
Mentari mulai menunjukkan sinar nya, membagi cahaya yang datang begitu terang hingga membuat nya terdiam untuk sesaat.
Gadis itu diam sejenak, ia menoleh ke arah sisi kanan nya dengan pria yang masih tertidur.
Rasa nya seperti Dejavu ketika melihat pria itu berada di samping nya, ingatan tentang kebahagiaan singkat nya dahulu.
Ia memang tak melewati malam yang panas dan pria itu tak menyentuh nya sama sekali walaupun tidur di ranjang yang sama.
Cyra menarik napas nya, ia tak bangun sama sekali dan tetap melihat ke arah pria itu.
Membuat nya jatuh ke tempat yang sama dengan nya? Sedangkan ia adalah seseorang sudah hidup penuh dengan lumpur.
Tak ada ucapan apapun selain tangan yang memegang ke arah pipi pria itu sesaat dan kemudian menatap nya dengan mata perak yang dingin itu.
Pria itu merasa terganggu, mata yang biru itu perlahan terbuka dan menatap ke arah gadis yang berada di samping nya.
Pandangan yang mengabur mulai jernih, wajah yang baru bangun itu perlahan tersenyum seperti menyukai seseorang yang mungkin berada di dekat nya.
"Kau sudah bangun lebih dulu?" tanya Edward sembari menangkap tangan yang memegang pipi nya dan kemudian melihat nya dengan senyuman yang cerah.
__ADS_1
Tak ada jawaban namun wajah yang cantik itu hanya melihat ke arah pria yang tersenyum hangat pada nya.
Cyra menarik tangan nya, saat ini bukan waktu yang tetap untuk nya menikmati hidup.
"Kita harus segara kembali," ucap nya yang beranjak bangun dari ranjang di penginapan kecil itu.
Edward diam sejenak, ekor mata nya melirik ke arah gadis yang terlihat ingin segara pergi itu.
"Cyra?" panggil nya lirih pada gadis yang tampak ingin segera beranjak itu.
Tak ada jawaban, namun mata nya menoleh ke arah pria yang memanggil nya.
"Tidak kembali ke manapun," sambung Edward yang mengatakan ajakan kabur seperti dulu lagi.
Cyra diam sejenak, memang terlihat tenang dan indah namun ia merasa bisa saja ketenangan ini seperti angin kencang di danau yang dalam.
"Tidak, aku tetap akan kembali." jawab nya dengan wajah yang tegas dan kemudian menatap ke arah pria itu.
Edward tak mengatakan apapun, ia tak bisa menolak keinginan dari gadis yang sudah membuat hati nya jatuh bangun.
__ADS_1
......................
Duchy Helemites
Tarrant membulat kan mata nya, ia sedang sang adik kembali namun ia tak bisa melihat ke arah seseorang yang berada di samping nya.
Bukan nya tak senang atau tak tau terimaksih, namun sang ayah masih berada di mansion saat ini dan jika melihat hal tersebut hanya akan membuat nya merasa salah paham.
"Cyra?"
Ia langsung mendekat dan menatap ke arah adik nya yang tampak sama namun warna rambut nya berbeda.
Dan tentu di waktu kekaisaran saat itu masih belum di temukan nya cara mengubah warna rambut karna rambut masih di anggap sebagai elemen suci.
"Kalian bersama?" tanya nya Tarrant yang menatap bergantian.
Cyra tak mengatakan apapun namun Edward mulai menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan di kepala panglima perang kekaisaran itu.
"Seperti nya akan banyak hal yang harus kita bicarakan," ucap Tarrant yang menatap dengan mata nya yang tajam ke arah saudari nya.
__ADS_1
Cyra diam seperti wadah yang tenang, ia hanya menyunggingkan senyuman yang tipis.