
Duchy Helemites
Angin lembut yang jatuh ke wajah cantik itu membuat Cyra menarik napas nya, ia tak mengatakan apapun dan kini ia sudah sendirian di kamar nya.
Sang kakak tak menjawab nya sama sekali, dan tentu walaupun ia ingat sekalipun juga tak akan bisa menjawab nya.
"Ck!"
Gadis itu tersenyum tipis, lebih tepat nya menertawakan hidup nya yang sangat tidak mulus.
Kekuatan nya hampir terkuras habis dan memungkinkan jika ia harus memulai nya lebih awal lagi.
"Tidak apa-apa, aku akan mati setelah membunuh mu..." gumam Cyra lirih yang melihat ke arah bunga yang mekar indah di tangan nya.
Dan tentu itu bukanlah bunga biasa karna serbuk nya saja begitu beracun di sana.
Warna rambut nya tak bisa kembali dengan mudah dan pada akhirnya ia memakai sihir untuk membuat warna rambut kembali.
Walaupun terlarang hanya cara itu lah yang bisa ia gunakan.
...
Tiga hari kemudian.
Cyra masih bisa menghirup udara dengan tenang karna sang ayah masih belum mengetahui jika ia sudah kembali.
Untuk makan dan beberapa aktifitas ia melakukan nya di dalam kamar dan hanya di teras balkon atau taman yang berada di dekat kamar nya.
__ADS_1
Suara langkah dengan derap yang cepat dan penuh emosional itu terdengar.
Prang!
Pria itu membalikkan meja yang berisi teh dan camilan itu.
Cyra menoleh, menatap ke arah pria paruh baya yang tampak begitu emosi dan marah saat melihat nya.
"Siang Ayah, semoga matahari Lavensberg mengikuti mu." ucap nya yang memberikan salam yang sopan pada sang ayah seperti tak terjadi apapun.
Plak!
Tanpa banyak bicara pria itu menampar putri nya yang cantik hingga jatuh dari kursi nya.
Pelayan yang berada di sana pun tersentak dan langsung membalikkan tubuh nya agar tak melihat apa yang di lakukan oleh tuan nya dan mereka pun sudah tau apa yang akan terjadi.
Cyra tak melawan, ia memang selalu bersikap seperti anak yang polos dan naif di depan sang ayah agar tak ada yang mengetahui rencana nya.
"Ma.. maaf Ayah..."
Ucap nya lirih yang seperti ketakutan dan tak melihat ke arah sang ayah.
Duke Ecklart sudah begitu murka, ia merasa jika putri sulung nya itu telah memperlakukan wajah nya ke seluruh kekaisaran.
Greb!
"Ack!"
__ADS_1
Suara yang terdengar meringis itu menengandah saat wajah nya menatap ke arah sang ayah.
"Dasar anak tidak tau malu! Kau hanya menghancurkan wajah orang tua mu!" pria paruh baya dengan kedudukan yang tinggi itu murka dan menatap geram ke arah wajah putri nya tanpa merasa iba.
Plak!
Plak!
Plak!
Tamparan yang bertubi tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjut nya karna ia tau jika ia akan di obati dengan penyembuh tingkat teratas.
Cyra tak melawan, ia hanya tampak menangis dan meringis sampai kemarahan sang ayah hilang.
Bruk!
Duke Ecklart melepaskan tangan nya dengan kasar dan kemudian menjatuhkan nya lalu pergi tanpa ada merasa bersalah sama sekali.
Tangisan terisak masih terdengar sampai sang ayah benar-benar menghilang di balik tembok kastil yang tinggi itu.
"Hiks..."
"Hi..."
"Hihi..."
Gadis itu tampak menangis namun begitu sang ayah pergi tangisan nya berubah menjadi tawa dan seringai walaupun wajah cantik itu tampak terluka.
__ADS_1
"Aku akan mematahkan tangan mu nanti," gumam nya lirih yang kemudian beranjak bangun sebelum para pelayan membantu nya.
"Panggil Tarrant," ucap nya yang memberikan perintah dan berjalan sendiri dengan gaun yang masih kotor dengan darah nya itu.