
Foresta Umbra, Italy tahun 2035
Pria yang bernama Alessio Renfred, berumur 27 tahun dan di usia yang muda mampu melakukan beberapa penyerangan.
Tak tau siapa orang tua nya, karna ia hidup di panti asuhan dan berulang kali di adopsi lalu di kembalikan karna setiap kali ada kelurga baru yang mengadopsi nya maka akan timbul suatu kemalangan.
Ia pun juga tak tau apa dan sebenarnya kenapa ia sangat tertarik dengan suatu yang memuaskan ego nya.
Entah itu hasrat brutal atau n*fsu yang besar. Seperti dorongan tersendiri yang membuat nya terus bergerak dan bangun sampai ia mencapai posisi saat ini.
Masuk ke dalam organisasi gelap lalu menjadi pemimpin kelompok itu sendiri saat sudah membunuh pemimpin sebelum nya.
Alessio mendengar perintah yang ingin menembak nya itu, ia masih sangat sulit menggerakkan tubuh nya walau ia sudah mendengar dan tau jika orang-orang di tempat itu ingin mengarahkan peluru pada nya.
Ukh!
Ringis nya sembari menarik pelatuk nya dan mengarahkan lebih dulu.
DOR!
Pria itu berguling di atas tanah yang lembab dan semak itu, bawahan nya masih berusaha untuk mencari lokasi nya saat ini.
Seharusnya ia kembali dan melakukan perjalanan ke Milan malam ini setelah memeriksa beberapa perlengkapan nya yang berada di villa yang ia miliki di sekitar wilayah hutan Umbra.
Namun ternyata salah satu dari bawahan nya berkhianat yang membuat nya mendapat jebakan, karna tak mungkin orang luar tau tentang jadwal yang ia miliki.
DOR!
Ukh!
Alessio tersentak, satu peluru itu mengenai tangan kanan nya yang membuat nya menjatuhkan pistol yang ia pegang.
Rasa sakit itu masih begitu mengelilingi nya sampai membuat nya tak bisa bergerak sama sekali.
"Sial! Akan ku cabik kalian semua!" decak nya yang merasa begitu marah saat ia di serang ketika ia masih lengah terhadap rasa sakit yang tiba-tiba datang dan tak bisa mengendalikan diri nya.
Ia mengarahkan pistol nya, meraih seseorang yang paling dekat dengan nya dan berusaha memukul untuk di jadikan perisai dan di ambil senjata nya juga.
......................
......................
......................
Kekaisaran Levensberg.
Duchy Helemites
Mansion Ecklart
Beberapa memandang ke arah kamar sang putri yang tampak lebih bersinar dari biasa nya, bukan cahaya lampu namun cahaya merah yang tampak begitu terang.
Sementara itu sang pemilik kamar sama sekali tak bisa bergerak, ia masih tergeletak dan tampak menahan rasa sakit.
Apa ini?
Dia menenggelamkan ku, aku tidak bisa bernapas. Rasa nya seperti berada di dalam air.
Kenapa suara ku tidak bisa keluar?
Tidak ada yang datang ke sini? Aku juga tidak bisa bergerak. Apa aku akan mati sekarang?
__ADS_1
Kalau begitu semua nya akan menjadi sia-sia?
Cahaya merah itu menelan secara perlahan, satu persatu dan kemudian melahap tubuh gadis itu.
Putaran dan ruang yang saling terhubung membuat nya seakan mabuk dan kehilangan kesadaran nya secara perlahan sedikit demi sedikit.
Mata perak itu perlahan berubah, sinar merah yang mengikuti dari dalam iris yang bening itu sebelum ia memejam.
......................
......................
......................
Foresta Umbra, Italy tahun 2035
Deg!
Hah!
Cyra terbangun, ia tersentak dan kemudian langsung terbangun.
Iris nya yang berwarna perak itu tampak mengkilap dan berulang kali cahaya merah yang datang menyinari mata nya seperti sudah mengalirkan sesuatu yang lain di dalam tubuh nya.
DOR!
DOR!
DOR!
Suara tembakan itu terdengar, gadis itu terbangun dan langsung melihat ke arah sumber suara.
Seharusnya ia tak peduli karna yang harus lebih ia pedulikan adalah tempat di mana ia terbangun dan sama sekali tak ia ketahui.
DOR!
Sekali lagi suara tembakan itu terdengar, timbul rasa ketertarikan tersendiri yang entah dari mana untuk datang dan melihat ke arah sumber suara.
"Hum?" Cyra tersentak, sesaat ketika ia beranjak bangun, belati yang menjadi hadiah ulang tahun sang kakak berada di samping nya.
Cyra diam sejenak dan kemudian membawa belati itu.
Berjalan menembus hutan yang gelap dengan hanya mengenakan piyama putih yang tipis dengan bercak darah dari yang ia muntahkan tadi dan tanpa alas kaki menginjak rumput dan dedaunan kering yang tampak berserakan.
Mata dengan iris perak itu menyipit, ia melihat sinar terang namun tak merasakan kekuatan sihir sama sekali.
Berdiri di balik pepohonan yang besar dan melihat hujan peluru.
