My Bad Princess

My Bad Princess
Call Him Back


__ADS_3

Derap langkah kaki itu terhenti, suara pesta dan alunan musik yang perlahan menghilang.


Tangan yang masih di genggam erat sama seperti lima tahun yang lalu ketika pria itu membawa nya dari pesta yang bagi nya menyesakkan lalu menempatkan nya pada lubang yang penuh lumpur.


Pintu yang langsung terhubung ke balkon yang tampak tinggi dan dengan kejauhan dari pesta utama di aula Kekaisaran.


"Di sini lebih baik kan? Kau terlihat tidak nyaman dengan orang-orang yang berada di tempat itu," ucap Theodore yang beranjak memegang kedua bahu gadis itu seakan menunggu jawaban yang sudah ia inginkan.


Cyra diam tak menjawab nya, ia menatap ke arah mata yang tampak memandang nya dan tentu menginginkan sesuatu yang lain dari apa yang akan ia ucapkan.


"Ya, saya lebih suka di sini bersama anda." ucap gadis itu yang tau apa yang ingin di dengar oleh pria itu.


Theodore tersenyum, ia menatap ke arah mata perak itu seperti sudah menguasai sesuatu.


Tangan pria itu perlahan memeluk nya, sejak kunjungan terakhir yang di lakukan putra mahkota ke Duchy Helemites tak ada lagi pertemuan selanjutnya dan sekarang bertemu lagi di pesta Kekaisaran.


"Kau menunjukkan sesuatu yang menarik," bisik Theodore di telinga gadis itu.


Cyra diam tak mengatakan apapun saat mendengar suara yang berbisik di telinga nya.


Ia mencoba memikirkan semua kemungkinan tapi terlalu banyak yang sudah terjadi.


Smirk naik di ujung bibir pria itu dengan mata yang berwarna coklat orange nya yang terang itu sembari melihat ke arah gadis yang berada di dalam dekapan nya.


"Hal menarik apa? Yang bisa saya tunjukkan?" tanya Cyra yang mencoba tak mengerti dan menatap pria itu dengan wajah polos nya.


"Semua nya, dan aku tidak suka mendengarkan mu berbicara dengan bahasa yang formal pada ku sedangkan kau bicara dengan santai pada putra dari Marquis Blaze." ucap Theodore yang menunjukkan ketidaksukaan nya mendengar cara bicara gadis itu.


Cyra diam sejenak, "Saya jarang menemui anda, maka dari itu terasa sedikit sulit untuk berbicara dengan santai." ucap nya yang kemudian menatap ke arah pria yang masih melihat nya dengan dalam.


"Kalau begitu aku akan terus menemui mu, lagi pula kau tidak boleh di tinggal terlalu lama." ucap Theodore yang seakan mengatakan tentang bagaimana ia sedikit mengetahui apa yang terjadi.


"Cyra? Cyra ku..."


"Sudah berapa banyak hal yang kau lakukan tanpa sepengetahuan ku? Kau mencoba berubah dari seekor kelinci?" tanya Theodore sembari mengusap pipi halus yang lembut itu.


Cyra tak menjawab, ia menatap ke arah pria yang hanya terus mengusap pipi nya dan kemudian menatap nya dengan tatapan yang bahkan tak bisa ia katakan seperti apa.


"Apa maksud anda? Saya tidak kemana pun dan saya juga tidak melakukan apapun." ucap nya yang masih tetap bersikap polos seperti biasa.


Theodore menatap nya dengan senyuman simpul dan satu alis yang naik seperti tak mempercayai apa yang baru di katakan oleh gadis di depan nya.


"Istana iblis? Kau ke sana kan? Bahkan kau seperti nya punya kekuatan yang aku sendiri tidak tau." ucap pria itu dengan suara lirih.


Cyra berkedip namun wajah nya seakan memberikan penggambaran yang bingung walaupun ia sendiri sudah tau apa yang di maksud oleh pria yang ada di depan nya saat ini.


"Tidak apa, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Tidur dengan Marquis muda itu atau pun pergi dan melakukan sihir hitam."


