
Satu Minggu kemudian
Italy
Pria itu membuang napas nya dengan kasar, sudah lewat satu pekan namun ia masih tak bisa menemukan teman nya.
Hilang tanpa jejak bagai di telan bumi, dari kamera pengawas terakhir kali pria itu hanya masuk ke dalam kamar nya dan setelah itu tak pernah keluar lagi.
Tak ada tanda-tanda jika ada yang menyusup ke kamar pria itu ataupun tak ada tanda jika pria itu keluar.
"Si*l! Dia kemana?!"
Gumam Cardy berdecak saat ia merasa frustasi tak bisa menemukan teman nya itu.
Ia sudah mencari dan tentu berusaha tau jika dari kamera cctv tak di edit atau pun di sadap sama sekali.
Dan memang di kamar Alessio tak di berikan cctv, dan walaupun memang ada pun pasti pria itu sendiri yang memasang nya dan tentu tak ada yang tau di mana dan apa sandi yang bisa di gunakan.
"Laporkan orang-orang yang memiliki kemungkinan untuk hilang nya dia," perintah Cardy.
Ia memang hanya sebagai rekan dan bukan bawahan namun tetap saja ada beberapa hal yang hanya bisa di lakukan pria itu dan ia masih membutuhkan nya.
"Baik tuan!" ucap salah satu bawahan pria itu yang tentu juga mencari kemana hilang nya pria yang biasa nya selalu kuat tak dapat di kalahkan itu.
...
"Ini semua? Kalian sudah memperkecil perkiraan?" tanya Cardy yang menarik napas nya saat melihat daftar nama yang memiliki kemungkinan besar untuk balas dendam.
"Benar tuan, kami sudah memperkecil perkiraan dari orang-orang yang mungkin terlibat." ucap salah satu pria dengan setelan jas yang rapi.
"Ck!" Cardy berdecak.
Terlalu banyak musuh yang memiliki kemungkinan besar untuk menjadi dalang di balik hilang nya teman nya itu.
"Lihat mutasi terakhir rekening nya," perintah Cardy sebelum ia beranjak meninggalkan tempat tersebut.
Semua pengawal yang berada di tempat itu menunduk, menandakan setuju akan apa yang baru saja di katakan oleh nya.
......................
......................
......................
Kekaisaran Lavensberg.
Pria itu menarik napas nya, beberapa hal yang harus ia pelajari pertama kali adalah tentang sopan santun dan tata Krama.
"Kau bilang akan membuat bangsa ku bangkit? Tapi setiap hari aku belajar kelas moral," Ucap Alessio yang tertawa kecil dengan raut yang kesal.
"Apa iblis memerlukan sopan santun?" sambung nya lagi dengan kesal.
Cyra menoleh, ia menutup buku keuangan pengeluaran mansion dan kemudian menatap ke arah pria itu.
"Lalu? Apa iblis juga banyak mengeluh?" tanya Cyra yang menatap ke arah Alessio sembari memangku dagu nya dengan kedua punggung tangan nya.
"Ck!" Alessio berdecak saat mendengar nya.
Kelas pengajaran sosial nya sudah selesai dan kini ia berada di ruangan yang besar penuh buku dan tentu aroma kayu serta kertas tercium jelas.
"Kau bekerja di tempat ini? Ini ruang kerja mu?" tanya Alessio setelah menarik napas nya.
Tempat klasik yang rapi dengan banyak buku yang tersusun serta ruangan yang mendapatkan sinar mentari langsung dari biasan jendela kaca yang datang.
Benar-benar tempat fantasi yang bahkan tak mungkin bisa di percayai di dunia nya.
"Menurut mu? Apa ini terlihat seperti taman bermain?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria itu. Memperhatikan ekspresi yang tampak heran dan juga terkagum dengan apa yang ia lihat.
Alessio tak menjawab namun ia menatap ke arah mata perak gadis itu.
