
Duchy Helemites
Suasana Kabung terlihat, tak ada tangisan tulus yang ada hanya suara hening dengan isakan kecil seperti pura-pura kehilangan.
Gadis itu mengajar wajah yang sejak tadi menunduk karna melihat pemakaman sang ayah.
Sanak saudara yang lain tampak menunjukkan tangisan nya untuk menarik simpati dan tentu pewaris grand Duke selanjut nya sudah di tentukan karna sang kakak akan menjadi kepala keluarga.
"Kau tidak menunjukkan kesedihan mu," ucap Alessio yang melirik ke arah gadis yang berada di samping nya dan bersuara pelan.
"Palsu," ucap Cyra lirih karna ia merasa tangisan orang orang yang ada di tempat itu yang ada satu pun yang tulus.
Jubah yang tampak sederhana dan perawakan yang ia kenali mendekat saat kepala itu terus menunduk.
"Ku harap kau bisa melepas kepergian Grand Duke dengan damai." ucap pria paruh baya yang memiliki kekuasaan tertinggi di kekaisaran itu.
"Terimakasih Yang Mulia Kaisar," Ucap nya yang kemudian mengangguk namun tak mengangkat wajah nya agar seperti menunjukkan kesedihan.
__ADS_1
Alessio tak mengatakan apapun namun ia tersenyum miring melihat gadis itu berakting seperti gadis naif yang begitu polos.
Pria itu mengangguk dan memberikan mawar putih untuk seseorang yang bahkan tak ia rasa seperti sahabat nya.
Namun tetap saja formalitas yang menunjukan kesedihan perlu di lakukan karna pria itu pun pernah membawa jasa di kekaisaran.
Tak hanya itu para tamu yang berdatangan silih berganti, ucapan bela sungkawa dari putra mahkota dan beberapa kerabat lain.
...
Pria itu datang mendekat, dan kemudian duduk di samping gadis yang tampak menikmati udara di taman yang berada di bawah pohon itu.
"Hanya ada kita, tidak perlu memanggil ku seperti itu." ucap nya yang tau pria itu hanya berbicara seperti itu saat mereka sedang berada di kerumunan terlebih lagi jika tunangan gadis itu ada.
"Putra mahkota menggigit mu?" tanya Edward yang kemudian menatap ke arah lengkung leher gadis itu yang tertutupi dengan pakaian walaupun terlewati dengan kera.
Cyra tak menjawab, ia hanya melihat ke arah pria itu dan menarik napas nya kemudian menatap ke arah mata yang berwarna biru seperti bulan malam itu.
__ADS_1
"Apa saja yang kau lihat dengan mata mu itu? Hm?" tanya nya enggan senyuman tipis dan kemudian membuat wajah yang datar itu menghilang untuk berbagai saat.
Pria itu tak mengatakan apapun selain menatap ke arah wajah yang cantik itu.
"Kau sudah lega?" tanya pria itu sembari menoleh ke arah gadis yang masih duduk di samping nya sedang kan ia sudah berbaring menikmati rumput hijau itu.
"Aku merasa sedang frustasi," jawab Cyra yang tau apa yang ingin di bicarakan oleh pria tampan itu.
"Bukan kau yang membunuh nya kan? Padahal rencana mu hanya tinggal sedikit lagi," ucap Edward yang tau apa yang di rencanakan gadis itu.
Cyra menarik napas nya dan kemudian ikut berbaring tanpa mengatakan apapun, pria itu pun berguling dan kemudian memainkan rambut gadis itu dengan satu jemari nya.
"Apa pelayan itu sangat dekat dengan mu?" tanya nya yang menatap ke arah mata perak itu karna sejak awal ia merasa penasaran saat gadis itu terus berbisik dan tampak dekat dengan pelayan pribadi nya.
"Kau cemburu?" tanya Cyra yang berbalik menoleh ke arah pria yang sedang bertanya pada nya.
"Ya, tapi aku tidak punya hak untuk merasa cemburu pada nya." jawab pria itu dengan sedikit berdecak kesal.
__ADS_1