
Istana Kekaisaran
Pria itu menarik jubah yang ia kenakan dan kemudian menarik napas nya dengan dalam sembari menghirup udara yang sudah ia ambil.
"Sial,"
Decak nya yang merasa kesal sembari menatap ke arah kamar nya yang memiliki aroma lavender yang kuat itu dan kemudian mengambil cerutu yang selalu di siapkan oleh para pelayan nya.
"Hah..."
Ia menarik napas nya, mengingat dansa terakhir nya dengan seseorang yang memberi kan nya senyuman yang tak bisa ia lupakan.
"Dia tersenyum? Gila..."
Gumam nya lirih yang mengingat senyum dingin yang di berikan gadis berambut perak itu sebelum pergi.
Insiden patung Dewi masih belum terlupakan Dangan mudah, dan kemudian di tambah lagi dengan masalah yang timbul saat salah satu bangsawan kekaisaran tingkat atas tiba-tiba mengalami kecelakaan.
"Dia semakin menarik,"
Gumam nya yang kemudian berjalan mendekat ke arah jendela.dwngab tirai tipis yang berkibar akibat angin malam itu.
......................
__ADS_1
Duchy Helemites
Tes...
Tes...
Tes...
Pria itu tak bisa berkata apapun lagi, tangan yang terluka dengan aroma anyir yang bersembunyi di balik aroma harum mawar itu menyamarkan bau.
"Kau sudah bisa hentikan?"
Tanya nya yang mendekat, beruang yang mati seperti tangkapan yang tak biasa.
"Ya, aku percaya." jawaban singkat dengan tangan yang meraih tangan kecil yang terluka itu.
"Apa yang membuat mu sangat marah? Sampai mencari pemburuan di malam hari?" pria itu bertanya sembari membalut luka yang berada di tangan gadis berambut perak itu.
"Seperti nya aku ketahuan," ucap nya dengan suara lirih namun tersenyum seperti sedang menertawakan dan mengejek diri nya sendiri.
"Dengan?" tanya nya yang kemudian menatap dengan kernyitan di dahi nya.
Greb!
__ADS_1
Gadis itu tak menjawab namun ia memutar tangan nya dan meraih tangan pria yang sedang membalut luka nya lalu menatap nya dangan tatapan yang tajam.
"Apa yang kau bicarakan dengan nya di luar? Kalian bersama sebelum nya kan?'' tanya nya yang menatap ke arah pria itu dan kemudian memegang tangan yang baru saja membalut luka di tangan halus nya.
"Kau penasaran?" tanya Alessio dengan menaikkan satu alis nya yang menatap ke arah gadis yang berada di depan nya sembari menarik tangan nya agar gadis itu ikut tertarik.
"Kau sedang khawatir dengan ku atau dengan si brengsek itu?" tanya nya sekali lagi dengan tatapan yang tajam seperti memancarkan aura kecemburuan.
"Jawab saja, apa yang kalian bicarakan saat di luar waktu itu?" tanya Cyra mengulang dan kemudian menatap ke arah pria yang berada di depan nya.
"Dia tanya apa aku salah satu dari iblis atau tidak," jawab Alessio yang sembari melanjutkan ikatan balutan luka di tangan gadis itu lalu memundur satu langkah.
"Lalu? Apa jawaban mu?" tanya Cyra yang dengan tatapan penuh penasaran saat mendengar pria di depan nya bercerita tentang pembicaraan yang terjadi di luar mansion saat pengangkatan sang kakak.
"Aku bilang kalau dia yang lebih mirip dengan titisan iblis," jawab Alessio singkat sembari mengendikkan bahu nya.
Cyra tak menjawab namun ia malah tersenyum kecil mendengar hal tersebut dan kemudian menarik napas nya.
"Kalau begitu kita kembali?" tanya nya yang kali ini menawarkan untuk kembali lebih dulu.
Alessio diam sejenak, ia menatap gadis di bawah rembulan itu. Penuh dengan keindahan dan darah.
"Ya, kita..." jawab nya lirih saat ia menyukai kata 'kita' yang di sebutkan.
__ADS_1