
Alessio menatap dengan mata tajam nya sembari menaikkan satu alis nya saat melihat gadis itu bersikap pasif.
"Kenapa? Kau harus nya tau konsekuensi dari menganggu kan?" tanya Alessio sekali lagi.
"Aku harus membuat ku puas? Kau mau aku melakukan hal seperti itu?" tanya Cyra mengernyit dan kali ini menarik tangan nya dari sesuatu yang besar dan panas itu.
Greb!
Alessio menahan tangan gadis itu agar tak beranjak, dan tentu hal itu membuat kesal.
"Bukan nya kau yang bilang kalau aku membutuhkan sesuatu kau akan coba memenuhi nya? Dan sekarang aku membutuhkan nya!" ucap Alessio yang memandang kesal.
"Kau tidak takut kalau benda ini ku patahkan?" tanya Cyra sembari melirik ke arah sesuatu yang panas itu.
"Coba saja, aku juga akan mematahkan semua tulang mu," ucap Alessio yang menatap kesal namun hasrat nya sama sekali tak turun.
"Kalau begitu kontrak di terima?" tanya Cyra yang dengan cepat mencoba mengembalikan situasi agar juga menguntungkan nya.
Alessio mengernyit, ia tak mengerti apa yang di bicarakan oleh gadis itu dan tentu ia tak menjawab apapun.
Melihat pria itu diam, Cyra pun kembali bertanya, "Setuju? Jika iya, katakan kau akan mengembalikan ku pulang di hari pertama bulan berikut nya menurut kalender dunia mu." ucap Cyra sekali lagi.
"Kau akan menikam jantung ku di hari itu?" tanya Alessio yang menatap dengan bingung.
"Tidak," jawab Cyra dengan cepat.
"Lalu bagaimana aku mengembalikan mu?" Alessio tentu tak serta merta menjawab nya begitu saja, ia malah mencoba mengarahkan kembali tangan gadis itu ke sesuatu yang menjulang tinggi itu.
"Dengan meminjamkan kekuatan mu," jawab Cyra singkat, "Dan ya, kau tidak akan mati atau terluka." sambung nya lagi.
"Baik, aku akan mengembalikan mu di tanggal satu bulan berikut nya jadi puas-"
Cup!
Alessio tersentak, gadis itu mengecup leher nya dan mendorong bahu nya untuk jatuh ke atas ranjang.
"Kontrak di terima, aku akan membuat mu keluar satu kali dan setelah itu jangan berisik lagi," ucap Cyra yang beranjak memegang sesuatu yang panas itu sekali lagi.
Kontrak persetujuan bisa di lakukan saat terkena sentuhan, dan ia memilih untuk mengecup leher pria itu di bandingkan salaman karna ia harus membuat pria itu lebih mudah ter*ngsang.
Cyra diam sejenak, ia menatap ke arah benda di depan nya sebelum melakukan apapun kecuali dengan genggaman di tangan lembut nya.
Pengalaman?
Mungkin ia sudah terlalu banyak di kehidupan yang lalu dan sekarang saat Theodore melalukan semua yang bahkan tak pernah ia tau.
Humph!
Ia menyelipkan rambut nya yang tergerai dan kemudian memakan yang ada di depan nya seperti tengah mengisap permen.
Alessio tersentak, seluruh tubuh nya seperti tersengat listrik, merasakan sesuatu yang bahkan tak pernah ia rasakan sebelum nya.
Kepuasan tersendiri yang belum pernah ia rasakan sebelum nya.
Pria itu meng*rang, Cyra menatap dengan lirikan mata nya dan melihat ke arah pria itu.
Greb!
__ADS_1
Alessio menarik rambut nya dan kemudian menekan kepala nya.
Cyra tak mengeluh sama sekali, ia tetap melakukan apa yang sedang ia lakukan.
"Ukh!"
Alessio menahan kepala gadis itu saat ia mulai mencapai puncak nya.
Cyra diam, ia seperti hampir tersedak namun tak melakukan protes apapun.
