
Mansion Renfred
Cardy mendatangi Cyra langsung, walaupun rekan nya tak setuju namun ia menyetujui apa yang di katakan.
"Kau bisa pakai ini," ucap Cardy yang memberikan beberapa bahan dan persiapan apa yang ingin di gunakan.
Ia tau gadis itu spesial karna pernah menyumpal mulut nya dengan bunga beracun.
"Berikan dulu apa yang ku minta," ucap Cyra yang meminta untuk ekstrak bunga beracun nya.
"Kau tau itu apa?" tanya Cardy yang penasaran namun ia tetap memberikan nya.
"Bunga beracun kan? Jika terlalu banyak jantung mu akan berhenti berdetak," jawab Cyra yang menuangkan nya di teh dan kemudian meminum nya langsung.
Cardy terkejut dengan tingkah gadis itu dan langsung menatap nya dengan tatapan yang tentu bisa di ekspresikan dengan wajah terkejut nya.
"Kau mau mati? Aku memberikan mu itu untuk-"
"Untuk memanfaatkan ku kan? Tenang saja, kau mau semua orang itu mati dan berlian kalian aman?" tanya Cyra yang bingung kenapa orang-orang itu memperebutkan berlian yang bahkan ia sendiri pun bingung.
Ia tau berlian adalah harta yang berharga bahkan di dunia nya namun ia tak tau jika di sini semakin berharga.
"Kalau kita bertemu di dunia ku akan menunjukan tambang berlian pada mu," ucap Cyra yang menatap ke arah Cardy karna ia memang memiliki tambang atas nama nya sendiri.
"Ck! Sombong sekali, kalau memang ada aku juga mau sih, tidak banyak mungkin hanya satu tas isi itu dengan penuh." ucap nya dengan wajah yang tak percaya.
"Bisa, tapi kau harus mati dulu untuk mendapatkan sekatung penuh berlian." jawab Cyra singkat yang tentu membicarakan tentang yang nama nya kompensasi.
__ADS_1
Cardy diam tak menjawab, percaya atau tidak namun ia tak tau dunia gadis itu nyata atau bukan.
......................
Skip
Ukh!
Darah yang merah menyala itu menyiprat di sejak arah. Sulur tanaman yang mengeluarkan duri nya itu mencabik habis apapun yang berada di dekat nya dan di anggap sebagai makanan.
Gadis itu hanya melihat dengan wajah dan mata dingin nya, ia merasa sakit namun 'tanaman peliharaan' nya begitu menikmati santapan nya.
"I.. iblis..."
Gumam nya salah satu pria yang mulai terlilit dan tercabik dengan sulur mengerikan itu.
Sedangkan semua tumbuhan beracun nya telah mencari makanan sehat nan sempurna nya.
Brak!
DOR!
DOR!
Pintu yang tampak terdobrak, suara tembakan yang terdengar begitu kuat memenuhi tempat itu seperti menghabisi semua yang berada di luar ruangan saat ini.
Deg!
__ADS_1
Pria itu menghentikan langkah nya, aroma mawar yang menyatu dengan amis darah mulai terlihat.
Mayat yang hanya menyisakan tulang berdarah terlihat dan juga gadis yang tampak santai menuangkan dadu sembari memegang beberapa berlian yang berdarah itu.
"Mereka menelan nya jadi aku mengambil nya sendiri," ucap nya yang menunjukkan berlian berdarah itu.
Alessio tampak berubah, mimik wajah nya yang tampak begitu marah melihat gadis yang harus nya tetap di mansion nya namun saat ini keluar.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya nya dengan suara yang pelan namun begitu mengintimidasi.
"Memberikan berlian berdarah untuk mu?" jawab Cyra dengan begitu tenang.
Alessio tak menjawab, ia mengarah mendekat, seperti perasaan marah saat rasa khawatir di abaikan.
Greb!
"Aku bilang tetap di mansion kenapa kau tidak menurut?!" tanya Alessio sembari mencengkram leher gadis itu.
Cyra tersenyum walau ia tak bisa bernapas, ia mengusap darah yang ada di tangan nya di bibir pria itu.
"Akoman?" gumam Cyra tersenyum.
Ia mengusap wajah pria itu walaupun leher jenjang nya tengah di cekik.
"Kau perlahan bangkit? Iblis ku?" gumam nya lirih dengan smirk nya saat melihat tatapan marah di mata pria yang tengah menyimpan maksud itu.
Humph!
__ADS_1
Alessio menarik leher kecil itu hingga bisa langsung mel*mat bibir merah muda yang ranum itu.