Cyra tampak bingung, ia melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelum nya bahkan di kehidupan nya yang dulu.
Kreta yang tampak terang seperti lampu sihir namun tak ada kuda sama sekali. Senjata yang cepat dan melesat serta berisik tanpa perlu menarik nya dan anak panah yang berada di punggung.
"Tempat apa ini?" gumam nya yang merasa begitu terkejut dan bingung dengan tempat yang ia datangi saat ini tanpa tau mengapa ia bisa berada di sana.
Belati yang berada di tangan nya bergerak, seperti menemukan sang pemilik asli. Lebih tepat nya garis keturunan asli dari benda merah yang di kita permata itu.
"Apa ini?" Cyra bertanya-tanya, ekor mata nya melirik ke arah pria yang tampak penuh luka namun tak kehilangan kesadaran nya itu.
Kemeja nya tampak tak lagi berwarna saat hanya kemerahan yang memenuhi nya, wajah tampan itu pun tampak tertutup dengan cairan merah yang berada di pipi dan kepala.
"Kenapa pisau ini menunduk ke arah nya? Apa dia ada hubungan nya?" gumam Cyra yang menatap ke arah pria yang sudah berlutut di tanah itu karna tampak kegilaan tenaga saat sudah terlalu banyak peluru yang masuk ke tubuh nya.
__ADS_1
"Lihat dia! Dia masih belum mati walaupun sudah terluka sejauh ini! Memang iblis!"
Seru salah satu pria yang tampak mendekat dengan senjata berisik yang menembak tanpa anak panah itu.
Ia mengarahkan nya pada seseorang yang sudah terluka itu namun tak memohon apa lagi meminta rasa kasihan.
Cyra masih melihat nya, tatapan yang tajam dan tampak merasa bisa menangani sendiri walaupun sudah berada di ujung tanduk.
"Hey nak? Butuh bantuan?"
Senyuman tipis terukir di wajah nya, ia keluar dari pepohonan yang besar dan rimbun itu.
Untuk sejenak semua orang yang berada di tempat itu terpesona seperti sihir dan nyanyian siren yang memabukkan.
Rambut perak yang mengkilap, wajah yang memukai dan juga warna iris mata yang tampak sangat tak masuk akal serta begitu jarang.
"Hey! Jangan melihat nya lagi! Entah dari mana pel*cur ini datang? Tangkap dia!" ucap salah satu pria yang tersadar itu.
Cyra tak mengatakan apapun, di tempat yang asing ia tak perlu menjaga image nya sebagai gadis naif yang bodoh lagi.
Krak!
"A.. apa ini?"
Salah satu pria yang mendekat pada nya tersentak, ia menatap ke arah gadis yang tampak menggerakkan tumbuhan dengan tangan nya itu.
"Berisik," tumbuhan merambat itu datang dari tangan nya, seperti monster hutan yang begitu cantik di bawa bulan yang terang.
Cras!
Tumbuhan merambat itu, menekan dan mel*mat tubuh pria itu yang tampak seperti ular yang tengah melilit hingga seluruh tubuh nya hancur dan terbelah.
"Akh!"
"Monster!"
Para pria itu terkejut seketika melihat hal yang tak biasa, sedangkan gadis itu hanya tersenyum kecil dan memejam saat melihat hujan darah yang ia ciptakan dari seseorang yang mati untuk tumbuhan nya.
"Kalian makan dengan baik?" gumam nya lirih yang melihat ke arah tangan nya yang tampak memiliki urat hitam yang menonjol.
Alessio tersentak, ia mengernyit dan tentu situasi itu pun tak nyata untuk nya.
Gadis cantik itu tampak mendekat secara perlahan, wajah cantik itu tak bisa di tutupi oleh bercak darah sama sekali.
"Akh!"
Pria yang tadi nya ingin menembak Alessio pun tampak melayang saat ada yang tiba-tiba menarik kaki nya.
"Bagaimana? Kau membutuhkan bantuan ku?" tanya Cyra sekali lagi sembari memegang dagu pria itu hingga menengandah pada nya.
"Hah? Menarik," gumam Alessio yang menatap ke arah gadis itu. Entah itu iblis atau malaikat maut yang cantik namun ia tau gadis itu lebih berbahaya dari ular berbisa.
"Kau juga," jawab Cyra dengan senyuman tipis saat ia merasa pria itu sangat harum akan sesuatu dan ketertarikan seperti nya menunjukkan sesuatu yang lain.
Gadis itu tersenyum kecil, ia menarik tangan nya dan menghisap darah yang bukan milik nya itu.
Aroma itu dari darah nya?
Rasa manis yang menyegarkan, sebelum nya ia tak pernah merasa seperti itu saat tengah memakan sesuatu.
"Bantu aku," ucap Alessio yang merasa gadis itu tak akan membahayakan nya.
__ADS_1
"Berikan aku darah mu sebagai imbalan nya," jawab Cyra yang tersenyum dan menarik tangan pria itu untuk berdiri sebelum ia membunuh semua orang yang berada di tempat itu untuk makanan tumbuhan beracun nya.