My Bad Princess

My Bad Princess
Go to hell


__ADS_3

Kekaisaran Lavensberg


March Stovoide.


Pria itu berjalan dengan langkah yang berat, ia memikirkan sesuatu sesuatu yang baru saja di sebutkan oleh sang ayah.


"Tuan?"


Edward menoleh, seseorang memanggil nya dan mendekati nya membuat mata yang biru dengan rambut hitam sehalus sutra itu menoleh.


"Ada panggilan dari istana, Putra Mahkota datang menemui dan ingin menemui anda saat ini." ucap pelayan yang tampak begitu terkejut itu karna kedatangan keluarga kaisar yang begitu mendadak.


"Kalian sudah menyambut Putra Mahkota?" tanya Edward yang langsung berjalan dengan cepat.


"Sudah-"


Brak!


"Berkumpul di aula!" ucap Marquis Blaze yang langsung keluar dari ruangan nya karna mendengar tentang kedatangan Theodore.


Sementara itu.


Pelayan yang berbaris rapi, semua yang di sediakan dengan cepat dan sebisa mungkin tak ada satu pun yang salah.


"Maaf kami terlambat menyapa anda Yang Mulia," Ucap Marquis Blaze yang menundukkan kepala nya dan juga tangan yang di lipat ke belakang dengan satu tangan lain nya menyilang di dada.


"Tidak perlu repot, aku ke sini hanya ingin menemui Marquis muda saja dan seharusnya aku yang meminta maaf karna sudah membuat kalian merasa kerepotan." ucap Theodore yang selalu menjadi calon kaisar yang di inginkan rakyat nya.


Senyuman yang menyimpan pisau yang begitu tajam di balik nya.


....


Bunga yang indah dengan bentangan aroma dari mawar putih dan juga Lily putih yang bersamaan dengan bunga berwarna putih lain nya.


Theodore menatap ke arah taman Marquis yang tampak indah itu dan mirip dengan rambut serta mata tunangan nya.


"Kau sudah tau jika Putri Mahkota menghilang?" tanya Theodore yang membuka suara sembari meminum teh yang di


sajikan pada nya di paviliun taman yang indah itu.


"Ya, saya sudah mengetahui nya." jawab Edward tanpa berbohong sama sekali karna ia dan Tarrant memang mencari tau di mana keberadaan putri sulung Grand Duke Ecklart itu.


Theodore diam sejenak, ia seperti menatap dengan mata yang melihat lirih dan kemudian melihat ke arah gelas nya yang masih penuh karna ia hanya meminum sedikit.


"Dia menghilang setelah pesta debutante nya, dan..." ucap Theodore menggantung.


"Jika anda berpikir saya ada hubungan di balik hilang nya Putri Mahkota saya akan katakan jika saya pun tengah mencari nya." ucap Edward yang langsung mengatakan karna ia tau jalan pikiran pria di depan nya.


"Aku tau kalian memiliki hubungan, dan aku membiarkan nya karna aku ingin memberi nya sedikit kebahagiaan." ucap Theodore mengatakan sesuatu yang membuat nya seperti tunangan yang sabar saat di selingkuhi.


Edward hanya tersenyum miring mendengar nya, kebahagian?


Ia memang tak ingat kehidupan pertama nya namun ia bisa melihat kehidupan yang sekarang.


Dan ia tau bagaimana pria itu memperlakukan Putri Mahkota yang sangat ia 'sayangi' itu.


"Saya tidak ingin lancang tapi menurut saya anda yang paling tau apa yang membuat putri merasa bahagia." ucap Edward yang menatap ke arah Theodore.


"Hewan pun tau mana kamar yang bisa di masuki dan mana yang tidak dan jika ada anjing yang menginginkan tempat tidur tuan nya maka harus di katakan apa yang seperti itu?" tanya nya yang menatap ke arah pria itu.


Edward diam sejenak mendengar nya, Theodore seperti sedang menyindir nya dan ia pun menyadari hal tersebut.


