
Mata yang terkunci itu tak ada pembicaraan sama sekali, ia menatap ke arah pria yang berada di depan nya dan kemudian melihat ke arah nya sekali lagi.
"Cyra? Kau mendengarkan ku?" tanya nya yang menatap ke arah gadis itu itu dan membuat Cyra tersentak.
"Y.. Ya..."
Cyra pura-pura gugup, namun ia begitu alami saat memberikan senyuman canggung nya.
Theodore tersenyum tipis, tangan kecil yang begitu halus dan lembut serta begitu lembut yang berada di dalam pegangan nya dan kemudian menatap nya lirih.
"Ma.. maafkan saya..."
"Waktu itu saya pergi setelah malam ulang tahun, ta.. tapi saya tersesat..." ucap nya dengan suara yang gugup.
"Aku sudah pernah bilang pada mu kalau saat hanya ada kita berdua kau tidak perlu menjaga sopan santun untuk ku kan? Kau bisa panggil aku dengan nama depan ku." ucap pria yang memiliki paras yang tampan dan lembut itu.
Cyra tak menjawab namun ia menganggukkan kepala nya, ia merasa jengah namun ia harus tetap bersikap seperti gadis naif yang polos pada seseorang yang sangat ingin ia bunuh itu.
"Maaf Theo..." ucap nya lirih yang langsung menurut.
Theodore memberikan senyuman nya, ia bangun dari bangku nya dan kemudian mendekat lalu berdiri di dekat gadis itu dan kemudian mengusap kepala nya dengan lembut.
"Sudah lah, lagi pula kau tidak menghilang karna kabur dengan Duke muda dari keluarga Blaze kan?" tanya Theodore yang sudah tau jika tunangan nya tak sekedar memiliki hubungan pertemanan dengan putra tunggal dari keluarga Marquis yang kaya dan di segani itu.
Cyra menoleh, ia menatap ke arah wajah yang tampak masih tenang.
Bukan ia yang terkejut namun dada nya terasa bergemuruh saat ia mendengar nama seseorang yang sangat ia sayangi itu di sebut oleh seseorang yang sangat ia benci sampai ingin merobek mulut nya.
"Cyra? Aku tidak peduli kau punya hubungan apapun itu dengan nya, tapi kau juga harus tau bagaimana bersikap pada anjing yang ingin naik ke tempat tidur tuan nya kan?" tanya Theodore yang penuh dengan kalimat menyindir dan sudah termasuk kasar walaupun di ungkapkan dengan kata yang lembut.
"A.. apa maksud anda? Bukan Theo? Kau..."
Rasa panas yang begitu membuat nya marah ia tahan, dan tentu hanya wajah yang tampak polos dan naif itu lah yang keluar dari mulut nya.
"Sstt..."
"Kali ini tidak apa-apa, tapi kalau kau menghilang lagi aku mungkin akan marah dan menganggap kau kabur dengan anjing mu," ucap nya yang menunduk dan berbisik.
__ADS_1
Cyra tak mengatakan apapun namun ia merasa pria itu seperti memasangkan sesuatu di tangan nya.
Ia menahan rasa amarah nya saat mendengar ucapan sang tunangan yang selalu membuat nya emosi itu.
"Ini, adalah hadiah untuk kepulangan mu karna sudah tidak lagi tersesat." ucap nya yang memberikan gelang yang cantik itu.
Cyra tak menjawab namun ia tau gelang itu bukan lah gelang biasa. Sedikit saja memiliki kekuatan dari fragmen iblis maka ia bisa merasakan nya.
"Ini apa? Tidak, ini terlalu bagus untuk ku." ucap nya yang berusaha menolak dan membuka nya.
Deg!
Gadis itu tersentak, saat ia ingin mengeluarkan nya gelang itu menjadi menyusut dan kecil di pergelangan tangan nya hingga membuat nya seperti di ikat dengan tali tipis yang tajam.
