My Bad Princess

My Bad Princess
My Devil


__ADS_3

Kekaisaran Levensberg


Duchy Helemites


Mansion Ecklart


Para pelayan tampak berlarian, pagi yang damai itu kini begitu ricuh saat mengetahui salah satu putri dari Grand Duke ternama itu menghilang.


"Berani nya dia kabur!"


Seluruh ruangan kerja itu tampak berserakan. Kursi yang melayang ke udara, vas yang hancur dan bunga yang berserakan.


Pria itu begitu murka saat tau salah satu putri nya menghilang nya.


"Ayah? Tenanglah." ucap Tarrant yang mendekat pada sang ayah yang begitu marah saat ini.


"Kau terus saja membela nya?! Kalian tidur bersama?!" tuduh Grand Duke yang sedang murka.


Tarrant hanya menarik napas nya, berusaha untuk menahan emosi nya dan menatap ke arah sang ayah kembali walaupun ia tengah di tuduh melakukan perzinahan dengan adik nya sendiri.


"Di kamar nya terlihat banyak darah dan juga tidak ada saksi mata yang melihat dia kabur sendiri." ucap Tarrant yang memang menilai dengan kondisi yang lebih tenang.


"Maksud mu dia di culik?" tanya Grand Duke Ecklart dengan tatapan nya yang tampak curiga.


"Mungkin saja, lagi pula kubu pangeran kedua tidak menyukai kita. Jika memutus pertunangan dengan keluarga Ecklart itu akan menguntungkan mereka." ucap Tarrant yang memang kali ini spekulasi paling tepat adalah adik nya sedang di culik.


"Cari anak itu! Kita harus menemukan nya sebelum putra mahkota tau." ucap Grand Duke yang tampak begitu pusing dengan semua ini.


Tarrant mengangguk, ia segera bergegas untuk mencari adik nya dan juga menutup semua mulut orang di mansion untuk diam agar tak lagi mengatakan tentang putri yang menghilang.


Kedua saudari kembar itu tampak begitu panik begitu mendengar tentang berita tentang hilang nya sang kakak.


"Kak? Kak Tarrant?" panggil Yvaine menatap ke arah sang kakak.


"Kak Cyra akan baik-baik saja kan?" tanya nya lirih dengan mata biru yang begitu ingin tau kondisi sang kakak perempuan nya.


"Ya, dia akan baik-baik saja." ucap Tarrant yang juga tak tau bagaimana masa depan namun setidaknya ia tau masa kini.


......................


Semenanjung kekaisaran


Rentuhaan istana iblis


Pria itu berjalan menelusuri nya, ia mengernyit menatap ke arah altar yang tampak sudah di belah itu.

__ADS_1


"Sudah ada yang ke sini lebih dulu," ucap nya yang menatap ke arah altar yang rusak itu.


"Ck! Cari darah iblis itu!" ucap nya yang memberikan perintah pada prajurit bayangan yang bukan termasuk dalam lingkungan ksatria kekaisaran.


Orang orang yang memakai pedang itu datang menelusuri, memukul dan merayakan tanah yang tinggal puing-puing itu.


Theodore gelisah, ia membutuhkan artefak dan darah untuk kebangkitan keturunan iblis terlahir agar bisa mengikat kontrak pada nya.


......................


......................


......................


Milan, Italy


Cardy menatap ke arah gadis yang tampak tengah berjalan dan tampak terheran-heran saat ikut di bawa ke masuk ke dalam apart.


"Kenapa dia ikut bersama kita?" tanya nya saat Alessio di obati.


"Entahlah, tapi ku rasa dia akan membunuh ku jika aku tidak membawa nya." ucap Alessio saat luka-luka nya di obati.


"Kenapa bisa seperti ini? Luka nya tertutup seperti di obati dengan laser, pendarahan nya juga berkurang." ucap sang dokter yang merasa bingung melihat luka dari salah satu clien nya itu.


Setelah luka di tutup dan tubuh yang di perban, Alessio pun beranjak bangun. Ia sudah menyuruh Cardy untuk membawa pakaian ganti bagi gadis yang memiliki karakteristik yang begitu mencolok itu.


"Sekarang kau sudah lebih baik?" tanya Cyra yang duduk menatap ke arah pria yang saat ini sudah lebih bersih.


"Alessio? Dia siapa? Kita harus tau kan? Kau membangkitkan hantu hutan?" tanya Cardy sekali lagi.


