
Alessio menahan rasa kesal nya, gadis itu tampak tenang. Tak takut dengan ancaman dan juga tak terpengaruh dengan lingkungan sekitar nya.
"Kau memakai gaun berwarna putih?" tanya Alessio saat melihat gadis itu memakai gaun yang sama seperti warna mata dan rambut nya.
"Kenapa? Apa terlihat buruk?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria itu.
"Tidak, itu cantik." jawab Alessio singkat dan kemudian mendekat.
Ia mengambil salah satu dari barang yang ia berikan lalu mendekat.
Cyra diam tak mengatakan apapun namun ia melihat ke arah kalung permata yang menggantung di leher nya.
"Aku benci kalung..." gumam nya yang merasa seperti seseorang memberi rantai di leher nya.
"Apa?" Alessio mengernyitkan dahi nya saat mendengar gadis itu bergumam.
Ia menoleh dan menatap ke arah nya namun setelah itu Cyra kembali diam.
"Bersiaplah, kita akan pergi." ucap nya yang beranjak.
Sedangkan gadis itu melihat ke arah nya, tak ada polesan make up, wajah yang polos dan pucat dengan warna mata dan rambut yang sangat tak biasa sama sekali.
"Kita mau ke mana?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria itu.
"Apa aku harus menjawab pertanyaan ini?" tanya Alessio yang melihat ke arah gadis itu.
"Dan lagi jangan bicara seperti aku adalah anak mu, kau bahkan lebih muda dari ku." sambung nya yang tentu secara umur saat ini memang ia yang lebih tua.
"Tapi umur ku lebih banyak dari mu," sambung Cyra dengan santai dan melewati pria itu.
Tak perlu parfum lagi untuk membuat harum tubuh gadis berambut perak itu karna aroma mawar yang segar dan lembut sudah mengelilingi nya.
...
Cyra sekali lagi merasakan benda bergerak yang tanpa bantuan kuda atau sihir, tak hanya ia namun banyak yang menggunakan nya.
"Apa ini juga baru untuk mu? Di dunia mu tidak pemandangan seperti ini?" tanya Alessio sembari menoleh ke samping kanan nya pada gadis yang tampak membuka jendela dan melihat ke arah luar.
"Tidak ada, ku rasa tempat ini menyenangkan." ucap Cyra tanpa melihat ke arah seseorang bertanya pada nya.
"Lalu kau mau tinggal di sini?" tanya Alessio pada gadis itu.
Sedangkan sang supir terkadang terus melirik ke arah bangku penumpang untuk melihat gadis cantik yang seperti Peri hutan itu.
"Tidak," jawab Cyra singkat.
Semudah dan sesuka apapun ia pada dunia baru itu ia tetap ingin kembali ke dunia nya dan membunuh putra mahkota lalu menghabisi kekaisaran.
Alessio tak mengatakan apapun, wajah yang datar, tatapan mata yang kosong. Seperti bukan tak takut mati namun terlihat sudah mati.
...
Mansion Renfred
4 Jam kemudian
Mobil mewah itu berhenti, Cyra masih diam sampai seseorang membuka pintu mobil nya dan mempersilahkan nya untuk keluar.
"Ini tempat tinggal mu?" tanya Cyra yang menoleh ke arah pria itu.
"Ya, bagaimana? Bagus bukan?" tanya Alessio yang tersenyum.
"Ya, lebih kecil tapi dengan peraturan yang baik." jawab Cyra yang melihat ke arah seluruh mansion megah itu namun tentu mansion keluarga Duke milik nya atau istana kekaisaran lebih besar dari tempat yang ia lihat ini.
Walaupun sebenarnya mansion saat ini pun sudah tergolong mansion yang sangat mewah untuk ukuran manusia abad 21.
"Kecil? Menurut mu ini kecil?" tanya Alessio tak percaya.
"Tidak, ini tempat yang besar hanya saja lebih kecil dari tempat tinggal ku." Jawab Cyra yang kemudian beranjak masuk.
Alessio mengikuti gadis itu dari belakang dan kemudian memotong nya agar menuntun nya ke kamar yang akan di tempati.
"Kau akan tidur di sini, ini kamar mu." ucap Alessio pada gadis itu.
"Lalu kamar mu?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria itu.
"Di sana," Ucap Alessio sembari menunjuk dengan dagu nya ke arah lantai dua.
"Aku mau kamar di samping kamar yang kau tiduri," ucap Cyra yang tanpa ragu dan tanpa takut.
"Tidak, kau tidur di sini." ucap Alessio yang tak ingin mengikuti semua yang di katakan oleh gadis itu.
Cyra diam dan menatap dengan mata perak nya yang tampak kosong itu.
"Ikuti perintah ku, kau tidak akan rugi." ucap Cyra dengan suara suara lembut sembari ujung jemari nya yang halus itu menyentuh wajah tampan pria di depan nya.
__ADS_1
Alessio hanya menarik napas nya, ia tak percaya gadis itu bisa bersikap sesuka hati pada nya.
Greb!
