
Wajah pucat itu masih diam tanpa mengatakan apapun saat merasakan sesuatu yang menusuk jantung nya.
Sedangkan pria itu tak mengatakan apapun, ia merasa yakin dan tak merasa sedikit pun jika wanita yang berada di bawah tubuh nya saat ini sedang kesakitan.
"Ukh..."
Cyra merintih, rasa sakit nya semakin terasa. Dada nya seperti terbakar dan panas yang membuat nya ingin meleleh menjadi abu.
"Lepas,"
Ucap Cyra singkat yang ingin mendorong pria itu namun begitu sulit.
Tubuh nya sekaan kehilangan tenaga, ia seperti tak memiliki daya dan hal itu membuat nya sangat membenci malam itu.
Pria itu tampak seperti tak tergerak sama sekali dan hanya menahan gigitan nya sembari menghisap semua darah yang di keluarkan oleh gadis yang berada di bawah kungkungan nya.
Cyra diam kali ini, ia tak lagi banyak bergerak dan membiarkan pria itu melakukan apa yang di inginkan.
Genggaman tangan nya mulai merasa melemah, suara nya seperti habis tak bisa keluar.
"Tidurlah, dan bermimpi di tempat yang kau inginkan..."
Bisik pria itu seperti mengatakan sebuah mantra yang perlahan membuat mata cantik itu tertutup.
...
Cyra POV
__ADS_1
Rasa nya aneh, aku merasa sesak namun napas ku keluar begitu lancar.
"Cyra?"
"Nona Cyra!"
Suara nya memanggil ku, tubuh ku terasa begitu ringan.
Tidak ada beban atau rasa sakit sama sekali, aku melihat nya. Wanita paruh baya yang berlari dengan tergesa-gesa.
"Anda berjalan tanpa alas kaki lagi? Bagaimana jika ada batu yang tak sengaja mengenai anda?"
Tatapan nya begitu khawatir pada ku, aku tak tau apa yang dia pikirkan.
"Bi? Aku boleh memanggil mu ibu?"
Suara ku keluar tanpa aku sadari, pertanyaan konyol yang awal nya tak ingin aku ucapkan namun keluar begitu saja.
"Boleh, sekarang kan hanya kita yang ada di sini? Nanti kakak nona akan kembali dan juga adik-adik nona sedang menunggu di dalam." dia menjawab dengan senyuman nya yang ramah.
Aku terdiam untuk bebetapa saat, ada beberapa hal yang tak bisa ku mengerti di balik ucapan nya.
"Tidak apa-apa? Di mana ayah?" Lagi-lagi aku bertanya seperti anak kecil yang begitu penasaran namun aku tak dapat menghentikan nya.
"Ayah? Nona merindukan Ayah anda? Kita akan datang pada nya di musim semi sembari membawa bunga,"
Bibi menjawab ku lagi, dia mengatakan mengunjungi dengan bunga di musim semi seperti akan mengunjungi makam seseorang.
__ADS_1
"Tunangan?" tanya ku yang tak ada habis nya.
"Siapa? Anda? Anda masih kecil! Jangan berpikiran yang seperti itu!" dia tanpa mengernyitkan dahi nya dengan heran sembari menatap ku dengan bingung.
"Bukan nya aku punya? Tapi aku suka di sini..." aku bingung namun senyuman ku terangkat dengan sendiri nya.
Dia pun ikut tersenyum, rasa nya tubuh ku begitu kecil.
Pelukan yang di tarik begitu hangat sampai membuat ku tak bisa mengatakan apapun lagi.
"Anda punya semua yang anda inginkan? Apapun itu."
Bisik nya seperti sebuah mantra untuk ku dan kemudian menepuk punggung ku dengan lembut.
Rasa nya sederhana namun kenapa aku menangis?
Ada apa dengan mata yang tak bisa berhenti ini?
"Astaga? Nona? Anda menangis? Aduh! Lihat kan?"
Dia mengomel namun tetap menunjukkan betapa peduli nya dia pada ku.
...
Pria itu mengusap air mata yang jatuh di pipi pucat wanita yang berada di depan nya.
Sprei putih itu masih di penuhi dengan darah namun kini tak ada bekas luka yang tampak lagi.
__ADS_1
"Kau merindukan rumah mu? Tapi bagaimana sekarang?"
"Ku rasa aku tidak mau mengirim mu kembali." bisik nya sembari mendekat dan menj*lat air mata dari gadis yang berada di dalam pengaruh ilusi nya.