"Aku tidak tau tentang masalah keluarga mu tapi seperti nya mereka tidak mengenal bagaimana sifat asli mu." ucap nya yang menatap ke arah gadis itu.
Cyra diam sejenak saat mendengar nya, "Oh ya? Lalu bagaimana sifat asli ku?" tanya gadis itu sembari menarik napas nya.
__ADS_1
Alessio tak mengatakan nya, ia pun sebenarnya bingung bagian mana yang benar dari diri gadis itu.
"Seperti nya aku bukan dalam artian yang baik untuk mu," ucap Cyra yang mengartikan diam nya pria itu.
"Aku lebih suka gadis yang jahat dari pada gadis yang baik," jawab Alessio yang menatap ke arah gadis itu.
Cyra tertawa kecil mendengar nya, ia ingin tertawa namun tentu ia tak tau mengapa ia merasa demikian.
"Kalau begitu kau suka dengan jamuan gadis jahat ini?" tanya Cyra yang menatap ke arah pria itu dengan senyuman tipis nya.
"Entahlah, kau seperti penyihir." jawab Alessio yang saat melihat senyuman yang cantik namun sangat jarang terlihat.
"Kalau begitu mau bertemu penyihir yang sesungguh nya?" tanya Cyra yang beranjak bangun dan mendekati pria itu.
Alessio mengernyit saat mendengar nya, ia tak tau apa yang di pikirkan oleh gadis itu saat melihat nya mendekat.
"Kenapa terlihat bingung? Yah, di tempat mu tidak ada sihir aku sampai lupa." ucap Cyra yang menatap ke arah pria itu.
"Kalau begitu ayo, aku akan menunjukkan seperti apa penyihir yang sebenar nya." ucap Cyra yang menyodorkan tangan nya agar pria itu bisa menggapai nya.
Alessio melihat ke arah tangan yang di julurkan pada diri nya. Ia kemudian menatap ke arah seseorang yang berdiri tepat di depan nya.
Greb!
Mata perak itu membulat sesaat ketika tangan yang ia julurkan untuk pria itu bukan nya di raih malah menarik nya ke dalam pangkuan nya.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Cyra yang menatap tajam ke arah pria yang terlihat santai sembari menahan pinggang nya.
"Kalau kau tidak suka kau bisa mengeluarkan bunga-bunga itu dari jari mu. Kau selalu melakukan nya untuk mengancam ku, kan?" tanya Alessio yang tetap menahan pinggang ramping gadis itu agar tetap berada di dalam pangkuan nya.
Cyra tak mengatakan apapun, mata nya menatap ke arah pria yang tampak tak ingin melepaskan nya sama sekali.
"Kau melakukan ini karna ingin balas dendam atau sesuatu?" tanya nya mengernyit dan kini tak lagi memberontak.
"Balas dendam? Untuk apa?" tanya Alessio yang memiringkan kepala nya menatap dengan bingung ke arah gadis yang tampak begitu cantik saat ia lihat dari dekat.
"Entahlah, untuk merasa sebuah kekalahan?" jawab gadis itu dengan pertanyaan lain.
Alessio tak menjawab, ia menatap ke arah gadis di depan nya. Mata yang berwarna perak dengan rambut yang berkilau dengan indah.
Untaian rambut panjang yang ikal dan halus melewati jemari nya satu persatu. Begitu halus dan lembut.
Mata nya terkunci sejenak dan kemudian menatap ke arah mata perak itu tanpa sepatah kata pun yang bisa ia dengarkan.
"Baiklah, kita pergi. Tadi mau ke mana?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis itu sembari melepaskan genggaman pinggang nya.
Cyra tak menjawab namun ia merasakan pelukan di pinggang yang terasa melonggar dan ia pun beranjak bangun.
......................
Akademi Sihir
Pria itu tampak melihat ke arah sekitar nya sangat tatapan yang tampak kagum, atau lebih tepat nya merasa heran, bingung dan kagum di saat yang bersamaan.
