
Entah sejak kapan ciuman berubah menjadi hal yang lebih mendalam.
Sreg!
Pria itu mendorong nya dan kemudian menatap nya dengan tatapan yang tajam dan mata yang tampak menyilang.
"Hentikan," ucap gadis itu yang seperti kehabisan napas nya saat pria yang berada di hadapan nya melepaskan ciuman yang panas itu.
"Apa?" pria itu menatap ke arah gadis yang sudah terduduk di sofa itu sementara ia sudah mengukung nya agar tak lagi bisa bergerak.
Tak ada jawaban, mata perak itu menatap ke arah leher pria yang ada di hadapan nya. Bukan tatapan yang lapar atau haus akan sesuatu.
"Kau menginginkan ku juga kan? Kalau begitu bisa hentikan kemarahan mu?" tanya pria itu sembari memegang leher kecil yang tampak sesuai dengan ukuran genggaman tangan nya.
"Kau tau sudah seperti apa yang ku rencanakan? Dan kau menghancurkan nya dalam satu hari?" tanya gadis itu yang menatap ke arah pria di depan nya dengan tatapan yang sama sekali tak merasa sedih untuk sang ayah yang sudah tiada.
Alessio diam sejenak, mata nya menelisik menatap ke arah wajah yang cantik itu dan kemudian mendekat ke pipi nya lalu mulai berbicara di telinga kecil yang sedang tak memakai anting itu.
"Kalau begitu aku akan mengikuti apa yang kau katakan mulai sekarang, tapi kau juga jangan sampai lupa kalau aku adalah seseorang yang harus nya juga kau turuti." bisik nya sembari memegang leher kecil nya dengan satu tangan nya.
Cyra menoleh, ia menatap ke arah pria yang mulai kembali mendekati nya dan menautkan bibir nya.
Humph!
__ADS_1
Kali ini gadis itu tak lagi mencoba untuk memberontak, ia pun memeluk punggung pria itu dan kemudian menahan nya.
Lum*tan yang semakin berubah menjadi agresif dan juga buayan yang membuat pikiran nya menjadi kosong.
Napas nya mulai terasa habis, gadis itu pun mulai mendorong pelan dada bidang pria itu agar menjauh dari nya sejenak dan melepaskan ciuman yang semakin dalam itu.
Tak ada pembicaraan apapun selain napas yang menderu satu sama lain untuk sesaat.
"Kau mau aku lebih lembut? Hm?" tanya pria itu yang sama sekali tak merasa marah untuk tamparan yang sudah ia terima melainkan sebalik nya.
Ia malah berubah menyentuh gadis itu menjadi lebih agresif lagi secara menyeluruh.
"Nona!"
Pintu besar yang tak terkunci itu terbuka dan kemudian menatap ke arah dua orang yang berada di depan nya.
"Maaf..."
"Saya sudah lancang,"
Cyra langsung mendorong pria itu dan Alessio pun tak lagi bersih kukuh untuk mengukung tubuh gadis itu.
"Tidak apa,"
__ADS_1
"Kenapa Bibi datang?" tanya nya yang mendekat ke arah wanita yang sudah terlihat paruh baya itu.
Ia tak lagi menundukkan pandangan nya karna kini ia sedang tak melihat pemandangan yang terbuka itu lagi.
"Saya mendengar tentang Yang Mulia Grand Duke," ucap nya yang menatap ke arah gadis yang berada di hadapan nya.
Cyra tak mengatakan apapun namun wajah yang tampak khawatir di wanita paruh baya itu mulai tersenyum dan kemudian memeluk nya.
Greb!
"Maaf, tapi saya merasa senang karna akhir nya tidak ada lagi yang melukai nona." ucap Catherine yang memeluk erat tubuh gadis bangsawan yang ia besarkan dengan kedua tangan nya.
Alessio terdiam sejenak, melihat pemandangan yang cukup aneh karna seorang pelayan memeluk tuan nya dengan erat tanpa rasa enggan dan gadis itu pun tak marah sama sekali.
Cyra tak membalas pelukan nya untuk beberapa saat dan kemudian membalas memeluk pelukan wanita itu dengan sekilas.
"Ya, tapi..."
"Jika bibi senang kenapa menangis?" tanya nya yang menatap ke arah wanita itu.
Alessio tak mengatakan apapun, ia menatap sikap yang tampak berubah. Menjadi lebih hangat seperti saat melihat gadis itu berbicara dengan kedua adik kembar nya.
Bagian mana yang harus ia percayai?
__ADS_1