
Alessio berbalik, ia tak lagi melihat ke arah gadis yang terlihat terluka cukup parah itu.
Tak tau apa yang di katakan dan tak tau apa yang terjadi namun yang jelas ia harus tau apa siapa yang melakukan nya.
Cyra menarik napas nya, ia tak mengatakan apapun dan juga tak mencegah pria itu untuk pergi.
Tubuh nya tak bisa di gerakan namun tak masalah karna ia bisa mengembalikan nya nanti.
Mata perak itu memejam, ia tak tau apa yang di pikirkan oleh pria itu dan apa yang akan terjadi.
Tubuh nya seakan mati, ia seperti sudah kehilangan segala nya dan ia tak lagi bisa melakukan apapun.
"Seperti nya dia sudah benar-benar gila..."
Gumam gadis itu lirih karna ia tau siapa dalang di balik hancur nya perayaan dari pembukaan patung Dewi itu sendiri.
...
Mata pria itu menatap lurus, tak mengatakan apapun namun seperti menunggu sebuah jawaban.
"Kau sudah melihat nya tadi?"
Tarrant menarik napas nya dan kemudian menatap mata yang tajam itu sembari melihat ke arah nya dengan tatapan yang tau apa yang di pikirkan oleh pria itu.
"Siapa yang melakukan nya? Apa itu seperti yang ku pikirkan?" tanya nya yang menatap ke arah pria yang tampak diam dan menyimpan sebuah jawaban itu.
"Kau tau? Kelurga ini memang tak baik-baik saja sejak awal dan tentu itu adalah yang tidak bisa ku tutupi kalau kau tinggal di tempat ini," jawab nya dengan datar seperti sudah biasa melihat hal tersebut.
"Lalu? Kalau kelurga ini tidak ada maka tidak perlu ada hal seperti itu kan?" tanya nya yang menatap dengan pandangan mata yang terlihat berbeda.
Tarrant tak menjawab namun tatapan mata nya mengernyit melihat ke arah pria yang bagi nya memberi jawaban yang cukup aneh.
"Kalau begitu aku akan tanya satu hal yang terkahir, aku dengar dia memiliki darah Dewi tapi dia juga melakukan perjanjian dengan iblis, bagaimana dengan penyembuhan luka nya? Bukan nya kalian memakai sesuatu yang di sebut sihir putih dan kekuatan Dewi?" tanya nya yang menatap dengan bingung.
__ADS_1
"Dia punya cara untuk mengatasi itu, kau mungkin akan tau kalau sudah lama berada di dekat nya tapi kalau kau membuka mulut untuk itu kau akan mati," jawab Tarrant yang kemudian pergi meninggalkan pria itu.
Ia tak mungkin memberi tau sesuatu yang menjadi seperti rahasia untuk ia dan adik nya yang 'tersayang' itu.
"Mati? Dia pikir dia siapa bisa mengatakan itu pada ku?" gumam nya yang menatap ke arah pria yang berlalu itu sebelum ia tau mengapa hal itu di katakan pada nya.
...
Dua hari kemudian.
Gadis itu membuka mata nya, kali ini ia sudah berada di kamar nya dengan pakaian yang baru dan luka yang sudah di balut.
Mata perak nya menatap ke arah seseorang yang berdiri menunggu nya bangun dengan tatapan wajah yang penuh dengan pertanyaan.
"Apa kau juga tidur dengan saudara mu?" tanya nya yang menatap dengan tatapan yang mengernyit bahkan setalah gadis itu bangun.
Tak ada pertanyaan bagaimana dan seperti apa yang di rasakan.
"Hah..."
"Jawab," kali ini Alessio mendekat ke pinggir ranjang dan kemudian menatap ke arah gadis itu dengan tatapan yang harus segara di jawab.
"Tidak," jawab Cyra singkat yang kemudian kembali memejam.
Pria itu tak mengatakan apapun, ia ingat beberapa hati yang lalu saat gadis bermata perak yang cantik itu di bawa keluar dari penjara dan saat itu pula ia tau apa yang di katakan oleh Tarrant sebelum nya.
Melihat seorang pria yang mencium bibir gadis yang tak sadar kan diri dan kemudian sinar putih yang datang terang benderang seperti cahaya mentari.
Tak lama kemudian luka di tubuh gadis itu pun beranjak menghilang dan kemudian perlahan membaik.
"Aku melihat nya," ucap nya lirih yang membuat gadis itu kembali membuka mata nya.
"Apa yang kau lihat? Dia meniduri ku? Atau kami yang sedang tidur bersama di mata mu?" tanya Cyra yang kemudian menoleh.
__ADS_1
"Dia melewati batas nya sebagai seorang saudara," jawab nya lirih yang kemudian menatap ke arah pria itu.
"Berarti kau tidak melihat dia melakukan hal seperti itu kan?" tanya Cyra yang membuang napas nya lirih.
"Sampai kapan kau akan seperti itu?" tanya Alessio yang kemudian mengusap pipi gadis yang begitu lembut itu.
"Kau tau siapa yang melakukan ini pada ku? Dan lagi, kau tidak akan bisa melakukan nya." jawaban yang terdengar ambigu dan memiliki arti seperti sebuah tantangan untuk pria itu.
"Kalau aku menyingkirkan variabel pertama mu, kau tidak akan perlu di sentuh oleh nya kan?" tanya nya yang menatap ke arah gadis itu.
Cyra tak mengatakan apapun, ia tak mengerti apa yang di inginkan oleh pria di depan nya namun tak bisa sembarangan menjawab.
......................
Satu Minggu kemudian.
Roda yang berputar saat kereta itu terbalik, jurang yang tinggi dan tentu membuat seseorang yang berada di dalam nya terluka.
"Mati? Belum ya?"
Suara yang terdengar sembari menunduk melihat seseorang di dalam nya.
Tak ada jawaban selain suara dengan degupan napas yang berat karena luka yang cukup banyak.
Brak!
"Akh!"
Suara yang terdengar itu seperti merintih, kekuatan yang bahkan entah datang dari mana, seistau yang mampu membuat nya melakukan hal yang bahkan tak akan terpikirkan oleh siapapun.
Aroma anyir dan amis tercium dengan jelas, darah dan mata yang menggelinding membuat pria itu memundur satu langkah.
Senyuman terlihat puas dan mata yang menyilang merah sekilas.
__ADS_1
Gemericik dari hujan yang tadi nya deras itu kini mulai menghilang. Tanah yang masih basah serta rerumputan yang memiliki aroma khas itu membuat samar bau anyir yang menyelimuti kreta kuda itu.