
Duchy Helemites
Mansion Ecklart
Hoek!
Gadis itu memuntahkan semua yang masuk ke dalam perut nya saat ini. Ia sudah menahan nya sejak tadi untuk tidak muntah saat Theodore menyentuh nya lagi.
Cyra berdiri, ia mengusap wajah nya dengan wadah air yang di siapkan di kamar mandi nya.
Mata nya memincing tajam, rasa amarah nya masih mengumpul dan tentu meluap bagai api yang tak pernah padam.
Ia berjalan kembali, menjatuhkan diri nya di atas ranjang yang lembut dan empuk itu sembari melihat ke arah kamar luas yang mungkin bisa seukuran rumah rakyat biasa.
Napas nya masih terdengar lirih, ia melihat tangan nya dan memikirkan bunga yang ingin ia ciptakan.
Sulur bewarna hitam itu mulai tampak di nadi nya, ujung jemari yang dingin dan kemudian menumbuhkan tunas.
Bunga mekar berwarna orange kekuningan itu tampak, "Aku akan meletakkan ini di atas kepala mu nanti..."
Gumam nya sembari mencium bunga marigold yang berada di tangan nya.
Rasa sakit dan artefak iblis yang bertabrakan dengan mana suci yang ia miliki membuat nya jantung nya terasa ingin hancur.
Namun gadis itu tak lagi meringis, air mata nya telah menghilang, rasa sedih nya sudah berubah menjadi amarah dan ia sudah mulai terbiasa dengan rasa sakit nya.
"Aku akan membunuh nya sebelum waktu ku habis..."
Cyra bergumam, ia tak memiliki waktu untuk tidur dan bersantai.
Batas dari artefak iblis yang ia tanamkan di tubuh nya, racun dan mana suci yang ia miliki saling bertabrakan.
Ia kini memang kuat namun itu semua menghancurkan jantung nya secara perlahan karna terikat dengan kekuatan yang tak bisa berbaur.
......................
Sementara itu.
Pria yang masih memegang pedang di sabuk celana nya itu melihat pembuatan belati yang ia siapkan untuk ulang tahun adik nya.
"Tambahkan ini sebagai hiasan untuk belati nya," Ucap nya sembari memberikan kotak yang berisi permata merah itu.
Tentu ia berpikir permata merah itu hanya lah permata biasa tanpa ia tau apa itu sebenarnya.
"Baik tuan," ucap sang pandai besi sembari mengambil permata yang di lemparkan pada nya.
......................
Tiga Minggu kemudian.
Pertemuan petinggi bangsawan, istana kekaisaran.
"Bukan nya Grand Duke Ecklart yang melakukan nya? Tapi kenapa sampai sekarang jembatan runtuh yang berada di sungai perbatasan Duchy dan March belum di bangun?" tanya salah satu pria yang merupakan bangsawan dari keluarga yang pro pada pangeran kedua dari permaisuri Maline.
"Tentu aku bisa melakukan nya kalau anda bisa dengan benar memasok bahan dari perbatasan Kerajaan Pasifik." ucap Grand Duke Ekclart yang tentu tau sebagian orang tak menyukai nya karna putri pertama nya yang berhasil duduk sebagai putri mahkota.
"Dana yang di gunakan cukup banyak, tapi kenapa bisa ada bahan yang belum di beli?" sambung bangsawan lain nya.
Theodore menarik napas nya, ia hanya menyunggingkan senyuman nya pada para bangsawan yang selalu ribut dan bersikap memikirkan rakyat padahal tidak sama sekali.
Ekor mata nya melirik ke arah sang kaisar yang masih diam tak mengatakan apapun.
"Kalau begitu aku yang akan mencoba untuk berbicara pada kerajaan yang berada di dekat Pasifik itu." ucap nya yang menawarkan kontribusi.
"Tidak! Putra mahkota bukan nya baru saja menangani pemberontakan di timur kerajaan? Kamu takut masalah ini akan membebani anda." ucap Marquis Solomon yang tentu ia tak ingin pria itu banyak berkontribusi karna ia berada di kubu permaisuri Maline yang tentu memihak pangeran kedua.
"Jika anda bisa melakukan nya sejak awal maka pertemuaan ini seharusnya tidak ada bukan?" tanya Theodore dengan senyuman dan wajah yang tenang itu.
