
Cahaya mentari mulai datang dan mulai menyinari semua tempat.
Mata perak itu perlahan terbuka, rasa berat yang berada di perut nya membuat nya tak bisa bergerak untuk sesaat.
Tenaga yang terkuras dan juga rasa pegal yang menjalar mulai menyergap segala tubuh nya.
Gadis itu menarik napas nya dan kemudian menoleh ke belakang.
Ia masih merasakan hangat dari pelukan pria itu namun ia memunggungi nya. Perlahan tangan nya mulai menggeser dan kemudian ingin beranjak pergi.
"Kau sudah bangun? Bukan nya ini terlalu cepat?"
Gadis itu berhenti sejenak, ia mendengar suara bariton yang masih serak karna pria itu yang baru saja bangun dari tidur nya.
"Singkirkan tangan mu," Ucap gadis itu dengan dingin padahal ia sendiri baru saja melakukan malam panas dengan pria yang bahkan masih ada di ranjang nya saat ini.
Alessio menarik napas nya, ia kemudian bangun dan menatap ke arah punggung putih namun terlihat memiliki bekas gigitan dan kecupan yang ia lakukan tadi malam.
"Bukan nya kau terlalu bersikap dingin pada ku?" tanya nya yang menatap ke arah gadis yang berjalan sembari mengambil mantel dari piyama tidur nya untuk menutupi tubuh polos nya.
"Kalau kau sudah tidak terlalu mengantuk kau bisa keluar dari kamar ku, aku harus memanggil pelayan untuk menyiapkan ku mandi." jawab Cyra yang bahkan tak berkedip atau pun menatap nya dengan tatapan yang hangat.
"Benar..."
"Apa yang ku harapkan dari gadis seperti mu?"
Gumam Alessio saat ia merasa gadis itu bahkan tak tergerak sama sekali setelah malam panas nya.
Cyra tak mengatakan atau pun memberi komentar nya, ia menatap ke arah pria yang bahkan masih berada di atas ranjang nya dan kemudian menatap nya dengan mata perak yang tampak begitu jernih itu.
"Aku mengatakan tentang ini hanya untuk memastikan, jangan di dengar kan kalau tidak benar dan kalau benar jangan di lakukan." ucap nya yang membuat pria itu langsung melihat ke arah nya.
Alessio tak mengatakan apapun selain menatap ke arah gadis yang tampak masih memandang nya dengan tatapan yang bahkan tak bisa ia katakan.
"Jangan menyukai ku, hubungan kita hanya sebatas saling menguntungkan." ucap gadis itu dengan wajah yang datar tanpa emosi.
Pria tampan itu kehilangan kata kata untuk beberapa saat dan kemudian menatap ke arah gadis yang mengatakan nya satu kalimat dengan begitu dingin itu.
"Tapi kalau seperti ini bukan nya lebih menguntungkan mu?" tanya pria itu yang menatap dengan tatapan mata yang tajam.
Tak pernah di tolak tentu membuat harga diri nya seakan ingin jatuh jika mendengar seorang gadis mengatakan kalimat seperti itu.
"Tapi kau juga kan? Mau ku beri tau satu bukti nya?" tanya Cyra yang mendekati kembali pria yang masih duduk di atas ranjang nya itu.
Bagian dada yang di penuhi otot dan perut yang memiliki cetak yang indah terlihat karna hanya bagian pinggang ke bawah lah yang tertutupi oleh selimut.
__ADS_1
"Ini, kau melepaskan nya tadi malam. Sesuatu yang bahkan tidak bisa ku lepaskan sendiri." ucap gadis itu yang menunjukkan gelang cantik yang bahkan masih berada di antara bantal pria itu.
Alessio tak mengatakan apapun, ia bahkan tak merasa ada yang aneh dan hanya mengiri kalau gelang itu sama dengan gelang lain nya yang biasa ia temui.
"Itu hanya gelang biasa," jawab nya dengan enteng sembari mengambil gelang tersebut dan kemudian melihat nya dengan lebih teliti.
"Ya, gelang biasa yang cantik tapi di berikan sihir pengikat." jawab Cyra yang menatap ke arah pria itu.
Alessio menoleh, ia menatap ke arah gadis yang masih berdiri di samping ranjang nya dan melihat ke arah nya.
Greb!
Tangan nya menarik gadis itu, membuat nya jatuh ke dalam pangkuan nya dan kemudian menatap dengan tatapan yang tajam.
"Bukti seperti ini masih tidak cukup, aku tidak merasa ada yang berubah dan juga aku tidak suka kalau hanya dengan kata-kata," ucap nya yang menatap ke arah wajah yang cantik dan rambut perak yang tergerai dengan indah itu.
"Benarkah?" tanya Cyra yang kemudian mendorong pria itu dengan satu tangan nya hingga bersandar di dinding yang menjadi patokan kepala ranjang yang besar itu.
Alessio tak menjawab, namun ia melihat ke arah gadis yang duduk di atas perut bidang nya.
