My Bad Princess

My Bad Princess
Smile


__ADS_3

Pria itu tampak bingung, ia mendengar sesuatu yang tak masuk akal sama sekali.


"Jangan bicara yang tidak masuk akal sama sekali dengan ku," Ucap Alessio yang tampak kesal mendengar nya.


Cyra menarik napas nya lalu membuang nya perlahan, ia beranjak duduk kembali dan menatap ke arah pria itu lalu membuang mata nya.


"Aku tampak sedang bercanda? Apa wajah ku terlihat seperti itu?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria yang tampak bingung.


"Tapi itu gila? Maksud mu aku berasal dari tempat yang sama dengan mu? Bagaimana? Aku ingat bagaimana aku hidup di sini," ucap Alessio yang sama sekali tak memiliki ingatan apapun tentang dunia yang di sebutkan gadis itu.


"Entahlah, aku juga bingung..." jawab Cyra lirih.


"Kau memiliki jantung iblis dan inti dasar kekuatan nya tapi kau sendiri juga memiliki tubuh manusia," sambung nya yang tampak bingung.


"Lalu kesimpulan nya?" tanya Alessio yang menatap dengan wajah tak percaya.


"Kesimpulan nya kau masih bisa hidup dengan jantung iblis dan kekuatan manusia itu berarti kau belum bangkit sama sekali." ucap Cyra yang menjelaskan apa yang ada di pikiran nya.


"Berarti aku adalah iblis yang belum bangkit? Begitu?" tanya Alessio yang menatap dengan menaikkan satu alis nya.


Cyra menangguk dan menatap ke arah pria itu, ia sama sekali tak bercanda namun entah apa yang di pikirkan oleh pria yang berada di abad 21 itu.


"Hahaha! Aku tertawa! Si*l!" ucap Alessio yang terlihat tertawa dan begitu geli.


Ia tak mempercayai nya sama sekali, dan merasa gadis itu hanya memberikan humor nya yang baru bangun dari kesadaran nya.


"Kepala mu terluka sewaktu kau membunuh mereka?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis itu.


"Aku bisa membunuh mu?" tanya Cyra yang tampak kesal mendengar nya.


Alessio perlahan kembali diam dan mengatur wajah nya lagi.


"Aku sudah menyelamatkan mu," Ucap Alessio yang kini sudah dalam mode serius.


"Kau yang menempatkan ku dalam bahaya," ucap Cyra pada pria itu.


"Dan aku sudah bertanggung jawab dengan mencoba menyelamat kan mu, bahkan menggunakan darah ku." ucap Alessio sekali lagi.


"Aku menghabisi semua musuh mu bahkan harus menguras semua darah ku." jawab Cyra yang tak terbantahkan.


Alessio diam sejenak, gadis itu menjawab nya dengan cepat bahkan tanpa berkedip sekalipun.


"Kau sangat tidak suka kalah," ucap Alessio karna gadis itu selalu menjawab nya.


"Sangat! Aku sangat benci kekalahan," jawab Cyra yang terdengar lebih ketus walaupun biasa nya ia memang memandang dengan mata perak yang dingin.


Alessio tak lagi mengatakan apapun, kedua nya terdiam tanpa ada pembicaraan sama sekali.


"Lalu kapan kita pergi dari sini? Mereka terlalu banyak bicara, aku ingin membunuh mereka juga rasa nya." ucap Cyra yang tampak semakin kesal.


"Aku akan membawa mu pulang," ucap Alessio yang menatap ke arah gadis itu.

__ADS_1


"Ya. Ada yang ingin ku pastikan juga..." ucap Cyra karna belati nya berada di apart pria itu.


....


Skip


Ruang Profesor


Perdebatan yang terdengar di antara kalangan orang-orang yang belajar tentang medis dan sains ketika mendengar pasien yang sangat langka itu sudah sadar dan ingin pulang.


"Tidak bisa! Kita harus meneliti nya lebih dulu!" ucap salah satu pria yang menjawab sebagai profesor di rumah sakit itu.


"Benar! Kita harus melakukan penelitian lebih dulu!" sambung yang lain nya.


Sedangkan Alessio tampak diam dan tak mengatakan apapun. Ia hanya menggerakkan satu lirikan mata nya dan bawahan nya langsung mendekat.


Para dokter dan profesor itu terdiam, di kepung dengan orang-orang yang bertubuh besar dan kuat itu.


"Tanda tangan," ucap Alessio yang memberikan selembar kertas surat perjanjian.


"Tidak bisa! Ini-"


Greb!


Salah satu dokter yang ribut itu terdiam, lengan nya di remas oleh salah satu bawahan mafia gila di depan nya.


