My Bad Princess

My Bad Princess
Gift


__ADS_3

Dua Hari kemudian


Club'


Mata yang berwarna hitam karna lensa itu terlihat menatap bingung. Tempat yang bagi nya cukup kecil namun banyak orang yang menari berbeda dengan tarian dansa yang ia pelajari di mansion Grand Duke.


"Ada dengan mereka semua?" tanya Cyra yang bingung.


"Mereka? Bersenang-senang," jawab Alessio dengan singkat.


"Dengan cara seperti itu?" tanya Cyra yang tampak bingung.


Cardy yang mendengar nya pun mengandeng pundak gadis itu, "Kau juga akan suka nanti. Ini tempat yang bagus." ucap nya pada Cyra.


Cyra menatap dengan lirikan mata nya yang tajam, "Singkirkan tangan mu."


Pria itu menyingkirkan tangan nya yang sok akrab dan kemudian menghela napas.


Mereka pun berjalan ke ruangan privat di salah satu club' besar tersebut.


Beberapa orang datang, pria dan wanita yang cantik.


"Mereka ada di ruangan yang berbeda," ucap Cardy karna beberapa rekan yang di kenal di ruangan yang lain dan mereka kali ini lima orang termasuk Cyra.


Alessio mengangguk tanpa memberikan jawaban, ia menatap ke arah gadis itu sekilas dan kemudian duduk sofa yang di sediakan.


Sedangkan Cyra duduk dengan agak berjauhan, orang-orang yang memiliki penampilan mencolok itu pun datang seperti lalat yang mulai mengerumuni.


Ia tak mengatakan apapun, melihat beberapa pria yang tadi pergi bersama nya mulai bersenang-senang.


"Hey? Kau dari mana? Kau lebih cantik dari semua yang ad-"


"Diam," potong Cyra cepat yang mengusir secara perlahan karna ia memang tak begitu menyukai pelayanan malam.


Alessio tak mengatakan apapun, dua wanita sibuk menyenangi nya dan juga menggoda nya.


Ekor mata nya melirik ke arah wajah tenang dengan ekspresi kosong yang tak menunjukkan rasa senang, marah, atau pun kegembiraan.


Cup!


Kecupan di leher jenjang pria itu tampak, pada wanita itu sudah mulai menggoda nya dengan sentuhan yang nakal.


Alessio melirik kembali ke arah Cyra, kali ini mata gadis itu menatap nya namun tak mengatakan apapun.


Si*l! Apa yang ku harapkan?!


Tanpa sadar ia ingin gadis itu merasa cemburu, namun wajah yang dingin dan datar menyadarkan nya.


Cyra melihat ke arah pria yang sibuk berciuman dengan dua wanita yang berada di kedua sisi nya.


Tak ada komentar untuk kelakuan para lelaki yang mabuk wanita dan minuman itu.


"Aku pergi lebih dulu," ucap Elio yang kemudian beranjak dengan beberapa wanita mengikuti nya.


Sedangkan pendamping yang harus nya bersama gadis itu tampak kesulitan, mereka tak bisa menggoda seseorang yang memiliki paras menawan itu.


"Hah...!" Cyra menghela napas nya, bagi nya tempat itu membosankan.


Sama sekali tak menyenangkan seperti yang di gambarkan oleh Cardy sebelum nya.


"Aku bisa keluar lebih dulu?" tanya Cyra yang kali ini bicara dengan Alessio.


Pria itu melepaskan pangutan pada wanita yang berada di samping nya.


"Mau ke mana?" tanya nya yang menatap ke arah gadis yang baru saja menghela napas nya.


"Di sini sedikit tidak nyaman untuk ku," ucap Cyra yang beranjak bangun dan menatap ke arah pria itu.


Tanpa menunggu jawaban, Cyra pun melangkah keluar. Ia menatap ke arah orang-orang yang tampak bersenang-senang itu lalu pergi.


Alessio diam sejenak, namun ia juga tak bisa langsung mengejar karna ia juga terikat dengan sesuatu.


Mungkin tak jauh dari sifat iblis alami yang menyatu di darah nya jika ia ingin kepuasan.


"Ahh!"


Wanita itu tersentak, pinggang ramping nya di tarik dan tak lama kemudian bibir nya di langsung di sambar.


"Kau seperti nya sedang terburu-buru, tenang saja mereka punya banyak wanita." ucap Cardy pada Alessio.


....

__ADS_1


45 menit kemudian.


Langkah pria itu terhenti, ia sudah mencari di dalam club' namun tak menemukannya hingga ia langsung beranjak keluar.


"Cyra?" panggil nya dengan tebakan yang benar jika gadis itu berada di luar sekitaran tempat club' tersebut.


"Sudah selesai?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria dengan bekas ciuman dari wanita yang baru saja berhubungan dengan nya yang masih tertinggal di leher nya.