"Lalu anda datang ke sini hanya untuk menanyakan hal itu pada saya?" tanya Edward yang kemudian kembali menatap ke arah Theodore.

__ADS_1


Putra mahkota dari kekaisaran Lavensberg hanya tersenyum namun tak dapat di artikan apa yang sedang di pikirkan di balik senyuman itu.


"Seperti nya kau memang tidak tau apapun, aku hanya memastikan." ucap Theodore yang kemudian bangun dan menatap ke arah pria itu sekali lagi serta memberikan nya sentuhan tipis.


Edward beranjak bangun, ia berdiri dan memberikan hormat untuk pria dengan kedudukan tertinggi setelah tahta kaisar itu.


"Cyra..."


"Kau di mana?"


Edward bergumam lirih, ia sudah mencari ke sudut kekaisaran bahkan jika harus berada di dunia bawah sekali pun.


......................


Penyihir Duchy Helemites


Tarrant mengernyit, bubuk hitam yang mirip dengan permata halus itu ternyata adalah bibit dari dunia iblis.


"Tumbuhan," gumam Tarrant yang tau jika sang adik memang memiliki kekuatan untuk menumbuhkan tanaman.


"Bagiamana cara menumbuhkan nya?" tanya Tarrant pada penyihir yang ia sponsori.


"Kami sedang mencari cara bagaimana menumbuhkan bibit nya, dia menyerap darah dan racun namun sejauh ini masih belum ada yang tumbuh sama sekali." ucap salah satu penyihir dari keluarga kekaisaran itu.


Tarrant diam sejenak dan kemudian menatap ke arah bibit tumbuhan iblis itu.


"Cari orang lain dan minta mereka menelan nya," ucap nya yang memikirkan sesuatu yang lain.


Tarrant pun beranjak pergi, ia tak menoleh sama sekali dan kini ia harus mencari sesuatu.


Sesuatu yang membuat nya merasa begitu curiga.


"Kau memakan bibit itu? Astaga Cyra!" decak Tarrant yang baru menyadari sesuatu dan membuat nya sudah lebih tau sebanyak apa yang di lakukan adik nya.


...


Tarrant menatap ke arah puing yang terlihat seperti akan segera rontok itu. Ia memasuki istana yang sudah di hancurkan beratus tahun lama nya itu.


"Kebangkitan? Jika keturunan terakhir mereka masih hidup berarti..." gumam nya lirih yang kemudian mencoba mencari sesiatu yang lain.


Ia tau tempat itu adalah tempat yang terlarang karna tak semua di izinkan untuk masuk ke dalam tempat itu.


Deg!


Tarrant tersentak, prasasti besar yang ia lihat di hutan kini berada di depan nya.


Dan tak mungkin batu besar yang di ukir itu bisa di pindah dengan cepat dan kemudian berada di dekat nya.


"Apa yang tertulis di sini?" gumam Tarrant yang kemudian menyentuh nya sejenak.


"Ukh!"


Pria itu tersentak, sengatan yang mirip dengan lebah itu kembali menyetrum tangan nya dan membuat nya terdiam.


Tarrant mengernyit, ia kemudian mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai lat tulis untuk meniru tulisan yang bahkan tak bisa ia baca itu.


"Dia pasti berhubungan dengan ini," gumam Tarrant yang menghabiskan banyak waktu untuk menyalin semua tulisan aneh yang tak bisa ia baca itu ke dalam kain usang di istana terlantar itu.


......................


......................


......................

__ADS_1


Italy


Mansion Renfred


Bidikan yang tepat di depan nya, senapan panjang dengan titik yang tampak sulit untuk di uji.


"Tembakan," ucap Alessio yang mulai mengajari gadis itu menggunakan senapan panjang setelah pernah mengajari nya menggunakan pistol.


DOR!


Senapan yang panjang itu bersuara dengan kuat, asap putih yang keluar mengepul dari mata pistol itu terlihat.


"Kau selalu melampaui orang yang mengajari mu," ucap Alessio yang selalu terkagum dengan pria itu.