"Tidak masalah, selagi kau masih mengikuti apa yang ku katakan." ucap Theodore dengan senyuman tipis.


Ia kesal dan mungkin merasa cemburu namun gadis itu lebih berguna di bandingkan rasa cinta yang sebenarnya ia miliki.


Cinta itu kalah dengan obsesi nya yang ingin menguasai dunia, menjadikan diri nya sebagai Dewa yang di puja.


Humph!


Mata perak itu mengernyit, bibir nya bungkam saat tiba-tiba di sambar oleh seseorang yang bahkan tak ia inginkan.


Greb!


Tangan pria itu mulai menarik pinggang kecil yang akan langsung tenggelam di dalam tubuh bidang nya.


Memeluk dan mel*mat bibir nya dengan erat bahkan sampai ia tak bisa bernapas.


Jemari kecil itu tampak meremas jas mewah serta jubah putra mahkota yang bahkan tak bisa di pakai dan pegang oleh sembarangan orang.


Seperti menolak akan ciuman panas yang baru saja di berikan oleh nya.


"Kenapa? Kau bilang kau hanya tersesat selama beberapa hari? Atau sebenarnya kau pergi dengan putra keluarga Blaze?" tanya Theodore yang sembari mengecup dan mencium lengkung leher gadis itu.


Cyra tak menjawab untuk beberapa saat, pria itu mendorong nya ke sudut balkon dan terus mengapit tubuh nya yang tentu akan dapat membuat nya jatuh jika ada langkah yang salah.


Ia mungkin akan selamat, tak akan terluka namun tentu hal itu hanya akan menambah kecurigaan Theodore pada pada nya.


"Kita sedang di luar," ucap nya yang mencoba yang mendorong pria itu yang tengah mengecupi leher nya.


Theodore mengangkat wajah nya dan menatap ke arah gadis yang memiliki bentuk wajah yang sangat berbeda dan tentu juga sangat cantik itu.


"Lalu? Tak akan ada yang berani ke sini atau melihat nya bahkan jika mereka tau," ucap pria itu yang tentu merasa tak akan ada yang berani menganggu nya.


"Ke.. Kehormatan wanita yang belum me.. menikah... i.. itu..." Suara yang tampak gugup terdengar seperti sedang takut dan malu.


Pria itu hanya tersenyum, "Kau masih memikirkan hal itu? Setelah aku sering memanggil mu ke istana dan memulangkan kan mu di hari lain? Lagi pula kau tunangan ku, tidak akan ada yang berani membuka mulut nya pada mu."


Cyra tak menjawab, ingin rasa nya ia merobek wajah pria yang ada di depan nya saat ini.


Melihat tak lagi bantahan atau penolakan, Theodore akhirnya melanjutkan ciuman nya.


Cyra tak memakai pakaian yang menggunakan korset ketat di perut nya, ia menggunakan midi dress yang tidak terlalu mengembang dan tentu hal itu mulai di sukai para bangsawan yang lain.


Karna ia sendiri adalah era mode para bangsawan di masa itu.


Kecupan pria itu kembali mendatangi lengkung leher nya, mengusap punggung nya yang terbalut dengan gaun indah dan menyingkirkan rambut panjang yang berkilau itu karna sama sekali tak di ikat.

__ADS_1


Hiasan rambut yang di gunakan pun tampak sederhana namun tentu tetap membuat nya cantik.


Greb!


Pria itu mengangkat tubuh kecil yang begitu ringan itu ke atas pinggir balkon di mana mereka berada.


Cyra tak mengatakan apapun namun ia menoleh dan kemudian melihat ke belakang untuk mengukur seberapa tinggi tempat ia berada saat ini.


"Ke mana kau melihat? Lihat aku dan jangan alihkan pandangan mu," ucap Theodore yang menggeser dagu gadis itu agar kembali melihat ke arah nya.


"Tempat ini tinggi," ucap Cyra yang melihat ke arah pria yang tersenyum simpul di depan nya.