"Kau juga bersekolah di sini?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis yang berjalan di samping nya.
Orang-orang yang tampak mengenakan seragam yang mirip dengan sekolah fantasi di film yang ia lihat kini ia saksikan dengan nyata di depan mata nya sendiri.
"Ya," jawab Cyra singkat.
"Lalu kenapa aku tidak pernah melihat mu pergi dengan seragam yang seperti itu?" tanya Alessio yang tampak begitu penasaran.
"Aku sudah lulus lebih cepat," jawab Cyra yang singkat sembari terus melangkah.
"Lulus? Kau terlihat masih muda dan mereka juga terlihat seusia mu," ucap Alessio yang menatap ke arah wajah gadis yang berjalan bersama nya.
"Aku masuk lebih cepat dan lulus lebih cepat," jawab Cyra singkat yang terus melangkah.
Alessio tak lagi bertanya, namun ia menatap ke sepanjang jalan yang ia lewati sampai langkah gadis itu berhenti di depan sebuah pintu yang besar dan tinggi serta menunjukkan bangunan yang tampak berbeda dari akademi yang ia lewati sebelum nya.
Tak ada pertanyaan, pria itu tetap mengikuti langkah gadis yang berada di samping nya.
Cyra tak mengatakan nya, jika kini ia bukan lagi berada di akademi Sihir melainkan berada di menara sihir.
__ADS_1
Dan tentu nya di tempat itu bukan lah orang-orang yang belajar sihir melainkan orang-orang yang menciptakan sihir.
Alessio diam, tak seperti film dan kisah mengerikan tentang penyihir serta tempat nya.
Tempat itu tampak rapi, walaupun memiliki suasana yang gelap namun bukan tempat kotor tang menjijikkan melainkan tempat yang tampak begitu klasik yang menunjukkan estetika yang bahkan tidak bisa ia bandingkan dengan kata ungkapan.
"Kau bisa lihat mereka? Kenal kan mereka penyihir dan sebagian dari mereka memiliki sihir gelap dan tentu itu di dapatkan dari dunia mu." ucap Cyra saat kali ini mereka sudah menuju ke salah satu ruangan yang tangan berbeda dari tempat yang lain.
"Sekarang kita berada di mana?" kali ini Alessio tak lagi menahan rasa bertanya nya.
Ia menatap ke arah gadis di samping nya yang memakai kudung jubah karna harus menutupi warna rambut yang sangat tak umum di kekaisaran itu.
Dah tentu semua orang juga pasti tau jika gadis itu adalah putri mahkota.
"Menara sihir dan mereka adalah penyihir yang memakai kekuatan gelap atau mana hitam. Kau mungkin tidak ingat karna belum sepenuh nya bangkit tapi mereka akan mulai mengajari mu satu persatu." ucap Cyra yang memperkenalkan semua penyihir di depan nya.
Alessio tak mengatakan apapun untuk beberapa saat, ia kemudian menoleh dan menatap ke arah gadis yang berada di samping nya.
"Aku mau kau yang mengajari ku sihir, anggap saja karna aku pernah mengajari mu menggunakan pistol." ucap Alessio yang ingin memilih sendiri guru yang ia inginkan.
"Aku akan mengajari mu menggunakan pedang, itu akan sangat berguna di sini dan mereka yang akan mengajari mu tentang sihir." jawab Cyra dengan wajah dan tatapan yang selalu dingin.
"Bukan nya kau juga tau cara menggunakan sihir? Kau berasal dari akademi yang sama kan?" tanya Alessio yang menatap ke arah gadis itu.
"Ya, tapi aku bukan dari jurusan yang sama, aku dari jurusan pemulihan yang hampir sama dengan pengobatan." jawab Cyra singkat.
