My Bad Princess

My Bad Princess
Blood


__ADS_3

Kekaisaran Lavensberg


Duchy Helemites


Mansion yang mewah itu kini tampak begitu sibuk karna seseorang yang memiliki kedudukan tertinggi di tempat itu mengalami kecelakaan.


Di tengah kesibukan seorang gadis yang cantik itu hanya melihat dengan tenang dan mata yang menunjukkan rasa suka.


"Malang nya ayah ku..." ucap nya lirih seperti sebuah ejekan dengan senyuman yang kecil.


...


Gadis itu memejam, menikmati sedikit ketenangan yang ia rasakan saat seseorang yang dulu nya mati di usia nya yang 12 namun kini masih hidup dan tentu begitu sehat untuk bisa begitu menyukai nya.


"Nona seperti nya sedang senang beberapa hari ini?" tanya Catherine yang menatap ke arah gadis yang memilih menidurkan kepala nya ke paha nya yang hanya seorang pelayan.


Tak ada jawaban, gadis itu memang menikmati hari nya namun tentu ia juga harus menyiapkan badai yang akan datang setelah hari tenang yang ia lewati.


Apa lagi saat melihat ke arah gelang cantik nya.


...


Tak!


Suara yang terdengar berisik itu berada di luar jendela nya.


"Ed?" panggil nya yang tau seseorang memberikan suara berisik seperti itu siapa.


Jendela dari balkon dengan kain panjang itu terbuka, seseorang yang keluar di balik nya dengan senyuman yang hangat.


"Hari ini aku akan tidur di sini, seperti nya aku mimpi buruk." ucap pria itu yang beralasan dengan alasan yang sama ketika ia kecil dan saat pertama kali mereka berjumpa.


Cyra menarik napas nya, ia hanya tersenyum tipis. Ia tau jika pria itu bukanlah anak kecil lagi dan tentu ia tau dengan kebohongan yang tampak begitu jelas itu.


"Jadi..."


"Aku boleh menginap di sini kan? Tidak akan ada yang tau kalau aku datang dan aku juga tidak akan menyentuh mu."


Tak ada jawaban, namun wajah cantik itu tak terlihat marah sama sekali.


"Entahlah, kalau kau tidak mendengkur." ucap Cyra yang kemudian naik ke atas ranjang nya.


Pria itu tersenyum cerah. Ia mengikuti gadis yang berjalan lebih dulu dan kemudian menidurkan diri nya lebih dulu.


Greb!


Satu genggaman yang lembut, tidak ada pelukan atau pun berpegangan tangan.


Namun jari kelingking nya yang kecil di genggam oleh seseorang.

__ADS_1


Hanya satu bagian dari tubuh nya yang terlihat sederhana namun memiliki arti yang besar itu untuk pria itu.


Cyra tak menolak atau pun marah, ia menatap ke arah pria yang sudah memejamkan mata nya itu entah sudah tertidur atau belum karna jari kelingking nya masih di genggam begitu erat.


......................


......................


......................


Italy


Jentikan jari yang seirama, aroma darah yang menyeruak memenuhi indera penciuman nya serta warna merah terang yang menghiasi atas rerumputan berwarna hijau itu.


Mata gelap itu berubah menjadi merah menyala dan kemudian menatap ke arah seseorang yang berdiri tak jauh dari nya.


"A.. ampuni aku..." ucap nya lirih yang tampak memundur seperti melihat predator yang mendekat.


Pria itu bergeming, wajah datar nya menatap ke arah seseorang yang memohon dengan penuh luka.


Ia memang tak merasakan kesenangan namun ia merasakan kepuasan tersendiri saat melihat rasa takut dan keputusasaan seseorang yang ada di depan nya.


"Kau mau hidup?" tanya nya yang menatap ke arah seseorang memohon dengan wajah dan tubuh yang terluka.


Namun semua luka itu bisa terasa hambar saat ketika ia di hadapkan dengan rasa takut yang meninggi tentang kematian.


"Ya.. Ya... A... aku mau hidup..." ucap nya gugup dan takut sembari melihat ke arah seseorang yang berada di depan nya.


