
Pria itu diam sesaat tak bisa mengatakan apapun, ia menatap ke arah bagian dada saudari nya yang mulai tampak menghitam seperti sulur yang akan menggerogoti nya.
"Apa yang kau inginkan? Kau tidak ingin kita melakukan nya tapi kau mau aku membagi kekuatan ku?" tanya Tarrant yang menatap ke arah wajah yang datar dan tampak tak menunjukkan emosi apapun itu.
"Ya, aku tau kau bisa melakukan nya." ucap Cyra yang menatap ke arah pria itu.
"Dari mana datang nya keyakinan mu?" tanya pria itu dengan senyuman miring saat mendengar apa yang di katakan oleh gadis yang ada di depan nya.
"Kau hanya perlu melakukan hal yang sama seperti di hari ulang tahun ku kan?" tanya gadis itu yang menatap ke arah pria di depan nya.
Greb!
Kedua lengan kecil itu di cengkram dengan erat, mata pria itu tampak menatap dengan begitu tajam.
"Kau pikir aku akan melakukan nya lagi?! Aku tidak sengaja! Aku hanya sedikit mabuk!" ucap nya yang menatap seperti mencari pembenaran.
"Kau tidak berbau alkohol sama sekali, tapi memberikan ku alkohol." ucap nya yang menatap ke arah pria itu.
Tarrant memejam, ia menarik napas nya dan kemudian melihat ke arah saudari nya.
Bruk!
"Kau tau ini gila kan?" tanya nya yang menatap ke arah mata perak dengan wajah datar namun terlihat seperti boneka itu.
"Tidak akan ada yang waras untuk bisa hidup di sini," jawab gadis itu sembari menatap ke arah pria yang berada dalam Kungkungan nya.
Pria itu tak mengatakan apapun lagi, ia mulai mendekat dan mencium bibir merah muda itu lalu mel*mat nya dengan lembut.
Sentuhan dan cahaya yang keluar dari tangan nya menunjukkan saluran mana putih yang akan di keluarkan.
Gadis itu memejam, tubuh nya terasa terangkat dan lebih ringan saat pria itu memberikan mana putih nya.
Rasa nyeri nya sedikit mereda dan tentu ia bisa lebih tenang dari apa yang ia rasakan saat mana nya saling bertabrakan.
....
Air yang dingin memenuhi bak mandi yang besar dan penuh dengan bunga itu. Terlihat klasik namun dapat di nikmati setiap nona bangsawan tingkat atas.
Gadis itu diam sejenak, jejak kecupan yang membekas masih tertinggal di sepanjang leher nya.
Wajah nya datar dan mata nya tak menunjukan emosi apapun seperti telah mati dan tak lagi bisa merasakan apapun.
Sejauh mana lumpur bisa menjadi kotor?
Tidak ada batas nya karna lumpur itu sendiri adalah lambang yang kotor.
"Aku membawa handuk mu,"
Suara bariton pria yang membuat nya sedikit turun dan kemudian menunduk agar menyembunyikan tubuh nya di dalam air yang di penuhi dengan bunga itu.
"Mereka yang menyuruh mu untuk mengantar nya?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria yang datang dan bukan nya para pelayan yang biasa melayani nya.
"Ya, mungkin mereka mengira kita ada sesuatu." jawab Alessio singkat sembari duduk di dekat bak yang besar itu dan meraih rambut perak yang tergerai dan basah itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Cyra mengernyit saat pria itu memegang rambut nya.
"Mencuci rambut mu?" jawab pria itu dengan nada seperti sedang bertanya.
"Maka dari itu, kenapa?" tanya Cyra yang menoleh ke belakang menatap ke arah pria yang terlihat senang memegangi rambut nya.
Alessio diam sejenak, ia melihat sekilas bekas ciuman yang berada di sepanjang tengkuk gadis itu.
"Kau tidur dengan dia? Bukan nya kalian..." tanya nya menggantung.
Seperti perasaan tak senang namun ia sendiri bingung kenapa merasa tak senang saat melihat nya padahal ia sama sekali tak memiliki hubungan tertentu dengan gadis yang membawa nya ke dimensi yang berbeda itu.
"Kenapa? Aku terlihat menjijikan?" tanya Cyra yang kemudian membuang wajah nya dan kemudian menjatuhkan kepala nya agar pria itu bisa mencuci rambut nya.
Tak ada wajah yang naif atau pun gugup, terlihat begitu percaya diri dan tak memperdulikan apapun.
