
Duchy Helemites
Pria itu berdiri di depan balkon yang dangan pintu terbuka dan semua jendela yang di buka tanpa di tutup oleh tirai.
Tempat yang besar dengan kota yang terlihat dari atas ke bawah yang berada di luar gerbang mansion itu sendiri.
Tempat yang sangat tidak seperti dunia nyata dan tampak seperti khayalan.
"Jadi ini tempat tinggal mu?" tanya pria itu tanpa menoleh ke arah gadis yang santai sembari meminum teh nya.
Cyra tak menjawab, gaun yang indah dengan tampak anggun seperti lukisan dan potret seorang putri tampak menikmati minuman nya.
"Kenapa aku bisa di sini? Bukan nya kau sendiri yang dulu ke dunia ku?" tanya Alessio saat tak ada jawaban yang bisa ia dengar.
"Entahlah, mungkin karna kita saling terhubung? Sebelum nya aku pernah hampir mati dan kau menyelamatkan ku lalu aku membantu kebangkitan mu."
"Mungkin karna dua hal itu kita jadi saling terhubung, ku rasa seperti itu." ucap Cyra yang tampak tenang.
Pria itu menarik napas nya dan kemudian tersenyum, seperti bingung dan tentu masih tak bisa menerima keadaan sama seperti ketika gadis itu pertama kali terlempar ke dunia nya.
Ia berbalik, menatap ke arah gadis cantik yang tampak tenang dengan ekspresi yang datar dan kemudian mendekat.
Greb!
"Apa yang akan kau lakukan? Tidak! Apa yang sudah kau lakukan?!"
Tangan nya menggenggam erat kedua lengan gadis itu dan kemudian menatap dengan iris yang menyilang tajam seperti elang saat melihat nya.
"Kau mau kembali? Akan ku pikirkan cara nya, tapi sebelum itu karna kau sudah kembali ke tempat asal mu kau harus bangkitkan kaum mu lagi," ucap Cyra yang tentu tak merasa takut dangan tatapan intimidasi atau pun cengkraman kuat yang berada di lengan nya.
"Kau tau? Aku..."
"Akan membuat dunia berada di tangan mu, setelah itu kau bisa putuskan. Ingin kembali atau tidak," sambung nya yang menatap ke arah pria yang berada di depan nya.
"Lalu kau? Apa yang akan kau dapatkan dengan memberikan ku hal seperti itu, kau bukan seseorang yang mau melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan mu." jawab Alessio yang menatap ke arah pria itu.
"Aku mendapatkan sesuatu, pinjamkan aku sedikit kekuatan mu dan tempat ini..."
"Kau akan membantu ku menghancurkan nya, itu yang ku inginkan." jawab Cyra sembari melepaskan cengkraman pria itu secara perlahan.
"Aku tau kau sedang bingung tapi aku mau kau ingat ini, jika ada yang bertanya tentang mu katakan saja kau pelayan pribadi ku dan berasal dari tempat yang jauh." ucap gadis itu saat melihat ke arah pria yang menatap nya.
"Aku tidak menjadikan mu pelayan saat kau jatuh ke tempat ku," ucap Alessio yang tertawa mendengar nya.
"Situasi kita berbeda dan tempat kita juga berbeda, mereka akan membakar mu kalau tau kau berasal dari dunia iblis dan..."
"Tentu aku tidak mau itu terjadi," sambung gadis itu dengan senyuman tipis.
"Aku tidak tau apa yang kau pikir kan dan seperti nya aku tidak mau tau," ucap Alessio yang membuang napas nya.
"Karna aku mimpi buruk mu?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria itu.
Tak ada jawaban sama seperti sebelum nya dan tentu pria itu hanya melihat ke arah luar mansion nya.
Cyra tak lagi mengatakan apapun, ia pun beranjak melangkah keluar sebelum melihat ke arah pria yang sedang berdiri itu.
"Kau bilang kita saling terhubung kan?" tanya Alessio sebelum gadis itu melangkah keluar mendekati pintu kamar nya.
Cyra menghentikan langkah nya dan kemudian menoleh menatap ke arah pria yang masih memunggungi nya itu.
"Kalau begitu kenapa baru sekarang aku ke sini? Dan lagi sebelum ke sini aku merasakan rasa sakit yang hampir membuat ku gila," ucap Alessio yang mengatakan apa yang ia rasakan saat sebelum pindah ke dunia dan dimensi yang bahkan tak ia ketahui.
