
Bruk!
Gadis itu menjatuhkan tubuh nya di atas ranjang dan kemudian menarik napas nya.
Tubuh nya masih terasa begitu sakit terutama wajah nya yang membiru dan terluka akibat pukulan sang ayah.
Namun tak ada satu tetes pun air mata yang benar-benar ia keluarkan kecuali air mata yang ia gunakan untuk menipu sang ayah.
Hah...
Suara tarikan napas nya terdengar, ia menatap ke arah langit-langit kamar nya yang penuh dengan ornamen yang mirip dengan kamar sang putri.
Walaupun memang benar jika ia adalah gadis yang paling di agungkan setelah permaisuri saat ini.
Brak!
Pintu yang panjang dan tinggi itu terbuka, gadis itu menatap ke arah seseorang yang masuk dengan terburu-buru saat membuka pintu ruangan nya.
"Kau baik-baik saja?"
Suara yang terdengar tersengal-sengal itu menatap dengan tatapan khawatir dan kemudian mendekat.
__ADS_1
Cyra duduk di pinggir ranjang nya dan kemudian menarik napas tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan pada nya.
"Obati aku, sebelum penyembuh dari kuil datang." ucap nya yang tak menjawab namun meminta sesuatu.
Tarrant tak menjawab namun ia menatap mata dingin yang sudah terlihat baik-baik saja dan kemudian mendekat ke arah nya.
"Walaupun kekuatan ku hampir menghilang tapi tetap saja mereka akan tau kalau aku menggunakan kekuatan iblis," ucap Cyra yang mengatakan pada pria yang kini sudah tepat berdiri di depan nya.
Tarrant tak menjawab nya, namun ia menatap ke arah mata perak yang tampak tak menunjukkan emosi apapun.
"Kau bilang kau ingat apa yang terjadi di ulang tahun ke 15 mu kan?" tanya Tarrant yang menatap ke arah gadis itu dengan dalam.
"Ya," satu kata yang singkat dan tampak tak merasa kecewa, takut atau khawatir sama sekali.
"Apa yang harus ku takutkan? Sejak awal kau tidak pernah menganggap ku sebagai adik mu kan? Bukan aku tapi Yvone dan Yvoine juga kan? Sejak awal kau tidak pernah mengakui kami sebagai saudari mu..."
"Oh? Mungkin karna kau masih memikirkan ibu mu? Grand Duchess pertama juga bunuh diri kan? Sejak itu kau tidak pernah menganggap wanita lain yang di nikahi ayah sebagai ibu mu," sambung Cyra dengan senyuman tipis dan wajah yang dingin.
Tarrant tak mengatakan apapun, wajah nya langsung berubah mendengar ucapan yang sebenarnya sangat tak ia sukai.
"Hey? Jangan diam, lihat aku dan jawab aku." ucap Cyra yang meraih tangan yang menggantung tanpa bergerak itu.
__ADS_1
"Jangan bicara apapun tentang Grand Duchess pertama," ucap Tarrant yang mengatakan tentang ibu namun menyebutkan gelar yang lengkap.
"Aku hanya membahas nya, lagi pula dia bukan Grand Duchess pertama tapi satu-satu nya Grand Duchess kan?" tanya Cyra yang tersenyum.
Grand Duchess Pricecilia yang sudah tiada semenjak 18 tahun yang lalu namun masih seolah hidup dan tinggal di mansion selama 18 tahun.
Hanya untuk membuat nama anak-anak perempuan dari Grand Duke Ekclart menjadi anak-anak nya juga.
"Tapi aku jadi penasaran, ibu ku itu seperti apa ya? Apa dia sama seperti ku? Atau seperti Ayah?" tanya Cyra yang sedikit berpikir.
Tarrant diam tanpa mengatakan apapun dan menatap ke arah gadis itu.
"Tapi sudahlah, kau di sini bukan itu menjawab pertanyaan tapi untuk mengobati ku kan?" tanya Cyra yang berdiri dan kemudian menengandah untuk melihat wajah yang menatap nya dari dekat itu.
Tak ada jawaban, namun pria itu melihat bagaimana tangan yang halus dan lembut itu menyentuh rahang nya dan kemudian mengusap nya lalu menatap ke arah nya.
"Sekarang, kau bisa gunakan kekuatan mu. Entah itu akan sama seperti malam itu atau tidak aku tak peduli." ucap Cyra yang menatap ke arah pria yang ada di depan nya.
Greb!
Satu tarikan yang berada di pinggang ramping itu dan kemudian menarik tengkuk nya lalu mulai mencium nya.
__ADS_1
Aliran mana yang hanya bisa di salurkan dan gunakan melalui sentuhan membuat nya mencium bibir gadis itu.
Cyra tak menutup mata nya dan juga tidak merasa gugup atau takut, rasa sakit nya perlahan menghilang dan juga ia yang merasa bibir nya yang terus terisap.