"Dari pada itu aku penasaran kenapa kau melakukan nya, apa kau menyukai nya? Pria yang pernah kau katakan dulu." ucap Alessio yang berdecak seperti tak menyukai nya sama sekali.
"Bukan," jawab gadis itu singkat dengan ekspresi yang datar.
"Lalu kau bisa tidur dengan pria mana saja?" tanya nya sekali lagi dengan sedikit menaikkan intonasi suara nya seperti menunjukan beberapa kekesalan yang ia lakukan.
"Aku bahkan bisa tidur dengan mu walaupun tidak suka," ucap Cyra yang membuat pria itu membatu beberapa saat dan kemudian menatap ke arah nya.
Gadis itu mengernyit, ia tak merasakan seseorang menyentuh ataupun mengusap kepala nya lagi.
"Lakukan saja sendiri," pria itu bangun dan kemudian beranjak keluar.
Ia kesal untuk hal yang bahkan tak seharus nya ia merasa marah dan tentu ia tak begitu menyukai apa baru saja ia dengar walaupun sebenarnya tak ada yang salah dari pernyataan tersebut.
Cyra diam sejenak, ia tak tau kenapa pria itu keluar secara tiba-tiba dengan pembawaan yang kesal padahal ia sudah tak melakukan apapun.
...
Tiga hari kemudian.
Gadis itu meminum teh hangat yang baru saja di tuang di gelas nya itu.
"Kau sudah tau cara menyeduh teh? Apa kau ternyata lebih mahir menjadi pelayan?" tanya gadis itu yang menatap ke arah pria yang terus saja mendiamkan nya sejak tiga hari yang lalu.
"Anda membutuhkan sesuatu? P U T R I?" tanya nya dengan penuh penekanan di setiap huruf yang ia katakan.
Cyra tak mengatakan apapun, saat ada orang lain tentu pria itu tak sampai seperti itu dan ia masih bisa menjaga sikap nya.
Lain hal nya dengan saat mereka hanya berdua saja.
"Tidak ada kau bisa pergi," ucap Cyra yang kemudian membuat pria itu berbalik meninggalkan nya.
__ADS_1
"Aku tidak tidur dengan nya,"
Alessio mengentikan langkah nya, ia tak menoleh namun ia dapat mendengar apa yang di katakan oleh gadis yang tampak baru saja meminum teh yang ia berikan tadi.
Tak ada kata-kata yang ia keluarkan dari dalam mulut nya, rasa kesal nya yang entah dari mana itu sedikit mereda dan menghilang saat mendengar apa yang di katakan oleh gadis itu.
Ia tak tau apa yang terjadi beberapa hari ini namun setiap kali ia melihat nya ia merasa kan sesuatu yang tak nyaman dan seperti ingin membuat nya marah akan sesiatu hal yang bahkan tak ia ketahui.
......................
Cahaya bulan yang menjadi satu-satu nya lampu di tengah malam yang gelap gulita itu, suara pacuan dari kuda yang terdengar berlari memenuhi dan membelah hutan yang lebat itu.
Drap!
Pria itu turun dari kuda nya, menatap ke arah puing dari istana yang telah hancur itu. Ia membuka jubah yang menutupi kepala nya dan mulai masuk.
Kres!
Kreerkk...
Deg!
Pria itu tersentak, suara yang terdengar tak nyata dan aneh membuat nya langsung beralih.
Pedang yang berada di samping nya mulai ia pengang. Walaupun gelap namun ia tetap saja memiliki intuisi yang begitu baik.
Klang!
Ujung pedang yang dingin itu menyentuh leher seseorang yang sedang jongkok seperti melakukan sesuatu namun entah apa.
"Katakan, siapa kau." ucap nya yang tetap mengarahkan pedang nya ke leher seseorang yang tampak samar sehingga tak di ketahui apa itu laki-laki atau perempuan.
Tak ada jawaban, keheningan dan suara hutan yang mengisi.
Drap!
Bukan nya jawaban namun seseorang itu malah berlari, lebih tepat nya melompat dan kemudian menaiki dindin seperti cicak namun tentu terlalu aneh untuk menyebut nya sebagai hantu.
Pria itu tersentak, ia ingin mengejar namun ia merasa seperti sedang menginjak sesuatu.
Clak!
Sesuatu yang berair dan terasa amis untuk bisa ia rasakan.
Deg!
Mata biru pria itu membesar seketika saat melihat ke arah rusa mati yang telah tampak di grogoti dan di makan oleh seseorang.
Pria itu mengernyitkan dahi nya dan kemudian beranjak pergi untuk kembali menelusuri istana yang terlihat hampir hancur itu.