Tak ada jawaban sama sekali, gadis itu tak mengatakan jika ia hampir mati dan sekarat saat kekuatan nya di pindah.
"Kalau begitu kau merasakan hal itu juga? Kau..."
"Apa kau hampir mati?"
Cyra masih tak membuka mulut nya sama sekali bahkan setelah mendengar apa yang pria itu katakan saat menebak apa yang terjadi pada nya.
Dahi pria itu mengernyit dengan satu alis yang naik saat ia tak mendengar jawaban apapun.
Ia pun membalik tubuh nya, menoleh dan menatap ke arah gadis yang hanya melihat ke arah nya namun diam seribu bahasa.
"Benar, kau hampir mati? Kenapa? Dan siapa yang melakukan nya?" tanya Alessio yang mendapatkan jawaban dari diam nya gadis itu.
Cyra masih diam, ia tak mengatakan apapun dan tentu tak bisa memberi petunjuk apapun.
"Kau punya mulut tapi tidak bisa bicara? Apa lidah mu itu tidak lagi bisa berfungsi?" tanya Alessio saat melihat gadis itu yang hanya diam ketika ia bertanya.
"Kalau aku katakan kau akan membunuh nya? Orang yang hampir membunuh ku?" gadis itu melontarkan pertanyaan tanpa menjawab apa yang di tanyakan oleh pria yang ada di depan nya.
Alessio diam sejenak, memperhatikan wajah cantik tanpa ekspresi namun seperti boneka yang tak nyata.
"Ya, aku akan membunuh nya." jawab nya singkat dengan tatapan yang tak ragu.
Cyra terdiam beberapa saat, ia tak menunjukkan ekspresi apapun dan hanya melihat ke arah pria yang menatap nya tanpa berkedip.
"Tidak perlu membunuh nya, yang perlu kau lakukan hanya meminjamkan kekuatan mu."
"Karna aku yang ingin membunuh nya dengan tangan ku sendiri," sambung gadis itu yang tentu menunjukkan mata yang menyimpan hasrat kemarahan yang besar.
Alessio tak langsung menjawab, kedua mata itu saling terkunci walaupun bukan dari jarak yang dekat.
"Dia orang yang sama? Orang yang kau katakan ingin kau habisi? Seseorang yang ingin kau bawa ke neraka? Seseorang yang ingin kau balasan dendam nya?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis itu.
Tak ada jawaban, lagi-lagi hanya mata perak dengan tatapan dan mata yang tak bisa di baca yang menatap ke arah nya.
"Dia orang yang sama dengan yang hampir membunuh mu kemarin malam?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis itu.
Cyra tak mengatakan apapun namun kali ini ia menganggukkan kecil kepala nya ketika mendengar jawaban pria itu.
"Yah, dia pantas untuk mati." ucap Alessio lirih saat ia juga merasa kesal karna ingat dengan rasa sakit yang menjalar di setiap pembuluh darah nya.
"Aku akan mengurus beberapa hal, kau bisa sendiri kan?" tanya Cyra yang menarik napas nya sebelum ia bicara dan pergi dari pria itu.
__ADS_1
"Ya, aku bukan anak kecil." jawab Alessio yang menatap sekilas ke arah gadis itu.
...
Pria itu tampak tersenyum kesal atau pun menunjukan ekspresi yang seharus nya tak ingin tersenyum sama sekali.
"Kau membawa seseorang yang entah dari mana ke kamar mu lalu membuat nya menjadi pelayan pribadi mu?" tanya Tarrant yang tak percaya ke arah sang adik.
Satu anggukan yang tampak anggun dengan mata yang kukuh menatap ke arah sang kakak.
"Dia seorang pria! Kau tidak takut dengan rumor yang bisa membunuh mu?" tanya Tarrant tak percaya.
"Aku sudah punya rumor seperti itu dengan Marquis muda Blaze kan?" tanya Cyra yang tampak tetap tenang.
"Karna dia putra tunggal dari seorang Marquis! Bukan pria yang antah berantah tidak tau asal usul nya!" ucap Tarrant yang tak setuju.
Karna tanpa status yang jelas di kekaisaran pria yang di bawa oleh adik nya memiliki kedudukan yang sama seperti hanya seorang budak.
"Kalau begitu kau bisa bantu aku membuat status untuk nya, katakan saja dia bangsawan dari tempat yang jauh dan kau berteman dengan nya selama perang lalu membawa nya untuk jadi pelayan ku." jawab Cyra yang bahkan sudah memikirkan skenario apa yang akan ia gunakan.