Alessio tak menjawab, biasa nya ia tak cukup hanya dengan satu kali dan biasa nya juga wanita yang tidur dengan nya seperti di kuras energi nya.


"Kau sedang apa di sini? Melihat sesuatu?" tanya Alessio yang menjawab.


"Aku harus segera pulang, aku tidak boleh menyukai tempat ini." jawab Cyra yang berbeda dari pertanyaan.


"Kau suka di sini?" tanya Alessio mengernyit.


Tak ada jawaban namun wajah cantik itu menunjukkan jawaban dengan sendiri nya.


"Bukan nya ini tempat asing untuk mu? Lalu kau bilang kau juga putri Duke kan?" tanya Alessio sekali lagi.


"Ya, ini tempat asing maka nya aku suka..."


"Tidak ada yang mengenal ku dan aku juga tidak perlu berpura-pura, aku tidak perlu menjaga makan ku atau tidak perlu memakai korset yang ketat." jawab Cyra dengan lirih.


Alessio diam sejenak, ia tak pernah tau apa yang terjadi dengan gadis itu ataupun bagaimana kekaisaran yang pernah di katakan.


Karna tempat itu sama sekali tak ada di manapun. Pernah terdengar di cerita dongeng namun keberadaan nya tak nyata.


"Kalau begitu kenapa kau mau kembali? Kau bisa jadi diri mu dan memakan apapun yang kau mau, kau bisa bekerja pada ku." ucap Alessio dengan akhir kalimat yang menawarkan sesuatu.


"Ada yang harus ku lakukan di sana," jawab Cyra dengan wajah datar dan mata yang kosong namun menyimpan kemarahan.


"Benarkah? Bukan nya ada yang kau sukai di sana?" tanya Alessio dengan senyuman kecil sekaligus godaan ringan nya.


"Aku memang punya seseorang yang ku sukai, bukan. Ku rasa aku mencintai nya."


"Sangat mencintai nya..." sambung Cyra dengan bergumam.


Deg!


Alessio tersentak, ia tak tau namun ia kesal mendengar nya walaupun ia baru saja meniduri wanita lain dan belum sampai satu jam yang lalu.


"Oh ya? Karna itu kau tidak mau mereka menyentuh mu tadi?" tanya Alessio dengan senyuman miring.


Mana yang hancur dan tubuh yang rusak dengan beberapa tulang yang sudah di patahkan kemudian harus melayani n*fsu pria itu.


"Kau sepertinya lebih tertarik pada orang itu? Di bandingkan ingin tau apa yang mau ku lakukan di sana." ucap Cyra yang menatap ke arah pria di samping nya.


"Tentu! Aku baru mencium mu saja kau sudah tiba-tiba menangis!" ucap Alessio yang menatap ke arah gadis itu dengan kesal.


Dan ia tak tau alasan mengapa bisa sangat kesal.


"Kau tersinggung?" tanya Cyra.


"Tidak, hanya kesal." jawab Alessio singkat, "Lalu apa yang mau kau lakukan di sana?" sambung nya yang bertanya karna ia juga merasa bingung.


"Menghancurkan kekaisaran dan..."


"Membunuh tunangan ku," sambung Cyra yang terdengar lirih namun mata yang kali ini menunjukkan kemarahan dan kebencian yang luar biasa.


Alessio diam sejenak mendengar gadis itu ingin menghancurkan kekaisaran nya.


"Bukan nya kau tidak bisa mengatakan itu pada sembarang orang?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis yang berada di samping nya.


"Tidak apa, setelah aku kembali kita tidak akan bertemu lagi dan lagi pula kalau pun kau ada di dunia ku, mereka tidak akan percaya apa yang kau katakan." ucap Cyra yang menatap ke arah pria itu.


"Ya, mereka pasti akan menganggap ku gila." jawab Alessio singkat.


"Tapi kau mau membunuh mu tunangan mu dan kau punya pria yang kau cintai itu berarti kau selingkuh? Mereka orang yang berbeda?" tanya Alessio yang entah kenapa menjadi seseorang yang sangat amat penasaran dengan orang lain.


"Ya, mereka berbeda tapi Kaisar atau Permaisuri di bolehkan memiliki selir, kalau Kaisar tak memiliki batas dan permaisuri bisa memiliki 4 selir pria yang di sukai, anak yang di hasilkan dari hubungan selir tetap akan di anggap anak haram kecuali jika kaisar menurunkan posisi permaisuri." jawab Cyra yang menjelaskan sedikit tentang hukum kekaisaran nya.


"Tunggu? Kaisar? Permaisuri? Kau akan menikahi kaisar? Maksud ku tunangan mu?" tanya Alessio mengernyit.


"Putra mahkota yang akan menjadi kaisar," jawab Cyra singkat.


