
Mata pria itu menatap ke arah gadis yang berada di depan nya, tak mendorong ataupun melawan namun juga tidak membalas ciuman nya sama sekali.
Setelah ia rasa luka di wajah gadis itu mulai menghilang ia pun melepaskan pangutan nya dan menatap ke arah nya sekali lagi.
Cyra kembali duduk di pinggir ranjang, memang bekas nya menghilang namun tetap saja masih ada luka di dalam nya.
Tapi ia tak mengatakan apapun, karna ia tau sentuhan yang lebih mendalam lah yang di butuhkan saat ini dan ia tak menginginkan hal itu.
"Terimakasih," ucap nya yang mengusap bibir nya sembari menengandah menatap ke arah pria yang masih berdiri di depan nya tanpa bergerak sama sekali.
Tarrant tak menjawab namun ia menatap ke arah wajah datar yang bahkan tak bergeming seperti tak pernah terjadi apapun sebelum nya.
"Kau tau apa yang ku rasakan?" tanya nya yang menatap ke arah gadis yang terlihat biasa saja seperti tak terjadi apapun.
Cyra memalingkan mata perak nya, ia menatap ke arah lain karna enggan menjawab nya.
"Dari mana yang salah?" tanya Tarrant yang bingung karna dulu sang adik tidak seperti itu.
Anak perempuan yang manis, mudah tersenyum, menangis atau tertawa dan juga mudah merasa takut serta begitu naif dan lucu.
"Apa nya?" tanya Cyra yang menjawab dengan wajah datar dan suara yang dingin itu.
"Sejak kapan kau berubah?" tanya Tarrant yang menatap ke arah sang adik.
"Lalu sejak kapan kau menyukai ku?" tanya Cyra yang berbalik walaupun pertanyaan itu sama sekali tak berhubungan.
__ADS_1
Tarrant tak menjawab, ia diam seperti memiliki lidah yang kelu untuk mengatakan kalimat yang ingin ia keluarkan.
"Kau menyukai anak yang manis seperti waktu aku kecil dulu? Tapi bagaimana? Dia sudah mati sejak lama." ucap Cyra yang tersenyum tipis saat memandang ke arah pria itu dan kemudian menatap nya dengan tatapan yang tajam.
Tarrant diam tak mengatakan apapun namun ia mengalihkan pandangan nya dan tak lagi melihat ke arah sang adik.
Cyra tak mengatakan sesuatu lagi, ia hanya menarik napas nya dan tak lama kemudian pria itu pergi dari kamar yang ia tempati.
......................
Istana Kekaisaran
Theodore menatap ke arah cairan bening berwarna merah muda itu yang di letakkan di dalam botol kaca yang cantik.
"Dia sudah kembali?" gumam nya saat sudah mendengar berita yang di bawakan oleh bawahan nya.
"Kau sudah siapkan permata yang cocok untuk gelang itu? Aku mau selesai dalam Minggu ini tanpa ada kesalahan sedikit pun." ucap nya yang memberi tau apa yang ia inginkan pada ksatria yang menjadi bawahan terpercaya nya.
Ksatria Devye pun mengangguk, tentu gelang yang di buat bukan lah jam biasa melainkan jam yang di gunakan untuk menekan kekuatan suci seseorang sekaligus memberikan wadah untuk memindahkan nya.
Dan tentu itu semua menggunakan sihir gelap yang di larang oleh hukum kekaisaran itu sendiri.
......................
Satu Minggu kemudian
__ADS_1
Duchy Helemites
Seluruh orang yang berada di ruang aula mansion mewah itu menunduk, memberikan hormat pada seorang putra dari matahari Kekaisaran.
Tak terkecuali Duke Ekclart dan juga Cyra yang berdiri di belakang sang ayah.
"Tidak perlu sungkan, aku hanya ingin mengunjungi tunangan ku." ucap nya dengan senyuman yang indah seperti seorang malaikat.
Duke Ekclart tersenyum ramah sembari menatap ke arah calon menantu nya walaupun ia bukan lah orang yang ramah sama sekali.
"Kalau begitu anda bisa melakukan sesuatu yang nyaman menurut anda di sini." ucap nya yang memberi kebebasan untuk pria itu di mansion wilayah kekuasaan nya.
...
Dua cangkir teh dengan camilan yang tampak cantik menghiasi meja kecil yang berada di taman tanpa atap namun dengan pemandangan yang begitu cantik.
"Ku dengar kau menghilang? Kau ke mana selama ini?" tanya Theodore yang menatap ke arah gadis yang menunduk seperti gugup dan gelisah itu.
Tak ada jawaban, Cyra tampak gugup seperti gadis yang polos sembari menautkan jemari nya satu sama lain.
"Cyra?" panggil pria itu dengan suara yang begitu lembut.
Cyra tak menjawab namun tangan yang tampak gugup di atas meja itu mulai di genggam oleh tangan yang besar dan kemudian membuat nya menoleh.
"Ada apa? Kau bisa mengatakan apapun pada ku," ucap pria itu dengan senyuman hangat dan wajah yang indah walau hati nya tak seindah penampilan nya.
__ADS_1
Cyra tak menjawab, suara yang lebih itu terdengar begitu memuakkan dan membuat nya merasa jijik namun tentu ia tak bisa mengatakan nya.