
Kekaisaran Lavensberg
Duchy Helemites
Tarrant menatap ke arah kertas yang sudah beberapa di salin ke bahasa nya agar bisa ia baca dan bisa ia lihat.
"Kebangkitan darah?" gumam nya yang menatap ke arah kertas yang berisi tulisan yang tak ia mengerti namun sudah di terjemahkan ke dalam tulisan nya.
"Ini nyata?"
Tarrant meletakkan nya kembali, ia tak berada di mansion sang ayah melainkan di paviliun nya yang berada di ujung barat Duchy Helemites sendiri.
Pria itu pun kembali menoleh dan menatap ke arah kertas itu, ia mulai menyusun kalimat nya dan tentu ia tak tau bagaimana cara menggunakan itu.
......................
Istana Kekaisaran
Theodore berlutut, tahta yang sebentar lagi menjadi milik nya kini masih ia lihat dengan mendongakkan kepala nya.
"Aku mendengar masalah dari Duchy Helemites, kau mengetahui sesuatu Putra Mahkota?" tanya sang kaisar yang di agungkan oleh seluruh rakyat nya itu.
Theodore diam sejenak, ia kemudian menoleh dan menatap ke arah pria itu sekali lagi.
"Tidak ada masalah, saya dengar putri sedang berlibur ke kampung halaman ibu nya," jawab Theodore yang tentu menutupi masalah yang sedang terjadi.
Kaisar pun mengangguk kecil mendengar nya, ia melihat ke arah putra pertama nya yang tampak tak ingin membuat tunangan nya kesulitan.
"Dia putri dari Grand Duke Ecklart, jika dia terlalu angkuh kau harus memberi tau nya kedudukan siapa yang lebih tinggi," ucap sang kaisar pada putra nya.
__ADS_1
"Baik Ayah, tapi hubungan saya dengan putri masih terjalin harmonis." ucap Theodore yang seakan menunjukkan sebanyak apa cinta yang ia miliki.
"Kau seperti nya sedang jatuh cinta, padahal anak itu sendiri bermain-main dengan pria lain." ucap sang kaisar.
Ia mendengar gosip yang terjadi dengan Marquis muda Blaze namun ia sendiri tak bisa mengatakan apapun karna yang bersangkutan sendiri saja tak mempermasalahkan nya.
Sedangkan ia sendiri sejak awal memang kurang menyukai putri dari Grand Duke yang bisa membuat tahta nya goyah.
Pertunangan politik yang di lakukan karna ia merasa Grand Duke Ecklart terlalu berbahaya untuk di jadikan musuh atau saingan walau pun ia memang tak menyukai nya sejak awal.
Theodore tak tersenyum tipis, tak hanya di mata kaisar, namun di seluruh mata rakyat ia adalah seseorang yang perhatian dan begitu mencintai tunangan nya yang 'Jahat'
......................
Duchy Helemites.
Tarrant mengernyit, ia sudah menyusun setiap kalimat.
"Apa aku harus gunakan dari apa yang ku temukan di istana itu?" gumam Tarrant yang mencoba mencari sesuatu yang lain.
Dan satu-satu nya yang bisa ia temukan hanyalah bibit bunga beracun yang saat itu berada di depan nya.
Menuangkan beberapa bibit tanaman berwarna hitam dan kemudian menuangkan darah nya ke atas nya.
Ia tak tau, mungkin seperti membangun lingkaran sihir namun ia membaca terjemahan yang sudah ia lakukan.
......................
......................
__ADS_1
......................
Italy.
Sepatu hitam yang tampak berlumuran darah, mata yang tajam dengan wajah tampan yang bengis.
Hah...
Pria itu menarik napas nya, mata yang tajam itu melirik ke arah gadis yang tampak duduk dengan santai itu walaupun melihat berbagai kematian yang tragis.
"Kita pulang? Aku mau makan kripik kentang itu," Ucap Cyra yang sekarang mulai kecanduan micin dan penyedap makanan yang ada di jajanan.
Alessio berjalan mendekat, ia melihat ke arah gadis yang tetap mengikuti nya itu.
"Kau masih memikirkan mak- Ukh!"
Alessio tak bisa melanjutkan ucapan nya, telinga nya berdengung. Ia kesakitan dan juga merasa ada sesuatu yang menabrak dan membongkar isi tubuh nya.
Deg!
Cyra tersentak, pria itu tampak kesakitan. Warna gelap dan sulur hitam menjalar dari dalam tubuh nya dan naik ke leher nya.
"Alessio? Kau kenapa?" tanya Cyra yang beranjak mendekat.
Deg!
Gadis itu tampak terkejut, langkah nya memundur, ia menatap ke arah mata yang berubah menjadi merah darah.
Wajah pria itu tetap tampan namun tubuh nya seperti membesar dan terlihat kulit yang mulai berubah menyerupai sisik.
__ADS_1
"Alessio..."
Panggil Cyra sekali lagi sembari mulai mengeluarkan sulur bunga nya saat ia merasa terancam.