Cyra tak menjawab, ia malah kembali memasukkan peluru di dalam senapan nya dan menatap ke arah bidikan yang berada di depan nya.


DOR!


Satu senapan yang melesat kuat kembali terdengar, dan kali pun sama.


Satu bidikan yang kemudian mendarat tepat di tengah sasaran tanpa meleset sama sekali.


"Kau terlihat ingin menembak jantung seseorang? Apa itu yang ingin kau gunakan untuk membalaskan dendam mu?" tanya Alessio yang melipat tangan nya dan memundur lalu berdiri menatap ke arah gadis itu.


"Tidak, aku akan menusuk jantung nya dengan pedang dan berbisik kalau aku mencintai nya, aku melakukan itu karena ku pikir aku sedang jatuh cinta dengan nya." jawab Cyra dengan wajah yang tampak datar.


Alessio diam sejenak, kata-kata yang terdengar manis dengan rencana pembunuhan pada seseorang.


"Kenapa kau harus mengatakan itu?" tanya Alessio yang menatap bingung.


Cyra berhenti membidik, ia kemudian menurunkan senapan nya, diam nya yang berarti ia tengah merasakan sesuatu yang sama.


"Aku ingin mengembalikan apa yang dia katakan, ku pikir dia membisikkan kata itu untuk ku." ucap Cyra lirih.


Ia mendengar nya puluhan kali dan bahkan mungkin ratusan kali kata-kata dengan bisikan halus seperti itu.


Setiap kali tubuh nya seperti di koyak ketika kekuatan suci nya harus di pindahkan atau setiap kali kaki nya di hancurkan lalu di satukan kembali ke dalam daging yang cantik dan kemudian di paksa untuk diam.


Kata-kata seperti itu selalu ia dengar, senyuman yang manis tanpa perasaan bersalah yang telah membunuh nya berulang kali namun tak ingin menghancurkan raga nya.


Alessio tak mengatakan apapun, ia menatap ke arah gadis itu dan kemudian mendekat.


"Seharusnya kau tetap di sini saja, mungkin ini kesempatan kedua mu kalau kau tidak akan terluka lagi kan? Kau bilang kau senang di sini, kau bisa mendapatkan kebahagian mu kan?" tanya Alessio yang membujuk secara tak langsung.


"Aku terluka? Bahagia?" senyuman tipis yang getir itu terlihat.


Cyra menoleh menatap ke arah pria yang tampak mengatakan apa yang sedang ia katakan itu.


"Aku..."


"Sudah terlalu hancur itu terluka dan aku sudah terlalu rusak untuk bahagia." ucap Cyra lirih dengan mata yang tak mungkin bisa memahami apa yang ia rasakan.


Alessio tak mengatakan apapun, ia diam sejenak dan kemudian menatap ke arah gadis itu.


"Lalu kalau kau sudah melakukan semua misi mu kau akan kembali utuh? Apa kehancuran mu akan menghilang atau kau akan di perbaiki dengan sendiri nya?" tanya Alessio yang menatap ke arah Cyra dangan mata yang begitu bertanya-tanya.


"Aku melakukan nya bukan untuk membuat ku kembali utuh, tapi aku ingin mereka ikut hancur bersama ku." jawab Cyra dengan senyuman tipis.


Bukan senyuman yang cerah dan polos namun senyuman yang tampak seperti menunjukkan sisi elegan dan martabat yang di sembunyikan di balik jiwa yang hancur.


"Akan ku bawa mereka semua bersama dengan ku ke neraka." sambung Cyra dengan senyuman yang tampak berubah total.


Mata yang berseri dan tatapan yang cerah dengan mata yang menyipit akibat senyuman cantik nya.

__ADS_1


Alessio terdiam, ia terpesona dengan senyuman cantik yang cerah itu namun ia menyadari sesuatu.


Luka yang di miliki gadis itu tak akan bisa ia ukur saat sudah tau jika hanya kematian yang akan menjadi jalan akhir nya.


__ADS_2