
Cyra membuka mata nya, sinar hangat mulai membangunkan nya saat pagi datang.
"Hum?"
Mata perak itu tampak bingung, ia memegang sesuatu yang lembut dan juga keras seperti roti kukus yang baru sajikan.
Pandangan yang masih mengabur itu belum memberi tau nya apapun sampai terkejut saat melihat seseorang yang bersama nya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya nya yang langsung bangun dan duduk lalu melihat ke arah tempat yang berbeda dari kamar nya kemarin malam.
Alessio tak mengatakan apapun, tangan dan pundak nya terluka karna gigitan gadis itu yang tiba-tiba datang dan ingin memakan nya seperti vampir yang begitu kehausan.
"Harusnya aku yang tanya, bukan kau. Ini kamar ku." ucap Alessio yang mulai ikut bangun juga dengan wajah yang dingin dan terlihat kekesalan nya.
"Kau yang memindahkan ku?" tuding Cyra karna ia sama sekali tak mengingat apapun tentang kejadian tadi malam saat ia tiba-tiba berubah.
"Apa menurut mu aku mengigit tangan ku sendiri? Bagaimana dengan ini?" tanya Alessio yang kemudian menunjukkan bahu nya yang terluka.
Cyra terdiam tak menjawab, ia juga bingung dan yang bisa di lakukan nya hanyalah mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
"Haus..."
Gumam nya yang ingat jika ia terbangun dan merasa begitu haus dengan tenggorokan yang seakan ingin terbakar lalu rasa nyeri di seluruh tubuh nya.
Alessio tak mengatakan apapun bahkan saat gadis itu mengatakan jika ia merasa haus.
Bruk!
Tangan nya mendorong pundak kecil itu dan melihat ke arah mata perak yang kemarin malam terlihat begitu merah seperti api yang menyala.
Pria itu diam sejenak, gadis itu tak menolak atau mengeluarkan sulur beracun sama sekali atas tindakan nya.
Hump!
Alis yang simetris itu tampak mengernyit saat tangan pria itu mencengkram pipi nya dan kemudian memasukkan tangan nya ke dalam mulut nya.
"Kalau kau mencoba menginginkan hal seperti itu harus nya kau bisa belajar lakukan ini dulu? Mengerti?" tanya Alessio yang kesal dan mencoba memberi peringatan.
Cyra tak menjawab, bagaimana mungkin bisa?
Saat mulut nya di sumpal dengan jemari yang di masukkan beberapa.
Alessio bangun, ia melepaskan gadis itu dan melirik dengan ekor mata yang tajam.
"Jangan coba ke kamar ku lagi," ucap nya yang terus mengatakan kalimat yang sama.
Cyra tak menjawab namun ia perlahan turun dari ranjang nya dan mulai kembali ke kamar nya dengan langkah yang masih menunjukkan kelas bangsawan nya.
Alessio tak melarang nya, ia melihat luka nya sekilas dan tentu ia harus mengobati nya.
...
Brak!
Gadis itu dengan cepat menutup pintu kamar mandi nya dan kemudian menanggalkan seluruh pakaian nya.
"Berubah..."
Gumam nya saat melihat inti mana nya yang berserakan itu.
Ia secara alami memiliki kekuatan suci dari Dewi Elaine karna keturunan dari ibu nya, namun saat di kehidupan kedua yang ia miliki ia memilih untuk mengambil fragmen iblis yang menjadikan nya lebih kuat.
Berbeda dengan kekuatan yang di berikan Dewi Elaine untuk menyembuhkan dan memulihkan, kekuatan iblis yang ia pakai memiliki eksistensi yang menghancurkan dan merusak.
Dan jika semua nya terus berserakan di dalam tubuh nya, otomatis jantung nya akan hancur terlebih dahulu.
"Apa mitos itu benar? Tapi kalau memang dia kenapa dia bisa sampai di sini?" gumam nya yang merasa aneh.