"Kalian baca dengan hati-hati, penelitian juga membutuhkan izin dari pemilik tubuh dan pemilik tubuh tidak mengizinkan nya. Jika kalian tetap memaksa maka dapat di katakan jika kalian melakukan tindakan ilegal."


"Aku akan menuntut kalian dengan satu juta dollar," sambung Alessio yang tentu ucapan nya memiliki keabsahan.


"Tanda tangan dan setelah itu jangan pernah mengatakan apapun tentang yang sudah kalian tau," ucap Alessio sekali lagi, dengan nada yang datar, wajah yang tajam, dan mata yang menghunus.


Para dokter itu berdehem dan kemudian terpaksa menandatangi nya lalu menatap membuang napas nya lirih.


Semua yang berada di ruangan itu terlihat gusar sejenak dan kemudian mengangguk.


Alessio bangun, tak ada satu pun yang melawan nya dan mengatakan sesuatu yang terdengar buruk seperti penolakan.


......................


Skip


Villa


Cyra menatap ke arah tempat yang berbeda dari yang ia datangi sebelum nya.


"Kita pindah, karna apart ku terlalu buruk untuk di bersihkan kita pergi ke Villa ku." ucap Alessio yang berdiri di samping gadis itu.


Cyra tak mengatakan apapun, tangan nya hanya memegang dan menyentuh belati nya seperti tak mengatakan apapun dan sedang memikirkan sesuatu.


"Nanti malam..." gumam Cyra yang terdengar ingin mengatakan sesuatu.

__ADS_1


Alessio mengernyit, ia mendekat dan menatap ke arah gadis itu.


"Apa?" tanya nya yang mencoba ingin tau apa yang di katakan oleh gadis itu.


Cyra tak mengatakan apapun lagi, ia diam dan seperti biasa menjadi gadis yang dingin dan tampak tak memiliki ekspresi sama sekali.


Ia berjalan mendahului seperti tampak melihat ke segala arah. Villa tersebut cukup besar, nyaman dan dengan gaya klasik elegan yang tampak begitu menawan dengan memberikan kesan yang menenangkan.


"Cyra?" panggil Alessio yang menatap ke arah gadis itu dan membuat nya menghentikan langkah nya.


Cyra menoleh, ia menatap ke arah pria yang memanggil nya.


Tap!


Gadis itu menangkap sesuatu di tangan nya, ia melihat ke arah sebotol gelembung sabun yang di lempar pada nya.


"Kau minta itu pada Cardy? Anak-anak," ucap Alessio tersenyum kecil dan kemudian masuk ke dalam villa nya.


"Kamar mu di samping ku juga, jadi ikuti aku." ucap nya yang sambil berjalan.


Cyra tak menjawab namun langkah nya mengikuti pria itu.


...


Pukul 01.35 am


Deg!


Alessio tersentak, mata nya terbuka seketika seperti ia yang terlihat begitu terkejut.


"Apa itu tadi?" gumam nya lirih.


Napas nya terasa berat, seluruh pori di atas kulit nya meninggi yang menunjukkan ia merinding saat ia terbangun.


Namun ia tak ingat apapun tentang mimpi yang bagi nya begitu menakutkan itu lalu dalam sekejap terlupa.


"Hah..."


Alessio membuang napas nya, ia beranjak bangun. Ia tak tidur di atas ranjang nya namun ia tertidur di ruang kerja nya saat menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ia miliki.


Alessio beranjak ke kamar nya, Villa yang memiliki desain dinding kaca di beberapa bagian itu membuat nya bisa melihat ke arah seseorang yang juga belum tidur sama sekali.


"Gelembung?" gumam Alessio yang melewati salah satu dinding kaca nya dan menatap ke arah gelembung sabun yang bertebaran dan berterbangan.


Alessio tak mengatakan apapun, namun ia mengikuti arah di mana gelembung sabun itu berasal.


Langkah nya terhenti, untuk sesaat ia terdiam di tempat yang sama.


Gadis yang sebelum nya tampak selalu dingin dan serius itu kini seperti anak-anak yang bermain gelembung sabun.


Meniup nya lalu saat melihat buih bening yang cantik itu berterbangan dan kemudian ujung bibir yang tertarik dengan mata yang tampak berbinar menatap nya.

__ADS_1


"Dia tersenyum?" gumam Alessio yang tampak memperhatikan senyum seseorang untuk pertama kali.


"Cantik..." gumam nya lirih yang tak pernah melihat sisi kekanakan dari gadis yang bahkan sampai sekarang masih terasa seperti teka-teki untuk nya.


__ADS_2