
Istana Kekaisaran
Mentari menerjap, angin yang terasa dingin namun sinar yang sudah keluar.
Gadis itu duduk di depan pintu balkon yang terbuka lebar. Ia sadar dan tentu tubuh nya bisa pulih dengan cepat.
Mata dan wajah yang tampak memikirkan sesuatu sampai tak menghiraukan apa yang ada di sekitar nya.
"Kau pulih lebih cepat?"
Suara yang terdengar memuakkan namun begitu memabukkan untuk para gadis di luar sana.
Cyra menoleh, ia tentu tau milik siapa suara itu.
Senyuman Theodore naik, ia tak kembali mengunjungi gadis itu setelah meninggalkan nya dan datang kembali saat pagi.
Tangan nya bermain sembari mengusap rambut yang perak yang panjang itu, Cyra diam tak mengatakan apapun.
"Kaisar akan datang ke sini nanti, katakan kalau kau terjatuh karna kecerobohan mu. Mengerti?" ucap Theodore yang menunduk dan kemudian menatap wajah cantik itu dari dekat.
Tak ada jawaban, gadis itu mengangguk mengikuti alur yang sudah di buat untuk nya.
Tawa kecil terdengar, Theodore tertawa melihat nya. Entah apa yang membuat lucu namun ia hanya tertawa dan kemudian melihat nya dengan penuh tatapan yang memancarkan hal yang lain.
"Sampai kapan kau akan terus mempertahankan wajah mu yang seperti itu? Hm?" Pria itu memegang dagu gadis di depan nya dan kemudian mengangkat wajah nya lalu menatap nya dengan tatapan yang tajam dan senyuman seringai.
Cyra masih tak menjawab apapun, ia melihat ke arah pria itu tengah tatapan mata yang kosong.
Tak ada jawaban atau respon, seperti menunjukkan cara memberontak yang ingin membuat lawan bicara kesal.
Theodore tampak hanya tersenyum, ia memundur satu langkah dan menyandarkan diri nya pada bangku yang tampak besar itu dan kemudian melipat tangan nya.
"Kau juga tidur dengan Kakak mu?" tanya nya tanpa basa basi dan senyuman yang tampak menunjukkan segala nya.
Masih hening, tak ada jawaban apapun dari gadis itu dan hanya senyuman yang terlihat jelas di balik nya.
"Kau memiliki kekuatan iblis kan? Bukan kekuatan murni dari Elaine lagi," ucap Theodore yang bahkan tak lagi menyebutkan gelar untuk Dewi yang di puja seluruh kekaisaran.
Cyra tak menjawab apapun, karna tentu semua yang akan ia keluarkan dari mulut nya nanti akan sangat berpengaruh untuk apa yang terjadi selanjutnya.
"Yah, terus lah diam seperti itu aku akan membuat mu bicara nanti nya." ucap Theodore yang mengangguk seperti menyetujui diam nya gadis itu.
Cyra masih tak mengatakan apapun namun tak lama kemudian suara yang terdengar dari pintu yang terbuka membuat kedua pasang mata itu menoleh.
"Yang Mulia Kaisar telah tiba,"
Sebuah pemberitahuan untuk setiap orang di dalam kamar itu.
Cyra langsung berdiri, ia menunduk memberi kan hormat selayak mana mesti nya yang harus ia lakukan.
Kaisar mengangguk, ia pun langsung memberikan isyarat tangan agar gadis itu tak perlu lagi menunduk dan bisa duduk dengan nyaman.
__ADS_1
"Kau masih sakit, tetaplah duduk." ucap nya yang menjenguk calon menantu nya.
Wajah yang menatap tajam dan dingin dengan senyuman simpul itu berubah seketika menjadi hangat sembari memegang tangan gadis yang tampak rapuh itu dengan lembut.
"Bagaimana kau bisa terjatuh?" tanya Kaisar yang tentu seperti perlu untuk menyelidiki kasus itu walaupun di sebutkan sebagai kecelakaan tunggal.
"Saya terlalu ceroboh, melihat kunang-kunang di depan mata saya membuat saya berpikir dangkal untuk bisa menangkap nya." ucap Cyra yang bisa dengan mudah berbohong tanpa perlu di ajari.
"Kalau begitu kau harus lebih berhati-hati, jangan lupa setelah kepergian Putra Mahkota ke desa timur nanti pernikahan kalian akan segara di lakukan." ucap sang kaisar yang memberikan nasehat yang terlihat lebih mirip dengan teguran.
"Tidak, aku yang lebih bersalah karna tidak bisa menjaga tunangan ku dengan baik." ucap Theodore yang tersenyum dan mengecup pipi gadis itu.