"Baik, sekarang kau yang ambil alih pekerjaan Marquis Solomon dan bekerja sama dengan Grand Duke," ucap kaisar yang memilih untuk menutup pertemuan saat ini.
"Dan saya harap Grand Duke membangun sihir yang lebih kuat saat ini agar tak lagi menimbulkan masalah." ucap sang kaisar yang juga memberikan nasihat sekaligus peringatan.
Grand Duke Ecklart tampak gemertak, ia mengangguk dengan wajah yang menahan rasa malu saat para bangsawan menatap nya dengan senyuman yang menyungging.
......................
Duchy Helemites
__ADS_1
Mansion Ecklart
Plak!
Satu tamparan yang kuat itu membuat tubuh kecil dari gadis yang baru saja debut itu melayang ke lantai.
Rasa anyir dan pedar mengalir di ujung bibir nya, panas dan perih begitu terasa di pipi nya secara bersamaan namun hanya tatapan yang malas terlihat saat ia memiringkan kepala nya.
"Karna kau! Mereka semua mempermalukan ku!"
Ctas!
Satu cambuk dari tali rami yang begitu kuat itu melayang dan mendarat di atas tubuh kecil itu.
Ukh!
Nona bangsawan itu tak menangis atau meringis, ia menyunggingkan senyum nya saat menerima cambukan nya.
Kali ini ia memang sengaja melakukannya walau tau konsekuensi yang ia hadapi adalah kemarahan sang ayah.
Ctas!
Ctas!
Ctas!
Pria itu begitu murka, tak terhitung berapa cambukan yang ia layangkan. Darah yang segar itu mulai keluar dan merobek gaun indah yang di kenakan oleh putri nya.
Yvoine tersentak, suara cambukan yang terdengar memenuhi lorong itu membuat nya membulatkan mata hijau nya dan langsung berlari menemui kakak tertua nya.
"Ayah? Cukup!"
"Dia masih tunangan putra mahkota! Ada bekas luka yang tidak bisa di sembuhkan bahkan dari orang kuil sekalipun!"
Grand Duke menghentikan tangan nya, tentu putra nya tak bisa lancang dengan langsung memegang cambuk nya.
Ia menarik napas nya, dan melirik sejenak ke arah putri nya yang bergerak dan hanya terbaring berlumuran darah itu.
"Obati dia! Jangan ada bekas luka!" ucap nya yang kesal dan langsung beranjak pergi tanpa merasa bersalah.
"Kak Cyra!" ucap Yvoine yang langsung memeluk tubuh sang kakak.
"Tenanglah, jangan menangis..."
"Seorang putri tidak boleh menangis..."
Ucap nya dengan senyuman tipis dan suara yang lembut pada sang adik.
Tarrant tak mengatakan apapun, ia diam sejenak dan hanya melihat ke arah adik perempuan pertama nya yang tampak begitu santai menerima siksaan itu.
Ia pun lantas menggendong saudari nya itu dan membaringkan di atas tempat tidur nya sedangkan Yvoine masih menangis.
"Jangan panggil dokter keluarga Ecklart dan juga penyembuh dari kuil yang melayani keluarga ini, tapi aku mau kau memanggil dokter Sarafine dia tinggal di kota." ucap nya yang mengarahkan sang kakak pada sesuatu.
"Ini rencana mu? Kau membuat rencana yang menyakiti diri mu sendiri?" tanya Tarrant tak percaya.
Cyra tersenyum tipis, ia masih memeluk saudari perempuan nya yang menangis itu, jari telunjuk yang berada di tengah bibir dah isyarat untuk diam.
"Sstt!" senyuman tipis itu tampak menyimpan arti.
...
Satu Minggu kemudian.
Gadis itu menutup tubuh nya dengan selendang tipis saat melihat ke cermin sebelum ia tidur mengenakan piyama bertali satu itu.
Luka nya tampak memudar dan seperti akan hilang sebentar lagi, ia tau siapa yang ia panggil.
Wanita yang bisa menyebarkan gosip tentang luka nya namun juga bisa mengobati dengan sangat baik.
Kreett!
Cyra tersentak, suara yang muncul dari jendela kamar nya membuat ia langsung menoleh.
Dan bersiap menumbuhkan tumbuhan beracun di tangan nya.