"Kalau pun aku mendorong mu dari sini kau tidak akan mati," bisik Theodore yang kemudian turun perlahan untuk menarik gaun panjang gadis itu agar tangan nya bisa mengusap dari ujung betis hingga semakin naik.


Cyra tak menjawab, pria itu memang sudah tampak ingin mencurigai nya sejak awal dan tentu itu semua tak jauh dari gelang yang di berikan pada tempo hari yang lalu.


"Benar, kau selalu tenang seperti ini." bisik Theodore yang mengecup telinga gadis itu saat tangan nya sudah menyelinap masuk ke dalam bagian yang harus nya tak mudah untuk di sentuh oleh siapapun itu.


Aroma bunga mawar yang selalu harum terus saja tercium bagaikan parfum yang bisa di gunakan tanpa di oles sama sekali.


Dan tentu aroma itu seperti candu tersendiri untuk nya.


"Auch!"


Seperti respon alami gadis lain nya, Cyra pun tetap terlihat seperti biasa. Tangan nya seolah tanpa sadar meremas jubah pria itu dan kemudian meringis saat sesuatu menyelinap ke dalam diri nya.


"Padahal ini sudah di tahun ke lima setelah kita melakukan nya, tapi kau tetap saja butuh di renggangkan." ucap pria itu seperti tawa kecil.


Entah itu ejekan atau pun pujian, makna yang bisa memiliki arti kedua nya.


Cyra tak menjawab sama sekali namun pria itu terlihat menarik tangan nya dan kemudian membuat nya menghisap jemari yang baru di keluarkan itu.


"Lihat? Tidak ada kan? Kau akan terus merasa sakit kalau melawan," ucap Theodore yang membuat gadis itu harus mengh*sap jemari nya.


Cyra tak mengatakan apapun, lagi-lagi ia diam seperti biasa nya.


"Hah..."


"Kau selalu saja diam seperti ini, padahal pesta ini sedikit membosankan." ucap pria itu dengan senyuman tipis nya.


Sekarang waktu yang belum tepat untuk memindahkan kekuatan gadis itu dan tentu ia pun memang tak bisa melakukan nya kapan saja ia mau.


Cyra tak menjawab, ia masih diam dan melihat pria yang sudah menarik jemari yang kekar itu dari mulut nya lalu mengukung tubuh nya yang masih duduk di pinggir balkon.


"Bagaimana kalau kita buat sedikit kebisingan?" tanya Theodore dengan senyuman simpul.


Yang ia inginkan saat ini tentu bukanlah kebisingan namun melihat apakah gadis itu memang memiliki kecurigaan yang baru saja ia dapatkan.


Deg!


Mata perak itu membulat seketika, tanpa aba-aba dan tanpa peringatan. Theodore mendorong nya dari balkon yang ia duduki dan tentu tubuh nya langsung hilang keseimbangan.


Brengs*k! Apa aku harus membunuh mu sekarang?!


Gadis itu tak mengatakan apapun, ia masih tetap diam namun wajah nya seolah begitu terkejut dan tangan yang ingin menggapai pria yang mendorong nya dari balkon dengan senyuman yang tipis dan mata tanpa merasa bersalah.


Cyra tentu bisa dengan mudah menjaga keseimbangan nya dan mendarat di atas rumput yang bisa ia buat selembut mungkin seperti tempat tidur nya.


Namun tetap saja ia tak akan bisa melakukan hal itu di depan pria yang terlihat sangat ingin menjadikan diri nya bahan lelucon.


BRAK!!!


Suara yang terdengar keras itu mendarat sempurna di luar istana.


Sampai akhir pun tak ada kata-kata yang ia keluarkan kecuali hanya umpatan di dalam hati nya.


Tanah yang di hiasi dengan rerumputan itu memberikan kesan lain di warna yang mencolok.


Rambut perak yang tergerai berserakan dengan cairan merah itu serta tulang yang seakan remuk itu terlihat begitu indah di mata seseorang.


Bibir merah muda yang tipis itu pun tampak mengeluarkan darah segar yang sekaan menunjukkan sudah berapa rusak yang telah terjadi.


