
Foresta Umbra, Italy tahun 2035
Tangan kecil yang cantik itu berlumuran darah, wajah yang indah bagai malaikat itu tersenyum menatap dan melihat seluruh mayat yang tak utuh lagi.
Tanaman merambat di tangan nya seperti anjing lapar yang terus menghisap dan memakan orang-orang yang mati sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam tubuh nya.
Alessio tak mengatakan apapun, ia terlalu banyak terluka untuk berbicara ataupun mencerna situasi nya.
Cyra menoleh, ia menatap ke arah pria yang masih terduduk dengan penuh darah itu. Luka dan cidera yang fatal namun masih hidup.
Sebenarnya ia pun sedikit heran jika pria itu masih bernapas hingga kini.
Ia beranjak mendekat, kali ini tak ada lagi yang menganggu karna di hutan yang gelap dan luas itu hanya dan ia dan pria yang tak di kenal.
"Seperti nya luka mu sangat buruk," ucap Cyra sembari mengusap dan mengelus darah segar itu.
Aroma harum semakin menjadi, ia seperti makhluk yang kehausan untuk sesuatu. Dorongan yang ia sendiri tak mengerti dan mengapa bisa demikian.
Alessio tersentak, gadis itu mendekat tiba-tiba dan melihat luka di wajah nya. Aroma yang mirip dengan mawar langsung masuk ke dalam hidung nya.
"Kau harum sekali..." ucap Cyra yang sekaan kehilangan kontrol diri nya saat mencium aroma darah pria itu yang terasa manis tak seperti aroma darah yang biasa ia cium.
Alessio tak mengatakan apapun untuk beberapa saat, namun ia menyunggingkan senyum miring.
Wajah gadis itu sangat dekat dengan nya, ia bahkan bisa melihat bibir merah muda itu dengan jelas walaupun di pencahayaan yang minim.
"Kau yakin aroma itu berasal dari ku?" tanya nya yang merasa gadis asing itu lah yang begitu harum.
"Ya," Jawab Cyra lirih dan mulai menj*lat dengan ujung lidah nya pada darah yang mengalir di pipi pria itu.
Rasa nya seperti sebuah hipnotis yang meminta nya untuk memakan pria itu.
Deg!
Alessio tersentak, dengan kekuatan yang masih tersisa ia mendorong bahu kecil itu seketika.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya nya yang tentu tak bisa mempercayai utuh pada gadis aneh yang bisa membunuh dan tiba-tiba meminta darah nya.
Cyra diam tak mengatakan apapun, wajah datar nya tampak sedang mengecap rasa manis darah itu.
"Luka mu sembuh," ucap nya lirih yang juga begitu bingung saat melihat luka di pipi pria itu perlahan menutup seperti di beri laser.
Alessio mengernyit, ia langsung memegang pipi nya dan memang rasa sakit nya berkurang seperti luka yang di sembuhkan.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama Cyra meraba tubuh dengan otot yang tercetak jelas di balik kemeja yang basah dengan darah yang harum itu.
Tangan nya membuka perlahan satu persatu kemeja pria itu dan tentu Alessio langsung menangkap tangan nya.
Greb!
"Kau menyelamatkan ku untuk ini?" tanya nya dengan smirk dan alis yang berkerut melihat tingkat gadis itu.
Cyra masih diam, ia tak mengatakan apapun dan melepaskan kancing kemeja pria itu dengan tangan nya yang lain.
"Kalau kau mencoba melakukan sesuatu aku bersumpah akan membunuh mu," ucap Alessio yang merasa marah dengan sentuhan lancang itu.
Namun Cyra tak mendengarkan, ia tak peduli karna ia tau posisi nya lebih kuat dari pria yang terbaring itu.
"Entahlah? Atau mungkin kau yang akan mati lebih dulu?" tanya nya dengan senyuman tipis sembari jemari tangan nya mulai mencongkel dan masuk ke dalam luka tembakan di perut pria itu.
