
Suara dari kuda yang berjalan dengan roda yang kayu yang bahkan belum tercipta ban karet tentu dapat membuat siapapun mabuk saat perayaan kali menggunakan nya semewah apapun kreta kuda tersebut.
Gadis itu menarik napas nya dan kemudian menatap ke arah seseorang yang berada di depan nya.
"Kenapa kau melakukan nya? Kau tau di sini kedudukan sangat menentukan sikap bukan?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria yang duduk di depan nya saat berada di dalam satu kreta kuda.
Alessio tak menjawab, ia hanya memejam seperti sedang tertidur namun tentu ia tak tidur sama sekali.
"Jawab aku, aku tau kau sedang tidak tidur atau kau merasa mabuk?" tanya Cyra yang kembali membuka suara saat pria itu sama sekali tak menjawab nya.
Alessio menoleh, ia membuka mata nya perlahan dan kemudian menatap ke arah wajah cantik yang tampak datar itu dan kemudian melihat ke arah nya.
"Kenapa kau melakukan hal yang seperti tadi? Aku tidak pernah menyuruh mu untuk itu." ucap Cyra yang kembali mempertanyakan pertanyaan awal nya.
"Kau terlihat tidak nyaman," jawab Alessio singkat dengan menatap ke arah gadis itu tanpa berkedip.
Cyra diam sejenak, lebih tepat nya ia kehilangan kata-kata saat mendengar nya.
"Kalau aku tidak merasa nyaman atau dia melakukan sesuatu pada ku bukan nya akan lebih baik untuk mu? Kau menganggap ku sebagai mimpi buruk kan?" jawab gadis itu yang kemudian melihat ke arah luar jendela dari kreta kuda nya.
Alessio tak menjawab untuk beberapa saat, tak terlihat wajah kecewa atau pun wajah yang menunjukkan kesedihan saat mengatakan nya.
"Kau bukan mimpi buruk," jawab Alessio pada gadis yang bahkan tak lagi melihat nya sekarang, "Walaupun kau juga bukan mimpi yang indah." sambung nya lirih.
Mata perak itu melirik saat mendengar pria yang berada di dalam satu kreta dengan nya itu bergumam lirih.
"Lalu aku seperti mimpi apa bagi mu? Semua yang berhubungan dengan ku terlalu tidak nyata bukan?" tanya Cyra yang melirik sekilas setelah itu kembali melihat ke arah luar jendela nya.
"Memang, kau bukan mimpi buruk atau pun mimpi yang indah."
"Tapi ku rasa kau adalah mimpi yang ku inginkan, sesuatu yang membuat ku bersemangat. Mungkin seperti itu." ucap Alessio yang memberi tau apa yang ia sedang rasakan.
Cyra tak mengatakan apapun, pria itu bisa menggunakan bahasa yang ia gunakan dan mengerti apapun membaca tulisan yang tak pernah ada di dunia abad 21 itu.
Berbeda dengan diri nya yang tau dah bisa berbahasa namun tak bisa membaca tulisan nya sama sekali.
"Kenapa kau tadi mengejar ku?" tanya Cyra yang bahkan tak sempat tau alasan pria itu mengejar dan meraih tangan nya beberapa waktu sebelum bertemu dengan putra mahkota.
"Akan ku katakan saat kita berada di mansion mu." ucap Alessio lirih.
Mata nya pun tak melihat ke arah gadis itu melainkan menatap ke luar kereta yang masih berjalan itu.
......................
Duchy Helemites
__ADS_1
Mansion Ecklart
Pria itu diam sejenak, tak melakukan apapun atau menikmati apapun.
Ia sudah mendengar dan ingat dengan apa yang di katakan oleh seseorang dari menara sihir tentang memakai mana hitam.
Siapapun yang memakai nya maka hanya akan ada kehancuran jiwa yang menunggu dan tentu tak semua orang bisa melewati rasa sakit nya.
Tapi kenapa gadis itu bisa kuat dengan mana hitam?
Seberapa banyak jiwa yang telah hancur?
Sesuatu yang bahkan tak bisa di jawab sama sekali oleh siapapun kecuali dengan seseorang yang sudah bersangkutan.
"Apa yang sedang kau lihat?"
Suara bariton dari seorang pria itu membuat Alessio menoleh. Pria yang memiliki tatapan dan ekspresi yang mirip seseorang yang memiliki mata dan rambut yang berwarna perak itu membuat nya langsung tau siapa yang berbicara pada nya.
"Salam saya Tuan Tarrant," ucap nya yang membungkuk kan diri dengan satu tangan di dada dan kemudian menatap ke arah pria itu.
"Kau sudah tau tentang cara memberi salam," ucap Tarrant yang menatap ke arah pria yang menunduk pada nya.