Dimensi lain dan dunia yang berbeda, saat ia berada di kekaisaran memang ada yang mengatakan jika iblis tak sepenuhnya musnah.
Keturunan terakhir nya masih hidup dan di selamatkan. Namun sejak pemusnahan dua ratus tahun yang lalu tidak ada yang bisa menunjukkan atau ciri-ciri orang yang mirip.
"Kalau itu memang dia berarti aku sudah mengikat pernjanjian..." gumam nya yang menoleh ke arah belati nya.
Perjanjian darah yang di lakukan secara tak sengaja, hanya akan menimbulkan ketidakseimbangan sehingga membuat beberapa konsekuensi.
Dan terlebih lagi semua yang kontrak dengan iblis memiliki ketertarikan dengan kontrak nya, seperti rasa suka atau memuja.
"Mungkin, bunga ku tidak bereaksi pada nya..." gumam nya lirih.
Bukan tak bereaksi sempurna melainkan bunga nya yang biasa ganas dan suka memakan sesuatu yang hidup tampak jinak dan tak ingin menyakiti pria itu.
"Tapi kenapa aku mau darah nya?" gumam nya lirih yang tak mengerti sama sekali.
Ia bahkan tak tau jika setiap kali ia merasa ingin memakan darah pria itu berarti ia lah yang akan cepat mati karna tabrakan mana dan membangkitkan secara perlahan inti sari pria itu.
Dan itu semua karna ia adalah kontraktor yang tidak di sengaja!
"Ck! Aku harus kembali dengan cepat dan membunuh Theodore lebih dulu!" decak Cyra yang merasa begitu kesal.
__ADS_1
...
Sementara itu.
Cardy yang datang dan melihat ke arah bekas luka di bahu lengan nya itu menatap dengan satu alis yang naik.
"Jadi itu alasan nya kau ingin membawa nya? Bagiamana? Menyenangkan? Seperti nya dia begitu bersemangat," tanya Cardy yang tentu sangat jelas apa yang ia pikirkan.
Alessio memejam, ia meletakkan pekerjaan nya dan menatap ke arah rekan sekaligus teman nya itu.
"Jangan bicara apapun tentang gadis itu, dia gila!" ucap nya yang masih kesal dan ingat bagaimana ia kemarin malam bergulat untuk melepaskan gigitan yang mirip dengan capitan kepiting yang tak mau lepas itu.
"Kenapa kau kesal? Dia membosankan? Atau tidak bisa membuat mu puas?" tanya Cardy yang memang sejak awal tak menyukai gadis yang aneh yang tiba-tiba datang dan membawa kekuatan tak nyata.
"Bagaimana kerja sama yang akan di lakukan di AS nanti?" tanya Alessio yang tampak tak ingin menjawab apapun dan memilih mengalihkan nya.
"Mereka seperti nya mau kita memasok obat-obatan ilegal tapi beberapa waktu lalu karna ada perselisihan kita hanya memasukkan obat yang sesuai medis dan saja." jawab Cardy tentu tak berlarut-larut mengejek rekan nya itu.
"Kita akan ke sana tiga hari lagi," ucap Alessio yang menarik napas nya.
......................
Tiga hari kemudian
Alis simetris yang cantik itu tampak mengernyit, ia terlihat bingung mengapa ada beberapa orang yang datang pada nya dengan membawa peralatan aneh.
"Mereka akan mengubah sedikit penampilan mu, agar tidak terlalu mencolok." ucap Alessio yang tak mau membawa gadis dengan penampilan yang begitu berbeda.
Cyra tak mengatakan apapun, ia beranjak duduk di kursi yang di sediakan pada nya dan membiarkan orang-orang itu menyentuh rambut nya atau wajah nya.
4 Jam kemudian.
Lensa mata di letakkan sebagai sentuhan terakhir untuk menyembunyikan penampilan asli nya.