Aroma mawar tercium jelas saat memasuki salah satu tempat yang mirip seperti altar namun terlalu kecil untuk di sebut sebagai altar.
"Ini..."
"Cyra..."
"Apa dia benar-benar sejauh ini?"
Gumam nya lirih yang tentu tak ingin gadis yang ia sukai menempuh jalan yang sulit dan berbahaya walau pun ia selalu mendukung apa yang sedang gadis itu lakukan.
......................
Duchy Helemites
Cup!
Hah...
Gadis itu menarik napas nya, ia tak tau bagaimana pria itu bisa bersembunyi di kamar nya dan kemudian 'menyerang' nya secara tiba-tiba hingga membuat nya terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya nya sembari mengangkat kepala nya dan menatap ke arah pria yang menindih dan mengukung tubuh nya.
Piyama tidur nya telah tersikap dan tentu ia tak bisa bergerak sama sekali.
"Menurut mu?" tanya pria itu sembari menatap ke arah bekas kecupan yang mulai memudar dan hilang di dada gadis itu.
Tak ada jawaban sama sekali, seperti keheningan yang menjadi melodi di malam dengan bulan yang bersinar begitu terang dan bulat itu.
Pria itu tak mengatakan apapun, tangan nya mengusap dan memegang satu kaki gadis yang berada di kungkungan nya hingga membuat piyama itu tersingkap.
Kulit putih yang halus dan lembut itu terlihat, kaki jenjang yang tampak berada di satu genggaman tangan yang tampak sedang memegang nya.
Cup!
Pria itu mengecup pelan leher gadis itu, aroma mawar yang tercium dengan jelas memenuhi hidung nya.
Tangan nya mengusap kaki yang halus itu dan terus naik ke atas sedikit demi sedikit.
Membuat rona kulit gadis itu meninggi seperti biji strawberry.
"Aku tidak peduli ada berapa pria yang pernah menyentuh mu dulu tapi aku tidak suka kalau kau di sentuh pria lain sekarang." bisik nya saat ia mulai menyentuh ujung dari kaki jenjang itu.
Sesuatu yang terasa lebih lembut dan hangat, kecupan nya terus menjalar. Napas yang teras berat di leher dan telinga gadis itu membuat Cyra terdiam.
"Uhh..."
Ia mengernyit, saat sesuatu mulai menyelinap masuk ke dalam diri nya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Dengan siapa aku ingin melakukan nya itu bukan urusan mu." ucap gadis itu lirih dengan suara berat dan napas yang mulai tersengal.
Pria itu tak mengatakan apa pun, ia beranjak ingin mengecup bibir merah muda itu namun satu penghalang membuat ciuman nya tak sampai.
__ADS_1
Mata nya yang berwarna gelap tampak sesekali sinar merah yang datang dan kemudian menghilang sekilas.
Iris pria itu menatap tajam ke arah gelang yang selalu di pakai sejak pertama kali ia berada di tempat itu.
"Dari mana kau mendapatkan nya?" tanya Alessio yang menatap tajam ke arah perhiasan cantik itu.
Cyra menarik napas nya, lebih tepat nya ia menahan nya karna walaupun pria itu tampan diam namun tangan dengan jemari yang berada di balik gaun itu sedang menggelitik nya.
"Seorang pria memberikan nya pada ku," jawab gadis itu lirih dengan senyuman kecil seperti ingin membuat pria di depan nya merasa lebih cemburu.
Ia sama sekali tak mengatakan tentang gelang yang bahkan tak bisa ia lepas kan sehingga terus ia pakai sampai sekarang.
Alessio diam sejenak ia kemudian, menggigit gelang itu dan kemudian menarik nya.
Deg!
"Ack!"
"Uhh..."
Bukan nya terkejut karena gelang nya bisa di lepas kan dengan mudah gadis itu malah lebih terkejut dengan apa yang terjadi pada bagian bawah tubuh nya.
Ia secara refleks melengkung dan kemudian menarik napas nya dengan berat.
"Apa yang kau lakukan?" tanya gadis itu dengan mata perak yang menyilang tajam dan menatap dengan tatapan yang menunjukkan kekesalan di balik nya.
Pria itu tersenyum tipis, ia kemudian meraih pergelangan tangan gadis itu dan kemudian menggigit nya.
Cyra mengernyit, ia tak tau mengapa pria itu mengigit nya hingga membuat pergelangan tangan nya mengeluarkan darah.
