dan menarik gadis itu keluar namun tak seperti film laga yang bisa membengkokkan besi tentu ia tak bisa melakukan nya.


Namun ia bisa menghancurkan nya saat kekuatan nya sudah bangkit.


"Jangan lakukan apapun,"


"Apapun yang ada di pikiran mu,"


Suara yang terdengar lirih dari mulut dengan ujung bibir yang terluka dan wajah yang tampak memar membiru.


Tak ada jawaban apapun, rasa terkejut dan panik pria itu kini menghilang dan berubah menjadi raut murka.


Tentu ia tak akan bisa mendengar apa yang di katakan oleh gadis itu dan tentu ia tak tau apa rencana yang di bangun dengan gadis itu tapi yang ia jelas nya ia tau siapa yang melakukan hal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2