Alessio diam sejenak mendengar nya, ia tak bisa mengatakan apapun untuk beberapa saat.


Jika benar, maka posisi gadis itu sama sekali bukan main-main.


"Apa yang dia lakukan? Sampai kau sebenci itu?" Alessio tak bisa diam, ia semakin penasaran lagi dan lagi.

__ADS_1


"Kau pernah menyentuh gadis berusia 12 tahun?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria itu sekilas.


"Tidak, mereka masih anak-anak aku tidak suka." jawab Alessio singkat karna ia bukan predator anak kecil.


"Dia melakukan nya, dia juga berusaha mengambil kekuatan orang lain dengan sihir dan itu akan membuat siksaan di setiap transfer kekuatan. Dia mengambil semua orang yang ku cintai dan kemudian menggantung kepala mereka di depan ku lalu menghancurkan apapun yang ku miliki."


"Termasuk menghancurkan ku," sambung Cyra lirih.


"Kalau dia sudah sejahat itu kau bisa lakukan sesuatu kan? Kau putri Duke!" ucap Alessio yang tampak tak percaya.


Cyra tertawa kecil mendengar nya bukan nya ia senang melainkan tawa yang mengejek, mengejek pada hidup nya.


"Bahkan ketika aku mengatakan ingin membatalkan pertunangan karna dia menyentuh ku saat aku berusia 12 tahun, aku yang mendapat hukuman. Kaisar menutup mata dan ayah ku murka. Lalu setelah mendapatkan hukuman ku aku harus meminta maaf dengan nya." ucap Cyra yang mengatakan kehidupan nya yang sebelum nya.


Alessio diam sejenak, entah iba atau apa namun ia tak bisa mengerti apa yang ia rasa saat ini. Seperti iba namun ia tak pernah merasakan belas kasih untuk seseorang sebelum nya.


"Kau merasa kasihan?" tanya Cyra yang menatap ke arah wajah yang berubah itu.


"Tidak apa, sekarang sudah baik-baik saja. Kali ini aku yang akan membunuh mereka,"


Alessio tersenyum tipis mendengar nya, "Ya, kau pasti bisa melakukan nya."


"Lalu kau sudah temukan cara untuk kembali?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis itu.


"Aku pikir sudah menemukan nya tapi akan ku coba nanti." Jawab Cyra karna kali ini rencana nya sedikit berbahaya.


......................


10 Hari kemudian


Roma, Italy


Alessio menatap ke arah gadis yang duduk dengan tenang itu, pertanyaan nya belum di jawab sama sekali.


"Kau sudah bisa membaca?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis itu.


Cyra terlihat duduk dengan tenang seperti tak mendengar pertanyaan apapun.


"Cyra?" tanya Alessio memanggil nama gadis itu.


"Ya? Aku sudah bisa membaca, kau bisa tunjukkan mana yang ingin ku baca." ucap Cyra yang kali ini menjawab.


"Ini, lihat dan baca." ucap Alessio yang menatap ke arah gadis itu sembari memberikan iPad nya.


Cyra tak menjawab namun ia menerima nya dan kemudian menatap ke arah pria itu.


Kali ini ia mengerti, waktu yang terbilang cukup singkat namun hari-hari nya selalu di penuhi dengan abjad.


Terlebih lagi ia yang memahami bahasa dan hanya perlu belajar tulisan.


Cyra membaca tanpa teks yang terpotong, ia dengan lancar mengatakan setiap kalimat yang berada di benda pipih yang canggih itu.


Alessio mengangguk, ia menatap ke arah gadis itu.


"Kau takut mendapatkan hukuman dari ku? Aku bisa memberikan hukuman yang membuat mu kecanduan," ucap Alessio dengan tawa kecil nya.


Cyra tak menjawab untuk itu namun kali ini ia yang tersenyum tipis.


"Kalau begitu beri aku hadiah,"


Jawab nya yang terdengar singkat namun memiliki arti tersendiri.


Alessio tak menjawab, ia tak tau apa yang di pikirkan gadis itu namun ia tetap ingin tau.


...


Ukh!


Deg!


Deg!


Deg!


Pria itu tersentak, sesuatu yang tajam menusuk tepat di dada bidang nya.


Rasa perih dan rasa sakit yang tak pernah ia rasakan menjalar ke seluruh tubuh nya seperti sengatan listrik.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya nya yang terbangun seketika dan menatap ke arah gadis yang duduk di atas perut nya sembari menikam bagian dada yang dekat ke jantung.


"Hadiah, aku sedang minta hadiah ku." jawab Cyra yang melihat ke arah belati nya yang menunjukkan respon.

__ADS_1


Cairan merah segar itu mengalir dengan deras dan kemudian merembes ke ranjang.


__ADS_2