Theodore tersenyum, gelang yang hanya bisa di lepas dengan pemilik yang memasang nya ataupun bisa di lepas oleh penguasa nya sendiri membuat gadis itu tak bisa melepaskan nya.
"Jangan terlalu memaksa untuk melepaskan nya, karna seperti yang kau lihat jika gelang itu menyukai mu." ucap nya dengan senyuman simpul yang menatap ke arah gadis itu.
Cyra diam sejenak namun kemudian tangan nya berangsur tak berusaha melepaskan nya lagi lalu menatap ke arah pria itu.
"Maaf..." ia menjawab lirih dan kemudian mata perak itu menunduk melihat rerumputan yang hijau itu.
3 Hari kemudian.
Kereta kuda yang berjalan melewati jalanan dari Duchy ke March dan tentu tempat tersebut masih banyak hutan luas.
Brak!
"Keluar dan serahkan barang-barang yang kalian bawa!"
Suara yang terdengar menggema dengan senjata yang di bawa dan cukup tampak mengerikan.
Memang kasus perampokan bukan hal yang aneh, ada beberapa jalan yang walaupun tergolong aman tetap saja terkadang nasib siap tak salah memihak.
Pria paruh baya itu tak keluar, ia hanya berdecak dan melihat dari jendela.
"Urus," ucap nya memberikan perintah singkat dan dengan sekejap semua anak buah dan ksatria yang ia bawa dengan cepat langsung bergerak.
__ADS_1
Para ksatria itu tanpa banyak bicara langsung bergerak untuk membasmi perampok yang ingin mengambil harta dari Duke yang sangat di segani di seluruh kekaisaran.
Suara yang terdengar saling beradu membuat bagaikan musik yang akan menjadi melodi.
Sementara itu, gadis cantik dengan memakai jubah yang menutupi warna rambut nya dengan santai memakan apel yang berada di tangan nya sembari duduk di atas pohon yang tinggi dan menyaksikan perkelahian itu seperti teater.
"Kurang seru," gumam nya lirih yang menatap dengan tatapan yang malas.
Tangan nya mulai menunjuk, seperti ingin melakukan sesuatu dan kemudian tunas dari tumbuhan yang merambat itu langsung menusuk ke kaki kuda yang tengah membawa seseorang di dalam kreta yang mewah itu.
HIYYYAA
Kuda itu langsung bersuara dan bergerak seketika karna ia merasa sesuatu mengenai kaki nya.
Duke Ecklart terkejut, kuda yang tenang tiba-tiba menjadi agresif dan juga bergerak dengan sendiri nya.
"Hentikan kreta nya!" ucap salah satu ksatria agar ada sebagian yang mengikuti kreta kuda yang tengah di pakai oleh tuan yang mereka layani.
Drak!
Drak!
Suara yang cepat dengan larian tanpa terkendali dan melaju kencang.
Gadis itu tertawa kecil, ia hanya tinggal membuat bunga yang tumbuh dari tunas yang ia tusukkan di kaki kuda itu.
Dan memang kekuatan nya akan bisa berpengaruh pada beberapa media walaupun tak menggunakan sentuhan jari nya.
BRAK!
Kreta kuda itu terguling, terlihat berantakan dan seseorang yang keluar dari kreta yang hampir hancur itu lalu tampak terluka.
Senyuman manis di mata yang dingin dengan menatap sedikit kepuasan terlihat.
"Ku harap tangan mu akan patah Ayah, dan jangan mati sebelum aku membunuh mu juga." senyuman manis itu tampak begitu indah di wajah yang cantik namun tidak dengan ucapan nya.
Ia hanya memberikan hadiah kecil pada sang ayah yang sudah memukul nya tempo hari.
__ADS_1
Ia memang tak selalu membalas nya, namun untuk kali ini ia sedikit kesal karna penyembuhan yang ia harus ia lakukan dengan cara yang tak ia suka.
Walaupun ia sendiri yang meminta sang kakak untuk melakukan nya.