Alessio tak mengatakan apapun untuk beberapa saat, "Aku akan meninggalkan mu di sini. Belajarlah dan kemudian aku akan datang lagi nanti." ucap Cyra yang beranjak pergi meninggalkan pria yang masih tampak heran itu.
Alessio masih belum sempat mengatakan apapun namun gadis itu sudah terlanjur pergi meninggalkan nya.
Ia menarik napas nya dan kemudian menatap ke arah punggung gadis yang beranjak menghilang itu.
...
Langkah kaki itu perlahan berhenti seketika saat melihat ke arah seseorang yang berada di depan nya.
Mata perak itu tampak berkilau menatap ke arah seseorang yang tampak berhenti.
"Seperti nya kita kedatangan tamu yang lain?" ucap pria tampan bermata cerah itu sembari melirik ke arah tangan yang masih di pengang oleh seseorang itu.
Cyra melepaskan tangan pria yang tadi nya mengejar nya dan mencegat nya karna ada sesuatu yang ingin di sampaikan.
"Hormat saya pada bintang kekaisaran, semoga matahari selalu bersinar di atas Yang Mulia." ucap nya yang kemudian menunduk.
Alessio terdiam sejenak namun ia pun dengan cepat langsung mempraktekkan apa yang sudah ia pelajari.
"Siapa dia?" pria itu tersenyum hangat seperti salam formal yang tadi baru saja di ucap kan untuk nya.
"Dia pelayan pribadi saya yang baru, Raivent Clasherfti." ucap Cyra yang memperkenalkan nya.
"Clasherfti? Aku belum pernah mendengar nama keluarga itu." ucap Theodore yang kemudian memiringkan kepala nya.
"Dia berasal dari keluarga Baron di negara barat yang jauh dari kekaisaran." ucap nya yang mengatakan semua nya seperti sebuah kejujuran.
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?" pria dengan rambut pirang yang cerah seperti mentari itu tampak tersenyum dengan indah.
"Melihat akademi untuk adik saya, Yang Mulia tau kan kalau Yvoine ingin berada di sekolah Sihir." ucap Cyra yang tentu bisa memikirkan jawaban secepat kilat.
Tak ada jawaban, pria itu tersenyum ia pun mendekat satu langkah dan kemudian memegang dagu gadis itu.
"Kalau begitu kau bisa ikut dengan ku? Aku juga seperti nya butuh panduan." ucap Pria itu tersenyum dengan lembut namun mata cerah dan indah itu tak bisa menyembunyikan makna dan juga tujuan yang tersirat di dalam nya.
Greb!
"Maaf, tapi Putri harus pergi sekarang." ucap nya yang kemudian menatap ke arah pria itu sembari menarik tangan gadis yang berada di depan nya dan kemudian menyembunyikan nya ke dalam perlindungan nya.
Theodore tetap tersenyum namun tentu ia menunjukkan senyuman yang tampak sangat tak menyukai apa yang yang ada di depan nya.
"Berani sekali seorang pelayan menyela," ucap Theodore yang menatap dengan senyuman namun menyimpan kemarahan.
Pria itu tampak diam sejenak dan kemudian tersenyum tipis sembari menunduk.
"Saya tidak berusaha untuk menyela tapi Putri harus kembali sekarang atau dia akan terkena masalah."
__ADS_1
"Saya kira Yang Mulia tidak akan ingin melihat wanita yang sangat anda sayangi terkena masalah, saya masih baru dan mendengar semua orang memuji kebijaksanaan anda." ucap nya dengan senyuman yang tipis dan wajah yang tak menunjukan keangkuhan serat sikap yang sopan namun juga terasa sulit untuk di tolak.
Theodore diam sejenak dan kemudian tertawa, "Kau selalu membawa sesuatu yang menarik? Baiklah, kali ini kau bisa pergi dan ku harap kau tak terkena masalah sedikit pun." ucap nya yang kemudian beranjak pergi melewati tunangan nya yang bahkan tak mengatakan apapun.