"Aku harus menemui nya?" tanya Cyra mengulang mendengar ucapan seseorang baru saja mendandani nya itu.
"Tentu! Dia harus melihat anda atau dia tidak akan tanda!" ucap pria itu dengan tawa nya saat ia sudah selesai memberikan salon terbaik nya.
Cyra menarik napas nya, ia bertanya dia mana Alessio dan kemudian mendatangi nya.
Membuka pintu ruangan kerja yang gelap itu dan menatap ke arah pria yang berdiri dengan segelas alkohol di tangan nya.
"Kau tetap terlihat mencolok walau tanpa rambut perak mu," ucap Alessio sembari memasukkan satu tangan nya ke saku.
"Apa kita akan pergi ke suatu tempat?" tanya Cyra dengan mata menyipit seperti menginginkan jawaban.
Cyra tak mengatakan apapun, ia hanya diam dan melihat ke arah pria yang mendekati nya itu.
"Kau bisa lakukan apa yang terkahir kali kau lakukan di hutan? Tapi kali ini lebih banyak orang yang akan datang," ucap Alessio yang tentu ia tak membawa pulang gadis yang berbahaya secara cuma-cuma tanpa alasan apapun.
"Kau minta aku membunuh seseorang untuk mu?" tanya Cyra memperjelas.
"Ya! Kau tepat pada poin nya!" ucap Alessio yang tentu mengatakan nya tanpa sungkan dan dengan senyuman nya.
Cyra diam sejenak, dan kemudian seutas senyuman kecil terlihat.
"Kalau aku tidak mau?" tanya nya yang menatap ke arah pria itu dengan senyuman yang tampak tak takut apapun itu.
"Kau akan rugi, aku tidak akan membantu mu untuk kembali ke dunia mu." ucap Alessio yang tau di abad 21 tentu jika ada yang menyadari gadis itu akan ada banyak yang datang untuk mencoba menaklukkan nya, bahkan mungkin seluruh dunia.
"Kau tau bagaimana kau bisa membawa ku kembali?" tanya Cyra yang mendekat satu langkah.
Alessio tak menjawab, ia hanya melihat dengan mata nya yang tajam sembari menghirup aroma mawar yang terasa segar dari gadis itu.
Cyra berjinjit, ia mendekat dan memegang pundak yang kekar itu lalu berbisik.
"Aku bisa kembali kalau kau memberikan jantung mu." ucap nya dengan senyuman kecil dan suara yang lembut di telinga pria itu.
Alessio terdiam sejenak, ia seperti tak bisa mengatakan apapun dan juga membatu beberapa saat dan kemudian mendorong tubuh gadis itu dengan pelan.
"Sekali lagi jangan membuat kesabaran ku habis!" ucap Alessio yang tak suka mendengar candaan mengerikan itu.
Cyra hanya tersenyum, ia menatap dengan mata cantik nya yang tak lagi berwarna perak dan memperhatikan.
"Baiklah, seperti nya aku akan menuruti mu." jawab Cyra dengan jemari yang menyentuh rahang kekar itu lalu mengusap nya hingga ke garis leher yang tampak begitu Kokoh itu.
Greb!
Alessio menangkap tangan yang menyentuh nya, ia memang suka sentuhan wanita namun ia tak ingin sentuhan dari wanita yang bahkan eksistensi nya terlihat membahayakan untuk nya.
Cyra hanya memberikan senyuman tipis dan berbalik.
"Selamat malam," ucap nya yang memberikan salam nya dengan senyuman yang tampak begitu mempesona sebelum berbalik.
Alessio tak menjawab, ia mendekat ke alkohol nya dan meminum nya dalam sekali tegukan.
__ADS_1
"Dia membuat ku panas atau alkohol ini?" gumam Alessio saat merasakan ketertarikan yang membuat nya terpikat dalam artian yang tidak baik-baik saja.
......................