"Sudah kan?" tanya nya sembari mengusap bibir nya yang basah dan kemudian menyodorkan ponsel yang membawa masalah itu.
"Ini," ucap nya sekali lagi.
Alessio terdiam seperti kehilangan semua memori sistem di kepala, ia mengembalikan tampilan ponsel itu seperti semula dan kemudian memberikan nya kembali.
Cyra keluar tanpa mengatakan apapun dan Alessio terdiam karna ia bisa mencapai puncak nya walaupun hanya dengan tangan dan mulut saja?
Apa lagi dengan sensasi yang berbeda dari yang pernah ia rasakan sebelum nya.
"Si*l! Dia memang bukan manusia," gumam Alessio yang menutup kening nya.
...
Hoek!
Gadis itu memuntahkan semua isi perut nya, bukan karna ia merasa jijik karna menelan vanila panas itu namun ia masih belum melupakan bayangan dan ingatan gadis itu.
Tangan Cyra bergetar, ia terlihat begitu tenang saat berhadapan dengan pria itu namun ia berbeda saat sendirian.
Cyra...
Lakukan apapun untuk ku, karna kau milik ku...
Deg!
Deg!
Deg!
Degupan jantung nya terasa lebih berdebar, ia merasa takut namun ia tak boleh mengatakan nya.
"Hah..."
Ia mencuci mulut nya dengan air yang mengalir itu, wastafel modern yang lebih ia sukai dari pada air dengan wadah yang di sediakan di kamar mandi mansion Duke milik ayah nya.
...
Greb!
"Berlutut!"
Satu kata yang terdengar bagai perintah itu menatap nya dengan mata menyilang.
Tangan yang memiliki urat yang besar itu perlahan memegang bibir merah muda dari gadis yang terlihat masih sangat kecil itu.
"Ukh!"
__ADS_1
Gadis itu meringis, ibu jari pria itu masuk ke dalam mulut nya dan membuat lidah nya tak bisa bergerak.
"Buka mulut mu lebih lebar,"
Ukh!
Gadis itu tersentak, ia menatap dengan mata yang berair dan menatap ke arah pria itu sekali.
Ia ingin menangis namun menahan nya dan menatap ke arah pria itu.
"Hisap!"
Gadis itu diam, mata nya berair dan menatap ke arah arah pria yang berdiri itu.
"Manis sekali, wanita yang mungkin menjadi titisan Dewi berekspresi seperti ini? Hm?"
Gadis itu tak bisa bernapas, ia hampir tersedak dan merasa kesakitan namun ia tak bisa mengatakan apapun dan hanya menahan tangis nya.
Gadis itu merasakan kepala nya di usap dari belakang, namun ia tak bisa mengatakan apapun.
....
Ukh!
"Cyra?"
"Cyra!"
Deg!
"Hah..?!"
Tubuh kecil itu seperti mengejang, keringat dingin membuat rambut nya basah dan ia tampak begitu ketakutan.
Greb!
Ukh!
Alessio tersentak, ia berusaha membangunkan gadis itu yang tampak tengah bermimpi buruk.
Namun apa sekarang?
Pisau yang tajam di layangkan kepada nya dengan tiba-tiba dan hampir menembus leher nya jika ia terlambat menggenggam pisau tajam itu.
Tes...
Buliran merah itu datang dan mulai menetes jatuh ke memenuhi bantal nya, tangan yang menggenggam pisau tajam dan membuat darah nya menyetak
"Sekarang apa? Kau seperti nya ingin membunuh ku lagi?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis itu.
Deg!
Cyra tersentak, ia tersadar dari mimpi buruk nya dan sekarang sudah kembali ke kenyataan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya nya mengernyit sembari mengambil pisau yang ia layangkan.
"Membangunkan mu, kau bermimpi buruk?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis itu.
__ADS_1
Cyra tak menjawab apapun, ia hanya diam dan perlahan bangun lalu melihat ke arah luka yang ia buat sekali lagi di tubuh pria itu.