Cyra tak menjawab namun ia mengangguk dengan perkataan itu.
Teh yang hangat di sediakan, percakapan singkat dengan pembicaraan yang ringan pun terdengar walaupun ketiga orang yang pendiam itu sama-sama sedikit bicara.
......................
Dua Hari kemudian
Duchy Helemites
Kereta kekaisaran pun datang ke mansion yang mewah itu kemudian seseorang yang tampak begitu cantik dan anggun keluar dari tempat itu.
"Hah..."
Cyra menarik napas nya, setiap langkah yang ia lewati menuju karang nya seperti membuat kesabaran nya harus terlatih.
"Dia tau? Seberapa banyak?" gumam nya lirih.
"Dia melakukan nya? Sengaja..."
Gumam nya lirih yang kemudian berpikir jika ia di jatuhkan dari balkon bukan tanpa alasan sama sekali.
Gadis itu tampak menarik napas dengan berat, terlihat begitu lelah namun tak bisa beristirahat sedangkan mana tubuh nya sudah hampir hancur.
"Bagaimana cara memanggil nya ke sini?"
Seperti teka-teki yang baru, dulu ia yang sangat ingin kembali dan sekarang ia yang sangat ingin membawa pria itu untuk ke tempat nya.
Sayap Iblis!
Seperti meminjam kekuatan, hal itu bisa di lakukan pada kontraktor dengan bayaran nyawa sendiri.
Dalam kata lain meremukkan jantung nya setelah memakai kekuatan tak terbatas kecuali dengan waktu.
"Dia sudah memiliki dua sayap, kalau aku tau dia akan bangkit dengan mengambil semua kekuatan ku, aku tidak akan melakukan nya."
Decak Cyra yang kesal sekaligus bersyukur namun juga ingin marah namun tak tau siapa yang harus ia marahi nanti nya.
...
__ADS_1
Satu Minggu kemudian.
Keheningan yang memakan seluruh suara, malam yang gelap yang menelan cahaya.
Sinar merah dari bulan yang tampak penuh dan lebih besar saat ini.
Gadis itu diam, ia membenci sesuatu yang tampak seperti fenomenal namun juga akan sangat menyiksa nya nanti.
Grek!
Suara gesekan dari kayu yang berderit dan jendela yang tampak bergerak berbeda sisi di mana balkon ia berdiri.
Gadis itu tampak tak menoleh sedikit pun, bahkan melihat pun ia tak melakukan nya sama sekali.
Satu persatu cahaya datang pada nya, berterbangan dan berserakan seperti bintang yang jatuh dekat dengan nya.
Mata perak itu tampak memiliki pantulan dari sinar yang terang itu.
"Aku membawakan mu semua kunang-kunang yang ada di istana,"
Suara yang terdengar begitu ia membalikkan tubuh nya, senyuman yang tampak indah namun juga seperti maut.
"Ini waktu yang tepat, jadi aku datang sekaligus memberikan pun hadiah." ucap Theodore yang mendekat.
Cyra tak tak merasakan momen romantis sedikit pun, ia malah merasa merasa dan begitu jengah.
Pria itu semakin mendekat dengan sentuhan tipis nya, hingga...
Dusk!
Ukh!
Seperti biasa, ia menggunakan kekuatan yang mengekang sehingga gadis itu tak bisa bergerak.
Dan sihir itu lah yang telah ia tanamkan sejak bertahun-tahun yang lalu untuk mencuri kekuatan tunangan nya sendiri.
Gadis itu meringis namun ia tetap tak ingin menunjukkan kekuatan nya.
Aliran darah mengalir dari dada nya dan kemudian terus jatuh hingga menetas.
Glup!
Seperti dahaga pria itu meminum langsung darah yang keluar dari belati yang masih menancap di dada gadis itu.
Sinar kuning yang terang mengalahkan cahaya dari kunang-kunang yang berterbangan.
Rasa sakit yang bagaikan di temukan dan kemudian di cincang serta organ dalam yang seperti di peras dan keluarkan dari kerongkongan mulut terasa begitu kuat.
Ritual pemindahan kekuatan yang tentu akan sangat menyiksa satu pihak itu terus berlanjut.
Cyra tak menggunakan apapun kekuatan penyembuhan atau penghilang rasa sakit akan sedikit lebih baik seperti yang pernah ia lakukan sebelum nya.
__ADS_1
Bukan karna sudah ketahuan namun karna ia perlu hampir mati untuk menciptakan kembali portal yang menghubungkan dimensi yang berbeda.
Karna kini jantung nya sudah sedikit memakai kekuatan Lucifer saat ia membangkitkan pria dari dunia yang berbeda itu.