Gadis itu tak kehilangan kesadaran, wajah pucat nya dengan mata yang masih terbuka itu menatap ke arah pria yang terlihat mentertawakan nya dari atas.


"Yang Mulia Putri Mahkota! Yang Mulia Putri Mahkota terjatuh!"


Suara yang terdengar dari kejauhan membuat telinga gadis itu mendengar samar.


Tentu ia merasakan rasa sakit yang luar biasa saat tulang-tulang nya remuk namun bagi nya hal itu belum seberapa dengan apa yang ia rasakan di kehidupan pertama nya.


Seperti nya aku sudah bisa pura-pura mati untuk saat ini


Mendengar suara teriakan dari pengawal yang berjaga, Cyra pun mulai menutup mata nya secara perlahan.


Dan memang ia berusaha untuk tidur agar sedikit menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan saat ini.


...


Penyembuh yang dengan tingkatan tertinggi pun langsung di datangkan dari kuil.


Semua orang berada di ruangan itu tampak khawatir, entah pura-pura atau pun sungguhan.


Namun wajah dari pria yang memiliki rambut emas itu seperti tampak begitu tulus.

__ADS_1


Cahaya itu mulai redup dan kemudian para profesor yang bergerak sebagai dokter kekaisaran pun mendekat.


Karna tentu ada dua pengobatan yaitu pengobatan medis di zaman saat itu dan juga pengobatan yang menggunakan kekuatan Dewi Elaine.


"Putri Mahkota sudah melewati masa kritis nya, luka nya sudah tertutup tapi tentu pemulihan untuk tulang yang patah akan memakan waktu, lalu tidak akan ada bekas luka di tubuh Putri." terang sang dokter yang menjelaskan.


"Kau bisa keluar," ucap Kaisar yang kemudian menatap ke arah putra sulung nya.


"Dia sudah melewati masa kritis nya, dia akan segera sadar." ucap Kaisar yang seakan menghibur putra nya yang sedang sedih tanpa ia tau putra nya lah yang membuat gadis itu jatuh.


"Tidak! Ini salah ku! Seharusnya aku tidak pergi saat itu, aku tidak tau kalau..."


"Yang Mulia? Kejadian ini sama sekali bukan sesuatu yang bisa di perkirakan, jadi jangan merasa bersalah." ucap Grand Duke Ekclart yang tentu ia sendiri tak merasa begitu peduli dengan keadaan putri nya namun harus bersikap simpatik.


Theodore tak mengatakan apapun, ia menggenggam tangan gadis itu dan kemudian tersenyum kecil di balik kesedihan nya.


"Kami akan keluar, kau bisa menjaga Putri Mahkota jika itu membuat lebih tenang," ucap Kaisar yang kemudian beranjak dan memberikan isyarat agar semua orang yang berada di tempat itu keluar.


Theodore tak mengatakan apapun, ia seperti seseorang yang larut dengan kesedihan sampai tak bisa lagi mendengarkan orang lain.


Ruangan yang besar itu mulai sunyi, dan saat tak ada siapapun wajah yang sedih itu perlahan hilang lalu menatap ke arah gadis yang masih memejam itu.


Tak ada lagi kekhwatiran dan akting yang sempurna.


Pria itu hanya menunjukan seringai nya sembari menarik selimut tebal dari sutra itu dan kemudian menarik gaun yang bahkan masih berbekas darah itu karna tak sempat di ganti.


"Akan ku lihat," gumam nya yang merasa gadis itu hanya berpura-pura hampir mati walau sebenarnya memang sudah hampir mati.


Ia sendiri bisa menanyakan hal itu pada penyembuh kuil yang ia gunakan dan juga dokter yang tadi menangani tunangan nya.


Namun saat ini ia seperti memiliki gairah lain yang ia inginkan saat melihat gadis itu, mengingat wajah dan mata yang dingin serta tubuh yang berlumuran darah itu ketika menatap nya dari jauh membuat nya merasakan gejolak lain.


Pria itu tampak tak peduli, ciuman dan segala hal yang bisa ia lakukan di atas tubuh gadis itu.