Tangan nya mencekal, ia menarik dan secepat kilat memojokkan gadis itu di dinding lalu mengeluarkan pistol di balik jas nya.
Tak!
Pelatuk itu tampak di atur, dan hanya dalam satu kali tarikan timah panas itu itu akan melesat dengan cepat dan menembus kepala kecil dengan rambut yang mengkilap itu.
"Menurut mu aku tidak bisa membunuh mu? Kau terlalu mempercayai ku? Aku bukan orang baik," ucap nya yang mengarahkan pistol tepat di kepala gadis itu.
Cyra tersenyum tipis, tangan nya memegang pistol yang berada di kepala nya.
"Kau masih terlalu lemah untuk mengancam ku," ucap nya dengan mata mengkilap hingga membuat bayangan pria tampan itu terlihat.
Alessio mengernyit mendengar nya, tangan yang pucat dan kecil itu tiba-tiba bergerak ke atas mengarahkan pistol nya ke arah lain.
DOR!
Tap!
Gadis itu memutar tangan nya, mengarahkan pistol itu menumbuhkan tumbuhan berduri untuk membuat pria itu terkejut lalu mengambil senjata nya.
"Hah?!"
Alessio tersentak, kecepatan itu bukanlah kecepatan yang bisa di lakukan oleh manusia biasa.
"Seperti ini? Apa aku harus menarik nya juga?" tanya Cyra yang kali ini menodongkan pistol ke arah pria yang mencoba mengancam nya itu.
Alessio tampak tak bisa berkata-kata dulu untuk saat ini. Ia terdiam dan tampak tengah mencerna suasana nya.
Baru kali ini ada yang merebut senjata dari tangan nya, mengancam nya dengan begitu tenang dan indah.
Senyuman nya terukir, rasa segar seperti menemukan sesuatu yang baru dan memenuhi rasa tertinggal dan kehilangan yang tidak ia ketahui sama sekali.
"Hahahaha!"
Suara tawa nya terdengar menggelegar, ia tak pernah merasa seperti. Kekalahan yang terasa begitu menyenangkan.
Cyra diam tak mengatakan apapun, ia bingung mengapa pria itu tertawa begitu keras.
"Ya, Aku akan memberikan mu kamar di samping ku." ucap Alessio dengan smirk di wajah nya dan kemudian beranjak pergi.
Gadis itu menurunkan tangan tangan nya, ia melihat ke arah pistol yang tentu baru kali ini ia pegang.
......................
"Hah!"
Alessio membuang napas nya dengan berat, percobaan pembunuhan di hutan waktu itu tentu menimbulkan konflik saat ini.
"Dapatkan barang itu lebih dulu dan jangan membunuh mereka," ucap nya pada Cardy
Cardy mengangguk karna ia setuju, "Lalu aku bisa tanya tentang dia?"
Alessio menoleh saat rekan nya itu menunjuk dengan dagu nya ke arah jendela yang menunjukkan bagian bawah mansion dan memperlihatkan gadis berambut perak itu yang tengah berjalan-jalan di taman.
"Dia akan berguna, kau tau? Kita seperti mendapatkan mesin pembunuh yang lebih baik dari bom." ucap Alessio yang tau gadis itu seperti apa.
Memiliki kecantikan yang memikat, aroma yang harum memabukkan namun di balik keindahan itu tersimpan sesuatu yang sangat mematikan.
"Kalau kau berpikir begitu terserah mu, ku harap ini bukan keputusan yang salah." ucap Cardy yang menatap ke arah pria itu.
Alessio tak menjawab, ia hanya menarik napas nya dan kemudian pria itu beranjak keluar.
"Dia terlihat seperti anak kecil," ucap Alessio saat melihat ke arah gadis yang tampak begitu penasaran dengan segala hal baru di dunia nya.
Pria itu berbalik, ia duduk kembali ke meja nya dan melihat ke arah laptop nya kembali.
Ia sudah mencari tentang kekaisaran yang di katakan oleh gadis itu, Duchy yang di sebutkan dan juga tempat yang di katakan.
Tak ada sumber sejarah apapun, namun ia menemukan sesuatu yang mirip seperti dongeng.
Sebuah tempat yang seperti legenda dan dongeng untuk orang dewasa. Kerajaan yang telah punah dan bahkan eksistensi nya hanya seperti mitos.
Di katakan paling maju dan masih penuh dengan sihir, terlihat tak masuk akal bukan?
Sangat cocok untuk jadi hanya sebuah cerita masyarakat dan dongeng sebelum tidur.
...
Makan malam
Alessio melirik ke arah gadis yang tampak makan dengan begitu elegan itu. Tak menimbulkan suara dan juga bisa bergerak dengan anggun walaupun peralatan yang di gunakan sangat banyak untuk memilih.
"Aku mencari tempat yang kau katakan, kekaisaran Levensberg?" ucap Alessio yang membuat Cyra langsung menoleh.
__ADS_1
"Kau menemukan nya? Seberapa jauh dari tempat ini? Atau kau bisa ke sana?" tanya Cyra yang tampak begitu penasaran karna ia sejak ia datang ke dunia itu ia selalu mencari cara untuk kembali ke dunia nya.