Wajah yang cantik dengan mantel tidur yang tersingkap karna tak dapat di ikat dengan benar membuat siluet tubuh indah itu terlihat.
"Bagaimana dengan bukti seperti ini?" tanya Cyra yang kemudian bergerak seperti sedang ingin menikam jantung pria itu.
Crash!
Aroma anyir tercium, netra yang berwarna hitam itu goyah sesaat dan kemudian menatap ke arah gadis dengan wajah yang datar yang masih duduk di atas perut nya.
Greb!
"Apa yang kau lakukan?!" tanya pria itu yang langsung menarik tangan kecil yang tampak berlumuran darah itu.
"Membuktikan kalau kau sudah lebih kuat," jawab Cyra dengan datar.
Alessio tak merasakan sakit sama sekali, bahkan darah yang berada di atas tubuh nya sama sekali bukan milik nya karna ia benar-benar baik-baik saja.
Namun saat ini yang terluka adalah tangan gadis itu sendiri, kekuatan nya berbalik dan menyerang si pemberi serangan itu sendiri.
Alessio langsung bangun dan menatap ke arah tangan yang tampak penuh luka dan darah itu.
"Lihat kan? Kekuatan iblis apapun tidak terpengaruh dengan mu, kau lebih kuat dari sebelum nya tapi mana putih tentu akan memberikan reaksi." ucap Cyra yang mengatakan jika tak ada kekuatan iblis yang bisa menyentuh pria itu karna pria itu sendiri lah yang memiliki kekuatan nya.
Alessio diam sejenak, ia tak mengatakan apapun melainkan melihat ke arah tangan putih yang berlumuran dengan darah segar itu.
"Kenapa kau sampai segila ini? Astaga!" ucap nya yang tampak tak suka saat melihat luka gadis itu.
__ADS_1
"Kau bilang kau mau melihat bukti, dan aku hanya memberikan mu bukti yang bisa ku perlihatkan." jawab Cyra dengan wajah yang datar.
Memang tangan nya merasa sakit namun hal itu sendiri tentu nya tak menjadi masalah untuk nya.
Ia bisa menahan luka yang lebih besar dan tentu luka yang kecil bisa ia tahan dan hal seperti itu tak akan mengubah raut wajah nya.
"Aku tidak suka kalau melihat sesuatu yang ku inginkan hancur sebelum aku yang menghancurkan nya." ucap nya yang menatap ke arah gadis itu.
Cyra tak mengatakan apapun, ia menatap ke arah wajah yang tampak tak bisa ia mengerti.
Bagi nya peringatan yang ia berikan sudah begitu baik namun kenapa pria itu malah tetap melihat nya dan seakan berpikir jika semua akan berjalan dengan baik?
"Lalu kau juga mau menghancurkan ku? Walaupun kau sangat ingin sekalipun kau harus menunggu karna banyak yang juga ingin melihat ku hancur." ucap nya yang menatap ke arah pria itu.
"Kalau begitu aku akan menghancurkan mereka semua, dan setelah itu hanya aku yang tersisa untuk menghancurkan atau pun membangun mu." jawab nya sembari menggenggam tangan yang penuh dengan luka itu.
Cyra tak mengatakan apapun, sesekali ia melihat ke arah sinar merah yang menyilang ke arah mata nya dan kemudian menatap nya ke dengan tatapan yang begitu tajam.
......................
Langkah yang terdengar saat dedaunan kering dan juga ranting pohon yang berserakan di pijak.
Pria itu diam sesaat, menatap ke arah hutan luas dengan istana terbengkalai yang tampak sangat tak terurus.
"Tempat apa ini?" tanya nya saat melihat ke arah tempat yang begitu luas itu.
"Istana mu, kau bisa mulai membangun nya sekarang." jawab gadis itu sembari terus berjalan masuk.
Alessio tak mengatakan apapun, ia hanya menatap ke arah gadis yang tampak berjalan dan kemudian menatap ke arah punggung yang membelakangi nya itu.
Greb!
Cyra tersentak, pria itu menarik nya tiba-tiba hingga membuat nya terkejut dan tentu tubuh nya langsung tertarik.
"Kau tidak dengar? Ada orang yang memasuki tempat ini," ucap nya yang langsung menarik tangan gadis itu dan kemudian membawa nya ke tempat dan bagian istana yang bahkan gadis itu sendiri tak tau di mana.
Mata perak itu menatap dengan heran, dahi nya mengernyit bahkan saat pria itu menutup mulut nya dengan satu tangan dan kemudian melihat ke arah nya.
"Sstt..."
"Mereka seperti sedang mencari sesuatu,"
Ucap Alessio di telinga gadis itu, sedangkan Cyra masih diam. Pria itu membawa nya ke tempat yang bahkan tak ia ketahui walau pun sudah berulang kali ke istana yang sudah di tinggal itu.
Dan ia sendiri bahkan tak mendengar suara apapun padahal ia biasa nya begitu sensitif.
__ADS_1