"Ini aku,"
__ADS_1
Pria itu bersuara sejenak dan kemudian masuk ke dalam kamar dari jendela yang terbuka itu.
"Jika aku ke kamar mu di malam hari akan ada gosip tentang kita," ucap Tarrant yang tau sebagian dari bangsawan Lavensberg melakukan pernikahan intra atau pernikahan dengan saudara nya sendiri untuk tak mengeluarkan atau menjaga harta tetap stabil.
"Ada apa?" tanya Cyra yang menghilangkan tumbuhan rambat beracun nya itu dan tak lagi waspada.
"Hadiah," ucap Tarrant yang melempar satu belati indah yang tampak memliki permata di pegangan nya dan terlebih lagi belati itu terlihat memiliki ujung permata.
"Bukan nya aku meminta jantung iblis?" tanya Cyra dangan senyuman kecil karna ia juga menyukai hadiah yang di berikan saat ini.
Tarrant mendekat, ia memegang rambut halus yang berwarna perak itu dan mencium nya.
"Aku menemukan permata itu di bawah altar istana iblis, ku harap kau menyukai nya." bisik pria itu sekilas saat ia menghirup aroma bunga yang begitu jelas dari tubuh saudari nya.
Cyra diam tak mendorong atau pun mengusir walau ia kadang merasa sedikit tak nyaman dengan sentuhan sang kakak yang tampak memiliki arti yang berbeda.
"Bagus," ucap nya yang memberikan pujian seperti majikan yang tengah memuji.
Tangan nya kecil dan lembut itu mengusap wajah pria di depan nya, ia sudah hidup cukup menderita untuk menjadi gadis naif yang polos.
Tarrant berbalik ia memberikan senyuman terkahir nya sebelum ia beranjak keluar dari kamar saudari nya.
Cyra melihat ke arah belati yang di berikan oleh sang kakak, tampak begitu tajam dan mengkilap.
Tes!
"Ck!" ia mengernyit saat tak sengaja melukai tangan nya sendiri.
Tetesan darah nya menyerap dan masuk ke dalam permata merah yang indah itu, sedangkan Cyra tak menyadari nya karna ia meletakkan belati nya dan menutup luka nya dengan kain.
Deg!
"Akh!"
Cyra tersentak, jantung nya seakan berhenti sejenak. Syaraf di tubuh nya tampak sedang meledak dan meluap satu sama lain lalu saling membelah di dalam tubuh nya.
"Akh!"
Ia langsung terjatuh ke lantai, rasa sakit nya kali ini begitu besar dan menyerangnya secara tiba-tiba tanpa alasan dan ia yakin ibu bukan efek dari racun yang ia minum.
"Ukh!"
Aliran darah segar itu mengalir keluar dari mulut nya, seluruh nya tumpah ke lantai sampai piyama tidur yang berwarba putih itu kotor dengan noda darah nya.
Apa yang terjadi? Kenapa seperti ini?!
Tak ada kata-kata yang bisa ia keluarkan saat ia terus menerus memuntahkan darah segar dari mulut nya.
Clang!
Belati itu jatuh saat ia mencoba meraih hal lain di atas meja nya.
Sinar?
Cyra mengernyit, tubuh nya masih terasa seperti di cabik habis-habisan namun sinar merah yang di keluarkan belati nya seperti sihir cahaya yang besar.
......................
......................
......................
Foresta Umbra, Italy tahun 2035
Suara tembakan terdengar saling menyahut, jebakan yang pas untuk membunuh pemimpin mafia yang memegang segala perdagangan dan ladang dari tumbuhan ilegal itu.
Hutan yang gelap dengan cahaya bulan dan lampu dari sorot mobil yang terparkir yang menerangi nya.
"Dia bukan manusia! Dia iblis!" ucap salah satu dari orang-orang yang ingin membunuh pria yang tampak memiliki mata yang tajam itu.
Deg!
Pria itu tersentak, jantung nya seperti meledak dari dalam yang membuat nya tak bisa mengendalikan rasa sakit nya sejenak.
"Heuk!"
Darah segar mengalir keluar dari dalam mulut nya, tentu orang-orang yang mengepung nya merasa heran namun ingin memanfaatkan nya di saat yang bersamaan saat melihat pria itu lengah.
__ADS_1
"Tembak dia!" ucap nya yang memberikan aba-aba untuk membunuh pria itu.