"Tidak ada," ucap Alessio yang tampak menarik napas nya.
"Tidak ada? Kau sedang bercanda?" tanya Cyra yang mengernyit tak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh pria itu.
"Kekaisaran yang kau katakan itu hanya menjadi dongeng di tempat ini, tidak ada bukti fisik nya jika tempat itu nyata. Ada beberapa cerita yang mengatakan kekaisaran itu menghilang karna gempa dan sudah menjadi lautan."
"Ada beberapa cerita yang bilang juga, jika itu adalah kerajaan yang muncul di malam hari dan tenggelam di dalam tanah. Tidak ada bukti apapun dan hanya cerita masyarakat saja." sambung Alessio karna ia mencari semua nya.
"Lalu Duchy Helemites? Kau sudah mencari nya?" tanya Cyra sekali lagi.
"Tidak ada, informasi tentang Kekaisaran itu saja seperti tak nyata apa lagi tentang wilayah pembagian nya? Dan lagi? Kau memang tidak salah kan? Atau ada sesuatu yang salah di sini?" tanya Alessio sembari mengetuk kepala nya yang tampak mengatakan jika gadis itu punya masalah mental.
Cyra menatap dengan dingin, ekor mata nya yang tajam dan kemudian melihat pria itu.
"Lalu apa ini tidak nyata untuk mu?" tanya nya sembari menumbuhkan sesuatu dari tangan nya.
Alessio lagi-lagi bungkam, tentu nya tak mungkin ia ikut gila karna melihat tanaman itu tumbuh dari ujung jemari gadis cantik itu.
"Cyra? Kalau bisa ku katakan kau juga terlihat seperti tidak nyata, Kau punya warna rambut yang sangat tak masuk akal dan mata yang terlihat sangat berbeda dari orang lain." ucap nya pada gadis itu.
"Di tempat ku juga warna mata dan rambut ku sangat jarang di temui." ucap Cyra yang memang tau jika warna rambut dan mata nya adalah tak umum.
"Malam ini berikan aku darah mu," ucap nya yang kemudian beranjak pergi.
Alessio tak menjawab, di bandingkan hantu hutan gadis itu lebih mirip vampir penghisap darah yang menyukai nya.
...
Malam, Pukul 01.45 am
Ukh!
Akh!
Tubuh kecil itu tampak gelisah dan kesakitan, ia meremas semua yang berada di bantal dan sprei nya lalu menggeliat seperti cacing yang di siram minyak panas.
Deg!
Mata perak itu menyilang dan berkabut merah terang, sinar nya tampak berbeda dia menatap ke arah langit-langit kamar nya dengan kosong.
"Haus..."
"Aku haus..."
Langkah nya yang goyah tampak tak menentu, ia bangun dan beranjak sendirian seperti akan terjatuh.
Rasa haus yang begitu mendera, terbakar di tenggorokan nya dan aroma manis yang tercium membuat nya merasa ingin terhipnotis.
Klek!
Gagang pintu itu tampak di penuhi dengan bunga mawar, ia membuka nya dengan cara seperti itu.
Mata merah itu tampak menoleh ke arah pria yang tengah terlelap seperti begitu tenang.
"Manis..."
Gumam nya lirih dengan iris yang berubah menjadi merah, rasa nya setiap aliran nadi pria itu terlihat lebih segar.
Rasa haus nya semakin membuncah, ia seperti kehilangan akal dan dada nya terasa panas akan sesuatu.
Sementara itu Alessio mulai terganggu, ia merasa geli seperti untaian rambut yang membelai wajah nya.
Aroma mawar yang tercium jelas dan mengelilingi nya namun mata nya masih begitu berat untuk bangun.
Ia merasa sesuatu mengendus pergelangan tangan nya, dengan lembut dan juga perlahan dan rasa geli kemudian sedikit rasa perih.
"Akh!"
Alessio langsung terbangun, rasa geli yang hangat itu tiba-tiba berubah menjadi begitu perih.
Mata nya itu langsung membelalak, ia terkejut dan sangat terkejut melihat gadis itu mengigit pergelangan tangan nya dan menghisap darah nya.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya nya yang dengan refleks langsung menarik rambut kepala gadis itu hingga melepaskan gigitan nya.
Mata yang berubah menjadi merah itu tampak sayu, wajah pucat dengan bibir yang merah karna meminum sesuatu.
"Haus..."
"Manis..."
Gumam nya lirih saat melihat ke arah pria itu, Alessio tampak mengernyit, ia heran dan melihat sesuatu yang lain lagi dari gadis itu.
Bruk!
Cyra mendorong tubuh bidang itu ke atas ranjang, mata nya masih menatap dengan sinar yang sekaan-akan ingin memakan nya.
__ADS_1
Alessio masih terdiam, ia masih tak mengerti dan bingung. Baru kali ini keputusan nya selalu berubah-ubah setiap kali ia melihat seseorang.
"Kau harum sekali, aku haus..." ucap Cyra lirih yang mulai mengendus leher pria itu dengan tatapan yang sangat butuh untuk sesuatu menghilangkan dahaga nya.