"Kalau begitu aku mau mendengarkan musik, kau bisa menggunakan nya?" tanya nya itu yang menatap ke arah pria di depan nya.


Semenjak kebangkitan nya terjadi, sifat bengis nya semakin kuat, ia lebih kejam dan tentu semakin tak manusiawi.


Karna ia memang bukan lah manusia seutuh nya.


"I.. itu aku..." jawab pria itu dengan gugup karna ia memang tak bisa melakukan yang di minta sebagai syarat jika ia ingin hidup.


Alessio membuang napas nya, ia menatap ke arah pria itu sembari mengingat gadis yang selalu menampilkan wajah yang dingin namun tetap saja terlihat begitu cantik.


"Kalau dia ada di sini menurut mu apa yang akan dia lakukan?" tanya nya yang menatap ke arah pria yang sudah ketakutan setengah mati itu.


Tak ada jawaban, hanya mata dan tangan yang gugup serta gemetar itu membuat nya memberikan jawaban melalui bahasa tubuh jika ia tak tahu dan tak ingin tau.


"Kau bisa bersiul?" tanya Alessio yang menatap ke arah pria itu dengan menurunkan kepala nya seolah telah menemukan sebuah jawaban.


Kali ini pria itu mengangguk dan kemudian menatap nya ke arah nya dengan penuh harapan.


"Aku bisa!" ucap nya dengan cepat.


Alessio tersenyum, ia beranjak pergi dan berbalik untuk menyiapkan apa yang ingin ia lihat.

__ADS_1


...


ARRGHH!


Suara teriakan itu terdengar, ia menatap ke arah pria yang tadi nya mengaku bisa bersiul namun malah hanya terus berteriak sepanjang permainan yang ia perintahkan untuk di lakukan.


"Ada apa dengan mu? Bukan nya kau tadi bilang bisa bersiul? Tapi aku tidak mendengar siulan apapun kecuali teriakan bodoh mu?" tanya Alessio yang menggosok daun telinga nya sekilas.


Cardy menyipitkan mata nya menatap dengan heran, ia tau jika rekan sekaligus teman nya itu adalah orang yang kejam.


Namun pria itu tak biasa membiarkan seseorang hidup lebih lama hanya untuk mati di siksa sedikit demi sedikit tanpa alasan.


"A.. ampuni aku..."


Ucap nya yang memohon, tapak kaki nya terasa begitu perih dan sakit yang luar biasa saat kawat besi yang tajam itu terpaksa ia pijak.


Belum ada tiga langkah semua dari kawat besi itu sudah menusuk kali nya dan mengeluarkan cairan merah kental yang selalu beraroma anyir itu.


"Kau tidak biasa membuat hal seperti ini?" tanya Cardy yang tak bisa membungkam rasa penasaran nya lebih lama lagi.


Alessio menoleh menatap ke arah pertanyaan yang datang pada nya namun ia tak menjawab sama sekali dan kembali melihat ke arah seseorang masih berjuang itu melewati lima meter jalanan penuh dengan kawat duri yang berkarat.


"Tidak menyenangkan," ucap nya yang kemudian mengeluarkan pistol nya.


DOR!


Suara yang penuh dengan kebisingan yang besar dan sesaat itu menggema.


Cairan merah kental itu memuncrat dan membuat seseorang langsung terjatuh ke kawat duri itu.


Tak ada sepatah kata pun lagi, pria itu bangkit dari duduk nya dan kemudian kembali ke tempat nya.


...


Pria itu kini terlihat termenung, ia melihat ke arah pisau yang indah itu namun tentu ia tak berniat menjual nya sama sekali.


Sreg!


Entah pikiran gila apa yang membuat nya menggores telapak tangan nya dengan pisau yang sama.


"Cyra?"


"Iblis?"


"Kontrak..."


Jika itu benar aku harap aku bisa menemui mu lagi....


Batin nya yang memanjatkan doa padahal pada sang raja iblis yang bahkan tak ia percayai.

__ADS_1


Tanpa ia ketahui jika ia adalah iblis itu sendiri.


__ADS_2