Tarrant menarik napas nya, ia melihat ke arah wajah sang adik yang tenang dan tentu saja masalah ini belum sampai sama sekali pada sang ayah.
"Katakan yang sebenarnya, siapa dia?" tanya pria itu yang tentu tau adik nya sedang menyembunyikan sesuatu.
Tak ada jawaban, Cyra masih mengunci mulut nya karna tentu ia tak bisa mengatakan apapun walaupun pada seseorang yang jelas membantu nya karna ia tak mempercayai siapapun.
"Tidak mau jawab?" tanya Tarrant yang menatap ke arah sang adik.
"Lakukan saja yang ku minta, anggap ini sebagai permintaan dan permohonan dari adik mu." ucap Cyra yang tetap memilih tak mengatakan apapun.
"Kau tau? Kalau sampai tersebar rumor buruk tentang mu kau akan semakin terluka," ucap Tarrant yang menarik napas nya dan tak percaya akan apa yang sang adik lakukan saat ini.
"Terluka?" Senyuman tampak terukir saat mendengar satu kata itu.
Entah sebuah senyuman yang senang atau sedang mentertawakan sesuatu yang seharus nya bukan hal yang lucu sama sekali.
"Aku terluka? Terlalu banyak luka untuk ku sampai aku lupa aku terluka di bagian mana," ucap Cyra yang menatap ke arah pria yang sedang berbicara pada nya saat ini.
Tarrant diam tak mengatakan apapun, keheningan sesaat ketika tak ada lagi percakapan apapun di tempat itu.
......................
Istana Kekaisaran.
Pria dengan mata yang cerah dan rambut yang bersinar bagai mentari itu tampak bersenandung.
Saat ia mendapatkan kekuatan dari apa yang ia curi pada tunangan nya. Tubuh nya terasa lebih segar dan tentu ia mendapatkan perasaan yang senang.
Suara ketukan terdengar dari luar ruang kerja nya, mata pria itu pun langsung menoleh dan tak lama kemudian seseorang pun masuk.
"Sudah temukan apa yang ku minta?" tanya Theodore saat melihat ke arah menjadi sekertaris nya.
"Sir Davye mendapat kan informasi ini dan dari yang saya temukan seperti nya mereka memiliki hubungan yang spesial," ucap Joseph yang menatap ke arah pria yang ia layani.
Pengakuan dari beberapa pelayan yang di tuliskan dan rangkuman dengan informasi dari guilt yang di percayakan untuk mencari informasi.
Senandung pria itu tak lagi terdengar wajah nya tampak berubah saat ekspresi nya tak lagi menunjukkan rasa senang.
"Kau bisa keluar," ucap nya yang tanpa menatap ke arah pria yang bekerja di bawah perintah nya.
Pria yang sopan dari keluarga bangsawan yang tinggi itu menundukkan kepala nya dan membungkuk dengan sopan pada atasan sekaligus calon kaisar di kekaisaran yang besar itu.
"Saya mohon undur diri Yang Mulia," ucap nya yang menandakan ia akan segera pergi.
Tak ada jawaban sama sekali karna pria itu tengah sibuk memperhatikan semua tulisan yang berada di depan nya.
"Ck! Sejak kapan mereka punya hubungan?" Theodore berdecak dengan tawa yang kesal saat membaca nya.
Informasi yang mengatakan jika ada pernah beberapa kali pria yang merupakan putra sulung dari Grand Duke Ekclart itu datang ke kamar adik perempuan nya saat malam dan kemudian kembali saat pagi.
"Sudah sejauh mana hubungan mereka? Dan..."
"Seperti nya dia menjadi lebih menarik? Bukan lagi kelinci bodoh," gumam nya yang tersenyum simpul namun dengan raut yang kesal.
Ia terus menerus curiga semenjak kehilangan tunangan nya beberapa waktu yang lalu.
"Regenerasi iblis dan juga terlihat dengan saudara nya?"
"Hah..."
"Kau memberikan banyak kesenangan yang tidak bisa ku perkirakan," ucap nya lirih saat mengingat tunangan nya yang sebenar nya adalah alat yang sangat berguna untuk rencana nya.
......................
Duchy Helemites
Kedua pasang mata yang berwarna ungu itu mengintip dan menatap ke arah pria yang memiliki tampilan yang sedikit berbeda dari orang-orang yang biasa mereka temui.
Atau mungkin saja itu bisa terjadi karena ada ketertarikan yang di berikan oleh daya tarik iblis itu sendiri.