"Aku juga tidak tapi tidak ada hantu secantik dia." ucap Alessio yang juga sama sekali tak tau siapa gadis itu.


"Karna dia hantu maka nya cantik! Hantu penggoda yang menghisap darah!" ucap Cardy yang berdebat sedangkan Cyra mendengar semua nya.


"Tenanglah, kalau aku hantu aku akan memakan mu lebih dulu. Aku tidak suka orang yang berisik." ucap Cyra dan dangan anggun ia mengambil teh yang di berikan pada nya.


"Kau tidak takut aku memberi mu racun?" Tanya Alessio pada gadis yang tampak begitu tenang itu.


"Aku racun yang paling kuat jadi aku tak punya masalah dengan itu." jawab Cyra dengan tenang.


Alessio diam sejenak, pembawaan yang tenang dan juga wujud yang begitu jarang di jumpai di lingkungan nya.


"Kau itu itu sebenarnya apa?" tanya nya yang menatap ke arah gadis itu.


"Aku? Entahlah tapi kau juga perlu di pertanyakan." jawab Cyra sembari menatap ke arah pria itu tanpa rasa takut.

__ADS_1


"Dia itu hantu, tidak! Dia adalah keberadaan yang tidak nyata!" ucap Cardy yang tetap tak bisa percaya dengan apa yang di lihat.


"Aku terlalu cantik untuk menjadi nyata?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria yang sejak tadi berisik.


Cardy diam sejenak, ia tersentak dan menatap ke arah gadis yang memang terlalu cantik untuk jadi nyata itu.


"Lalu siapa nama mu?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis itu.


"Kalau begitu siapa nama mu?" tanya Cyra yang tak menjawab namun ia bertanya lebih dulu.


Cardy mengernyit, sejak awal gadis itu adalah sebuah eksistensi yang mencurigakan.


"Kau tidak dengar dia yang tanya leb- Huph!" Cardy terdiam, mulut nya tiba-tiba tersumpal kelopak mawar yang begitu banyak.


"Jangan bersuara lagi, mawar itu beracun kau bisa mati kalau mengigit atau menelan nya." ucap Cyra yang merasa kesal dan terganggu dengan suara berisik itu.


Alessio diam sejenak, ia tak bisa berkata apapun untuk sekarang dan gadis itu terlalu aneh untuk di katakan sebagai manusia namun juga terlalu tak masuk akal untuk di katakan sebagai hantu hutan.


Cyra tersenyum tipis, ia beranjak mendekat sedangkan pria itu menghidupkan cerutu nya untuk kembali di hisap.


Cardy ingin protes agar Alessio tak menghisap rokok untuk saat ini karna kondisi nya tapi ia sedang sibuk untuk mengeluarkan kelopak bunga yang begitu banyak di mulut nya.


Cyra mendorong pelan, ia naik ke sofa di mana pria itu duduk dan kepulan asap yang terus mengepul keluar.


Alessio menengandah menatap gadis yang tampak tak nyata dan begitu cantik itu sembari melihat memperhatikan apa yang ingin di lakukan nya.



"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Alessio dengan asap rokok yang masih keluar dari mulut nya.


"Kau bukan manusia kan? Kau seperti iblis," ucap Cyra yang memang bisa merasakan eksistensi manusia sungguhan dengan manusia yang spesial.


"Aku sering mendengar makian itu," ucap Alessio yang merasa gadis itu sedang memaki nya karna memang banyak yang menjuluki nya sebagai iblis karna sifat nya.


Cyra tersenyum tipis, ia mengusap rambut yang berantakan itu dan mendekat.


"Itu bukan makian, itu adalah kenyataanya..." bisik lirih di telinga pria itu.


Alessio diam tak mengatakan apapun, aroma mawar yang membuat nya sekaan mabuk dan candu tercium jelas di tubuh gadis itu.


Wajah cantik yang membuat nya terhipnotis lagi-lagi menjadikan nya bungkam.


"Kau iblis nya dan aku menemukan mu," sambung Cyra sekali lagi sembari menarik rambut pria itu kebelakang agar wajah tampan itu terus menengadah dan melihat ke arah nya.


"Kalau aku memang iblis, kau lah yang akan ku makan pertama kali." sambung Alessio dengan menaikkan smrik nya melihat gadis muda yang terlalu berani pada nya.

__ADS_1


__ADS_2