"Aku sedang mencoba melonggarkan mu, bukan nya ini terlalu sempit untuk pemanasan?" ucap nya sesaat setelah ia melepaskan gigitan nya dan menatap ke arah wajah yang cantik itu.
Cyra tak mengatakan apapun, ia menatap ke arah pria yang terlihat sedang tersenyum puas itu, sedang kan ia mulai mengigit bibir nya sendiri.
"Kau juga terlihat menyukai nya kan?" tanya pria itu yang kemudian menarik jemari nya dan melihat kilau yang tampak memenuhi sepanjang jemari nya.
Tak ada jawaban apapun, gadis itu hanya memalingkan wajah nya tanpa mengatakan apapun.
"Ini akan jadi malam yang panjang," bisik nya lirih dan kemudian mengecup ujung bibir gadis itu.
"Karna malam ini aku ingin memilik mu sendirian..."
...****************...
Flashback dua tahun yang lalu.
Suasana yang riuh di aula mulai reda, tak terdengar lagi alunan musik melodi yang memenuhi lantai orang-orang bisa berdansa.
Pria itu menatap ke arah gadis yang masih berusia 15 tahun yang bahkan tak bisa bangun karna meminum terlalu banyak alkohol walaupun belum memasuki usia dewasa nya.
Gaun yang tampak ketat dan sesak itu membuat nya beranjak ingin melepaskan nya.
"Uhh..."
Gadis itu mengeluarkan napas nya lirih seperti sedang lega saat ia melepaskan kaitan di gaun yang indah namun menyiksa itu.
Rambut perak yang berkilau dengan wajah halus dan kulit yang lembut, bibir merah muda serta bulu mata yang lentik dan iris yang indah.
"Kau bisa mendengar ku,"
Tanya nya lirih di telinga gadis itu, tak ada respon sama sekali. Mata yang terbuka segaris dan kata-kata yang tak bisa di keluarkan karna tubuh nya yang masih belum bisa menerima alkohol walaupun ia masih sadar.
Humph!
Pipi yang lembut itu di cengkram dengan satu tangan dan kemudian bibir merah muda itu di tangkup hingga di l*mat habis.
Gadis itu masih tak bergerak, ia terlalu mabuk untuk itu walaupun ia bisa sedikit demi sedikit menggerakkan tangan nya dan menumbuhkan tumbuhan berduri agar pria itu pergi dari nya.
Namun ia juga sedikit penasaran, hasrat yang bahkan tak pernah ia ketahui di kehidupan sebelum nya dan apa yang di inginkan oleh pria itu.
Tali yang mengikat ke belakang gaun untuk mempertahankan bentuk gaun ia tarik, tangan nya mulai menyingkap ke bagian dalam rok dan menyentuh apa yang tak seharus nya ia sentuh.
Kecupan nya turun dan membuat nya penasaran hingga ingin melihat sesuatu.
"Ku rasa aku benar-benar sudah gila..." gumam nya namun tak bisa mengentikan diri nya sendiri.
Rasa nya menyengat dan membuat nya bersemangat walau gadis itu begitu pasif dan tak melakukan apapun.
Aroma khas yang masuk ke dalam mulut nya dan rasa manis yang berada di ujung lidah nya membuat seluruh tubuh nya meremang.
Beberapa waktu sudah terlewati, tak ada lagi pakaian yang rapi bahkan termasuk dengan diri nya sendiri, ia tak tau mengapa bisa sampai sejauh itu namun ia belum ingin berhenti sekarang.
"Cyra..."
"Aku mencintai mu..."
Gumam nya lirih di telinga gadis itu saat ia ingin menyatukan diri nya, namun...
Deg!
Mata perak itu kini tak terbuka segaris namun melihat ke arah nya dengan bendungan kaca yang bahkan membuat nya tak bisa berkata-kata.
Ia membeku beberapa saat, mata perak yang terbuka dan menatap nya dengan ekspresi datar namun tatapan yang sendu itu membuat nya tersadar.
Ia pun segara bangun, belum sempat menyatukan diri nya atau pun melakukan sesuatu yang lebih jauh.
Pria itu segara merapikan jas dan jubah nya lalu kemudian merapikan gaun gadis itu sekali lagi dan membawa nya ke kamar nya.
"Maaf untuk yang tadi, aku harap kau melupakan nya..."
Bisik nya lirih namun sebelum itu ia masih sempat lagi memberikan kecupan dan ciuman yang singkat namun panas di atas bibir merah yang manis dan lembut itu.
__ADS_1
Flashback off
...****************...