"Aku tau kalian mengintip, keluarlah." ucap Alessio saat menatap ke arah balik tirai ketika ia tau ada dua bayangan yang bersembunyi.
Kedua anak perempuan yang baru berusia 13 tahun itu menatap ke pria yang baru saja bicara itu.
"Kalian adik nya?" tanya Alessio yang menatap ke arah kedua gadis kembar itu.
Tatapan berkilau yang menatap ke arah pria yang berdiri di depan nya.
"Kau pelayan kak Cyra? Dari negara mana?" tanya Yvaine dengan tatapan penuh penasaran.
Alessio tak menjawab, dan tentu nama nya pun sekarang sudah berubah.
"Reivant? Nanti kalau sudah berhenti jadi pelayan kak Cyra mau jadi pelayan ku?" tanya Yvoine menatap ke arah pria itu.
Alessio tak menjawab apapun, ia menatap kedua gadis yang tampak polos sangat berbeda dari kakak perempuan mereka.
__ADS_1
"Reivant? Kau kuat? Kau sangat kuat kan? Kau bisa menghabisi siapa pun yang jahat pada kakak?" tanya Yvaine yang menatap ke arah pria itu.
"Aku kuat, lebih kuat dari yang kalian kira." jawab Alessio yang kali ini membuka suara nya saat mendengar satu pertanyaan dari kedua gadis kecil itu.
Yvoine bercibir mendengar nya, menatap dengan mata penuh keraguan dan melihat tak percaya ke arah pria itu.
"Ada apa dengan ekspresi mu? Kau seperti bilang kalau aku sedang membual?" tanya Alessio yang menatap kesal ke arah salah satu adik kembar dari gadis yang berambut perak itu.
"Pria yang tampan itu banyak bicara, mereka menyebalkan." ucap Yvoine yang menatap ke arah saudari nya.
"Iya! Nanti tidak perlu jadi pelayan ku, aku tidak mau yang suka membual!" sahut Yvaine menatap ke arah pria itu.
Alessio menatap kesal ke arah kedua gadis kembar yang menunjukkan curi khas anak bangsawan sesungguh nya.
Manja dan menyebalkan!
"Kalian pikir aku mau menjadi pelayan kalian?" tanya nya yang menatap ke arah kedua gadis itu.
"Kami akan adukan pada kak Cyra!" ucap Yvoine yang menatap ke arah pria yang tampak tampan itu namun membuat mereka kesal.
"Apa itu?"
Suara yang terdengar masuk secara halus di telinga walaupun datar.
Kedua pasang mata berwarna ungu itu langsung menoleh, menatap ke arah sekarang gadis yang baru saja datang.
"Kak! Dia bukan pelayan yang baik! Kalau kakak mau aku akan beri satu pelayan ku!" ucap Yvoine yang menatap ke arah kakak nya.
Cyra tak mengatakan apapun, ia menoleh dan kemudian menatap dengan sekilas ke arah pria yang masih duduk di atas sofa itu.
"Lihat! Dia bahkan tidak berdiri saat melihat kakak datang!" ucap Yvaine yang menatap sang kakak.
"Tadi kalian sangat bersemangat ingin menemui nya? Kenapa sekarang terlihat tidak menyukai nya?" tanya Cyra yang menatap ke arah kedua adik.
Anak kembar itu diam sejenak, memang mereka tumbuh di bawah pengasuhan yang Ayah yang buruk namun memiliki satu kakak yang seperti ibu dan pengasuh yang baik membuat kepribadian nya yang tumbuh seperti lotus indah di atas lumpur.
"Dia membual soal kekuatan..." ucap Yvoine lirih saat melihat ke arah sang kakak dan kemudian mengalihkan pandangan nya ke lantai.
Cyra menarik napas nya saat mendengar jawaban sang adik.
Tak heran jika kedua gadis kembar itu langsung tak suka dengan pria yang mengatakan diri nya kuat.
Karna semua ksatria pelindung sang kakak tak pernah benar-benar melindungi nya, ketika sang ayah mengamuk mereka hanya akan mengembalikan tubuh nya bersikap seperti tak terjadi apapun.
Cyra tersenyum kecil mendengar nya, tangan nya beranjak mengusap dan mengelus pipi sang adik yang terasa begitu halus itu dengan perawatan dari zaman yang kuno.
"Dia kuat, dia bisa melindungi ku dan kalau dia tidak bisa bukan nya ada kalian?" tanya Cyra yang tersenyum ke arah kedua adik nya.