Ia penasaran akan sesuatu yang tadi nya di tembakkan dan masuk lalu menghilang tak seperti anak panah yang tampak menancap.
"Ukh!"
Alessio tampak menahan rasa sakit yang luar biasa saat gadis yang mirip dengan peri musim dingin itu mengambil peluru di perut nya tanpa bius dan dan tampa pisau bedah.
"Oh! Ini dia?" ucap Cyra yang kemudian langsung teralihkan pada anak peluru yang berhasil ia ambil di dalam perut pria itu.
"Hah..."
Alessio tampak semakin pucat, usus nya seperti di cabik keluar oleh gadis itu.
"Tenanglah, jangan mati..."
"Kau harus mengantar ku pulang lebih dulu," ucap Cyra sembari mengusap rahang kekar pria itu dan berbicara dengan lembut.
"Sial! Tutup mulut mu! Mengantar mu?! Aku sekarat!" ucap Alessio yang merasa jengkel karna luka nya hanya bertambah buruk akibat rasa penasaran gadis itu.
Cyra tak menjawab, namun memang benar pria itu tampak begitu pucat saat ini seperti akan mati sekarang.
Ia menunduk lebih rendah, mendorong bahu pria itu agar lebih menyandar pada akar pohon yang besar itu.
Slurp!
Deg!
Alessio tersentak, rasa sakit, perih dan geli bercampur seketika, ia menatap ke arah rambut perak yang terlihat sedang menunduk untuk 'mengobati' luka nya dengan cara yang lain.
__ADS_1
Cyra berhenti sejenak, ia menatap ke arah luka yang mulai menutup itu.
Seharusnya dengan kekuatan dari mana putih yang ia miliki ia tetap tak bisa mengobati seseorang dengan cara seperti itu.
Tapi kenapa pria di depan nya berbeda?
"Sudah ku bilang aku tidak akan membiarkan mu mati." ucap nya yang mengangkat kepala nya sembari mengusap bibir basah yang penuh dengan darah itu lalu ia masukkan kembali ke dalam mulut nya kembali.
Alessio tak mengatakan apapun namun memang benar jika luka nya tertutup begitu gadis itu memakan darah nya.
Keheningan dengan suara serangga di dalam hutan terdengar, tak ada pembicaraan apapun untuk beberapa saat bahkan hanya untuk bertanya siapa nama nya.
Tak lama kemudian suara dari mesin mobil yang mendekat membuat Cyra tersentak, ia langsung menoleh dan sinar yang terang tanpa sihir itu mendekat.
Tak!
"Siapa kau?"
Cyra langsung terdiam untuk beberapa saat, ia tak tau senjata apa yang di tempelkan di belakang kepala nya namun ia tau itu bisa membahayakan diri nya.
"Mereka bawahan mu? Suruh mereka pergi," ucap Cyra pada Alessio
"Entahlah, apa mereka akan pergi atau tidak." ucap nya pada gadis itu dengan senyuman miring.
"Kau lupa kalau aku yang membantu mu?" tanya Cyra dengan senyuman kesal.
"Jangan percaya pada orang asing terlalu mudah." ucap Alessio pada gadis itu.
Cyra diam sejenak, tangan nya yang kecil itu menyentuh dada pria di depan nya.
"Aku tidak tau siapa yang berada di belakang ku, tapi kalau kau membunuh ku, pria yang ada di depan ku juga akan mati."
"Mati dengan begitu tersiksa..." sambung nya yang menumbuhkan tumbuhan merambat nya lagi agar menusuk jantung pria itu.
Mata gelap itu bergetar, bahkan pistol yang berada di tangan nya pun tampak goyah.
"Cardy? Hentikan," ucap Alessio pada bawahan nya.
Cyra tersenyum, ia mendekat dan mengusap wajah pucat Alessio.
"Anak pintar..." bisik nya lirih.
Alessio hanya tersenyum kesal melihat gadis yang tampak lebih muda dari nya mengatakan seperti ia lah yang harus tunduk.
__ADS_1