Ke esokkan hari nya
Los Angeles
Cyra turun dari mobil yang menjemput nya, ia menjadi pusat perhatian dari mata yang terus melihat ke arah nya semenjak dari bandara.
Penampilan yang cantik dan tampak tak masuk akal memukau setiap mata.
"Ayo," ucap Alessio yang kemudian langkah nya di ikuti oleh gadis itu.
Cyra beranjak mengikuti nya, ia melihat ke atas sekeliling nya walau ia sedikit bingung.
Tak pernah sekalipun ia merasakan dan tau benda besi yang terbang itu bisa membawa nya ke tempat yang berbeda dengan cepat.
"Apa di dunia mu tidak ada yang nama nya pesawat?" tanya Alessio dengan senyuman yang naik di ujung bibir nya.
"Tidak," jawab Cyra singkat.
"Bagaimana rasa nya?" Alessio terus bertanya pada gadis yang tampak berjalan beriringan nya dengan nya itu.
"Menyenangkan," jawab Cyra dengan datar.
Alessio tak lagi bertanya, ia hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkah nya untuk ke apart nya lebih dulu.
......................
Skip
Dua hari kemudian.
Pria tampak berlari begitu cepat, walaupun ia tau gadis aneh yang seperti hantu hutan itu kuat namun tetap saja merasa khawatir untuk bebetapa hal.
Pistol yang tepat dengan pelatuk yang siap tarik.
Brak!
Deg!
Deg!
Deg!
"Kau sudah datang? Seperti nya tempat mu berantakan,"
Suara yang selalu terdengar datar dan lembut itu bertanya.
Alessio masih terdiam, tak hanya ia namun seluruh anak buah nya yang berada di belakang nya pun tampak membatu beberapa saat.
Ruangan apartemen mewah itu terlihat berantakan, barang-barang yang hancur, bunga mawar dan kelopak nya yang tersebar di segala arah dengan darah yang berserakan.
Orang-orang yang mati berjatuhan dengan jumlah tak masuk akal seperti terus memanggil rekan nya untuk membantu.
"Mereka yang harus ku bunuh?"
Gadis itu bertanya lagi setelah ia membunuh siapapun yang datang sebelum pria itu.
Alessio masih tak menjawab, ia memang terlambat untuk datang karna ada beberapa hal yang harus ia kerjakan dan tentu nyawa nya juga menjadi taruhan.
Namun saat ia kembali?
"Kenapa kau tidak bilang mereka sangat banyak? Jumlah mana ku tid- Uhh!"
Cyra menutup mulut nya, sesuatu yang seperti mengalir keluar di dalam perut nya kini keluar.
Serr...
Alessio tersentak, ia tak sempat lagi heran dan langsung mendekat ke arah gadis itu.
Darah segar itu mengalir keluar, tanpa batuk atau tanpa muntah di mulut kecil dari gadis yang begitu cantik itu.
Greb!
Ia menarik tubuh Cyra dan merengkuh nya, sedangkan mata yang tampak berwarna perak itu karna tak memakai lensa hanya menatap nya dengan sayup.
Wajah pucat itu tak lagi meringis karena ia sudah terbiasa dengan menahan sakit.
Alessio mengusap darah yang seperti bocor dari mulut gadis itu.
"Cyra?" panggil nya lirih yang masih begitu bingung sembari mengusap darah yang terus keluar seperti air yang mengalir dengan deras itu.
"Panggil dr. Martin segara! Cepat!" perintah nya yang berteriak seketika.
Para bawahan nya pun, dengan segara berlari dan mengikuti perintah tuan nya.
"Cyra? Cyra! Jangan memejamkan mata mu!" ucap Alessio yang menatap ke arah gadis yang terlihat ingin memejam dan tertidur itu.
__ADS_1
Sesaat setelah gadis itu kehilangan kesadaran nya, seluruh tumbuhan merambat yang tadi nya membuat apart itu seperti rumah hutan kini tampak layu secara perlahan.
"Hah...?!"