Yvaine sedikit malu dan senang mendengar nya, "Iya! Kami akan masuk ke akademi kstaria!" ucap nya yang bersemangat.
"Tidak! Aku akan masuk ke akademi sihir!" ucap Yvoine yang memang lebih menyukai sihir di bandingkan latihan fisik.
"Kalau begitu tidak ada yang perlu ku takutkan lagi, bukan? Aku punya dua adik yang kuat!" ucap Cyra yang tertawa kecil.
Dan tentu kali ini tatapan nya tampak berubah, menjadi lebih hangat dan lembut.
Sedangkan pria yang sejak tadi melihat menatap ke arah seseorang yang sangat berbeda dari apa yang ia ingat.
"Kalau begitu sekarang, bukan nya kalian harus belajar lebih dulu? Madam Celaffton sudah datang." ucap Cyra yang menyuruh kedua adik nya untuk pergi dengan bahasa yang di perhalus.
Kedua gadis yang bersemangat itu pun langsung beranjak pergi dan tentu tak akan ada yang meminta nya untuk memberikan salam hormat karna mereka sendiri lah yang harus di hormati di mansion mewah itu.
Cyra masih tersenyum, namun perlahan senyuman itu hilang dan kemudian kembali menjadi dingin lagi.
"Kau seperti nya sangat menyayangi mereka," ucap Alessio yang menatap ke arah gadis cantik berambut perak itu.
Tak ada jawaban sama sekali untuk pertanyaan tersebut.
Namun Cyra berjalan mendekat dan duduk di atas sofa yang berhadapan dengan pria yang saat ini juga sedang duduk.
"Seperti nya kau harus belajar etiket lebih dulu, kau akan langsung ketahuan kalau kau bersikap seperti itu."
"Tidak apa-apa kalau hanya ada kita berdua tapi akan jadi maslahat kalau ada orang lain juga," jawab Cyra yang menatap ke arah pria itu.
"Raivent? Kenapa kau memberikan ku nama itu?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis di depan nya.
Cyra tersenyum, satu kata yang memiliki arti burung gagak dan kata pertama yang ia baca saat ia mencari kata aksara di dunia pria itu.
"Karna gelap? Kau seperti melambangkan kegelapan itu sendiri," ucap Cyra yang menjawab pertanyaan dari pria di depan nya.
Alessio tak lagi mengatakan apapun, ia menatap ke arah gadis yang tampak menyembunyikan sesuatu dari nya.
"Aku tidak tau kalau ingatan mu terhapus saat aku pergi dan aku penasaran, kau mengingat sejauh apa?" tanya Cyra yang tau ingatan tentang iblis yang bangkit sedikit terdistornasi saat ia pergi.
"Aku ingat kalau kita tidur bersama,"
"Sangat panas sampai membuat ku hampir meleleh," sambung pria itu yang menunjukan kata penekanan di ujung kalimat nya.
Cyra diam sejenak, "Di antara semua nya kau hanya mengingat hal itu? Seperti nya kepala mu penuh hal-hal yang kotor," ucap nya yang menarik napas nya.
"Kenapa kau seperti itu? Kau sendiri kan yang tanya?" Alessio membuang wajah nya sembari memutar bola mata nya.
"Kau ingat tentang Lucifer yang bangkit? Dia- bukan kau pasti ingat tentang diri mu yang sebenar nya," ucap Cyra yang langsung berbicara pada inti nya.
Alessio tak menjawab, ia memang mengingat nya namun karna semua itu seperti hanya sebuah mimpi membuat nya tak bisa percaya bahkan dengan apa yang ia alami pada diri nya sendiri.
"Katakan kalau aku ingat. Lalu apa yang akan terjadi?" tanya pria itu yang menatap ke arah gadis di depan nya.
Tak ada jawaban langsung namun senyuman yang terlihat sedang membuat rencana itu pun naik dan kemudian menatap ke arah pria yang berada di depannya.
"Kau hanya perlu ikuti apa yang ku katakan. Aku akan bangkitkan kekuatan mu lagi dan kau bisa menjadi pemimpin dari bangsa mu lagi, setelah itu kau akan bisa kembali ke dunia mu sebelumnya."
"Karna yang menciptakan dimensi itu adalah kau sendiri," sambung Cyra yang menatap ke arah pria itu.
Alessio diam sejenak, ia tampak bingung dan tentu tak bisa mengatakan apapun untuk saat ini karna ia sendiri masih tidak tau apa yang di rencanakan oleh gadis di depannya.
__ADS_1