Alessio kembali berdiri dengan tegap dan kemudian menatap ke arah pria yang berada di depan nya.
"Kau dekat dengan adik ku?" Tarrant bertanya tanpa menoleh dan melihat ke arah pria yang berada di samping nya saat ini.
"Entah lah, hubungan kami terlalu tidak menguntungkan sebagai rekan dan terlalu baik sebagai musuh tapi terlalu tidak romantis untuk saling suka." jawab Alessio yang memberikan pernyataan ambigu.
Tarrant diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu dan kemudian menatap ke arah pria itu lagi lalu memalingkan pandangan nya ke arah danau yang luas di mansion tersebut.
"Lalu kau menyukai nya secara sepihak?" ucap nya yang tiba-tiba bertanya akan hal yang tak ingin di jawab sama sekali.
"Apa?" Alessio langsung menoleh saat mendengar nya dan menatap ke arah pria yang mengatakan pernyataan yang membuat nya terkejut.
"Ada apa dengan wajah mu?" tanya Tarrant yang memiringkan kepala nya saat melihat ke arah reaksi terkejut pria yang berada di samping nya.
"Aku? Ada apa memang nya dengan ku?" tanya Alessio yang tampak menghindari sesuatu.
"Seperti ketahuan telah mencuri sesuatu," jawab Tarrant singkat yang tentu lebih bisa melihat apa yang ada pada pria itu.
Alessio tak mengatakan sesuatu, ia diam untuk beberapa saat tanpa mengatakan apapun atau menjelaskan apapun.
Tarrant menarik napas nya, keheningan yang tanpa suara sedikit pun. Tak ada musik atau sesiatu yang bisa menjadi suara.
"Kau sudah pernah bertemu dengan Theo?" tanya Tarrant yang tentu tak perlu memanggil gelar kehormatan pada seseorang yang sebenar nya juga tak ia sukai.
__ADS_1
"Tunangan Cyra? Maksud ku Putri?" tanya Alessio mengulang dan tentu memastikan.
"Ya," jawab Tarrant singkat.
"Sudah," Alessio mengangguk saat menjawab nya, "Saya sudah bertemu dengan nya saat ke akademi sihir dua hari yang lalu." ucap Alessio yang menjawab.
"Lalu apa pendapat mu tentang dia?" tanya Tarrant sembari menatap ke arah pria yang itu sekilas.
"Seperti nya dia terlihat cemburu pada saya," jawab Alessio yang tentu bisa merasakan tatapan sinis yang menusuk itu.
Tarrant tak mengatakan apa pun lagi, apa yang ia rasakan juga di rasakan oleh pria di samping nya.
Jika Putra Mahkota bukan hanya menganggap pernikahan itu sebagai pernikahan politik.
"Aku mencari mu, sejak tadi."
Suara gadis yang terdengar membuat kedua pasang mata pria itu langsung menoleh.
"Ada yang ingin ku bicarakan," ucap Cyra yang kemudian mendekati ke arah saudara laki-laki nya itu.
Alessio tak mengatakan apapun, gadis itu bisa melewati nya tanpa merasa harus menyapa nya sama sekali.
"Ayo, ikut dengan ku." ucap Cyra yang kemudian mengajak saudara laku-laki nya untuk pergi.
...
Sreg!
Gaun yang indah itu jatuh ke atas lantai, tubuh yang ramping dengan lekuk yang indah namun memiliki akar yang menghitam tepat
di sebelah dada kiri gadis itu.
Mata pria itu mengernyit, ia menatap dengan bingung ke arah tubuh yang tampak memperlihatkan bagian yang sedikit mengerikan itu.
"Mana ku bertabrakan, aku tidak bisa memakai mana hitam karna gelang ini." ucap gadis itu yang menatap ke arah pria yang berada di depan nya.
"Kau mau aku membagi mana ku?" tanya nya dengan mata yang tampak tak percaya.
"Hanya tiga orang di kekaisaran saat ini yang punya mana putih yang bisa di salurkan, yang pertama aku, kedua Theodore dan ketiga adalah kau." ucap gadis itu yang tentu sebenar nya tak perlu menjelaskan apa pun lagi.
"Kau yakin?" Pria itu mendekat satu langkah, membagi mana tentu tak mudah apa lagi dengan apa yang akan di lakukan.
"Kau tau itu bisa di lakukan tanpa kita harus tidur bersama kan? Aku tau apa yang kau harap kan tapi aku tidak menginginkan hal seperti itu." ucap nya yang menatap ke arah pria yang menyentuh pipi nya saat ini.
"Dan bagaimana kalau aku hanya ingin memberi mana ku dengan cara seperti itu?" tanya pria itu yang terlihat memikirkan sesiatu namun entah apa.
__ADS_1