Suara yang berat, dan leng*han yang terdengar memenuhi ruangan yang besar itu.


Beberapa waktu sudah terlewati, pria itu tampak berkeringat karna memang saat ini sedang tak musim dingin sama sekali.


Ia kembali memakai jubah lengkap nya, dan kemudian sekalian mengganti gaun yang berlumuran darah itu.


"Kau harus berterimakasih pada ku setelah bangun karna aku sendiri lah yang mengganti gaun mu." ucap Theodore yang tanpa merasa bersalah setalah memperk*sa gadis yang bahkan masih belum sadar setelah luka parah karna ia dorong dari balkon.


Pria itu melangkah keluar dengan langkah yang sama sekali tak berpikiran untuk menoleh ke belakang dan meminta maaf.


Ia menemui penyembuh dari kuil yang tadi ia panggil dan kemudian berbicara pada nya.


"Maksud mu dia punya kekuatan lain selain berkat Dewi?" tanya Theodore mengulang.


"Benar Yang Mulia, kekuatan suci dari kuil sedikit bertentangan dan membuat pengobatan nya menjadi lebih sulit." jawab sang penyembuh.


"Lalu kenapa dia masih tetap bisa di pulihkan? Itu bukan hal yang bisa di sembuhkan oleh dokter istana," ucap pria itu yang tentu kembali bertanya.


"Entahlah, kekuatan Dewi Elaine masih ada di tubuh Putri Mahkota tapi saya juga merasakan kekuatan Iblis," jawab nya yang menjelaskan.


Karna tentu semua petinggi di kuil Lavensberg sudah berada di bawah kekuasaan Theodore.


"Jika dia menyembunyikan hal itu pasti sudah akan lama terungkap bukan? Kenapa dia masih aman sampai sekarang?" tanya Theodore yang menatap heran.


Ia tau seperti apa Grand Duke Ekclart yang sebenarnya namun tentu ia tak pernah melakukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melindungi tunangan nya karna ia membuat hal itu sebagai objek dari penelitian nya.


"Putri Mahkota mendapatkan pemulihan dari saya semenjak tiga bulan yang lalu," ucap pria itu karna ia bisa merasakan jejak penyembuh kuil yang sebelum nya dan seberapa lama yang terakhir.


Theodore diam sejenak, ia seperti meloading sesiatu dan memikirkan kemungkinan nya yang bisa terjadi.


"Hahaha!"


Tawa yang menggema itu kemudian terdengar keras, ia seperti mendapatkan suatu info yang membuat nya ingin tertawa atau mungkin tidak?


"Kau bisa pergi," Ucap nya yang menyuruh penyembuh kuil itu untuk pergi.


Theodore kemudian berbalik, satu-satu nya seseorang yang bisa menyembuhkan dan memiliki kekuatan pemulihan sama seperti penyembuh kuil hanya ada satu di kekaisaran dan tentu sudah pasti itu adalah Kakak tertua tunangan nya.


"Sudah berapa lama kau membodohi ku?" smirik nya yang tampak meninggi namun juga merasa kesal karna seperti di perlakuan seolah badut yang mengikuti panggung.


...


Sementara itu.


Hoek!


Gadis itu memuntahkan semua yang ia makan hari ini walau sedikit, karna ia memang bukan ingin muntah namun hal itu terjadi akibat kesan traumatis yang masih tertinggal di dalam diri nya.


Memang kehidupan lama nya sudah berlalu namun semua ingatan itu seperti buah segar yang tak pernah layu di dalam pikiran nya.


Seluruh tubuh nya gemetar hebat, ia kemudian mengusap bibir nya dan menarik napas nya.


"Alessio..."


"Aku harus memanggil nya lagi,"


Gumam gadis itu yang terlihat begitu marah, namun inti mana di tubuh nya memang hampir habis.


Memang terlalu beresiko memiliki pedang bermata dua di sisi nya namun tak masalah selagi itu bisa membuat nya melenyapkan segala sumber masalah yang terjadi pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2